Polisi Tidur, Perang Nuklir, dan Credible Threat

Hari ini dihubungi oleh anak teman yang sedang mengerjakan project sekolah. Entah kenapa, dia memilih “polisi tidur” (speed bump) sebagai project. Dia menghubungi saya untuk mengetahui pendapat saya. Pertanyaan pertama adalah: “Setujukah dengan konsep polisi tidur?”

Pertanyaan ini sepele, tapi sebenarnya bisa dibahas panjang.

Dalam menilai sesuatu, entah barang atau tindakan, seringkali kita harus memulai dari tujuan (purpose) barang/tindakan tersebut. Apakah the real purpose dari polisi tidur? Polisi tidur itu tujuannya adalah MELAMBATKAN laju kendaraan di titik-titik yang rentan kecelakaan (misalnya sekolah, karena anak kecil suka lari menyeberang tanpa lihat kiri-kanan).

Jadi secara purpose, konsep polisi tidur itu masuk akal, di atas kertas. Dan gw mendukung saja, karena jika di dekat sekolahan maka keselamatan anak kecil adalah nomor satu.

Masalahnya ada di EKSEKUSI.

Dulu waktu gw kecil, seinget gw, polisi tidur selalu DICAT setrip2 putih. Jadi pengendara mobil/motor TAHU ada polisi tidur 20-30 meter sebelumnya, sehingga mereka mulai melambatkan mobil lebih dahulu. Pada saat mereka tiba di polisi tidur, kecepatan mereka sudah cukup lambat untuk menghindari guncangan terlalu parah.

Masalahnya sekarang polisi tidur dibangun seenak2 jidat warga, dan TIDAK DICAT. Baik siang atau malam seringkali pengemudi mobil tidak bisa melihat ada polisi tidur sampai sudah terlalu dekat untuk mengerem. Akibatnya? Mobil melabrak polisi tidur dengan kecepatan tinggi, shockbreaker cepat rusak, dan tetep aja orang yang menyeberang di balik polisi tidur tersebut masih berisiko tercium mobil. Worse, kalo polisi tidurnya lebay dan mobil berkecepatan tinggi, bisa2 mobil melompat dan menimpa mbok jamu tak bersalah. Atau kalo motor bisa terjungkal. Dan tetep menimpa si mbok jamu.

Polisi tidur bermanfaat BUKAN saat dilindas. Polisi tidur bermanfaat saat ia DILIHAT oleh pengendara jauh sebelum tiba. Tujuannya adalah “mengancam” pengemudi agar ia merubah kecepatannya. Untuk bisa menjadi ancaman yang kredibel, ia harus TERLIHAT. Kalo gak keliatan, ya gak jadi ancaman tho?

Jadi di sini ada purpose yang bubar karena eksekusi yang buruk. Purpose polisi tidur pada dasarnya baik. Tapi eksekusi yang buruk (tidak dicat strip2) membuatnya kurang efektif memenuhi tujuannya.

Gw jadi ingat film klasik “Dr. Strangelove”, yang mengambil setting perang dingin AS vs. Uni Soviet di mana perang nuklir adalah sebuah skenario yang nyata dapat terjadi. Dikisahkan seorang pilot pembom AS yang sakit jiwa memutuskan terbang sendiri membawa bom atom untuk dijatuhkan di Uni Soviet. Masalah timbul ketika AS menemukan bahwa Uni Soviet baru saja mengaktifkan “Doomsday Machine”, sebuah jaringan bom nuklir yang otomatis akan meledak jika Uni Soviet diserang dan akan menghancurkan kehidupan di seluruh permukaan bumi dengan radioaktifnya. Tujuan Doomsday Machine dibuat adalah agar AS mengurungkan niat menyerang Uni Soviet, karena akan menghancurkan seluruh planet. Karakter Dr. Strangelove mengomel karena Doomsday Machine tersebut TIDAK PERNAH diumumkan ke pihak AS, sehingga tidak berfungsi sebagaimana tujuannya diciptakan.

Sebuah mekanisme yang bersifat mengancam untuk mencegah pihak tertentu berbuat hal yang tidak diinginkan baru berguna jika ancamannya diketahui. Sama seperti polisi tidur di atas. Saat pengemudi bisa melihat polisi tidur tersebut dari jauh dengan jelas, maka dia seperti mendengar polisi tidur itu berkata “KALO ELU TETEP KENCENG, NGELEWATIN GW KEJEDOT KEPALA ELU KE ATEP MOBIL/KELEMPAR ELU DARI MOTOR!”. Tetapi jika polisi tidur itu tidak dicat sehingga tidak terlihat, sama seperti Doomsday Machine yang tidak diumumkan, maka “ancaman kredibel” ini tidak pernah sampai ke pihak yang ditujukan.

Itulah sebabnya kontrak bisnis/kerja ditulis dengan sejelas2nya dan harus dibaca. Karena dia berfungsi sebagai credible threat agar kedua belah pihak mengetahui apa yang terjadi jika kontrak dilanggar. Sebuah kontrak yang ditulis dengan jelas dan teliti bagaikan sebuah polisi tidur dengan cat strip2 putih yang jelas.

Mungkin prinsip yang sama bisa diterapkan kepada pasangan pacaran (HALAH BALIK2NYA KE SITU JUGA). Untuk mencegah pasangan selingkuh, maka harus ditetapkan “polisi tidur dengan cat yang jelas”, yaitu adanya credible threat, dan ini HARUS DIKOMUNIKASIKAN dengan jelas. Misalnya, “Kalau ketahuan kamu selingkuh, kupotong terongmu!” Dengan mengetahui dahulu konsekuensi sebuah tindakan (terong dipotong), maka semoga membuat pemilik terong mengurungkan niat untuk melanggar aturan. Masalahnya banyak relationship yang ada polisi tidur tetapi tanpa cat yang jelas. Jadi lagi asik2 ngebut, tiba2 terong terpotong. Padahal peristiwa bablas nabrak polisi tidur dan terong terpotong ini bisa dicegah sebelumnya.

Jadi, silahkan bikin polisi tidur, asal dicat yang jelas. Agar tidak ada mbok jamu ketimpa Scoopy, shockbreaker Avanza rusak, dan terong2 yang terpotong.

Advertisements

7 Comments »

  1. hmm…menarik nih om.
    oia…sebelumnya salam kenal ya om. 😀
    balik lagi nih ke pacaran ya?bukannya pacaran itu masa penjajakan ya om, maksudku…masih FFA(Free For All).tidak ada jaminan bahwa yang sekarang dipacarin pun akan jadi sampai ke jenjang pernikahan,bukan?jadi kenapa harus ada ego bahwa pacaran itu “memiliki” ya om?kalo sudah menikah, mkg iya…setuju dengan pemasangan “cat putih kuning” tadi, kalo pacaran? status cuman 3 bukan,om?single,merit atau duda/janda?
    heheheee..sekedar opini argue om.
    walaupun saya tetap mendukung dan setuju bahwa KOMUNIKASI dan KOMITMEN di bangun sejak dini, tapi saya punya pengalaman buruk ttg itu yang membuat hipotesanya kaya gini om?mohon petunjuk dan arahan jika salah om.
    thx

  2. om pir, saya mau tanya. tentang credible threat orang pacaran hehe (salah fokus). credible threat untuk pacaran yg bener2 credible apa aja om kira-kira? karena menurut saya, sperti yang dicontohkan tadi, selingkuh, berarti dia udah ngga sayang kan om, disini credible threat nya jadi nggak kepake jg toh udah nothing to loose buat yg selingkuh. iya ngga? mohon pencerahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s