“We Get The Leader We Deserve”

Dulu gw pernah baca sebuah quote:

“In a democracy, people get the leader they deserve”

(terj.: dalam sebuah demokrasi, rakyat mendapatkan pemimpin yang memang layak bagi mereka). Karena dalam negara demokrasi, pemimpin dipilih oleh rakyat (dengan asumsi pemilu bersih dan fair). Mungkin kalo bisa gw rephrase, quote tadi bisa dibaca:

“In a democracy, the elected leader reflects the people”

Jadi kalo pemimpin katro yang terpilih, ya memang rakyatnya pantesnya dapet yang seperti itu. Kalo yang terpilih adalah pemimpin cerdas dan bijak, itulah cerminan rakyat pemilihnya. Kalo yang terpilih culas dan buas, itu juga cerminan rakyat pemilihnya.

Gw inget waktu George W. Bush terpilih untuk kedua kalinya menjadi presiden AS (secara tipis), banyak yang kecewa (mengingat periode W. Bush sebelumnya yang dianggap mengecewakan, sampai menginvasi Irak). Dan banyak orang yang komentarnya sama: “Kok bisa bego banget sih orang Amerika?” Bahkan media Inggris Daily Mirror membuat cover “How can 59 million people be so dumb?”

Daily_Mirror

Walaupun saat pertama kali membaca quote “people get the leader they deserve” gw sudah mengerti maksudnya (hey Inggris gw gak bego2 amat. Little-little I can), tetapi belum pernah gw rasakan relevansinya bagi gw sampai pemilihan presiden tahun ini.

Di pilpres ini, kita hanya memiliki dua pilihan. Masing2 memiliki perbedaan yang begitu nyata. Berbeda dalam latar-belakang, gaya berbicara, sampai narasi yang dibawakan.

Di no.1, kita memiliki Prabowo-Hatta. Prabowo tidak disangkal selalu tampil mempesona di publik. Berbicara dengan gagah, naik kuda yang gagah, dengan isi pidato yang berapi2 cetar membahana. Beliau memiliki karir militer di era Orde Baru, dan tidak tanggung2, pernah memimpin pasukan elit. Beliau pernah tersangkut kasus penculikan mahasiswa di Mei 1998 yang sayangnya tidak pernah betul2 clear sampai sekarang (fakta yang ada hanyalah bahwa dia diberhentikan dari dinas oleh mantan presiden Habibie). Bagi gw, Mei 1998 tidak pernah bisa dilupakan dan dimaafkan. Karena gw pernah mengalami ketakutan dianiaya dan dibunuh aparat di negeri sendiri.

Prabowo membawakan narasi yang konsisten. Indonesia dalam ancaman (asing?) sehingga perlu “diselamatkan”. Tentunya beliaulah penyelamat tersebut. Beliau juga mengusung tema2 ultranasionalis yang membakar semangat, seperti “Indonesia bangkit”, dan “Indonesia jadi macan Asia” (walaupun jujur gw gak kagum sama macan karena hampir punah diburu manusia. Kucing justru spesies yang lebih cerdas, karena bisa menundukkan manusia. Tapi ini bahasan melenceng….)

Di bawah kepemimpinan beliau, Indonesia dijanjikan akan menjadi negeri yang ditakuti dan disegani. Dalam debat beliau meyakinkan kalau kebocoran Rp 1000 T bisa diatasi, kita akan punya banyak uang untuk menjadi negara besar. (Dan sayangnya belakangan Hatta Rajasa mengkoreksi bahwa 1000 T itu baru “potensi” kebocoran. Lah, jadi nanti dapet uangnya dari mana donk…)

Sampai di sini, jujur gw pribadi senang dengan janji2 kebesaran Indonesia. Walaupun dalam beberapa hal mengingatkan gw kepada naiknya Hitler di Jerman tahun 1930-an (Hitler juga menyalahkan asing dan etnis Yahudi untuk keterpurukan Jerman pasca PD I. Beliau juga memikat rakyat dengan janji kejayaan Jerman sebagai “Kerajaan Ketiga”/The Third Reich), tetapi sebagai orang Indonesia gw pun pengen negeri ini jadi keren. Banyak dari kita yang kecewa dengan kepemimpinan SBY yang dianggap tidak tegas dan lemah, sehingga hadirnya Prabowo bagaikan “kontras” yang sangat mempesona.

Sayangnya, ada beberapa hal yang bikin gw akhirnya ilfil. Ada banyak hal yang bisa gw sebutkan, tetapi gw memilih dua saja yang terutama bagi gw. Yang pertama, adalah pihak2 yang bergabung di belakang beliau, dari partai2 geje, sampai ormas2 yang memiliki reputasi intoleransi dan tindakan anarkistis yang tidak ramah sama sekali. Kedua, saat Prabowo menjanjikan status pahlawan nasional bagi Soeharto (link di sini). Gw pernah merasakan hidup di Orde Baru dan gw ingat ketakutan untuk berbeda pendapat, karena risikonya adalah diciduk, disiksa, dan “hilang”. Memberikan status pahlawan nasional bagi Soeharto artinya sama dengan membenarkan segala ketakutan di masa itu (yang sayangnya tidak dirasakan oleh first time voter sekarang).

Dua alasan di atas sudah cukup bagi gw untuk memutuskan mengecek apa yang ditawarkan oleh nomor 2.

Bagaimana dengan nomor 2 (Jokowi-Jusuf Kalla)?

Sosok Jokowi benar2 berbeda 180 derajat. Lahir dari keluarga sipil biasa, beliau tidak punya karir politik dari awal. Beliau adalah seorang pengusaha mebel yang belakangan menjadi walikota Solo, terpilih untuk kedua-kalinya, dan kemudian dipercaya menjadi Gubernur Jakarta. Sedari dulu pembawaan beliau kalem, tidak berapi-api, yang mungkin membuat banyak orang tidak sabaran. Jokowi bukanlah Raja Leonidas yang bisa berteriak “THIS. IS. SPARTAAAAA…..!!!” Bahkan gw menangkap kesan sebenarnya beliau tidak suka public speaking. Sampai di sini, beliau memang bukan seorang pemmpin yang “keren” untuk dipamerkan cara pidatonya.

Tetapi ada beberapa fakta yang tidak boleh dilupakan. Pertama, beliau benar2 berpengalaman dalam pemerintahan sipil, tidak nol sama sekali. Bahwa beliau terpilih di Solo dua kali juga indikator yang penting. Kemudian dalam waktu yang relatif singkat mengurus Jakarta, sudah banyak prestasi nyata yang bisa dilihat (bisa dilihat di sini). Ada pengalaman nyata di dalam pemerintahan sipil (bukan militer), dan ini saja sebenarnya sudah merupakan faktor kuat tunggal bagi gw. Masak mempercayakan negara 240 juta jiwa kepada pihak yang tidak berpengalaman sama sekali?

Kalau harus memilih fakta kedua yang penting, adalah bahwa beliau bukan bagian dari Orde Baru. Bagi gw, kalau mau benar2 hendak move on dari lembaran kelam Orde Baru yang represif, maka pemimpinnya pun harus datang dari masa depan, bukan dari masa lalu. Apakah beliau adalah juru selamat yang sempurna? Tentu tidak! Dan bego aja kalo ada yang mendewakan beliau seperti itu. Tetapi minimal, beliau mewakili generasi masa depan, dan bukan bagian dari sejarah dulu. Apalagi sejarah yang menakutkan dan berdarah.

Faktor pendukung lain adalah koalisi beliau yang relatif “sepi”, dan minimal bebas dari ormas2 gak jelas yang menakutkan. Pelajaran dari koalisi SBY adalah betapa menyebalkannya posisi2 menteri yang terkesan “bagi jatah” bagi para partai pendukung. Harapan gw, koalisi ramping memberikan ruang bagi Jokowi (jika terpilih) untuk membentuk kabinet yang terdiri dari orang2 yang memang kompeten di bidangnya.

Faktor terakhir bagi gw yang penting adalah narasi yang dibawakan. Jika Prabowo terkesan hendak memperkuat “negara”/state (agar disegani, ditakuti tetangga kalo perlu sampe terkencing2), bagi gw Jokowi memberi pesan untuk memperkuat “rakyat”/people. Dan ini yang menarik gw, karena mencerminkan pola pikir masa depan. Negara kuat, ditakuti tetangga, rasanya adalah mashab era Perang Dunia abad 20. Tetapi rakyat yang punya daya saing, cerdas, hidup dalam rasa aman dalam iklim kebhinnekaan – hal2 ini justru konsep bersaing di masa depan, apalagi ketika Sumber Daya Alam makin berkurang atau makin lemah relevansinya di dalam ekonomi industri dan kreatif.

 

Kalau gw ringkaskan narasi kedua capres ini: Prabowo menjanjikan negara yang kuat, melawan ancaman asing, dan banyak duit (dari kebocoran yang masih potensi). Jokowi menjanjikan rakyat yang dikuatkan, melalui pendidikan, kesejahteraan, dan rasa aman.

 

9 Juli 2014, Indonesia akan memilih pemimpin baru. Siapapun yang akan terpilih, tidak ada yang pilihan yang “benar” atau “salah”.

Karena bangsa ini akan mendapatkan pemimpin yang memang layak didapatkan oleh kita.

In a democracy, the people get the leader they deserve, atau

In a democracy, the elected leader reflects the people

 

Jadi, pemimpin seperti apa yang memang layak kita dapatkan? Bangsa Indonesia seperti apakah yang akan dicerminkan presiden RI berikutnya?

 

Selamat memilih!

πŸ™‚

 

Advertisements

Categories: Negeriku, Random Insight

Tagged as: , ,

30 Comments »

  1. Saya numpang mengutarakan opini yah mas. Saya seneng akhirnya ada calon presiden yang mau mengubah mental jelek orang-orang indonesia. Jika nanti si calon presiden no.2 itu terpilih, semoga orang-orang yang memilih dia itu terus memberikan dukungan walaupun masa pilpresnya sudah selesai. Kalo calon presiden no.2 yang terpilih, berarti ‘revolusi mental’-nya akan langsung aktif. Belum tentu semua orang akan menerima perubahan itu dengan baik-baik. Justru setelah dia terpilih dia akan benar-benar butuh dukungan penuh dari pendukungnya karena dia akan diserang dari segala arah dan terutama untuk menjadikan ‘revolusi mental’-nya menjadi kenyataan. Namanya juga revolusi, mungkin dimulai atau yang mempelopori dari satu orang tapi nantinya rakyat yang menjalankan dan menjadikannya kenyataan. Miirip seperti revolusi Perancis atau Russia tapi semoga ‘revolusi mental’-nya ini tidak memakan banyak nyawa seperti mereka (Perancis & Russia). Sekian opini dari saya dan selamat menyoblos mas. πŸ™‚

      • m’af izin sedikit berargumentasi..
        mnurut saya, tdak smua yg dilakukan pada masa orde baru buruk, namun saya akui ketakutan itu ada.. namun kita harus akui banyak juga jasa beliau seperti pembangunan nasional yg dmulai pada masanya, indonesia merasakan swasembada pangan dengan program PELITA nya..
        bagaimana dengan kesejahteraan dan ketenangan berfikir atau program pendidikan? untuk meraih smua itu pastinya diperlukan rasa aman bukan?
        terimakasih..
        mohon koreksinya, mohon ma’af sebelumnya

  2. Saya pemilih pemula tahun ini mas, kadang saya sedih ada banyak teman sebaya yg jg pemilih pemula malah muja2 #1 mau balik jelasin tapi susah mas 😐

  3. Saya pemilih pemula mas. Kadang sedih liat di timeline twitter teman-teman sebaya yang juga first voter malah memihak dan muja-muja #1 mas, mau jelasin ke mereka kayaknya udah bebal mas 😦

  4. Ulasannya halus dan mudah dicerna oleh orang awam seperti saya, saya juga merasakan kerisauan dengan Pilpres tahun 2014 ini hanya ada 2 calon yang sama-sama kuat di arus bawah, namun opini-opini yang ditebar bertolak belakang dengan janji yang di ucapkan. salam

  5. Senjata maut nomer 1 untuk menyerang Jokowi itu selalu wacana yang seolah-olah Jokowi adalah pembohong besar yang mengingkari janjinya untuk memimpin selama 5 tahun. Padahal adalah benar, apabila seseorang mengingkari janjinya untuk kepentingan yang lebih besar. Apakah bangsa Indonesia musti menunggu 5 tahun lagi untuk mendapatkan pemimpin amanah seperti Jokowi? Kepentingan Jakarta lebih besar daripada kepentingan Solo, namun kepentingan bangsa ini jauh lebih besar daripada kepentingan sebuah kota bernama Jakarta.
    Faktanya pada saat Prabowo dan PDI Perjuangan menyunting Prabowo dari Kota Solo, gak ada tuh isu-isu konyol bahwa Jokowi pembohong. Malah rakyat Solo waktu itu bangga saat walikotanya dipercaya untuk sebuah jabatan yg lebih besar kepentingannya.
    Sementara senjata maut nomer 2 untuk memperkuat barisan nomer 1 adalah, wacana bahwa Prabowo itu tegas… Padahal dalam bhs Inggris, tegas itu ada bermacam-macam versi (bhs Indonesia aja yang memang kurang kosakatanya). Seperti firm, assertive, submissive… semuanya bisa anda cek di google translate. Termasuk jenis tegas yang manakah Prabowo dan Jokowi itu, ya keduanya tegas, tapi tegasnya beda versi. Silahkan buka google translate & anda putuskan sendiri calon anda termasuk tegas yang mana?
    Presepsi lain yang dibangun oleh kubu nomer 1 adalah bahwa seolah-olah orang yang dulunya militer adalah tegas, dan hanya militer yan bisa tegas !! Ohh tunggu dulu, Presiden terhormat kita saat ini SBY (adalah orang militer) dan partainya pernah membuat konvensi calon presiden. Tapi setelah ada pemenangnya (Dahlan), mereka dengan sok negarawan bilang “kami netral”, dengan mengabaikan 11 peserta konvensi yang sudah mengeluarkan banyak waktunya demi konvensi tsb. Dan mendekati hari H pemilu capres, seluruh gerbong partainya mendadak amnesia, lalu mengeluarkan dukungan resmi pada capres nomer 1. Termasuk seluruh anggota keluarganya turut mendukung, tanpa mempedulikan perasaan 11 peserta konvensi capres mereka. Ini bukti nyata bahwa militer itu pun bisa belepotan mulutnya.
    Nggak usah jauh2, lihat orang di sekitar anda, ayah, boss, ibu anda…apakah mereka tegas??Apa mereka militer?
    Bagaimana dengan Presiden Soekarno? Dia sipil, tapi ketegasannya toh ditiru mentah-mentah oleh Prabowo & Surya Paloh.
    Selamat memilih

    • kita hanya perlu orang baik untuk memimpin negara ini, apakah Jokowi orang baik? wallahu ‘alam, hanya waktu yang dapat menjawab.

  6. Masih ragu om. Kalau dia emang fully committed ama pemberantasan korupsi, berani ga dia usut kerugian2 negara era megawati. Blbi, indosat, gas tangguh, vlcc pertamina, dll. Jgn bilang kalau blbi itu keputusan mpr, seharusnya kalau memang itu salah, mega selaku presidennya wong cilik berani nolak. Gas tangguh, kerugian negara ratusan trilyun. Sampe JK bilang kalau itu kontrak terbodoh dalam sejarah industri migas indonesia. 2 itu aja udah ratusan trilyun om. Jumlah segitu nyakitin perasaan rakyat bgt om.
    MasalΓ h ham. Gue setuju bgt prabowo diadili. Tp jgn lupa utk adili jg jenderal2 yg kini di belakangnya. Bahkan jenderal yg bunuh kader pdip sendiri skrg ada di belakangnya.

  7. Post di FB >> Ngutip yg ini :
    9 Juli 2014, Indonesia akan memilih pemimpin baru. Siapapun yang akan terpilih, tidak ada yang pilihan yang β€œbenar” atau β€œsalah”.
    Karena bangsa ini akan mendapatkan pemimpin yang memang layak didapatkan oleh kita.
    In a democracy, the people get the leader they deserve, atau
    In a democracy, the elected leader reflects the people
    Jadi, pemimpin seperti apa yang memang layak kita dapatkan? Bangsa Indonesia seperti apakah yang akan dicerminkan presiden RI berikutnya?

  8. Ringkasan om saya rasa kurang tepat om krn kedua capres sm2 ingin ‘menguatkan negara’ kok bukan jokowi aja πŸ™‚ bedanya di visi misi jokowi lewat revolusi mental, prabowo lewat menutupi kebocoran yg kata om supaya banyak duit, iya memang supaya banyak duit supaya rakyat kenyang jd bisa berfikir. revolusi mental tp kelaparan apa jadinya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s