Tips-tips Mengelola Sekte/Gerakan Radikal

(Tentunya gw gak bener-bener ngajak bikin sekte kali ya…. gile aja kalo kalian percaya! Lagian gw takutlah sama Densus 88!)

Lagi asyik baca buku ‘Paranormality’ karya Prof. Richard Wiseman. Profesor Wiseman awalnya adalah pesulap profesional yang kemudian mengambil kuliah psikologi dan menghabiskan banyak waktunya untuk menguji fenomena ‘paranormal’. Buku ini keren banget karena Wiseman menjelaskan tentang psikologi dan cara kerja otak manusia melalui penjelasan kejadian-kejadian supernatural (penampakan hantu, astral traveling, berbicara dengan arwah, dll). Gaya penulisan pun jenaka dan seringkali ‘ngehe’ – jadinya topik yang lumayan berat bisa enteng dibacanya.

Kebetulan gw sampai bagian tentang ‘sekte’ (Cult), dan pas banget sekarang lagi ramai di Indonesia berita tentang ‘cuci otak’, ‘radikalisasi’, NII, dll. Dan ternyata ada beberapa prinsip yang kelihatannya mirip. Berhubung buku ini kayaknya masih lama diterjemahin, gw share aja deh secara singkat di blog. Siapa tahu membantu.

Salah satu kasus sekte terparah di Amerika Serikat adalah sekte Jim Jones, seorang pemimpin sekte Kristen yang mengajak ratusan pengikutnya tinggal di sebuah kompleks terisolir di Guyana, dan berhasil MENGAJAK (bukan memaksa) seluruh pengikutnya minum jus anggur bersianida bersama-sama. 900 pengikut sekte mati bunuh diri di hari yang sama, 270 di antaranya anak-anak.

Bagaimana bisa orang mempercayai sebuah ajaran sesat/radikal dan mengikutinya sampai kematian? Penjelasan umum adalah sebuah sekte memberikan seseorang “tujuan hidup” bagi mereka yang merasa hidupnya tidak bermakna. Selain itu, sekte seringkali menyediakan pengalaman “keluarga”, sehingga menarik bagi mereka yang kehidupan sosial/keluarganya tidak memadai. Tapi selain itu, menurut Prof. Wiseman, ada beberapa trik psikologis yang digunakan:

1. “Getting A Foot In the Door”. Sumpah gw gak tau menterjemahkan ungkapan ini. Kira-kira makna lengkapnya adalah, asal kaki kita sudah ‘masuk’ di pintu, akan lebih gampang untuk seluruh badan kita ikutan masuk (ada gak tuh padanan ungkapannya dalam bahasa Indonesia?)

Prinsip psikologinya adalah: kita pada dasarnya tidak mau langsung berkorban besar. Tetapi, jika diawali dengan pengorbanan ‘kecil’, akan lebih gampang nantinya kita juga mau berkorban ‘besar’ – secara gradual. Ilustrasinya ya nasihat nenek kita: pacaran jangan pegangan tangan! Sekalinya boleh pegang tangan, si cewek akan lebih gampang dipegang pundaknya, rambutnya, pipinya, terus cium pipi, cium bibir, buka kancing atas, buka kancing…UDAH, UDAH! INI KOK JADI STENSILAN!

Tapi jelas kan poinnya? Kalau langsung minta ‘main dokter-dokteran’ lebih susah buat si cowok, dibandingkan mulai dari yang kecil2, seperti main pegang-pegangan …..(kok gua jadi ngajarin gak bener?)

Begitu juga dengen sekte/gerakan radikal. Awalnya pengorbanan yang diminta kecil saja, diawali dari waktu. 1 jam seminggu bertemu rutin. Lama-lama makin sering. Kemudian mulai diminta mengerjakan hal sepele. Kemudian mulai dimintai uang sedikit. Terus uang banyak. Terus diminta meninggalkan keluarga. Sampai akhirnya diminta meledakkan diri sendiri.

2. Berpikir Seragam / Perbedaan Pikiran Segera Ditumpas. Manusia dikenal memiliki mental bagai biri-biri (herd effect). Kita cenderung mengikuti orang banyak di sekitar kita. Eksperimen psikologi menunjukkan manusia bisa mengikuti ‘suara mayoritas’ walaupun bertentangan dengan apa yang dilihat langsung (eksperimen yang dikutip di buku lucu banget dengan hasil yang menakjubkan – sayang terlalu panjang kalau dishare di sini)

Dalam sekte/gerakan radikal, pengikut baru akan dikepung oleh para pengikut setia, sehingga meyakinkan si korban bahwa memang ajaran yang dianut sahih/kredibel. Selain itu perbedaan pendapat dan pikiran kritis akan segera dihukum keras oleh pemimpin, dengan label ‘dosa’ atau ‘tidak beriman’. Bertemu/berdiskusi dengan mereka yang pahamnya berbeda sangat dilarang, dengan ancaman hukuman keras.

3. Penggunaan mujizat/fenomena supranatural. Pemimpin sekte/gerakan radikal juga menggunakan demonstrasi mujizat untuk meyakinkan otoritasnya atas para pengikutnya (“Gua bisa bikin keajaiban, jadi terbukti gw utusan Tuhan. Jangan macem-macem sama gua”). Tentunya, “keajaiban” ini tidak lebih dari trik sulap/ilusionis biasa, yang bisa dilakukan Deddy Corbuzier atau Pak Tarno. Tapi bagi mereka yang mau percaya buta pada pemimpinnya, ditambah ancaman hukuman kalau mempertanyakan, trik meijik bisa jadi mukjizat beneran, dan validasi atas pemimpin sekte/kelompok.

4. Ritual/Inisiasi Yang Berat/Menyakitkan. Dalam banyak sekte/gerakan radikal, para anggota baru harus melalui proses atau ritual inisiasi yang bisa sangat memalukan, atau menyakitkan secara fisik. Anehnya, hal ini tidak membuat mereka menjadi kapok dan meninggalkan kelompok tersebut. Sebaliknya, jika dilakukan secara efektif, akan menyebabkan mereka tambah setia pada kelompok/ajaran itu. Penjelasan Prof. Wiseman: karena kita sudah melakukan pengorbanan berat menjadi anggota sekte tersebut, tanpa sadar kita berusaha ‘membenarkan’ keputusan kita – dengan cara menjadi anggota yang semakin loyal.

Kasus yang mirip dengan kejadian sehari-hari kita sebagai konsumen. Misalnya, kalau kita susah payah dengan darah keringat mendapatkan tiket untuk sebuah konser, secara bawah sadar kita akan berusaha “menjustify”nya dengan meyakinkan diri bahwa konser tersebut bagus! Masuk akal juga sih, “Gila aja, gw udah capek kayak gini dapetinnya masak terus gua gak suka?”

Praktek ritual inisiasi berat ini sebenarnya lumrah juga di aktivitas kampus atau unit mahasiswa, atau militer: ada proses perploncoan yang berat dan fisik, sehingga anggota menjadi semakin terikat secara emosional

Bahkan semua prinsip di atas sudah diaplikasikan dalam dunia marketing, tentunya dengan tujuan membeli produk dan bukan meledakkan diri sendiri ya (konsumen yang mati kemungkinan tidak akan membeli produk kita lagi). Misalnya, Prinsip 1: berkorban sedikit – biasa digunakan salesman/marketer. Konsumen mungkin tidak akan mau ‘langsung’ membayar Rp 100,000. Tetapi kalau awalnya Rp 50,000, terus sedikit-sedikit “diupgrade”, “diupsize”, dll, lama-lamanya jadinya Rp 100,000 juga! Begitu juga Prinsip 3: mujizat, biasa digunakan dalam demo produk atau advertising, iya kan? 🙂

Begitulah teknik-teknik menjalankan sekte/kelompok radikal menurut Prof. Wiseman. Kalau kita bandingkan dengan kisah-kisah yang sekarang ramai di media massa mengenai “radikalisasi”, ada kemiripannya ya? Jadi kalo punya temen/keluarga yang terlibat kelompok-kelompok yang menggunakan teknik-teknik di atas, hati-hati yah!

By the way, bukunya recommended banget! Terakhir ada yang bilang sudah dijual di Indonesia. Tapi ya itu, masih impor sayangnya.

Sekian sharing sedikit dari buku ini, siapa tahu berguna, minimal mencerahkan.

Advertisements

Categories: Random Insight

5 Comments »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s