Bertemu Tuhan dengan Menghalangi Pencari Tuhan Lainnya

Jadi ceritanya malming ini gw lagi ngadmin Survey Jomblo Nasional 2012, tapi kemudian baca twitnya Om Todung Mulya Lubis mengenai penutupan 20 gereja di Aceh. Gw cari di google terus ketemu beritanya di sini

Jujur gw sedih. Bukan hanya karena gw kebetulan berstatus pemeluk agama Kristen, jadi bisa berempati. Tapi juga sedih dengan kondisi negara ini.

“Religious persecution”, atau ‘penganiayaan agama’, sudah bukan barang baru akhir2 ini di Indonesia. Dari kasus GKI Yasmin, Ahmadiyah, sampai kasus gereja di Aceh ini. Sering ‘dikemas’ dengan kata2 indah seperti “masalah perijinan”, “tidak sesuai dengan masyarakat sekitar”, dll, tetapi “religious persecution” ya religious persecution, dengan nama apapun. Yang bikin gw sedih adalah, trend ini benar-benar pergerakan mundur dari sebuah “civil society”. Di berbagai belahan bumi lain, di negara2 maju, hak-hak beragama dari mayoritas maupun minoritas dilindungi. Ketika dua tahun lalu sebuah mesjid akan dibangun di dekat situs 9-11, di tengah kritikan keras, Obama tegas pada pendirian bahwa mesjid tersebut berhak untuk didirikan (berita di sini). Itulah contoh sikap yang beradab abad 21.

Membenci, mendiskriminasi pemeluk agama lain, bagi gw adalah sebuah perilaku yang luar-biasa purba, tidak beradab, dan harusnya tidak memiliki tempat di abad 21 ini. Ironis sekali, bahwa ketika bangsa Indonesia menikmati kemajuan ekonomi yang sangat baik, standar hidup meningkat, kelas menengah tumbuh, banyak yang punya smartphone, dan tablet,tapi pola pikirnya masih “prasasti”, alias purba. Kita membiarkan sekelompok kecil penjahat dengan agenda mereka mempertentangkan golongan2 dalam masyarakat secara horizontal.

Gw udah bosen nulis ini, tapi terpaksa gw ulang. Sekali2 dateng lah ke Museum Sumpah Pemuda, yang mengabadikan Kongres Pemuda II tahun 1928. Lihat di sana berbagai kelompok pemuda dari latar-belakang agama dan ideologi berbeda bisa duduk bersama. Dan ini di tahun 1928 guys. 1928!! Malu, bener-bener malu kalo gw inget hal itu.

Selain pola pikir “purba” ini, hal lain yang bikin gw gak ngerti adalah konsep menzhalimi penganut agama lain sebagai ibadah. Asli gw gak bisa ngerti sedikitpun logika atau akal sehat dibalik konsep ini. Kalau kita semua tulus mencari Tuhan, ya kita memfokuskan diri kepadaNya dan bergerak mendekat kepadaNya saja. Kenapa harus dengan menzhalimi penganut agama lain? Kalau beribadah artinya membawa penderitaan bagi golongan lain, gw gak melihat manfaat agama – selain menjadi legitimasi nafsu binatang manusia yang mau menindas kelompok lain.

Kalau “jalan” untuk bertemu Tuhan harus dengan cara menghalangi pencari Tuhan lainnya, maka lebih baik gw menghindar dari jalan tersebut. Untuk apa seseorang mendekat kepada Tuhan diiringi musik ratapan dan basah kuyup dengan air mata penganut agama lain….

Advertisements

Categories: Negeriku

28 Comments »

  1. 😥 Aku pun akan ngambil langkah yg sama seperti Bang Henry. Tidak ada satu manusia pun yg berhak menghakimi dan mengatakan bahwa dirinya lah yg paling benar. Karena sebagai manusia biasa kita sangat kecil dihadapan-Nya. Dan yg mengangkat seseorang itu adalah kebaikannya. Dan apakah kebaikan kita melebihi orang yg kita zholimi? No one knows, only GOD knows. Dan menzholimi orang lain, tidaklah membuat diri kita menjadi lebih baik dari orang tersebut. Kenapa ga kita fokus senantiasa mendekatkan diri ke Tuhan dengan terus-terusan memperbaiki diri kita menjadi lebih baik, tanpa harus menyakiti orang, dengan bertindak seakan-akan kita Tuhan, yang paling tahu mana yg benar dan mana yg salah. Semoga masih ada harapan, dimana kita bisa saling menghargai dan menghormati perbedaan beragama ya Bang.. :’)

  2. suka sama quotenya om yang terakhir…

    emang untuk urusan toleransi antar umat beragama, Indonesia harus banyak belajar tapi disamping itu….pemimpinnya which is our president, juga harus bisa bertindak tegas… kalo dibiarinin terus…ya ga akan kelar…

  3. Satu hal yang bisa saya katakan, orang yang menzholimi orang lain tidak beda derajatnya dengan binatang. Pikirannya sempit dan benar-benar “PURBA” om piring. Indonesia ini lucu, saya sudah tidak merasakan adanya Bhineka Tunggal Ika lagi, Unity in Diversity. Mungkin lebih tepat semboyannya, “kalau ente beda, gue habisin!” You see? yah itu lah kita seperti kehilangan jati diri bangsa.
    Negara kita ini adalah negara yang rawan akan perbedaan. Seharusnya dengan latar belakang dan sejarah yang beragam, rasa empati dan berbesar hati itu harus ada. TERIMA LAH kenyataan ini. jangan berusaha untuk menyamakan semua orang untuk mengikuti apa warna kulit kita atau apa agama kita. Rambut boleh sama hitam tapi soal keyakinan itu urusan kita sama yang di atas.
    Anda merasa paling benar soal agama? bahkan pendeta atau ustad saja, tidak bisa dikatakan 100% paling benar tanpa dosa. Orang yang mengakui adanya Tuhan/Allah harusnya dalam sikap dan perbuatannya mencerminkan KETUHANAN. Tidak ada agama yang mengajarkan untuk menyakiti orang lain, kalau ada maka agama itu sesat. Make it simple, orang yang merasa paling benar dalam menafsirkan sebuah ajaran, biasanya tidak mengerti apa-apa tentang konsep ajaran itu sendiri. Jujur, gue lebih salut sama orang yang tidak beragama(ATHEIST) tapi dalam sikap dan perbuatannya mencerminkan KETUHANAN daripada orang yang sok-sok berada paling depan sebagai pembela Tuhan/Allah tapi dalam sikap dan perbuatan tidak sedikitpun mencerminkan apa-apa.

    Mirisnya lagi negara yang harusnya menjamin kebebasan warga negaranya untuk beribadah malah kehilangan fungsi autentiknya. Presiden kita ini sudah terlalu lama tidur, sehingga tidak tahu ada warga negaranya yang hendak beribadah saja harus meneteskan air mata. Ampun…..

    • halo ralat sedikit, atheist dan tidak beragama itu beda….atheist itu tidak berTuhan atau tidak mengakui Tuhan, sementara kalau tdk beragama bisa saja krn tdk mau meyakini agama tertentu tp ttp berTuhan.

    • Halo, mo ralat dikit, atheist itu tidak berTuhan, sementara tidak beragama bisa saja masih berTuhan tp tdk mnjalankan/memeluk agama trtentu. Klo ga slh istilahnya agnostik. Byk contoh org yg begini (tak beragama tp bukan atheist).

  4. Gw cm pingin tulisan (om/bang/pak, abis. Bingung manggilnya) henry, tersebarluaskan, krn terus terang gw jg eneg dgn semua peristiwa kekerasan yg tjd sehubungan dgn “Penganiayaan Agama”. The blog is what I felt inside but I just don’t know how to put in in words. I’m a moslem with lotsa-variety-religion-friends, jadi suka sedih dan malu jadinya

  5. IMO apabila ada sekelompok orang yang mengaku beragama apapun melakukan religious persecution dengan alasan apapun membuktikan bahwa mereka sendiri pada dasarnya belum yakin dan insecure dengan apa yang mereka yakini. Dan lagi sepengetahuan saya, dalam agama saya diperbolehkan untuk menyerang penganut agama lain hanya dalam kondisi tertentu yaitu perang, yg memang udah lain ceritanya. Bahkan nabi yang seharusnya dijadikan panutan saja sangat menghormati hak dan menjaga hubungan baik dengan penganut agama lain.

    • Nah itu dia mbak…skrg tampaknya ada sklompok org yg seolah menjadikan kegiatannya menzhalimi umat agama lain sbg “perang” , utk menjustifikasi tindakannya…yah itu pendapat pribadi sy dr pengamatan slama ini…

  6. maka oleh karna itu….lebih baik ga usa percaya ma tuhan2…..yg ptg intinya berbuat baik….ga rugiin org banyak…..itu paling logis….dibanding ada banyak agama malah perang agama

  7. sepertinya betul,, Indonesia memiliki sedikit masalah intoleransi antar umat beragama.. di Indonesia bagian timur,, pendirian masjid pun sangat sulit.. dan kasus pembunuhan imam imam masjid di papua.. mungkin kalo bang Henry lebih banyak baca bisa menulis lebih berimbang..

    mengutip kalimatnya Hasyim Muzadi,, Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace),, “Indonesia lebih baik toleransinya daripada Swiss yang sampai sekarang tidak memperbolehkan pembangunan menara masjid. Juga lebih baik daripada Prancis yang masih mempersoalkan jilbab, dan lebih baik daripada Denmark, Swedia, dan Norwegia, yang tidak menghormati agama, karena di sana ada UU perkawinan sejenis” (kebetulan saya sedang hidup di eropa,, dan saya meng-iya-kan pernyataan beliau)

    kalau negaranya obama dianggap negara beradab abad 21,, lalu knapa seseorang bisa ditolak visa hanya karena bernama depan Muhammad..?? dan jumlah masjid disana jauuuuuh lebih sedikit daripada jumlah gereja di Indonesia..?? mereka masih lebih toleran kah..??

    setelah mengalami hidup di lebih dari 4 negara,, sepertinya saya setuju sama JK dan HM (dalam artikel yg saya berikan linknya dibawah),, kita sudah hidup di negara memiliki toleransi antar umat beragama yg cukup tinggi..

    untuk dibaca :
    http://www.suara-islam.com/mobile/index.php?aksi=detail&kid=4698
    http://www.gatra.com/nasional-cp/1-nasional/13551-hasyim-muzadi-bantah-tudingan-intoleransi

    • Tujuan saya adalah analisa trend menyangkut penutupan/pemgahalangan rumah ibadah secara keseluruhan, bukan konflik antara 2 agama spesifik. Triggernya adalah artikel penutupan gereja di Aceh. Dan saya kontraskan dengan artikel mengenai statement Obama mengenai pendirian mesjid. Agar konteks ini dipahami.

      Jadi argumen ‘di bagian Timur juga terjadi’ menurut saya tidak relevan dan cenderung mengajak pertentangan 2 agama yg tidak mau saya ladeni. Penutupan/penghalangan rumah ibadah di mana pun di negeri ini tidak dibenarkan.

      Kemudian saya tidak pernah bilang negara ini tidak toleran. Saya memfokus pada trend/pergerakan pada arah intoleransi. Negara ini masih salah satu yg paling toleran, tetapi trend yg ada mengkhawatirkan, karena kasus penghalangan rumah ibadah semakin banyak. Kalo trajectory ini dibiarkan, akhirnya akan hilanglah status negara toleran tersebut.

      Saya tidak akan meladeni kisah visa yg anekdotal (debat anekdot tidak akan habis). Soal jumlah mesjid di AS, mohon pakai logika berdasarkan profil demografi. Dengan argumen yg sama, Indonesia harusnya masuk kategori negara intoleran karena jumlah gereja, pura, dan vihara sedikit sekali.

      Sekali lagi, fokus posting saya adalah mengenai pencarian Tuhan, dalam bentuk hak memiliki dan mendirikan rumah ibadah. Menghalangi orang lain mencari Tuhan, agama apapun itu, adalah tindakan tidak berperikemanusiaan. Dan saya khawatir trend ini bertambah banyak di negeri ini.

      • “Tujuan saya adalah analisa trend menyangkut penutupan/pemgahalangan rumah ibadah secara keseluruhan, bukan konflik antara 2 agama spesifik. Triggernya adalah artikel penutupan gereja di Aceh. Dan saya kontraskan dengan artikel mengenai statement Obama mengenai pendirian mesjid. Agar konteks ini dipahami.”
        (copas dari komen diatas)

        saya salut sekali anda bisa berusaha netral dalam situasi seperti ini, ya maaf saja, bahkan saya pun jadi terbawa emosi, sangat susah untuk tidak terpancing dalam isu2 sensitif seperti ini ya ?

        poinnya adalah bukan urusan saya kalau anda atau siapa pun mau memeluk agama apapun yang ada dimuka bumi ini, mau bikin agama baru pun silakan aja, gak masalah…..problemnya muncul saat hak-hak pemeluk agama lain diinjak2.

        saat pertama saya dengar di “serambi mekah” itu mau menerapkan syariah islam ; “is this some kinda joke ?” yah….whatever lah, suka suka ente aja, asal jangan sampe mengganggu pemeluk agama lainnya aja ya…..eh, akhirnya hal yang saya khawatirkan itu kejadian juga deh ! astagaa 😦

        saya sudah muak melihat kemunafikan penduduk negri ini, kami menampilkan sosok suci, senantiasa beribadah, memiliki pencitraan keluarga sakinah yang sempurna dan harmonis, rutin naik haji tiap tahun, rutin bersedeqah sepanjang diliput media, blablablablaaa…….tapi dibalik itu maksiat ya terus aja.

        kadang saya pikir kenapa kita ga sekalian ikutan bejat aja kayak kaum kafir itu ? daripada hidup bermuka dua seperti ini ?

        padahal sudah ada peringatannya bahwa salah satu bahaya terbesar dalam umat kami yaitu kaum munafik, yang notabene seagama juga, bukan kaum kafir ! dan kaum munafik itu tempatnya dineraka yang paling dalam.

        mohon maaf kalau saya curcol melulu disini, soalnya saya sungguh sedih melihat fenomena ini, kalau gak berkenan silakan delete aja komen saya ini.

      • Bodohlah kita kalau mau diadu domba antar agama. Itu sengaja tujuan mereka memecah bangsa plural ini. Gw sih gak mau ya, wong gw berteman dengan semua orang dari berbeda latar belakang 🙂

      • Maaf saya orang awam disini, hanya ingin menanggapi sekaligus bertanya.
        “Di berbagai belahan bumi lain, di negara2 maju, hak-hak beragama dari mayoritas maupun minoritas dilindungi. Ketika dua tahun lalu sebuah mesjid akan dibangun di dekat situs 9-11, di tengah kritikan keras, Obama tegas pada pendirian bahwa mesjid tersebut berhak untuk didirikan (berita di sini). Itulah contoh sikap yang beradab abad 21.”
        Kalau setahu saya banyak negara maju juga menunjukkan toleransi yang buruk, seperti yang tadi ditulis Muhammad. Bahkan jaman sekarang antara orang kulit hitam dan putih juga masih ada intoleransi. Hal-hal kecil seperti bersosialisasi kesehariannya di negara maju juga banyak yang kurang. Contohnya saja banyak juga (saya tidak mengatakan semua) yang dibedakan2, dibully, atau semacam itu hanya karena nama, prinsip kehidupan seperti menghindari alkohol, pakaian, dan seks bebas. Jangan membayangkan kita sebagai turis karena kemungkinan besar kita tetap dihargai. Tapi bayangkan sebagai penduduk minoritas di negara tersebut.
        Kalau presiden atau pemerintah yang melindungi sih, apakah itu tidak dilakukan juga di Indonesia? Menurut saya wajar kalau Obama melindungi semua umat beragama di negaranya karena dia presiden. Bagaimana dengan rakyatnya?
        Bukannya saya mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia itu sudah baik, tapi menurut saya kalau digunakan kata “…di negara2 maju, hak-hak beragama dari mayoritas maupun minoritas dilindungi.” sebagai perbandingan dengan keadaan di Indonesia.
        Maaf kalau ada yang kurang berkenan atau salah dari pendapat saya.
        Saya sangat setuju kok kalau kita perlu membenahi toleransi antarumat beragama di Indonesia kok.

    • @Muhammad : sy mo ikut komen, adanya UU Perkawinan Sejenis belum tentu tidak menghormati agama ya, IMHO itu menunjukkan bhw UU yg dibuat negara tersebut juga mengakomodasi kebutuhan/keinginan sekelompok masyarakat yg bukan penganut agama yg melarang perkawinan sejenis. Kalau dibilang negara2 tersebut tidak menghormati agama, kenyataannya mereka tetap memberikan kesempatan berkembang kepada agama2 yg ada juga bukan? Sori klo sy terdengar sotoy krn memang belum pernah hidup di 4 negara berbeda ataupun negara di eropa, jd komen sy ini murni dr pengamatan, pembicaraan dan interaksi sy dgn bbrp teman2 yg kebetulan asli dr eropa juga…

    • Sob jgn samakan negara Eropa dengan kita dong. Indonesia suku bangsanya beragam, ada Batak, Bugis, Jawa, Sunda, Papua, dsb. Tapi di Eropa mereka terpisah2 sob, co: yg tinggal di Jerman itu suku bangsa Arya, yg tinggal di Inggris itu Anglo Saxon, dsb. Dan setiap negara di Eropa itu memiliki suku bangsa sendiri2. Kalau mau di samakan dengan benua Eropa nanti jd bkn negara Indonesia lg dong sob yg ada. Yg ada jdnya negara Si Raja Batak suku bangsanya Batak, negara Sulawesi suku bangsa Bugis, negara Kalimantan suku bangsanya Dayak. Ya kalau sdh begitu sia2lah perjuangan para pahlawan kita yg dl. Plus seandainyapun kalau mereka/negara2 Eropa salah jangan kita ikut yang salah dong sob. Peace out/Wassallam.

  8. saya sebetulnya sudah lama ingin memberikan komen yang serius untuk masalah ini, cuma kendalanya ya kondisi saya sendiri ini, maksudnya kalau orang seperti saya ikutan komen, pasti cuma nada miring saja yang saya terima, padahal sungguh ini bukan hal yang dulu diterapkan oleh Nabi kita…so sorry to hear this sad story, but what make me sad is we can’t do much about it.

    sebagai pemeluk agama ini sedari lahir saya selalu melihat stigma2 pada masyarakat pada kami, seperti “jangan pelihara anjing” atau “gak boleh baca buku2 kaum kafir” dan komen2 seperti itu sampai hari ini PUN masih saya terima, namun apakah kita sudah memberikan impresi yang betul tentang agama kami ini pada masyarakat umum ? saya rasa tidak.

    contohnya saja saat saya membuat book review tentang biografi Nabi yang ditulis oleh orang “kafir”, ada beberapa yang komen bahwa saya harusnya jangan baca buku itu, dan kenapa gak baca buku karangan orang islam sendiri….eh ! coba baca baik2 ya review saya itu ; si penulis yang “kafir” itu justru menulis biografi Nabi kita ini untuk meluruskan PERSEPSI yang salah terhadap Islam ! ya pastilah saya baca biografi nabi karangan penulis muslim yang lainnya !

    my apologize for can’t do much about this, but I’m afraid there’s some “ulterior agenda” behind it ; to divide us all.

  9. yg saya tahu Rosulullah saja sangat menghargai toleransi antar umat beragama…. kenapa kita ingin disebut sebagai pengikut ajarannya jika hal toleransi saja sering kita lupakan…. ImHO

  10. @Muhammad :
    anda harus hati2 menyatakan kejadian yg adalah fakta ! tidak ada kesulitan mendirikan Mesjid dan pembunuhan imam2 di Papua ! di Fak-Fak justru banyak penduduk asli Papua yg beragama Muslim.

  11. Gue jg jd sedih nih sob setelah membaca beritanya. Katanya/teorinya UUD 1945 Pasal 29 ayat 1&2 menjamin hal itu, di tambah PANCASILA dgn Sila 1, tapi kenyataannya/realitanya nehi sob. Ya mungkin kawan2 yg dr Aceh Singkil tu yg melarang Gereja GKPPD belum pd sekolah agama atau belum belajar PPKN yg benar kali ya atau belum tamat mungkin sekolahnya sob. Sabarlah, sabar, cepat atau lambat mereka pasti kasih ijin jg, bantu dgn doa ajalah sob. Peace out/ Wassallam.

  12. Jadi inget kejadian kecil, lucu dan sumpah gak banget karena menunjukan bahwa di Indonesia itu super duper amat sangat pentik banget sekali adalah ketika saya dan teman-teman nonton acara ajang mencari bakat di TV. Tiba-tiba salah seorang teman cewek dan beragama Islam mengomentari salah seorang peserta pria yang bersuara bagus dan ganteng “Ih dia ganteng banget sih terus ganteng. Sayangnya dia Kristen, gak jadi deh ngedukung dia”

    Coba apa hubungannya suara, ganteng, dukungan fans sama agama?? Gak dikawinin juga tuh peserta kenapa mesti mencampuradukan agama sama bakat dia? Aku aja yang beragama Islam pengen ngejitak kepala temanku (tapi diurungkan lebih baik melipir daripada denger komen gak berguna)…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s