Calon Pemimpin Impian – Sebuah Rekaan Perjalanan

Punya presiden yang tidak decisive, ribet dengan citra diri sendiri. Bendahara partai yang katanya hobi ninggalin amplop. Menteri yang gak becus dan hanya menjalankan agenda partai/pribadinya. Calon bupati yang ‘murah hati’ bagi-bagi uang sedekah menjelang pilkada. Ah, hanya serangkaian kecil dari begitu banyak masalah politik sehari-hari di negeri ini.

Berhubung melihat realita negeri ini hanya bikin kheki (eh, kalian yang muda masih tau kata “kheki” gak sih? :D), mendingan gw berkhayal aja deh. Gw mau mengkhayalkan seorang politisi yang asik dan ideal, seorang politisi “impian” menurut standar gw. Dan karena gw bego politik, tentunya ini hanya rekaan asal saja, tidak perlu dibahas serius πŸ™‚

Si politisi impian ini (gimana kalo kita kasih nama “Mas Boy”? :D) termotivasi masuk politik karena gabungan semua emosi negatif: SEDIH, KECEWA, MARAH, DAN IRI-HATI. Mas Boy sedih, karena melihat bangsa ini begitu besar, begitu banyak potensi, tapi justru lebih lemah dibanding tetangga-tetangganya. Kecewa, kecewa dengan pemerintahan sekarang yang tidak berpihak pada rakyat. Marah, dengan korupsi yang semakin tidak tahu malu, dengan wakil rakyat yang sibuk jadi calo dan jalan-jalan ke luar negeri. Iri hati, dengan para bapak/ibu bangsa, yang lebih muda dari Mas Boy tapi sudah berkarya begitu banyak untuk negeri.

Mas Boy masuk dunia politik karena terusik. Bukan karena melihat kesempatan mengejar duit dan takhta. Mas Boy datang dari keluarga yang mengajarkan anak-anaknya sejak kecil tentang pentingnya memberi sesuatu ke dunia, bukan bagaimana mengambil sesuatu dari dunia. Materi penting, tetapi reputasi dan hati nurani yang tenang dan damai lebih penting lagi. Karena itulah Mas Boy tidak pernah silau dengan harta.

Mas Boy tumbuh dan besar dalam keluarga yang mementingkan memperlakukan semua manusia dengan baik, tanpa memandang bulu. Mas Boy diajarkan untuk tidak boleh mencurigai mereka yang berbeda. Karena itu Mas Boy berteman baik dengan semua orang, tanpa memandang agama, suku, golongan. Dan Mas Boy menilai kebaikan seseorang dari aksi dan tindakannya, bukan karena label agama atau sukunya. Kalau seseorang baik kepada sesamanya, tidak mencuri atau menyakiti orang lain, ya dia orang baik, tanpa embel-embel lain.

Saat Mas Boy memasuki dunia politik, dia tahu dia membutuhkan dukungan dana yang tidak sedikit. Mas Boy tidak punya modal pribadi yang besar. Selain itu, mencurahkan banyak uang di awal berisiko menciptakan mental “balik modal” seperti yang banyak dimiliki banyak politisi sekarang. Tetapi Mas Boy juga tahu bahwa “dukungan dana” dari “sponsor” dan “donatur” berisiko hutang budi yang jadi masalah di kemudian hari. Maka Mas Boy memikirkan beberapa alternatif lain yang lebih baik.

Pertama, Mas Boy berusaha mencari media murah untuk membuat masyarakat mengenalnya. Social Media termasuk media murah meriah, yang semakin mudah diakses dengan semakin murahnya ponsel yang bisa mengakses internet. Facebook dan Twitter membuat Mas Boy lebih mudah diakses, selain itu juga memudahkan dia mengamati “bercakap-cakap” dengan banyak anggota masyarakat dengan biaya murah. Tidak perlu menghabiskan biaya dinas!

Mas Boy tidak punya uang untuk membeli slot waktu di TV. Dan Mas Boy tidak punya stasiun TV untuk keperluan mempromosikan dirinya. Jadi dia memanfaatkan “tv gratis” yang namanya YouTube. Dia akan merekam dirinya sendiri untuk menjelaskan cita-cita dan visinya tentang Indonesia, masalah-masalah negeri yang akan menjadi fokus perhatiannya, dan ide-ide konkrit untuk memajukan bangsa melalui media ini. Dengan ini banyak orang yang bisa mendengar langsung rencana-rencana Mas Boy via komputer di rumah, kantor, ponsel pintar, ataupun Warnet.

Tetapi tentu saja pengguna social media dan internet hanya sekelompok kecil dari masyarakat. Tetap saja dana besar masih diperlukan untuk menjangkau banyak rakyat melalui media konvensional – apa itu iklan TV, cetak, radio. Belum lagi dana-dana lain yang terkait dengan kampanye, dll. Mas Boy pun pusing karena kebutuhan untuk donor tak terhindarkan lagi.

Akhirnya Mas Boy memilih ide radikal untuk pendanaannya, yaitu TOTAL TRANSPARANSI dan PENDANAAN MASYARAKAT. Dalam pendanaan oleh masyarakat, Mas Boy terinspirasi dengan tim sukses Obama yang menggerakan dukungan dari setiap lapisan masyarakat, sedollarpun pun bermakna. Pendanaan masyarakat ini digabungkan dengan Total Transparansi. Siapapun yang menyumbang akan DIUMUMKAN TERBUKA di website Mas Boy, tanpa memandang bulu apakah itu perusahaan besar atau masyarakat kecil. Dengan cara ini Mas Boy hendak menunjukkan itikadΒ  baik dalam bentuk akuntabilitas kepada konstituen dan masyarakat sepenuhnya. Karena tidak ada arus dana yang “tersembunyi”, tidak ada yang perlu ditakuti akan diobok-obok di kemudian hari.

Selain itu, karena transparan, Mas Boy mau menghindari godaan perusahaan besar yang mau menyumbang tapi “ada maunya” nanti. Karena diberitakan transparan, perusahaan hitam pikir-pikir dua kali untuk menyumbang secara berlebihan karena akan dibaca oleh masyarakat.

Mas Boy sadar dia tidak akan mampu bersaing melawan calon-calon politik lain yang sendirinya adalah pengusaha berkantong tebal, atau memiliki koneksi dengan pengusaha. Tapi Mas Boy sedari awal tidak mau terjebak dalam pikiran “harus dapat untung, minimal balik modal” jika berkuasa. Dan tentunya Mas Boy tidak mau berhutang budi pada sekelompok kecil orang.

Jika harus berhutang budi, Mas Boy memilih berhutang budi pada RAKYAT. Dengan cara ini dia tahu bahwa jika dia berkuasa itu karena rupiah dari rakyat, dan itu harus dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk kerja yang jujur dan berintegritas.

Walaupun tidak berharap banyak pada mulanya, cara Mas Boy yang ‘nyeleneh’ ini mendapatkan perhatian banyak orang. Mirip dengan “Koin Untuk Prita” yang menjadi bola salju bergulir besar, metode Mas Boy yang bergantung pada rupiah dari rakyat mendapat sambutan hangat. Rakyat dari berbagai lapisan bersedia mendukung kandidat yang mau perjalanan politiknya BERSIH DARI AWAL. Sesuatu yang diawali dengan bersih, semoga berujung baik pula, demikian logikanya. Setiap hari, di website Mas Boy bisa dilihat siapa saja yang sudah menyumbang Mas Boy, termasuk jumlahnya.

Dan memang benar, walaupun dana yang diraih Mas Boy masih kalah dibanding politisi-politisi lain yang berbeking pengusaha, tetapi Mas Boy lebih tenang hati nuraninya. Dan juga tidak ada hutang budi pada pihak tertentu selain rakyat kebanyakan.

Dalam mempersiapkan tokoh-tokoh yang kelak akan membantu Mas Boy dalam menjalankan amanahnya jika terpilih, Mas Boy memilih orang-orang berdasarkan kompetensinya. Bukan karena sama agamanya atau sama sukunya. Cara Mas Boy dibesarkan yang diharuskan tidak mendiskriminasi orang memungkinkan Mas Boy mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Dan dengan cara ini, Mas Boy bisa mengenali bakat-bakat terbaik dalam menjalankan negeri, tanpa memandang latar belakangnya. Yang penting memiliki panggilan tulus untuk mengabdi masyarakat, memiliki kompetensi di bidangnya, dan karakter yang baik, maka itu sudah cukup.

Mas Boy juga memutuskan untuk tidak melibatkan keluarganya dalam politik. Mas Boy sudah membuat persetujuan dengan anak2 dan istrinya bahwa selama dia masih memegang jabatan, mereka tidak boleh ikut dalam politik. Walaupun terkesan kejam, Mas Boy hanya ingin memastikan bahwa tidak ada “conflict of interest” antara keluarga dan profesional. Dan “perjanjian” dengan keluarga ini dibuat public, supaya masyarakat menjadi alat kontrol pertama untuk pelaksanaannya.

Seluruh awal perjalanan karir Mas Boy ini bisa disummarykan sebagai spirit AKUNTABILITAS PADA RAKYAT SEJAK AWAL. Menghindari hutang budi pada pengusaha, menghindari hutang finansial dari diri sendiri, semuanya supaya tidak jadi hantu di kemudian hari. Dialog dan program transparan menggunakan sosial media adalah cara murah meriah untuk menjadikan Mas Boy mudah ‘diakses’ orang awam….

Sekian dulu mimpi gw tentang Mas Boy si Pemimpin Impian dan cara-caranya mengawali karir politik….

Mungkin ada pembaca yang mau “menyumbang” mimpi bagaimana Mas Boy bisa menjadi pemimpin impian? πŸ™‚

 

Advertisements

Categories: Negeriku

12 Comments »

  1. keren banget artikelnya ! I like it very much !
    ya pastilah ini menghayal tingkat mahadewa banget, memang mas boy bisanya cuman jadi pemimpin di negri impian, heheheee….. ups :p

    saya pengen coba ngayal juga, kalo ketemu ama mas boy, saya bakalan melamar jadi pakar sosial medianya (weleh….), nanti saya jadi admin akun twitter ama fesbuk mas boy, juga saya akan bikin tim public relation ama event organizer mas boy, biar kalo lagi kampanye mas boy gak repot2 lagi mikirin hal2 tetek-bengek gitu….. (sok profesional)

    jika saya dialam yang sama dengan mas boy, saya pasti dukung mas boy sejuta persen ! (bukan seribu persen aja ya !)

    all and all, it’s a great post, btw next time sebelum dipublish artikelnya, dimenu “publicize” di “custome message” di-edit dengan diawali “New blog post……(judul artikel)” maksudnya supaya tweeps yang lihat twitnya itu tahu kalau link-nya adalah link untuk artikel dari blog ini, otherwise they think it’s only just another ordinary link πŸ™‚

    looking forward for your next artikel, maap saya jadi curcol disini, πŸ˜€

    • Hey Susan!

      Trims buat tipsnyaaa. Next time gw edit kalo gitu publicizenya.

      Hehe, berdoa semoga Mas Boy beneran ada di negeri ini yah…. πŸ™‚ You will never know, keep the faith!

  2. Mumpung masih ada waktu, Mas Boy pelajari secara detail sistem dan infrastruktur untuk transaksi semacam Paypal untuk keperluan ini, di negeri ini, sudah siap atau belum. Kalau belum, cepat2 cari alternatifnya.

  3. Tapi om *om??, politik itu memangnya bisa bersih ya? Kata papaku, dulu kakekku itu orang politik, dia politikus yang jujur dan bersih. Tapi karena kejujuran sama ke bersihannya itu, dia ga maju-maju, kerjaannya ditindas terus sama yang “kurang bersih”. Katanya kalau politik, ya memang ga bisa bersih. Gimana tuh?

    • “Politics” by nature pasti ada trik2 dan akal2annya. Masalahnya sampai di mana batas toleransi terhadap praktik2 yang jelas2 tidak etis? Di negara2 demokrasi yang maju, saya yakin politik pasti ada “kotor”nya, tetapi praktik korupsi yang vulgar, pemerasan dengan kekuatan politik, dll pasti bisa dijaga dengan hukum yang jelas.

      Saat ini di Indonesia, seperti kata papamu, praktik kotornya sudah kebablasan. Sudah melanggar etika, melanggar hukum, dan merampok uang rakyat. Itu yang sedih 😦

  4. Ah iya 😦 bener banget.
    Jadi apa kita cuma bisa berkhayal sama bermimpi doang?
    Kita harus apa dong selain meratapi nasib?

  5. Semoga dalam waktu dekat sosok pemimpin yang ideal seperti ini segera hadir di tengah-tengah dunia politik Indonesia, Mas. Sosok yang tidak hanya mampu berfikir kreatif tapi juga mampu menunjukkan aksi nyata, in a good way. *crossing fingers, vertically*

  6. Aih, Mas Boy itu kan semua ngumpul di PELUK! Semua gemar pisang. Hati-hati, krisis pisang bisa menyebabkan merekapindah ke PD atau Golkar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s