Tentang “Meremehkan”

Akhirnya Pilkada DKI selesai sudah. Hari pemilihan bagi gw terasa seru. Bagaikan perang besar Bharatayudha, dua kelompok besar yang sama kuatnya (minimal menurut survey Tempo) bertarung. Dan sampai saat ini, hasilnya pun terasa mengejutkan. Pasangan challenger Jokowi-Ahok menang atas incumbent Foke-Nara, walaupun tidak terlalu jauh.

Gw gak bakal menganalisa penyebab kalah-menang. Toh dalam hitungan detik ketika Quick Count mulai berjalan, ratusan analisa mengalir dengan derasnya di berbagai media. Dari yang becandaan (“Ahok menang soalnya kiyut!”), sampai yang serius (“Gara-gara swing voters di menit terakhir mendukung Jokowi. Ngomong-ngomong, swing voters itu apa?”). Gw lebih tertarik dengan fenomena di antara banyak orang. termasuk gw sendiri, yaitu “meremehkan”.

Waktu putaran pertama, gw jujur sudah agak pasrah bahwa Foke akan menang lagi. Kenapa tidak? Doi adalah incumbent, sehingga namanya jauh lebih dikenal. Doi juga punya budget yang kencang (yang sayangnya disalurkan dalam bentuk lagu + videoklip terkutuk “Fokelah kalau begitu”. Eh, mungkin itu penyebab kalah ya?) Tapi di balik sikap “pasrah” ini, justru tersembunyi sikap meremehkan. Gw meremehkan begitu banyak orang yang menginginkan perubahan. Dan hasilnya: Foke gagal menang satu putaran. Foke kaget. Dan gw pun ikutan kaget. Jokowi-Ahok mampu mengalahkan Foke-Nara, dan pilkada harus lanjut ke putaran kedua.

(ada satu kaget “kecil” gw yang lain, yaitu bahwa pasangan Faisal-Biem dengan dana iklan/promosi yang begitu minim, bisa mengalahkan pasangan Alex-Nono yang gencar beriklan. Tapi ini topik lain lagi)

Menjelang putaran kedua, mendadak berhembus kencang isu SARA. Terdengar himbauan agar jangan memilih pemimpin yang non-Muslim, atau yang “ke-Islam-an”nya diragukan. Entah bagaimana, terdengar tuduhan meragukan ke-Islam-an Jokowi. Ahok yang jelas-jelas keturunan Cina dan non-Muslim tentunya menjadi sasaran empuk himbauan itu. Tidak main-main, sang Raja Dangdut Rhoma Irama yang punya pengaruh begitu besar, turut  mendukung himbauan ini, diliput oleh seluruh media massa.

Dan pikiran gw waktu melihat itu semua, pikir gw: “Mampus deh. Isu SARA mana bisa dilawan?” Bagaimanapun, warga Jakarta banyak yang masih konservatif, dan isu agama masih sangat relevan bagi banyak orang. Dan strategi tersebut kemudian tampaknya memang efektif sampai tahap tertentu. Bahkan di survey-survey pun tertangkap jelas bahwa alasan mendukung Foke-Nara banyak karena alasan agama.

Dan gw tidak menyangkal, gw kembali skeptis dengan posisi pihak Jokowi-Ahok. Gw berpikir, isu SARA terlalu berat untuk dilawan. Ditambah lagi dengan banyaknya partai yang kemudian bergabung di belakang barisan Foke. Bahkan partai yang dulunya musuh bebuyutan seperti PKS, bisa berbalik arah mendukung Foke. Menghadapi gabungan isu SARA dan dukungan partai-partai raksasa, gw pun lemes. Mana ada harapan lagi? Dengan kata lain, gw pun kembali melakukan kesalahan yang sama:

Gw meremehkan begitu banyak orang yang menolak melihat kualitas pemimpin hanya dari agama atau etnisnya saja.

Meremehkan, ada di dalam setiap episode penting sejarah. Amerika meremehkan kemampuan militer Jepang menjelang Perang Dunia II. Belanda dan Jepang mungkin meremehkan kemampuan bangsa ini untuk bersatu dan menuntut kemerdekaan. Dunia sempat meremehkan bahwa ideologi komunisme akan rontok di Eropa, dan tembok Berlin bisa runtuh. Dulu, banyak yang meremehkan pro-demokrasi bisa mengakhiri Orde Baru di Indonesia, atau bahwa Indonesia akan bangkit menjadi kekuatan ekonomi yang signifikan. Dan mungkin, sampai 2008, masih banyak orang yang meremehkan bahwa Amerika bisa memiliki seorang presiden kulit hitam.

Dan akhirnya hasil Pilkada putaran 2 keluar (walaupun masih Quick Count), dengan Jokowi-Ahok sebagai pemenang. Pasangan yang membuktikan bahwa warga Jakarta tidak bisa diremehkan. Di hari itu, 20 September 2012, gw mendadak merasa sangat bangga menjadi warga Jakarta.

Tapi jujur gw juga merasa malu, karena telah meremehkan warga Jakarta (lagi). Gw sudah meremehkan kekuatan warga yang percaya, kita bisa menjadi lebih baik jika kita tidak membiarkan isu-isu SARA memisahkan kita. Mungkin, silent majority is not so silent anymore.

Dan gw pun kembali punya harapan pada warga kota ini. Dan bangsa ini.

Gw hanya berharap, semoga hal ini terus bergulir ke kota-kota lain, menulari seluruh bangsa. Dan para politisi hitam, koruptor, penghasut, pembenci mulai bisa melihat, bahwa mereka sudah tidak bisa lagi meremehkan bangsa ini.

Selamat untuk pak Jokowi dan Ahok – selamat berkarya. Never underestimate the people, never underestimate yourselves.

🙂

– yang masih terus belajar untuk tidak meremehkan –

PS: bahkan sampai semalem, gw masih meremehkan kemampuan K-Pop bisa menghipnotis massa dengan lagu-lagu yang bahasanya gw gak ngerti, sampai gw dateng sendiri ke SMTown!

Advertisements

Categories: Negeriku, Random Insight

13 Comments »

  1. Fyi im sitting now in a symposium instead listening this guest speaker, i read this posting…. Gw ketawa2 sendiri di bag SM 🙂 but i couldnt agree more for the quote never underestimate people and yourself because u will never know what they or yourself capable to do….. #For better Jakarta 🙂

  2. Sebenernya, di putaran 1 gw berharap bgt Faisal atau Jokowi bisa ngambil persentase suara yg cukup besar. Malah kaget banget waktu ngelihat Jokowi bisa unggul. Langsung gut-feel gw serasa terbukti. Selama ini gw punya keyakinan org Indonesia itu sangat ok – maksudnya sangat sensibel, baik, dan toleran. Sebagai orang yg sering mendengar obrolan orang asing di jalanan (di taxi, angkot, ojek, pinggir jalan, di gerobak tukang bubur dll) jauuuh, jauh jauh lebih banyak orang2 yg dasarnya rasional & punya itikad baik. Yg jadi masalah adalah banyak orang2 ini yg tidak mendapat informasi yg benar atau kena diindoktrinasi pihak tertentu.

    Bukannya bilang bahwa orang2 skrg itu lebih ngeh kalo Foke itu ngga bener, tapi senang bahwa SARA itu ngga lagi bisa dijual. Apa artinya kalo elu itu Jawa, Batak, Sunda, Cina, Manado? Artinya cuma keluarga lu asalnya dari sana, ngga ada lagi hal penting yg bisa disimpulkan lebih jauh dari garis keturunan. Ngga otomatis kalau Cina berarti kaya, kalau Batak bakal jadi pengacara, kalau non-muslim tidak boleh mimpin.

    Jokowi’s victory = faith in humanity restored!
    Well, more like faith in Indonesians confirmed.

  3. Wahaha boleh komentar kan? Boleh dong. Sebenernya mereka ga cuma menghipnotis dari lagu sama kemampuan performance mereka tapi dari reality show, variety show, dan kepribadian mereka sih. Saya sih jujur aja sampe bikin 2nd acc di twitter buat update berita tentang mereka. Maklumin, namanya juga fans dari luar negeri bergantung pada internet. Karena kita cuma tau berita dari para stalker (yg ternyata dateng juga ke sini padahal dari korea, jepang, dll) jadinya kita pengen liat dengan mata kepala sendiri. Hasilnya ekspektasi sama dengan realita! Kira-kira begitu om. Masalah lagu sebenernya intinya sama aja sama kayak lagu-lagu cinta di sini hanya saja penyajian mereka yang beda sendiri sampe akhirnya memiliki istilah k-pop. Buset kepanjangan komentarnya!

  4. Yang diakhiri dengan diare, gara-gara ngeliatin SNSD yang berpeluh.. *du dudu du dududu*

    Anywaaaaay.. SMTown mau diputer di RCTI Baaaaang!! SMTOWN BANG! SMTOOOOOWN!!! #totallylosingtrack #ok #bye

  5. Om piring curhat sebanyak 8 paragraf (sempat terpikir, “lah, dia curcol abis) tp setelahnya analisanya bagus

    Suka kalimat penutupnya; ‘never underestimate others, never underestimate yourself’

    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s