‘Personal Branding’ dan Akun Yang Ditutup

Sebenarnya kemarin adalah hari yang menarik di Twitter, minimal di TL gw.

Kira-kira siang menjelang sore kemarin, akun @AkademiBerbagi sedang merelay pembicara Vera Makki yang sedang membawakan topik “Personal Branding”. Gw tidak terlalu mengikuti sih, tetapi dari beberapa twit yang gw baca isinya tentang bagaimana setiap dari kita mempunyai citra/image, bagaikan “merek” produk. Citra atau image brand ini pun harus dimanage dengan baik, dalam konteks Social Media. Kalau kita ingin mempunyai “personal brand” yang baik, ya kita harus memperhatikan isi Twitter/Blog kita, menghindari hal-hal yang membuat brand image kita menjadi jelek.

Nah, di saat yang sama pula, ada insiden lain yang melibatkan akun @AlberthieneE. Mengomentari peristiwa bom bunuh di Solo, sang pemilik akun mentwit “Pak Harto emang hebat, kagak pernah ada bom.” Spontan twit “sensitif” ini menimbulkan reaksi. Gw tidak tahu persis apa yang terjadi, tapi kayaknya ada twit-twit reaksi yang mungkin kasar atau memaki2. Ujung-ujungnya, si pemilik akun menyatakan terpukul akan reaksi kasar tersebut, dan menyatakan akan menutup akun Twitternya. Dasar yang namanya Twitter, rencana ini malah menimbulkan reaksi lebih besar lagi, dari yang memohon agar niat ini diurungkan, sampai yang malah menantang apakah benar akan dilakukan.

Bagi gw, menarik sekali bahwa dua peristiwa ini terjadi hampir bersamaan di hari yang sama. Ada sharing tentang Personal Branding di social media, dan kekecewaan pemilik akun Twitter yang berbuntut penutupan akun sebagai ekspresi kecewa.

Namanya The Laughing Phoenix, tentunya wajib berkomentar! 😀

Pertama-tama, soal Personal Branding. Menurut gw sih, Personal Branding adalah kegiatan sehari-hari yang sudah dilakukan semua orang, dan tidak mengenal pemisahan “online” atau pun “real world”. Setiap kita membawa diri dalam hidup dengan caranya masing-masing. Ada yang semau gw, ada yang empati dengan orang lain, ada yang menuntut hanya dimengerti, ada yang berusaha mengerti. Ada yang kasar, ada yang lembut, ada yang suka berkeluh-kesah, ada yang suka bercanda. Ada yang ‘transparan’, apa adanya. Ada juga yang tertutup, atau mengenakan topeng. Dan perilaku ini bagi gw tidak ada bedanya efeknya dengan di dunia social media seperti Twitter atau blog. Menjadi orang yang santun, ramah, dan positive thinking, lumrah kalau disenangi orang, baik di dunia nyata maupun maya. Menjadi orang yang pemarah, pembenci, nyinyir terus-terusan (soalnya gw suka nyinyir juga, TAPI KAN GW GAK TERUS-TERUSAN!), kasar, dll, ya lumrah juga kalau dijauhi orang, di dunia nyata dan maya.

Jadi bagi gw, ‘Personal Branding’ itu ya hidup kita sehari-hari dalam relasi dengan manusia lain, di manapun itu, dan bukan sebuah konsep terpisah atau ekslusif di dunia maya saja. Dan terserah masing-masing menjalaninya. Ada yang cuek dengan kata orang, ada yang ‘mawas diri’, ada yang full bersandiwara. Dan ini pilihan masing-masing.

Dan dari sini kita masuk ke topik ‘Akun Yang Ditutup’. Mbak Alberthiene menggunakan akun Twitter-nya, untuk menyatakan pendapat pribadinya, yang tentunya dilindungi hukum. Dengan jujur dia menyatakan pendapat beliau bahwa pada masa pemerintahan Soeharto terasa aman tidak ada bom (walaupun ini sebenarnya keliru). Dan ini sah-sah saja, karena itu pendapat dia pribadi. Tetapi Twitter adalah media ‘percakapan’ yang demokratis, dan hak menyatakan pendapat ini juga dimiliki jutaan pengguna yang lain. Adalah hak dari siapapun yang membaca pendapat mbak Alberthiene untuk memberikan respon. Bahwa respon-respon tersebut ada yang kasar atau emosional adalah risiko inheren dari media bebas.

Ada yang berkata bahwa respon balik mengenai Soeharto terhadap mbak Alberthiene adalah ‘bullying’, bahkan ada yang sempat menyamakannya dengan aksi teroris yang terjadi kemarin juga. Menurut gw ini berlebihan. Hak untuk menyatakan pendapat menyukai rezim Soeharto harus dilindungi hukum. Tetapi hak untuk mengkritik statement tersebut pun juga dilindungi hukum. Agak terlalu naif untuk tergesa-gesa memberi cap ‘bullying’ (apalagi sampai membandingkan dengan terorisme) bagi pernyataan perbedaan pendapat. Dalam hal ini gw setuju dengan twit @rayafahreza: “Freedom of speech works both ways. You can say what you want, people can respond and say what they want.” Tentunya dalam batas2 kepatutan yang tidak melanggar hukum.

Jadi sebenernya gw mau ngomong apa ya? Kok jadi bingung sendiri…. :p

Gw sih nangkepnya gini. ‘Conversation media’ seperti Twitter ini adalah satu dari banyak aspek hidup kita (sekolah, rumah, pertemanan, kantor, dll). Dan sepanjang kita hidup tidak di dalam ruang vacuum, tetapi masih bersentuhan dengan orang lain, maka akan terjadi aksi dan reaksi. Apa yang kita ucapkan dan lakukan, akan dilihat orang lain, dan mungkin akan direspon juga oleh orang lain. Dalam hal ini ‘Personal Branding’ adalah semua yang kita lakukan dalam hidup, bukan milik aspek tertentu saja (misalnya dunia maya). Dan jika di dunia nyata sudah lazim ada orang yang tidak setuju dengan tindakan dan ucapan kita, lumrah juga kalau di Twitter ada yang berbeda pendapat dengan kita. Kalau ada yang kasar atau kurang berkenan caranya, itu sudah risiko hidup.

Intinya, gw menyayangkan bahwa harus ada penutupan akun. Tidak ada yang ‘salah’ dengan twit mbak Alberthiene, dan tidak ada yang salah juga kalau mungkin puluhan followernya memprotes twit tersebut. Sesungguhnya Twitter bisa menjadi sarana belajar menggunakan hak berbicara dan juga menghormati hak berbicara. Seperti kata @rayafahreza, it goes both ways. Tetapi gw menghormati keputusan menutup akun tersebut sebagai bagian dari hak azasi. That’s life.

Yah itu aja ngalor ngidul gw malem ini sambil menunda proses mandi. Kalau kalian tidak setuju dengan pendapat gw, awas ya, akan gw tutup blog ini! 😀

Advertisements

Categories: Random Insight

19 Comments »

  1. Butuh berapa orang yang gak setuju supaya blog ini ditutup? 😛 Mau ngumpulin massa nih….. But on a rather serious note, I totally agree with what you said there…. She’s probably going to be up and active again on Twitter once this is all over, that’s my two cents 🙂

  2. Dang, nice piece of insight. I should try to write some more… to get to where you are now. Thanks for the good read.
    Some people say, “Twitter itu keras, Jendral.” #acung2inbamburuncing
    I’mma link this here blog to mine, if that’s okay with you.

  3. aaaaaak……!!!! udah keduluan ama om piring ! padahal saya juga mau nulis artikel serupa ! sedih…..tutup akun aahh…… 😥

    jujur saya sebetulnya cukup respek dengan ybs, karena menurut saya twitnya cukup berkonten, ternyata akhirnya keluar juga egonya setelah satu twit itu ( atau beberapa twit….)
    yah begitulah, ternyata banyak hal yang bisa saya pelajari dari 140karakter, makanya saya masih menunda rencana menutup akun twitter saya……..setidaknya sampai followers saya lebih banyak dari ybs :p

  4. agak aneh mba #AE yg sekeren dan sepopuler beliau tdk (kurang) memahami konsekuensi2 yg ditimbulkan akibat twitnya. apa mungkin dia khilaf, kalau iya kan tinggal minta maaf pasti orang2 yg dianggap mem”bully” juga bisa memahami.

    *mas ada sesi 2 nya ga ttg prediksi2 spt kata nashim taleb, bikin akber lagi gmn? 🙂

  5. Tutup akunnya mbak AE agak emosional sih ya. Tapi kejadian kemarin membuktikan kalo personal branding yg dibangun ybs (kakak yg baik, motivator, coach) bisa berantakan cuman gara2 ‘salah’ twit. Atau kejadian itu justru akumulasi ‘bete’-nya followers atas personal branding ybs? 🙂

  6. Hai, Mas Henry!
    Berhari-hari saya menyelidiki siapa selebtwit yang menutup akunnya, baru sekarang saya tahu bahwa orangnya adalah Alberthiene Endah. Menurut saya itu bukan perbuatan ksatria ya, saya rasa nggak asyik kita menutup akun cuman gara-gara “salah ngomong” di Twitter. Lagian menurut saya, kalimatnya itu biasa-biasa aja kok, dan nggak perlu dicaci-maki segitunya, demikian pula kita nggak perlu segitu ngerinya dimaki-maki orang lain di Twitter.

  7. owh, ini to yang katanya twitwar di hari minggu itu? dari twitwar2 yang ada sebelumnya, saya nggak masalah sama orang yang punya pendapat lain. tapi yang saya gak suka adalah ada orang yang ngetweet pure untuk menghina atau menjelek-jelekkan akun yang tweetnya ‘kontroversial’ itu, n suddenly semua orang jadi ikut2an menghina. ya itu mungkin yang disebut e-bullying. boleh2 aja freedom of speech, tapi mbok ya tata kramanya dijaga.. 😀

  8. Imho, (in my hemat oppinion), soal AE itu adalah karena keterbatasan. Baik itu keterbatasan toleransi dan keterbatasan penyampaian informasi (mau bagaimana pun juga kata-kata dalam bentuk teks pasti akan berbeda jika diucapkan langsung). Apalagi jika si AE baca mention pertama dari orang yang mengkomentari agak kasar, pasti baca mentionan berikutnya jadi terbawa emosi dan menganggap gak enak juga.

  9. sayapun men-DM beberapa akun *eh, teman* terkait hal tersebut diatas. berisi link beberapa blog yang membahas kronologis yang berhubungan dengan #twitwar tersebut dalam rangka mengaktualisasikan diri sebagai akun/orang yang informatif, berimbang dan eksis.

    *aseli, nulis pake gaya gitu capek juga*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s