Tentang Konspirasi

Kemarin ramai di Twitter soal pernyataan bahwa penangkapan presiden PKS oleh KPK adalah konspirasi zionis. Kebanyakan di TL gw mentertawakan pernyataan itu. Daripada konspirasi zionis, gw lebih percaya ada konspirasi Aliansi Sapi Asing yang sudah muak dijadikan rendang di Indonesia. Sayangnya tidak ada yang mau percaya teori gw.

Tapi insiden ini mengingatkan gw pada sebuah cerita konspirasi lama, yaitu konspirasi pendaratan di bulan yang palsu. Bagi yang tidak tahu, banyak orang percaya bahwa pendaratan astronot di bulan (inget Neil Armstrong? “One small step for a man, giant leap for mankind”?) sebenarnya adalah konspirasi kebohongan. Konon sebenarnya Amerika Serikat tidak pernah berhasil mendarat di bulan, tetapi untuk menjaga harga diri, mereka membuat video dan foto-foto palsu di studio bahwa seolah-olah mereka berhasil. “Video dan foto palsu” itu dibahas dari berbagai sudut, dengan “bukti-bukti” akan kepalsuan mereka. Tidak tanggung-tanggung, konon Pemerintah AS menyewa sutradara Hollywood kondang Stanley Kubrick untuk membuat film tersebut. (Bagi yang tertarik mencari tahu lebih, cukup google “moon landing hoax”)

Gw pribadi tidak menganggap serius teori konspirasi pendaratan di bulan ini. Walaupun sejujurnya, teori ini lebih “bermutu” dibandingkan Zionis dan KPK karena seolah-olah didukung bukti-bukti nyata.

Terus gw mendapat link ke video “Why The Moon Landing Could Have Never Been Faked”. Video ini berisi penjelasan dari seorang ahli perfilman bahwa pendaratan di bulan TIDAK MUNGKIN palsu. Yang gw suka dari video ini adalah karena KOCAK MAMPUS, gw sampe katawa guling-guling. Si pembuat film S.G. Collins sarkastis tapi tenang, sehingga penjelasannya lebih jleb mancleb. Silahkan ditonton sendiri:

Bagi yang kesulitan mengikuti bahasa Inggris-nya, secara singkat penjelasannya sebagai berikut: film pendaratan di bulan tidak mungkin dipalsukan karena TEKNOLOGI PERFILMAN di tahun 1960-an tidak memungkinkan membuat film palsu tentang pendaratan di bulan. Collins dengan sadis mengatakan, semakin muda seseorang, semakin percaya dia kepada keajaiban teknologi film. Masalahnya, di saat itu, teknologi roket (dan rudal nuklir) jauh lebih maju dari perfilman, sehingga lebih mudah mengirim seseorang ke luar angkasa, daripada membuat film dengan special effects seperti The Hobbit. Collins melanjutkan bahwa mereka yang menuduh film dan foto2 pendaratan bulan adalah palsu jelas tidak mengerti dasar2 perfilman dan fotografi.

[untuk detailnya, lebih baik nonton video di atas. Bener2 mendetail secara teknis. Plus humor2nya yang ancur]

Gw jadi kepikiran hal lain: mengapa kita senang sekali dengan kisah-kisah “konspirasi”?

Mungkin ada beberapa penjelasan di balik kegemaran kita akan “kisah konspirasi”.

Yang pertama, kisah “konspirasi” itu memang seksi. Kita sering tidak puas dengan apa yang sudah ada di depan mata. Imajinasi bahwa ada “sesuatu di balik” ini yang tidak terlihat, adanya organisasi rahasia dengan agenda jahat, tokoh2 gelap misterius yang mengendalikan peristiwa dunia, dll. memang seru buat didengar. Kita merasa lebih pintar jika kita merasa mampu melihat apa yang ada di belakang layar (walaupun sebenarnya gak ada apa-apa juga di belakang layar). Mungkin juga karena pada dasarnya manusia tidak suka merasa ditipu, maka percaya kisah konspirasi seolah-olah adalah bentuk pernyataan “Hah, gw gak bisa ditipu!” (ironisnya kalo justru kisah konspirasinya yang tipuan….)

Yang kedua, kisah konspirasi seringkali adalah manifestasi rasa iri dan dengki. Gw mikir, kisah konspirasi moon landing ini jadi laku karena sasarannya Amerika Serikat, negeri yang sukses, kaya, dan berkuasa. Bayangkan kalo manusia pertama yang mendarat di bulan adalah orang Garut, Jawa Barat (siapa yang setuju Aceng pergi ke bulan?) Mungkin tidak ada kisah konspirasi yang muncul. Tetapi karena ini adalah Amerika, betapa senangnya kita kalau ada tuduhan bahwa mereka sebenarnya tidak sehebat itu mampu nemplok di bulan, bahkan mau menipu kita semua.

Gak jauh-jauh deh. Coba kalo ada tetangga yang sukses, pasti keluar tuduhan: dia pasti korupsi, dia pasti pelihara jenglot, dia pasti ke Gunung Kawi (ada apa sih di gunung itu?), dia pasti simpanan ina-itu, dia pasti kerja di parpol, dll, dll. Padahal bisa saja dia sukses karena kerja keras, karena pintar, atau kebetulan menikahi putri tunggal pengusaha sakit-sakitan. Kita semua sebenarnya tanpa sadar senang membuat “teori konspirasi” versi mini, dalam bentuk gosip dan rumor gak bermutu. Iya kan? (Btw, gw masih percaya kalo Kak Seto itu immortal, kayak Highlander….masak muka dia gak berubah udah 30 tahun?)

Teori Konspirasi, terkadang, lahir karena kita diam-diam tidak terima akan keberhasilan orang lain.

Yang ketiga, dan yang ini agak ngeselin, teori konspirasi dilahirkan untuk menghindari tanggung-jawab. Saat kita miskin, kita menuduh orang lain curang. Saat kita sakit, kita menuduh orang lain menyantet kita. Saat kita jomblo, kita menuduh orang lain menelikung kita. Teori konspirasi membantu kita melepaskan tanggung-jawab atas situasi kita sendiri, dengan mengalihkan kesalahan kepada orang lain: Iluminati, Freemason, Zionis, Kidzania, atau produsen Sozis. Bukannya introspeksi mengenai kemalasan, kebodohan, pola hidup tidak sehat, dan segala hal yang kita lakukan sendiri, lebih enak dan seru untuk menuduh orang lain. Indonesia miskin dan bodoh? Pasti konspirasi asing!

Menjelang akhir video di atas, ada poin yang sangat bagus dari Collins. Dia berkata bahwa tragedi di balik ini adalah teori konspirasi justru menutupi kita dari konspirasi yang sebenarnya yang lebih penting, yang terjadi di depan mata. Contohnya, Collins menyebutkan tentang invasi Irak, tentang bail out bank-bank brengsek di Amerika, tentang hak pemerintah AS mencurigai dan memproses seseorang sebagai teroris tanpa batasan, dll. Kalau di Indonesia, teori konspirasi justru bisa membuat kita menutup mata pada kemalasan, korupsi, inkompetensi, dan segala kebobrokan yang justru nampak jelas di depan mata.

Collins dengan jenaka menyatakan bahwa kita harus bisa membedakan “what we can know” dan “what we wish for”, karena kemampuan itu yang menyebabkan spesies kita bernama “Homo Sapiens” (Homo = manusia, Sapiens = bijak/wise. Homo Sapiens = manusia yang bijak). Kalau kita tidak bijak dan mudah percaya teori konspirasi yang seru, maka kita hanyalah spesies Homo saja (tidak beda dengan manusia purba Homo Erectus, Homo Soloensis, Homo Neanderthalensis, dll….)

Mari berusaha menjadi “manusia bijak” 🙂

Advertisements

Categories: Random Insight

16 Comments »

  1. hahahahahah mgakak bacanya oomm………….
    80% teori konspirasi yang di bahas adalah benar adanya
    wakwakwakwakwakwakwakwakwakwak
    sering kok dijumpai…..

  2. Belom sempet nonton videonya karena baca post ini di lab kampus sebelum kelas, nih.

    Soal konspirasi merupakan “manifestasi rasa iri dan dengki” dan juga to avoid responsibility itu saya setuju, deh. Kayaknya kita punya external locust of control atau gimana gitu, abis kesannya kita ga percaya adanya kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang positif oleh usaha individual. Pasti ada unsur luck lah, cheating lah, bla bla bla…

  3. teori konspirasi menurut gw adalah bentuk canggih dari hukum rimba, karna yang terkuat/terbanyak lah yang berkuasa. entah itu menguasai secara fisik atau menguasai pola pikir.

  4. I believe semua tuduhan-tuduhan konspirasi ini itu pasti awalnya didalangi oleh pemikir-pemikir yang bekerja atas nama public relations… jangan lupa nonton wag the dog juga sebagai bahan perbandingan 🙂

  5. Reblogged this on Just a matter of time.. and commented:
    I think this one is a rocket of an article.. Many people forgot about what is the reality in front of us, just think they can outsmart fact, hidden conspiracy, even God. But the reality is there, forgotten. Try to evade the responsibility and blame on any other things – if we can say –

    The truth is out there – *x-files theme song

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s