Job, Profession, dan Sumber Kebahagiaan Alternatif

Kita sering mendengar nasihat untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion kita. Dan memang ada logikanya. Pada umumnya pekerjaan/profesi kita mengambil porsi besar dalam hidup kita setiap hari, sekitar 8-10 jam. Banyak yang malah bekerja sampai 12 jam. Dengan banyaknya waktu yang dihabiskan di pekerjaan, wajar kalau idealnya kita melakukan hal yang kita enjoy.

Keuntungan dari memiliki pekerjaan yang sesuai passion, minat, dan bakat kita tentunya cukup jelas. Kita bisa berangkat pagi, memulai hari dengan semangat, minimal gak bete. Selain itu, dalam keadaan susah (karena hidup tidak mungkin senang terus), kita tidak cepat menyerah.

Gw jadi ingat kata2 mantan bos gw di advertising (Lulut Asmoro dari JWT), waktu gw bertanya apa yang bikin dia tetap semangat, bahkan di usia 40-an lebih. Rahasianya: membedakan antara ‘job’ dan ‘profession’. Job itu profesi besarnya, atau bidangnya (kerja di advertising, marketing, PR, finance, dll), sementara ‘profession’ itu adalah aktivitas sehari2nya, atau job +faktor duit/bisnis. Nah, yang sering ngehek itu elemen2 dalam ‘profession’: temen kantor resek, client nyebelin, dll. Tetapi ‘profession’ yang gak enak jangan sampe dicampur-adukkan dengan ‘job’. Kalau seseorang sebenarnya suka accounting, tapi pekerjaan yang sekarang gak enak, ya jangan terburu2 mengambil kesimpulan bahwa dia tidak cocok dengan ‘job’ accounting. Karena solusinya mungkin di hal2 di luar ‘job’ yang bisa diselesaikan (kalo nggak bisa, ganti kantor).

Dan itulah yang membuat mantan bos gw bertahan itu sampai sekarang. Kata2nya dia sendiri “Gw sering sebel sama kejadian2 menyangkut kerjaan sehari2, ada aja masalah2 di advertising. Tetapi bagaimana pun, gw mencintai job gw – I love my job in advertising!

Begitulah, alasan di balik nasihat mencari profesi/job yang sesuai dengan kecintaan kita. Kalau kita bisa mencapai ini, niscaya kita akan lebih bahagia. Teorinya.

Tetapi akhir2 ini gw membaca perspektif lain tentang nasihat ini. Sederhananya begini: memang ideal sekali untuk mendapatkan profesi/pekerjaan di bidang yang kita minati dan cintai. Masalahnya, REALITA-nya, apakah benar segampang itu mendapat pekerjaan yang perfect sesuai dengan minat dan bakat kita? Kita semua yang pernah mencari pekerjaan pasti tahu bahwa dalam mencari pekerjaan ada banyak faktor selain niatan dan kompetensi. Ada faktor hokkie/luck, koneksi, kondisi ekonomi, dll.

Asumsi lain yg perlu dipikirkan. Kita sering mendengar bahwa bekerja sesuai minat dan bakat kita memberikan kebahagiaan. Ini betul, dan kayaknya udah didukung banyak penelitian. Tetapi, apakah keadaan sebaliknya juga benar? Apakah memiliki pekerjaan yang tidak sesuai dengan bakat dan minat kita otomatis berarti tidak bahagia?

Beberapa artikel dan tulisan di buku yang gw baca memberikan pencerahan baru. Untuk kita bahagia, tidak perlu memiliki pekerjaan yang perfect pas dengan minat & bakat kita. Idealnya memang begitu. Tetapi kalo tidak ketemu, ya tidak apa-apa, kita masih bisa merasa berguna dan mendapat kepuasan batin. Caranya? “Ekstrakurikuler”. Carilah aktivitas di luar pekerjaan yang kita sukai. Gw kenal seseorang yang pekerjaannya (bagi dia) membosankan dan tidak fulfilling, tetapi di luar jam kantor, dia adalah pemain band yang aktif tampil. Dan di situlah dia mendapatkan kepuasan dan makna hidup.

Ada banyak “ekskul” yang bisa kita cari. Thanks to social media seperti Twitter, gw liat terbuka kesempatan untuk bergabung dengan berbagai komunitas yang sesuai dengan bakat dan minat mu. Dari kelompok pembaca buku, berkebun, mengajar cuma2, diskusi politik, diskusi sains, perjuangan hak2 kamu terdiskriminasi, dan buanyak lagi. Kalo pekerjaan kita gak terlalu ‘happening’ untuk bakat dan minat kita, kita masih bisa bergabung dengan banyak sekali komunitas2 ini.

Dengan “ekskul” sebagai alternatif sumber kebahagiaan di luar kantor, bukannya pekerjaan utama menjadi tidak penting sama sekali. Kalau suatu pekerjaan bener2 mengganggu kesehatan psikologis/fisik kita, misalnya lingkungan pekerjaan yang abusive, workload yang terlalu berat, atau mengharuskan kita melakukan hal2 yang bertentangan dengan prinsip moral, maka “ekskul” pun tidak cukup untuk mengimbanginya. Jadi walaupun kita tidak harus mendapat pekerjaan yang perfect, tetapi minimal pekerjaan tersebut tidak destruktif ke kesehatan mental kita, atau bahkan lebih buruk lagi, menghalangi kita untuk mengejar “ekskul” yang kita sukai. Pekerjaan gak harus perfect, tetapi minimal netral, jangan sampe negatif.

Selamat mencari kebahagiaan di pekerjaan! Atau di “ekskul”! 🙂

Advertisements

Categories: Random Insight

13 Comments »

  1. Jadi inget kata-katanya Lao Tse : apabila kita masih membedakan antara pekerjaan dengan permainan, maka kita belum menjadi orang yang piawai.

    Btw, sejak make android, jadi sering update blog oom… Hehehehe…

  2. Gw sih bahagia di kantor. Gw emang pantang menyerah dalam belajar dan memperbaiki kesalahan. Masalahnya adalah bos gue yang (keliatannya) sudah menyerah ngajarin gue dan ngasih tau kesalahan gue. Wish me luck *ketawa ngenes*

  3. sukaaaa ♥
    di calon mantan kantor gw, makin tinggi jabatan = makin panjang jam kerjanya,, meeting ampe malem2, nyampe rmh jg masih ngebahas kerjaan via BBM,, bsknya teteup masuk jam 8,, kapan ekskul nya coba,, tsk *eh kok ngrasani 😛

  4. Hmmm, dulu gw juga mikir gitu sih, berhubung gw seneng di bidang gw, dan ngerasa kerjaan yg fun challenging itu ngaruh banget ke gw, gw ngerasa kerjaan/hobi/purpose itu penting banget buat bikin bahagia. Tapi kenyataannya, gw liat banyak juga orang yg bisa bahagia tanpa kerjaan/eskul yang mereka bener2 passionate about. Jadi menurut gw sih, kerjaan/eskul fulfilling is nice, tapi ga sebegitu esensialnya buat kebahagiaan, asal loe emang bukan tipe orang yang work-oriented. Lagian, gw rasa lebi banyak orang yang ga seberuntung itu buat ketemu/berhasil kerja di bidang yg mereka suka banget, kasian banget kan kalo mereka2 ini divonis ga bisa bahagia hahahaha.

    Caveatnya sih, bidang2 personal laennya biasa kondisinya harus okeh (friendship, family, personal relationship, finance,health etc). Dan, emang mereka punya kerjaan juga emang ga ekstrim negatif sih. But then again, gw rasa kalo bagian apapun dari hidup elo ekstrim negatif, kayanya emang agak susah/muluk buat nuntut buat bahagia.

    Cuma ya resikonya, kalo entar faktor bikin stressnya nambah (berantem sama temen deket,bonyok, baru putus, baru cere, bangkrut etc), kalo loe ga punya kerjaan/ekskul yg fun/fulfilling gw rasa pertahanan kejiwaan elo kemungkinan lebi kecil aja, lebi cepet jadi despo gitu.

  5. thanks bro! it’s sooo inspiring me, disaat gue lagi dalam pilihan, cabut apa nga dari kantor sekarang…(jempol tangan kiri dan kanan keatas)

  6. hmm…nemu blog ini dari salah satu mention Seleb “Sang Dewi” hehee, terpanalah gue..langsung cekidot..oww kacamataan toh,..dan lanjut membaca artikel sebelah ttg survey “asli kocak” itu..(peluk) :D. talk about passion..buat gue adalah yang bisa membuat bahagia disaat krisis.. (lhoo koq) yup..ketika krismon menghampiri, mengingat passion langsung berubah..akhirnya Money itu datang..love my passion..”nice artikel Om”

  7. Wah, setuju banget. Itu filosofi hidup gue “do what you love!” and you will have abundance energy to survive! Tapi bijak juga perkataan mas soal hidup yang gak selamanya ideal seperti yang diharapkan, meski menurut gue is a matter of choice sih.. Andaikan loe menjalani pekerjaan yang bukan passion loe, kenapa ngga dilepas dan memilih untuk melakukan yang disukai. Tapi prakteknya tentu butuh keberanian, kesiapan akan resiko, safety dan sederet pertimbangan lainnya.

    Anyway, good writing mas… Bahasanya asik dan enak dikunyah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s