Tentang Berpulang

Tadi pagi, sekitar jam 6 pagi, gw terbangun karena sayup-sayup terdengar pengumuman dari mesjid RW sebelah: “Telah berpulang ke Rahmatullah, ibu…”. Dalam keadaan setengah terbangun, otak gw malah sibuk mikir….

Gw lahir dan besar dalam tradisi Kristen. Dan kebetulan, istilah yang dipakai mirip, “…pulang ke rumah Bapa di surga”

“Pulang” memposisikan kematian sebagai hal yang tidak perlu ditakuti. Dengan kata “pulang”, maka alam pasca kematian menjadi “rumah” kita yang sejati, dan kehidupan kita di dunia ini seolah-olah bagaikan “perantauan”, sebuah kondisi transisional.

Banyak orang yang sibuk mempersiapkan “kepulangan” ini, minimal untuk memastikan bahwa pulangnya ke “rumah yang benar” (masuk Surga, dan bukan ke Neraka). Dan gw jadi teringat cerpen klasik karya AA Navis ‘Robohnya Surau Kami’. Dalam cerpen itu ada ‘kisah dalam kisah’, mengenai Haji Soleh yang selama hidupnya tekun beribadah, dan ketika meninggal Tuhan bertanya apa saja yang dia lakukan selama hidup. Haji Soleh membeberkan semua jenis ibadah yang ia lakukan, setiap hari, pagi dan malam. Dan akhirnya ketika Tuhan bertanya “Ada yang lain?”, dan Haji Soleh tidak bisa menjawab, masuklah ia ke neraka. Singkat cerita, ketika ia memprotes kepada Tuhan karena ia merasa ia berhak masuk Surga, Tuhan menjawab, “….Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang…”

(ini hanya kutipan saja. Teman-teman sebaiknya membaca cerita selengkapnya ya :))

Gw jadi mikir, jika kematian adalah ‘pulang’ ke rumah asli kita, justru pertanyaannya menjadi: sudah melakukan apakah kita selama berada di luar rumah?

Bagaikan seorang suami/anak yang pergi pagi meninggalkan rumah, dan kemudian pulang ke rumah di malam hari. Jika istri/ayah yang menunggu di rumah bertanya, “Kamu ngapain aja tadi di luar?”, dan jawabannya “Gak tahu. Cuma main2 aja…”, ada kemungkinan dikemplang sih.

Kehadiran kita di dunia ini mungkin bagaikan sedang ‘di luar rumah’, tetapi bukan berarti kita hanya sibuk mikirin ‘pulang’nya. Seperti yang dipesankan cerpen AA Navis, justru hal-hal yang kita kerjakan selama di luar rumah menjadi penting. Apakah kita bekerja keras, membawa kebaikan kepada sesama, menyumbang untuk dunia yang lebih baik – semua hal ini akan menjadi ‘buah tangan’ yang akan kita bawa ‘pulang’. Kalau kita tidak berkarya selama hidup, maka kita bagaikan keluar rumah hanya untuk luntang-lantung gak jelas, dan pulang dengan tangan hampa.

Jadi, ngapain aja nih kita selama ‘di luar rumah’? Moga2 gak cuma “nge-mall” aja 🙂

NB: Maaf kalo topiknya agak berat….

Advertisements

Categories: Random Insight

14 Comments »

  1. Topik yang berat tapi analoginya sederhana, jadi pembaca mudah mengerti. Selalu salut dengan orang orang yang tidak ada latar belakang pendidikan formal sastra tapi suka sastra. Sebagai mantan mahasiswa sastra I feel so left behind, sekarang baru mau beli novelnya AA Navis. Thanks for sharing Henry.

  2. a very intriguing topic. as an atheist, to me, death is death. that’s it, cheerio.

    from what I’ve read, you’ve insinuated the fact that some religious people are too ruminated on their pursuit of an amaranthine existence in heaven. by being an atheist I am conscious of the fact that this is my one and only life. what I do in it matters to me and to a lotta people. I live to live, not to make sure that I’ll procure a spot in nirvana, I live for the sake of living. it’s that simple, and ignorance can ruin it all. it’s a journey and the terminal is, in due course, cessation, whether you like it or not.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s