Berbohong Itu Baik

Lagi2 ketemu buku asik!

Judulnya “Born Liars – Why We Can’t Live Without Deceit”, oleh Ian Leslie

Begitu gw ngeliat premise-nya, gw langsung tertarik. Ini adalah buku yang didedikasikan pada perilaku “berbohong” pada spesies manusia, ditinjau dari berbagai aspek: psikologi, neurologi, budaya, sampai ekonomi. Dan kesimpulan si penulis cukup mengejutkan: berbohong adalah sifat alami manusia, dan tanpa kebohongan spesies manusia mungkin sudah punah. Mengejutkan, karena kita semua dibesarkan dengan paham bahwa “kejujuran” adalah di atas segala-galanya, dan “berbohong” adalah penyimpangan, atau dosa, atau pelanggaran, yang sebisa mungkin harus dilenyapkan. “Bohong putih” pun dipandang sebagai suatu kompromi, situasi khusus dimana “hasil akhir” terpaksa membenarkan perbuatan yang salah (misalnya, sepasang suami-istri mengalami kecelakaan mobil. Sang suami selamat walau luka parah, dan sang istri langsung meninggal. Dokter mungkin berbohong dulu pada sang suami yang sedang dirawat sampai dia cukup ‘kuat’ untuk menerima berita duka tersebut)

Ian Leslie menulis buku ini mirip dengan gaya Malcolm Gladwell. Dia merangkai berbagai kisah dari berbagai sumber, dari jurnal ilmiah, sampai kisah-kisah sejarah unik abad 16, sampai riset otak manusia termutakhir. Salah satu bagian dari buku tersebut yang pengen gw share adalah mengenai sifat manusia yang senang membohongi dirinya sendiri.

Berbagai studi menunjukkan, manusia cenderung meng-overestimate diri mereka sendiri. Kita semua merasa diri kita: lebih pintar, lebih cakep, lebih sehat, lebih bijak, lebih rasional, lebih pintar menyetir, lebih bagus menyanyi, dll dari yang sebenarnya. Dalam sebuah studi, 80% responden merasa kemampuan menyetir mereka di atas rata-rata. Atau lihatlah audisi reality show Idol2an. Banyak yang keliatannya benar2 yakin mereka terlahir sebagai penyanyi, walau suara mereka bisa membunuh kelelawar dari jarak 2 km.

Ada beberapa macam dari “positive illusions”:

1. Exaggerated confidence in our own abilities and qualities. Kita suka meng-overestimate kemampuan atau kualitas diri. Seperti contoh peserta idol di atas. Kita juga merasa diri kita sendiri lebih obyektif, lebih tidak bisa ditipu, lebih sabar, lebih penyayang, dan lebih macam-macam lain dari kenyataan yang sebenarnya.

2. Unrealistic optimism. Atau optimisme yang tak berdasar/tidak realistis. Kita menilai masa depan kita secara tidak realistis. Kita merasa pacar kita adalah untuk selamanya, atau pernikahan kita akan penuh dengan seks dahsyat yang mengguncang pulau Jawa, atau bisnis baru kita akan untung besar 2 menit sesudah diresmikan, kita merokok, makan makanan berkolesterol, dan yakin akan tetap sehat, dll.

3. Exaggerated sense of control. Kita merasa mempunyai kontrol atas hidup kita yang tidak realistis. Kita pede dengan gelar MBA, MM, MLM, dll maka kita akan lebih sukses. Atau kita pede dengan kemampuan sepik kita cewek-cewek akan jatuh bergelimpangan di kaki kita, dll.

Sebagian besar manusia membohongi diri mereka sendiri setiap saat, setiap waktu. Kita semua hidup dalam “ilusi positif” yang jauh dari realita. Tetapi, semua “kebohongan diri sendiri” itu justru penting untuk kelangsungan hidup kita, karena kita menjadi mau untuk hidup. Walaupun gelar sarjana banyak tidak berguna dalam kesuksesan kita, kita kuliah dengan susah payah mengejar nilai yang baik. Walaupun relationships banyak tumbang, kita tetap percaya suatu saat kita akan ketemu soul-mate kita. Walaupun banyak pernikahan berakhir dengan perceraian, kita percaya itu tidak akan menimpa kita. Walaupun tim bola belum pernah masuk World Cup, kita semua berharap suatu saat kita bisa menundukkan Inggris, Itali, Brazil sekaligus. Walaupun 80% dari produk baru berakhir dengan kegagalan, perusahaan-perusahaan berlomba-lomba menciptakan dan meluncurkan produk baru. Dst, dst.

Apakah ada sekelompok manusia yang realistis, yang tidak hidup dengan ilusi2 positif di atas? ADA! Orang-orang ini punya penilaian yang akurat terhadap kemampuan mereka, terhadap masa depan, dan terhadap kendali mereka atas hidup. Mereka tahu realita yang benar. Para psikiater menyebut orang2 ini clinically depressed (menderita depresi klinis).  Dalam berbagai studi, orang-orang depresi justru menunjukkan persepsi akan realita yang lebih akurat daripada kebanyakan orang.

Ian Leslie menyimpulkan bahwa untuk bisa hidup, maju, dan berusaha, spesies kita harus hidup dalam kebohongan/ilusi yang kita sendiri tidak sadari. Ilusi positif bagaikan wortel yang diikat dan digantungkan di depan si keledai, agar si keledai mau terus bergerak maju. Jika kita terlalu berpijak pada realita justru akan berbahaya. Kita bisa malas menikah, beranak dan meneruskan keturunan. Kita akan malas berinovasi, mencipta, dan berkarya. Dan ujung-ujungnya, spesies ini bisa punah karena kehilangan kemauan untuk hidup.

Makanya gw jadi ngerti kenapa pelatih olah raga harus bisa menciptakan ilusi bahwa atlit binaan-nya adalah yang terkuat di dunia, tak kan terkalahkan. Gw juga ngerti kenapa orang-tua harus meyakinkan anak mereka bahwa ia adalah anak yang cakep, pintar, dan keren (walaupun aslinya kayak blasteran alien). Ilusi (positif), walaupun suatu kebohongan, jauh lebih sehat dari memahami realitas yang sebenarnya.

Menarik banget ya buku ini? 🙂

 

Advertisements

16 Comments »

  1. Nice share, Ring. To me the illusion is what we know as hope (utk yg blm kejadian) and self assurance (utk yg menilai ttg diri sendiri). Self assurance ini bs diinterpretasikan scr keliru kl seseorang tdk memiliki konsep diri yg kuat dan kurang wawasan. To me this book gives a nice twist on he says lying, but the morale of the story is, human needs to be optimistic, believing in their selves, believe in law of attraction to get what they want in life. Kl gw pribadi, nambah percaya sama Allah 😉

    • Positive illusion sebenernya agak beda dari “hope”, karena illusion adalah penilaian akan sesuatu, tetapi tidak akurat. Gw bisa aja tahu kalo gw bego, tapi gw bisa “berharap” kalo gw lulus ujian (mujizat/hokkie). Positive illusion di sini kita bener2 “percaya” kalo kita pintar, walaupun secara obyektif kita biasa saja.
      “Tuhan” pun bisa menjadi sosok penghibur yang memberikan optimisme. Dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti, adanya Agen Maha Kuasa yang dipercaya mengendalikan dan menjaga hidup kita juga penting untuk memberi ‘blanket of optimism’ itu 🙂

  2. Kalau boleh menambahkan, kalimat “Jika kita terlalu berpijak pada realita justru akan berbahaya. Dan ujung-ujungnya, spesies ini bisa punah karena kehilangan kemauan untuk hidup.” benar sekali. Minggu2 kemarin saya berpikir untuk mengakhiri hidup saya. Kenyataan yg harus saya terima terasa begitu pahit sehingga saya menyerah dan berpikir, “Untuk apa juga hidup kalau begini? Mendingan mati saja.” Sampai teman saya bilang “Gw gak akan bilang ke loe kl nanti akan lebih baik. Gw cuma minta loe jangan terlalu melihat kenyataan sekarang dan coba jalanin dulu hidup loe.” Mungkin saya belum bisa melihat kalau masa depan akan lebih cerah tapi saya bisa mencoba menjalani hidup. Sepahit apapun realita, belum saatnya saya menyerah. Maaf ya kak Henry bukan curcol tapi sekedar membagi persepi.

      • Iya ini boleh dibilang masih berjuang utk mengabaikan suara2 negatif dari dalam diri sendiri. Mungkin masih belum bisa positive thinking. Masih sering sedih dan merasa realita begitu pahit tapi mencoba jalanin dulu, hari lepas hari seperti yang kak Henry bilang. Makasih ya kak.

  3. knp yg lebih nyantol di otak gue “seks dahsyat yang mengguncang pulau Jawa yah”. ini pasti salah satu “unrealistic optimism” nya semua cowo di pulau Jawa,krn yg di pulau sumatra mau mengguncang pulau Sumatra jg -___- anw nice share 🙂

  4. Waktu kecil gue sering banget songong ke temen2 gue, “Suatu hari gue pasti ketemu Fabio Cannavaro!” (dulu cuma defender tim ecek2 Parma, trus kemudian jadi kapten timnas Italia dan menang World Cup tahun 2006).

    Tentu aja kata2 itu semata2 cuma omong kosong abg jaman dulu, dan pastinya disambut hujatan2 temen2 gue.

    Guess what, 13 years later, I LITERALLY MET FABIO CANNAVARO. When I told my childhood friend about this, they still did the same thing. “Kebanyakan mimpi lo nyet!” But I really did.

    Sebenrnya ilusi itu sama aja kayak mimpi. People who clinically depressed selalu blg, “Jangan mimpi tinggi2 nanti kalo jatuh, sakit!” Padahal sebenernya mimpi sih mimpi aja, dream as high as you can!! What possibly can happen? It can only be REAL.

    Delusional people are happy people. I say. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s