Kabar Gembira Untuk Kita Semua (Bukan Kulit Buah)

OK, ini adalah tulisan terakhir gw sebelum pilpres 9 Juli. Janji gw gak nulis lagi soal pilpres sampai tanggal 9 Juli. Kecuali diminta Raline Shah.

Gw mau share kabar gembira untuk kita semua. Tenang, ini bukan kabar mengenai kulit buah tertentu (kalau yang itu sih sudah menjadi kabar menyebalkan….)

Sabtu malam 5 Juli 2014, saat debat capres-cawapres terakhir dilakukan, gw merasa happy dan bangga banget. Gw happy dan bangga bukan karena salah satu kubu tampil cemerlang. Gw happy dan bangga karena perjalanan demokrasi Indonesia bisa sejauh ini. Rakyat bisa melihat calon pemimpinnya menjelaskan visi-misinya secara langsung, dan bisa diklarifikasi atau dikritik oleh lawan. Bahkan di kawasan Asia Tenggara saja masih banyak negara yang tidak memiliki proses demokrasi setransparan Indonesia.

Debat pilpres terbuka seperti Sabtu malam hanya bisa benar-benar dirasakan hebatnya bagi mereka yang pernah hidup di jaman Orde Baru (iyeee, gw udah cukup tua!) Di jaman orde baru, tidak ada debat terbuka. Presiden tidak boleh dipilih langsung oleh rakyat, tapi dipilihkan oleh “wakil rakyat”. “Pemenang” pemilu sudah bisa diprediksi. Mengkritik lawan politik bisa berakibat kamu ditangkap dan hilang.

(sumber: Tempo.co)

(sumber: Tempo.co)

Tetapi sekarang, jutaan rakyat Indonesia bisa menyaksikan sendiri calon pemimpinnya berbicara, berdebat, mengadu visi, secara beradab tanpa menggunakan golok dan celurit. Sekarang, rakyat Indonesia tidak beli kucing dalam karung. Atau minimal, karungnya mulai lebih transparan. (Karung berbahan apa ya bisa transparan? Karung lingerie?)

Itulah kabar gembira pertama: Pesta demokrasi di Indonesia sudah melangkah jauh.

Kemudian Sabtu siang gw melihat Konser Salam 2 Jari di GBK untuk mendukung Jokowi, dan gw terharu. Walaupun hanya menonton liputan dari televisi, gw terpana melihat begitu banyak artis yang berpartisipasi (dan konon tidak dibayar), dan pengunjung yang datang. Gw bangga, karena kalangan artis yang sering identik dengan dunia gemerlap dan gosip gak penting ternyata bisa beramai-ramai ikut memeriahkan pemilihan presiden. Selain artis yang tampil langsung di acara tersebut, masih banyak artis lain yang dengan terbuka menyatakan pilihannya melalui akun Twitter atau Instagram.

(sumber: merdeka.com)

(sumber: merdeka.com)

Gw bangga, banyak anak muda yang mau hadir di acara konser tersebut. Okelah, pasti ada aja yang bilang: “YA EYALAH, penuh artis keren dan GRATIS, gimana pada gak dateng?” Tapi harus diingat ini adalah bulan puasa, dan Jakarta lagi panas2nya jek, jadi tetap saja it counts for something. Buat gw sih.

Pilpres untuk WNI yang ada di luar negeri yang telah berjalan duluan juga ternyata mengejutkan, karena banyak sekali yang datang hendak berpartisipasi. Bahkan teman istri yang tinggal di kota kecil di Perancis harus melakukan perjalanan selama 2 jam untuk bisa memilih di KBRI di Paris.

 

(sumber: antara)

(sumber: antara)

Itulah kabar gembira kedua: di pilpres 2014, ada kegairahan baru yang menerpa berbagai lapisan masyarakat. Bahkan mereka yang selama ini dianggap tidak perduli, cuek, dan apatis pada proses politik Indonesia. Dari artis, anak muda, mereka yang sedang di luar negeri – banyak dari mereka menunjukkan semangat berpartisipasi dalam pilpres tahun ini.

Dengan kedua kabar gembira di atas, sudah cukup untuk gw merasa bangga menjadi orang Indonesia. Gw sangat yakin, jika Indonesia bisa mempertahankan iklim demokrasi yang sehat seperti ini, ditambah dengan kebhinnekaan rakyat kita, dan korupsi bisa diberantas, maka negeri ini akan jadi powerful banget. Kita adalah bangsa yang masih muda (konon 60 persen di bawah 40 tahun), dan kombinasi energi muda dan kekayaan ide dari kebhinnekaan kita adalah berkah.

Tetapi….

Sebagai seseorang yang naturally pesimis (beneran gw aslinya pesimis banget, tanya aja yang kenal lama sama gw), selain kabar gembira di atas, gw juga melihat kabar sedih bagi bangsa kita (selain kabar merajalelanya ekstrak kulit manggis….)

Yang pertama, pilpres tahun ini akan berjalan penuh kecurigaan. Belum pernah gw merasakan pilpres yang dipenuhi peringatan untuk mengawasi kecurangan, himbauan untuk mengawasi perhitungan suara di TPS, mencegah “serangan fajar” di luar kamar suami-istri, sampai ajakan membuka surat suara segera sesudah diterima untuk memastikan keutuhannya.

(sumber: Twitter)

(sumber: Twitter)

Ada apa ini?

Tidakkah dalam iklim demokrasi yang sehat, seharusnya kita tidak perlu memilih dalam iklim paranoia seperti ini? Tidakkah seharusnya kita bisa melangkah ke bilik dengan santai, menjatuhkan pilihan, dan pulang ke rumah tanpa berprasangka? Mengapa ada krisis kepercayaan, trust, bahwa pemilihan presiden ini bisa dibiarkan berjalan sendiri dengan fair tanpa harus dipelototi rakyat sipil dari subuh?

Inilah kabar duka bagi gw: kenyataan bahwa kita sulit mempercayai pelaksanaan pilpres akan berjalan aman dan fair dengan sendirinya. Bahwa kita mengira masih ada “hantu-hantu” yang akan serius mencurangi pilpres ini, dan akhirnya kita dihantui oleh kecurigaan.

Di mana ada ketidakpercayaan (lack of trust), di situ ada masalah riil. Dan ini menyedihkan.

Kabar duka berikutnya:

Belum pernah juga gw menjalani pilpres dengan kampanye hitam sedahsyat ini.

[Catatan singkat bagi yang tidak tahu bedanya “kampanye negatif” yang normal dalam demokrasi, dan “kampanye hitam”. Sederhananya, kampanye negatif berdasarkan fakta yang digunakan pesaing untuk menyerang kita. Tetapi kampanye hitam menggunakan fitnah dan kebohongan)

Contoh kampanye negatif:

– Prabowo diberhentikan dari karir militernya

– Jokowi tidak fasih berbicara di depan umum

Contoh kampanye hitam:

– Ngomongin Prabowo nanti elu “hilang” (emangnya “Prabowo” itu mantra invisible Harry Potter apa?)

– Jokowi keturunan Cina (kalo doi keturunan Cina, gw mengklaim sebagai keturunan langsung Julius Caesar)

Kampanye negatif wajar digunakan dalam persaingan politik. Kita menggunakan fakta negatif tentang pesaing untuk mengurangi elektabilitasnya. Tetapi kampanye hitam adalah tidak etis dan sangat keji]

Sudah bukan rahasia lagi bahwa salah satu kubu digempur kampanye hitam yang luar biasa absurdnya, yang sebenarnya terasa konyol seandainya saja tidak begitu banyak orang yang terpengaruh beneran. Disebut keturunan etnis lain, beragama lain, berafiliasi dengan ideologi komunis, antek asing, boneka, dan tuduhan absurd lain yang semuanya bersifat tuduhan tanpa fakta. Kampanye hitam diluncurkan melalui berbagai saluran: dari konvensional, digital, sampai on ground seperti tabloid gak jelas.

Mengapa hal ini bisa menjadi kabar yang sangat menyedihkan, tidak hanya saat pilpres, tetapi bertahun-tahun ke depan?

Bayangkan situasi ketika kampanye hitam ternyata sukses menghancurkan sasaran, dan si korban kampanye hitam akhirnya berhasil dijegal. Apa yang bisa terjadi ke depan?

Para partisipan politik akan melihat kampanye hitam sebagai opsi yang sah dan efektif dalam perebutan kekuasaan.

Jika kampanye hitam dianggap berhasil, betapa gembiranya para pelakunya, karena mereka mendapatkan case study (studi kasus) yang bisa digunakan untuk mempromosikan cara kerja dan “ahensi hitam” mereka.

Bayangkan jika kampanye hitam menang di pilpres ini, dan beberapa tahun lagi dijalankan pemilihan kepala daerah (entah itu gubernur, walikota, bupati, dan lain-lain). Setiap kandidat akan didekati para “ahensi hitam” dengan tawaran kira-kira seperti ini:

“Sob, mau jadi gubernur? Ngapain susah2 bikin program, visi, dan misi. Kita hancurin aja lawan elu pake kampanye hitam. Lah, calon presiden aja sukses kita ancurin kemaren, apalagi cuma lawan elu. Udeeeh, pake jasa kite aje. Kita sediain paket hemat lhaaaa. Mau paket pake ‘kentang goreng’ aja atau mau komplit pake ‘es duren’?”

Kalau kampanye hitam menang di pilpres ini, gak terbayang mimpi buruk di atas bisa kejadian dalam pilkada2 berikutnya.

Dan kabar gembira pertama di atas tadi akan segera tinggal kenangan.

 

Ini adalah tulisan terakhir gw sebelum pilpres 9 Juli (sekali lagi, kecuali di-request Raline Shah). Dan gw sudah membagikan kabar gembira untuk kita semua. Dan juga kabar duka, untuk kita semua. Sebagai penutup, gw hanya punya satu permintaan kecil bagi pembaca:

Saat kamu mencoblos pilihanmu di bilik suara, ucapkanlah sebuah doa pendek. “Tuhan, lindungilah Indonesia”. Apapun agama dan kepercayaanmu.

 

Selamat memilih,

Selamat mencintai Indonesia,

selamanya.

 

Baca juga:

“Marketing Jokowi Payah!”

“We Get The Leader We Deserve”

 

Advertisements

11 Comments »

  1. wahhh tulisannya mewakili saya banget ini om piring!!!
    kemaren sebelum nobar sempet bengong ngeliat orang-orang antusias banget ngeliat debat capres terakhir… seketika semua mata terteuju pada layar besar terkembang dan komen-komen khas politisi bertebaran!!
    ngerasa banget kalo pilpres kali ini auranya beda!!
    semoga pilpres kali ini bener-bener membawa perubahan!! /

  2. Setelah hampir 2bulan bacain berita-berita pemilu absurd yg membelalakan mata, akhirnya ada kabar gembira jg walaupun ada kabar tidak gembiranya :(…

    Semoga Tuhan bersama kita, dan kita selalu bersama Tuhan.

  3. Setuju banget…
    Stop kampanyehitam!!!
    Semoga negara Indonesia lbh baik dengan pemimpin yg jelas2 baik. Junjung terus bhineka tunggal ika sebagai kekayaan negara.
    #akhirnyamilihtenang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s