Antara Merah Putih dan “Lebay”

Minggu malam, masih batuk-batuk karena flu, saya jadi emosi karena membaca adanya aksi injak bendera Merah Putih di Ultah PKS Tasikmalaya http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=25127

Tifatul Sembiring melalui Twitter accountnya mengklarifikasi bahwa insiden ini adalah buntut sumbangan sebuah SMA yang menjadi pengisi acara, dan pihak PKS setempat berjanji untuk lebih ketat di masa depan.

Tapi kemudian saya menjadi bingung sendiri melihat reaksi saya, kenapa saya bisa emosional urusan seperti ini. Mungkin banyak orang merasa saya “lebay”. Saya juga mikir, kenapa ya?

Entahlah….

Tapi yang saya tahu, saya kagum dengan kisah terbentuknya negeri ini. Dan saya ngefans berat dengan para Bapak Bangsa. Terutama sejak Periode Kebangkitan Nasional, sampai Kemerdekaan. Dari Dr. Wahidin Soedirohusodo, tokoh2 Kongres Pemuda II, sampai Soekarno-Hatta. Mengapa?

Karena bagi saya negeri ini adalah suatu KEAJAIBAN. Karena kebhinekaannya, tetapi berhasil mengatasi perbedaan untuk memiliki satu identitas bersama. Dan pencapaian ini luar biasa bagi saya – bukan hal sepele.

Kalau sempat, datanglah ke Museum Sumpah Pemuda di Jl. Kramat Raya. Ada satu pojok di dalam gedung itu yang bikin saya merinding. Saya sempat berlama-lama berdiri di situ dan pernah berpikir, kok bisa pemuda 80 tahun yang lalu berfikir semaju itu?

Pojok yang saya maksud adalah tempat panji-panji dari kontingen2 Kongres Pemuda II 1928. Di situ tergantung panji-panji dari organisasi2 pemuda yang menjadi peserta Kongres. Ada yang berbasis agama, ada yang berbasis suku, dan ada yang berbasis ideologi. Dan bayangkan mereka yang datang ke Kongres itu dengan panji golongannya masing-masing, mengakhirinya dengan “Indonesia Raya” karya WR Supratman (“Indonesia Raya” pertama kali diperdengarkan di Kongres tersebut). Bagaimana saya tidak merinding?

Dan berawal dari satu identitas kebangsaan itu, maka tibalah bangsa ini di momen 17 Agustus 1945, sehingga kita bukan hanya satu bangsa, tetapi juga satu bangsa yang merdeka.

Jadi bagi saya, Merah Putih bukan sehelai kain mati. Bagi saya Merah Putih adalah JANJI. Janji bahwa bangsa ini tidak boleh dipecah-belah lagi. Janji bahwa “Indonesia” lebih besar dari perbedaan-perbedaan di antara kita. Dan Janji ini diucapkan bukan melalui kata, atau piagam semata – tetapi Janji ini dibangun di atas darah, keringat, dan air mata dari banyak orang. Dan saya pribadi bertekad meneruskan janji ini.

Itulah kenapa saya menjadi emosional urusan Merah Putih. Karena Merah Putih bukan bendera atau lambang milik orang lain, tetapi dia adalah “janji saya”. Dan melecehkan Merah Putih sama dengan melecehkan janji saya.

Lebaykah saya?

Advertisements

Categories: Uncategorized

7 Comments »

  1. Saya pikir ga lebay kok, oom. Waktu SMA, saya anggota Paskibra, dan saya hidup berdasarkan kehormatan pd bendera.
    Berurusan dg tmn fanatik yg tdk mau hormat grak ke bendera sudah biasa . .
    Tp membaca berita ttg penginjakan bendera oleh cendikia? Tak pnh terpikirkan di kepala . .
    Yg saya kagum adalah, tnyta masih ada org diluar sana yg cinta thdp negara, lewat bendera, lewat janjinya . . Cheers 🙂

  2. Mungkin awalnya terlihat lebay. Tapi tunggu… “merah putih bukan sehelai kain mati” mengingatkan saya pada pernyataan Tif Sembiring “jilbab hanya selembar kain”. Itu juga membuat emosi.

  3. lebaykah si oom? Gak! Sama sekali ga. Gw juga ngerasa gitu kok. Perjuangan untuk bisa mengibarkan dengan bebas bendera merah putih di tanah air Indonesia terlalu suci buat dikotorin.

    Karena yang paling susah adalah menepati janji, sebagai pemuda (kalo oom udah setengah tua sih. Hehe), ya kita wajib buat mempertahankan merah putih. Caranya? Ya sesuai kemampuan masing2. Berjuang kan ga selalu pakai bambu runcing 🙂

  4. Anda ga lebay bung henry, tp motif adegan teatrikal menginjak2 bendera Merah-Putih memang harus diusut tuntas & diambil tindakan sesuai dgn hukum berlaku

  5. ga lebay sama sekali..
    malah aku bisa marah kalo pada saat hujan bendera merahputih yang dikibarkan tidak diturunkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s