Ngerasain Headphone $1,700, Review Awam Audeze LCD-X

Kenapa gw seneng dengan social media? Karena kadang2 teman-teman baru di situ membawa gw ke dunia lain yang belum pernah gw kenal. Kali ini, gw jadi menemukan dunia high-end audio.

Jadi suatu hari, gw disapa oleh Mike dari Headfonia Store di Twitter. “Eh, tertarik review headphone? Mereknya Audeze. Ini fotonya”

Audeze-LCD-X-B-BL-Hanging-01-600x600_1024x1024

Okay, tampangnya dari foto cukup sangar. Tapi gw gak pernah denger merek ini sebelumnya. Maklum, gw bukanlah seorang audiophile. Pengetahuan gw tentang merek2 headphone hanya yang mainstream saja: Philips, Nakamichi, Sennheiser, Bose, dll. Maka bertanyalah gw kepada Mike berapa harganya.

“US$ 1,700”

A…apa?

ADA HEADPHONE HARGANYA Rp 20 JUTA LEBIH? APA2AN SIH INI? GW HARUS KERAMAS 7 KEMBANG DULU APA SEBELUM BISA PAKE INI?

Welcome to the world of high-end audio Henry! Kata gw sendiri dalam hati, sambil makan hati.

Gw sempet bilang ke Mike, apa nggak mendingan barang ini direview sama audiophile sejati. Soalnya nyuruh gw nyobain headphone mahal ini apa nggak sama aja kayak gw disuruh nyoba disasak di Alfons. Kagak ngerti lah gw! Tapi Mike ngotot bahwa justru doi pengen orang biasa “mainstream” yang nyoba. Kalo hanya expert sih udah biasa.

Yo wis. Plus ditambah gw emang orangnya kepo-an, gw setuju untuk mencoba headphone Audeze LCD-X ini selama beberapa hari.

Audeze LCD-X ini seluruh penampilannya kalo bisa ngomong, kayaknya doi bakal ngomong “Elu jangan macem2 sama gw deh sob. Gw barang serius punya. Jangan muke gile loe ya”. Liat aja penampilan box-nya yang serem gini, udah kayak ngebawa hulu ledak nuklir.

Ini kotak headphone ato kotak amunisi?

Ini kotak headphone ato kotak amunisi?

Begitu kotak dibuka, terlihat memang headphone ini mendapat perlindungan maksimal yang sesuai dengan harganya. Seluruh unit terlindungi foam.

20141019_153327

Mari kita tengok lebih dekat si Audeze LCD-X ini sebelum kita keluarkan dari kotak

20141019_153338

Headphone ini dikemas dengan kabel yang detached. Jadi harus kita pasang dulu kabelnya. Kental sekali terasa professional grade-nya.

20141019_153444

Pasang dulu kabelnya sebelum didengarkan!

Pasang dulu kabelnya sebelum didengarkan!

Headphone ini bener2 gede. Liat aja perbandingan dengan tangan gw di foto di atas. Uniknya, “bantalan kupingnya” tidak simetris, tetapi membesar di belakang. Menurut penjelasan Mike, hal ini untuk mensimulasikan posisi speaker monitor yang “menghadap ke arah kita”

Perhatikan bantalan yang menebal di belakang

Perhatikan bantalan yang menebal di belakang

Setelah gw keramas dengan air kembang 7 rupa, barulah gw berani memakai headphone ini di kepala. Guys, headphone ini GEDE beneran. Dan berat. Gw merasa terlihat seperti Princess Leia….

Gede....ajah

Gede….ajah

Udah gw bilang mirip...

Udah gw bilang mirip…

Biar kayak Princess Leia yang penting suaranya sob!

Biar kayak Princess Leia yang penting suaranya sob!

Yang penting, Audeze LCD-X ini memang bukan headphone untuk lari marathon, apalagi sambil selfie. Bukannya soal diketawain orang lain. Tapi leher elu sob. BERAT NEH. Ini bener2 headphone untuk kita nikmati di rumah, sambil santai selonjoran di sofa, ditemani istri muda. Eh.

Menurut penjelasan Mike lagi, Audeze LCD-X ini adalah headphone yang bisa dipergunakan oleh professional sound engineer sebagai pengganti speaker monitor. Umumnya seorang sound engineer menggunakan speaker untuk melakukan mixing, tetapi sekarang mulai ada trend menggunakan headphone high-grade. Yang menarik, headphone professional seperti ini justru suaranya disetel “flat”. Maksudnya “flat” di sini adalah, headphone tersebut tidak disetel untuk lebih kuat di bass, atau trebel. Suaranya “jujur” apa adanya. Ingat bahwa headphone ini bisa digunakan untuk mixing di studio, jadi sang sound engineer justru perlu mendengar suara yang jujur, jangan dimanipulasi dulu. Biar doi yang manipulasi dengan keahliannya.

Menikmati Audeze LCD-X ini juga perlu diimbangi perangkat yang emang “layak” untuk doi. Ibaratnya, kalo kita punya Lamborghini, masak tega diisi BBM bersubsidi? Begitu juga headphone ini cocoknya dipertemukan dengan audio system yang mumpuni. Berhubung gw gak punya audio system yang mahal, Mike meminjamkan solusi sementara, sebuah “amplifier portabel”. Barang sebesar powerbank ini bisa “mengangkat” suara yang keluar dari PC atau hape, sebelum disalurkan ke headphone. Asyik ya? Gw gak pernah tahu ada barang seperti ini sebelumnya.

Amplifier portable. Gak tau deh istilah benernya apaan....

Amplifier portable. Gak tau deh istilah benernya apaan….

JADIIII….GIMANA RASANYA SUARA US$ 1,700???

Oke, cukup dengan joke Princess Leia. Mari kita denger suaranya headphone Rp 20 juta lebih kayak apa. Gw bisa mendengar suara penghuni dunia lain kah?

[Catatan: Gw mendengar lagu dari iTunes, menggunakan amplifier portable di atas. Inget bahwa pengalaman gw juga tergantung dari kualitas file lagu yang gw miliki. Kemudian referensi gw adalah headphone yang gw gunakan sehari2. Sebuah headphone Sony dengan Noise Cancelling dengan harga JAUH di bawah $1,700. Hiks.]

Begitu headphone ini dikenakan, maka bantalan Princess Leia segera memberi efek kedap suara dari luar. Walaupun tidak memiliki fungsi noise cancelling, tapi LCD-X memberikan kesunyian alami yang cukup untuk bisa mendengar lagu.

Gw mulai dari lagu pop dulu. Love Never Feels So Good (MJ & Justin Timberlake). Yang gw rasakan pertama-tama adalah….betapa KOMPLITnya suara yang keluar (dibanding headphone sehari2 gw). Ada instrumen2 yang sebelumnya di headphone pribadi gw tidak terdengar atau tidak jelas, di LCD-X ini lebih terdengar.

Masih dengan semangat kekinian, gw pindah ke A Sky Full of Stars (Coldplay). Wah, Jennifer Lawrence denger suara lead vocalnya di sini bisa langsung bunting. Yg gw suka, lagu ini terdengar efek “space”/ruang luar. Gw seperti ada di tengah2 panggung yang lapang.

Pindah ke lagu jadul. Love in An Elevator (Aerosmith) untuk ngetes lagu rock. Walaupun gw mendengar tidak mengubah EQ (Equalizer), dentuman drum terdengar cukup berdebum untuk selera gw.

Habis basah kena muncratan Steven Tyler, gw pindah dengerin konser Live in Paris-nya Diana Krall, dengan lagu Fly To The Moon. Berbeda dengan Coldplay tadi, di sini gw rasanya duduk dekat sama mbak Diana dan panggung. Betotan bas-nya jelas banget. Gw juga seneng denger permainan drumnya yang “basah”. Lagu ini kebetulan ada sesi piano instrumental, dan denting pianonya sexy banget. Gema-gema pendek dari tiap denting terdengar jelas.

Kemudian gw penasaran dengan musical. Apalagi piece yang epic. Apakah vocal keroyokan bisa terdengar dengan baik. Maka pindahlah gw ke One Day More dan Do You Hear The People Sing (Les Miserables), lagu favorit gw di musical ini. Chorus di kedua lagu ini terdengar jelas. Walaupun jujur, gw merasa lagu musikal ini seperti lebih enak didengar dari speaker daripada headphone.

Pindah ke komposisi klasik tanpa vocal, gw memilih Overture dari Handel’s Messiah. Komposisi ini didominasi string, dengan nada2 dramatis seperti soundtrack film Hollywood. Violin dan cello yang bersahut2an di lagu terdengar “tajam” dan “adil”, tidak ada yang kalah satu dari yang lain.

Let’s Fall in Love (Frank Sinatra) menguji Audeze LCD-X untuk lagu2 jazz dengan big band. Di sini gw hepi banget. Vocal Sinatra yang khas bertemu dengan keramaian instrumen big band jadi harmoni yang pas.

Terakhir, gw menutup dengan band favorite gw sepanjang masa, Under Pressure (Live in Montreal – Queen). Ini lagu klasik dari Queen tapi diambil dari konser live. Petikan bass yang menjadi icon lagu ini langsung bikin goyang. Freddie Mercury membuktikan bahwa dia masih one of the greatest voices in history. “Gema” yang khas ada di rekaman live tertangkap dengan jelas. Rasanya Freddie bagai turun dari surga :’)

 

Penutup

Gw bukan seorang audiophile professional, jadinya gw pasti gak punya “kuping emas” layaknya para ahli. Tetapi Audeze LCD-X ini bener2 sesuai dengan harganya yang hampir 10x UMR DKI Jakarta.

Gw pribadi mungkin tidak akan membeli headphone high-end seperti ini. Selain harganya yang nggilani, gw bisa tidur di sofa kalau ketahuan istri beli barang seperti ini. Tetapi gw yakin pasti ada pecinta audio di luar sana yang mau membayar untuk pengalaman audio yang top quality. Karena “mainan laki2” itu tergantung selera subyektif (seperti ada cowok2 yang menghabiskan uang untuk hobi otomotif, atau gaming, dll). Jadi untuk cowok2 kelebihan duit yang udah bosen main motor, main mobil, kawin lagi, mungkin bisa melirik dunia high-end audio nih. Sedikit lebih murah dari kawin lagi kok.

Yah, minimal gw pernah ngerasain headphone Princess Leia seharga Rp 20 juta lebih di kepala gw! New story to tell! Untuk yang penasaran mau nyobain Audeze LCD-X ini, bisa ke Headfonia Store di STC Senayan (www.headfoniastore.com)

(Thanks Mike!)

Advertisements

Categories: Review

Tagged as: , ,

9 Comments »

  1. Udah coba pake headphone biasa yang dicolokin ke amplifier portable?

    Headphone setau gue ada ukuran kupingnya. Mungkin ada pilihan ukuran lainnya sehingga pas di kuping?

  2. Katanya om klo mau ngetes heasphone speaker lalala pke lagunya queen yg bohemian rhapsody, soalnya katanya lengkap suaranya..jd ketauan semua suara gtu..katanya sih om..klo bisa cobain pke itu trus puter bohemian..hehe…
    Reviewnya seperti biasa..MENARIK hehe..
    Keren om

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s