Blog ke-100: Review buku ‘Antifragile’

Woh, postingan ke-100 di WordPress! Sempet mikir, harus menulis tentang sesuatu yang rada ‘berat’ nih, karena pas seratus.

Kebetulan banget, gw baru selesai membaca buku terakhir Nassim Nicholas Taleb “Antifragile. Things That Gain From Disorder”. Berhubung Taleb adalah penulis favorit gw, dan bukunya menurut gw bagus, maka postingan ke-100 ini gw pakai untuk mereview buku tersebut saja.

13530973

Gw sudah membaca 3 buku karya Taleb. Dan gw bisa bilang semua bukunya ‘membekas’ di benak gw. Bukunya yang gw baca pertama adalah ‘Fooled by Randomness’. Buku ini seperti ‘membangunkan’ gw untuk menyadari bahwa banyak hal dalam hidup yang terjadi secara acak (random), dan kebiasaan manusia yang suka menghubung-hubungkan, mencari kausalitas (sebab-penyebab) di dalam hal-hal yang sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat.

Buku kedua, ‘The Black Swan’, membahas tentang peristiwa-peristiwa ‘hampir muskil’ (near improbable) yang justru berdampak besar pada kehidupan manusia. Ironisnya, justru karena ‘hampir muskil’, maka manusia sering mengabaikannya, dan dengan mengabaikannya, kita semua ter-expose pada resiko yang besar. Buku ini menjadi sangat terkenal, karena diterbitkan tepat sebelum krisis finansial 2008. Sebelum krisis finansial 2008, tidak ada yang memprediksi adanya krisis. Dunia keuangan merasa semua berjalan baik-baik saja, sampai tiba-tiba, BOOM! Subprime mortgage crisis. Karena krisis finansial ini, buku The Black Swan menjadi populer, karena seolah-olah peringatannya “terbukti”. (Catatan: mengapa judulnya The Black Swan, atau angsa hitam? Karena dahulu sekali, dunia mengira semua angsa berwarna putih, sampai ditemukan angsa hitam di Australia. Angsa hitam digunakan oleh Taleb sebagai simbol sesuatu yang dianggap tidak mungkin eksis, dan ternyata eksis, bisa memporak-porandakan pemahaman sebelumnya)

Dan sekarang, Taleb menulis ‘Antifragile’. Bagi gw, buku ini seperti bagian ketiga dari sebuah trilogi penting. Jika di kedua buku sebelumnya Taleb sepertinya memfokuskan kepada ‘ancaman’ (ancaman ilusi suatu pattern dari sesuatu yang random, dan ancaman peristiwa2 near improbable), di buku ketiga Taleb (berusaha) menunjukkan bagaimana hidup yang meraih keuntungan (gain) dari dunia yang random dan volatil ini.

Gw hanya akan memilih beberapa poin yang gw anggap menarik dari buku tersebut. Tentunya gw menganjurkan untuk membaca sendiri buku ‘Antifragile’ untuk bisa memahami sepenuhnya pikiran Taleb.

Apa itu ‘antifragile’?

Apakah lawan kata ‘fragile’ atau ‘rapuh’? Jawaban yang umum adalah ‘robust’, ‘solid’, ‘kokoh’. Tetapi menurut Taleb, kata-kata tersebut bukanlah lawan kata yang tepat. Lawan kata ‘negatif’ adalah ‘positif’, bukan ‘netral’. Robust, solid, kokoh adalah posisi netral, bukanlah lawan kata fragile. Jika fragile/rapuh berarti dirugikan jika menghadapi guncangan, maka lawan katanya haruslah sesuatu yang justru diuntungkan jika diguncang. Robust, solid, kokoh hanya berarti ‘tidak dirugikan’, tetapi belum diuntungkan.

Sebagai ilustrasi, jika ada paket yang berisi barang rapuh, maka biasanya di kemasannya ditulis: Fragile, please handle with care (mohon diperlakukan dengan hati-hati). Tetapi jika ada paket yang berlawanan dengan fragile, maka pesannya seharusnya: mohon diperlakukan dengan kasar, sembarangan, dll.

Karena menurut Taleb tidak ada kata untuk menjelaskan lawan kata fragile, ia memperkenalkan kata antifragile. Antifragile adalah sebuah sifat di mana guncangan, stres, ke-acak-an (randomness) justru disukai dan memberi manfaat oleh yang mengalami. Lebih dari sekedar robust, kokoh, kuat yang sekedar “tidak terganggu” (karang besar yang kokoh diterpa badai hanyalah “kokoh”, tetapi tidak “antifragile”).

Pertanyaan wajar berikutnya adalah: memangnya ada sesuatu yang antifragile di dunia ini? Hanya karena sesuatu tidak memiliki nama, bukan berarti sesuatu itu tidak ada….

Tubuh manusia sebagai contoh antifragility

Tidak perlu jauh-jauh mencari. Makhluk hidup, kehidupan biologis, adalah sesuatu yang antifragile. Misalnya tubuh manusia. Tubuh manusia adalah contoh di mana stressor, ke-acak-an, volatilitas, sampai tahap tertentu, justru bisa membuat tubuh itu lebih baik. Saat kita berolah-raga, mengangkat beban, jogging, sebenarnya kita sedang ‘menyiksa’, memberikan stress kepada tubuh kita. Vaksinasi pada dasarnya adalah mengenalkan tubuh kita dengan kuman (walaupun dilemahkan). Hasil dari ‘siksaan/stressor‘ tadi adalah tubuh yang lebih kuat dan sehat. Tentunya jika stressor terlalu besar, ya badan kita bisa jebol juga.

Bayangkan jika tubuh kita setiap hari hanya hidup nyaman. Hanya makan, tidur, santai. Tidak ada stress, tidak ada keringat, tidak ada pegal-pegal karena kerja fisik/olah-raga. Ada kemungkinan kita malah sakit dan menjadi lemah kan? Taleb meneruskan konsep ini dengan anak-anak. Anak yang terus dilindungi secara fisik dan mental, jadwal yang serba teratur, dijauhkan dari stress (dalam kadar sehat), kesulitan, dan tantangan, tidak akan berkembang optimal. Anak-anak itu justru akan menjadi rapuh (fragile).

Variasi dalam hidup itu penting untuk menjadi antifragile. Taleb membandingkan seorang karyawan kantor yang hidupnya ‘stabil’ selama bertahun2, dengan gaji rutin, dan kesannya ‘secure’, dengan seorang supir taksi yang telah biasa menghadapi pendapatan yang bervariasi, kadang bagus, kadang jelek. Si karyawan tadi akan lebih tidak siap jika harus menghadapi krisis tak terduga (misalnya PHK).

Taleb membandingkan dengan perekonomian atau pasar yang terlalu stabil. Ketika terjadi fluktuasi, maka akan timbul panik. Sebaliknya, jika ekonomi/pasar sudah biasa melihat adanya volatilitas (pada skala yang masih sehat), maka para pelaku tidak akan sereaktif dan sepanik itu. (Bayangkan punya pacar yang rutin menelpon jam 9 malam teng setiap hari. Ketika dia telat menelpon 5 menit saja, menimbulkan kecemasan! :))

Kestabilan (semu) justru bisa berakibat guncangan yang lebih besar. Kebakaran-kebakaran kecil di hutan diperlukan, untuk membersihkan tumpukan sampah daun kering yang mudah terbakar. Jika kebakaran-kebakaran kecil tersebut tidak ada, justru sampah kering akan menumpuk lebih banyak, dan akan berakibat kebakaran yang lebih dahsyat yang lebih destruktif.  Begitu juga dengan bisnis dan hidup, maka tantangan, masalah kecil, hambatan2 yang sering terjadi membuat kita lebih kuat untuk menghadapi masalah yang lebih besar.

Dalam dunia politik, negara2 diktator yang terkesan ‘stabil’, justru memendam sumbu instabilitas yang besar. Negara-negara Timur Tengah seperti Mesir, Lybia, Syria, yang selama puluhan tahun terlihat ‘stabil’ di bawah pemerintah otoriter, ketika sekalinya meledak justru menjadi rusuh tidak keruan.

Mungkin itu sebabnya pasangan yang kadang2 bertengkar (dalam taraf sehat) justru bagus untuk relationship. Konflik-konflik kecil membuat kedua pasangan belajar menyelesaikan konflik, bandingkan dengan pasangan yang terus rukun, menghindari konflik, dan tiba-tiba….JEGER!Kena masalah yang langsung berat, dan tidak mampu menghadapinya.

Ketika kita sakit. Taleb juga menghubungkan konsep antifragility dalam pendekatan medis. Menurutnya, banyak sekali intervensi medis yang lebih banyak efek sampingnya dibanding manfaatnya, apalagi untuk masalah medis yang relatif ringan. Alam sudah menyiapkan manusia untuk banyak sakit penyakit ringan, yang tidak perlu terburu-buru dihantam obat. Dan gangguan kesehatan, sampai tahap tertentu, adalah variabilitas yang diperlukan tubuh biologis untuk menjadi lebih baik. Gw jadi merasa ini mirip dengan orang Indonesia yang flu sedikit langsung menelan antibiotik, padahal tubuh sebenarnya bisa sembuh sendiri. Akibat penyalahgunaan antibiotika sudah kita rasakan, dengan adanya bakteri kebal antibiotika yang justru lebih mematikan.

Antifragile tidak memerlukan prediksi masa depan. Lebih baik jika kita memiliki sifat antifragile, daripada berusaha memprediksi masa depan. Dengan kata lain, menjadi siap untuk keadaan apapun jauh lebih berharga daripada berusaha mengetahui masa depan. Karena jika menjalani hidup dengan berdasarkan prediksi masa depan, maka kita berisiko menjadi korban prediksi yang keliru (dan track record kita dalam memprediksi masa depan terbukti buruk.)

Strategi Barbell. Bagaimana kita bisa menjadi antifragile? Taleb menyebut konsep barbell (tau kan? Yang diangkat atlit angkat berat itu loh). Sederhananya begini. Seperti barbell, maka kita sebaiknya ‘bermain’ aman di satu sisi (melindungi kita saat keadaan jelek), agar kita bisa mengambil risiko besar di sisi lain (sehingga kita bisa meraih keuntungan saat keadaan bagus). Sebagai ilustrasi, dalam investasi, seorang investor bisa menaruh 90% asetnya dalam format yang sangat aman, dan 10% dalam format yang sangat berisiko (dengan potensi untung yang besar juga). Dengan cara ini, sang investor akan relatif terlindungi saat keadaan memburuk, dan menjadi sangat untung saat keadaan bagus. Strategi ini lebih bagus dibandingkan ia menaruh 100% hartanya dalam investasi dengan resiko “medium”.

Ada contoh menarik dari buku ini. Dikatakan bahwa banyak penulis ternama di Eropa mempertahankan pekerjaan yang ‘aman’, misalnya menjadi pegawai negeri sipil, dan di saat yang sama menjadi penulis. Hal ini juga merupakan bentuk strategi barbell. Jika bukunya gagal, dia masih memiliki pekerjaan. Dan jika bukunya sukses, dia tinggal menikmati hasilnya.

Gw jadi inget blog Ernest Prakasa yang menjelaskan mengapa ia berani menjadi stand-up comedian. Ernest menjelaskan bahwa dia telah membangun karir sebagai karyawan kantoran sebelum menjadi seorang stand-up comedian. Seandainya dia gagal sebagai komedian, dengan mudah dia tinggal kembali ke profesi sebelumnya. Bagi gw, ini juga strategi barbell. Di satu sisi sangat agresif, di satu sisi sangat paranoid/mencari aman.

Kekuatan dari strategi barbell di atas adalah, kita tidak perlu menduga atau memprediksi masa depan akan seperti apa. Karena apapun yang terjadi, kita either terlindungi (atau mengalami kerugian secara terbatas), atau untung besar.

Alternatif dari strategi barbell adalah strategi “tengah2”, yang oleh Taleb justru malah merugikan.

Poin-poin lain yang menarik:

  • Menurut Taleb, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidaklah didorong oleh akademia dan teori text-book, tetapi dari proses tinkering, yaitu sekelompok entrepreneur dan tukang utak-atik yang secara trial and error menemukan hal-hal baru yang berguna
  • Pendidikan tidak menghasilkan kesejahteraan! Bahkan menurut Taleb yang terjadi adalah sebaliknya, karena ekonomi membaik maka orang mengirimkan anak ke sekolah. Sekali lagi, yang mendorong perekonomian adaah para pengusaha yang “mencoba-coba”, bukanlah anak sekolahan yang belajar teori di kelas.
  • Timeless wisdom yang diturunkan turun-menurun berdasarkan praktik lapangan jauh lebih superior dari teori akademis, karena sudah teruji
  • Waktu adalah penguji fragility. Sesuatu yang telah bertahan selama 100 tahun, kemungkinan akan bertahan 100 tahun lagi. Sesuatu yang sudah bertahan 1,000 tahun, kemungkinan akan bertahan 1,000 tahun lagi (piramid Mesir?), dst. Artinya, buku-buku klasik dari penulis Romawi dan Yunani kuno jauh lebih berharga dan teruji daripada tulisan modern
  • Realita non-linear. Non-linear, sebagai lawan dari linear, bisa digambarkan sebagai berikut. Sebuah kota yang bertambah jumlah mobilnya sebanyak 3 kali tidak berarti lama perjalanan menjadi bertambah 3 kali juga, karena bisa menjadi 5 kali, 6 kali , atau bahkan 10 kali (nonlinear). Hal ini karena semakin banyak jumlah pemain/variable, maka kompleksitas hubungan antar mereka bertambah dengan dampak tak terduga. Contoh lain: semakin besar dan kompleks sebuah proyek (misalnya proyek konstruksi), semakin tidak bisa ditebak kapan selesai dan berapa lama keterlambatannya.

Ini hanya sebagian saja dari banyak hal menarik lain di dalam buku Antifragile. Buku ini tidak bisa dibilang ringan, tetapi bagi gw membuka pikiran, serta memberikan inspirasi praktis dalam menjalani hidup. Gw khususnya sangat suka dengan filosofi barbell, serta perlunya elemen random dan variabilitas (dalam bentuk kesusahan, tantangan baru, dll) di dalam hidup kita, untuk menjadikan kita tidak ‘rapuh’. Gw juga diingatkan akan kesia-sia-an (berusaha) membaca masa depan, dan yang lebih penting adalah mengembangkan antifragility untuk menghadapi segala kemungkinan situasi.

Apakah gw merekomendasikan buku ini? Tentunya, walaupun sudah gw sebut bahwa buku ini lumayan ‘berat’. Bagi yang belum pernah membaca karya Taleb, gw menganjurkan untuk memulai dahulu dengan ‘Fooled by Randomness’, diikuti ‘Black Swan’ dan barulah ‘Antifragility’. Tetapi jika pembaca ingin membaca HANYA SATU saja karyanya, gw akan menganjurkan Fooled by Randomness. Relatif ringan, dan memberi cara pandang yang penting mengenai hidup.

🙂

Advertisements

Categories: Review

7 Comments »

  1. Wah gak disadari aku juga sudah lama bermain barbel. Tadinya murni pekerja yang relatif aman. Trus mencoba 100 persen memulai bisnis sendiri. Kadang untung besar kadang minus. Hidup butuh cash flow steady, tapi untuk nyaman steady saja tidak cukup. Akhirnya jadi karyawan + usaha sampingan yang tidak menggangu kegiatan di kantor. Hasilnya, rumah + mobil justru dari sampingan. Ketika tidak ada pemasukan dari sampingan, masih ada steady income. Sekarang lagi mikir nanti kalau pensiun harus ada pasif income yang bisa mengcover biaya sehari-hari.

    Thx for reviewing the book and congrat for the 100th posting!

  2. I feel upset when Taleb mentions that education is overrated (as you mention in last paragraph). On my humble opinion, without any influence of formal education, those people won’t have idea to do trial and error to make new findings. It’s actually similar when we discuss which one comes first: eggs or chicken? Education or welfare? Dude, it’s never ending question. So for me, I’m just gonna forget that part. However, I really enjoyed the way you review Taleb’s book. You successfully recap a complicated writing to be a simple and insightful life lesson. Kudos bro!

  3. poin menarik di sini,
    “Pendidikan tidak menghasilkan kesejahteraan! Bahkan menurut Taleb yang terjadi adalah sebaliknya, karena ekonomi membaik maka orang mengirimkan anak ke sekolah. Sekali lagi, yang mendorong perekonomian adaah para pengusaha yang “mencoba-coba”, bukanlah anak sekolahan yang belajar teori di kelas.”

    IMO, bukan pendidikan bukan sekolah aja..
    ada yang bilang kalo belajar itu tentang 3 hal: membaca, menulis dan berdiskusi..
    bukan cuma membaca buku/koran/modul saja, tetapi juga tentang membaca situasi, dll *kayak artikel mu ttg salesman*
    menulis diartikan sebagai menuangkan/mempraktekkan apa yang sudah didapatkan
    dan berdiskusi ga selalu tentang ngobrol bareng teman-teman satu circle, thank God ada media sosial, berjejaring membantu diskusi lebih asyik 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s