Jodoh Itu Mirip Wajah vs. Naik Motor Melawan Arah

Pagi2 di ask.fm, menerima pertanyaan dari seorang dedek2, “Percaya gak kalo jodoh itu bisa dilihat dari kemiripan wajah?”

Ampun dah.

Bagi saya, pertanyaan semacam ini bisa dikelompokkan dengan “Percaya kepribadian berdasarkan zodiak gak?”, atau “Percaya kepribadian berdasarkan golongan darah gak?”, dst, dst.

Mau tahu satu kata dari saya untuk semua pertanyaan seperti ini? “MALAS!!”

Ketika orang malas untuk berusaha mengenali orang lain, mengenali pribadinya yang unik, maka orang pun mencari jalan pintas. Gak mau repot, gak mau lama. Cukup bertanya zodiaknya apa, atau golongan darahnya apa. Kalo lagi nyari suami/istri, cukup mencocok2kan wajah. Itu pun modal ngeliat foto profile pic yang udah habis dipoles Camera360 atau Beauty Face.

Sudah lah bahwa “jodoh itu wajahnya mirip” dan konsep zodiak itu adalah kotoran banteng (terjemahin sendiri), tapi gw lebih mengkhawatirkan fenomena nyari jalan pintas ini, bahkan untuk urusan jodoh. Kita tidak ingin menjalani proses suka-dukanya mengenal orang lain, mengetahui harapan dan ketakutannya, menemukan sendiri hal yang dia suka/tidak suka, menemukan ketidak-cocokan di antara kita, merasakan berselisih pendapat, dan lain-lain. Cukup dengan mengetahui “Dia Capricorn”, atau “Dia golongan darah B”, dan kita merasa sudah mengenal seseorang.

Kenal ndasmu….

Kemalasan berusaha mengenal orang ini kemudian juga mengingatkan saya kepada kejengkelan saya kemarin melihat begitu banyak pemotor yang melawan arah dengan santainya.

Saya benar2 khawatir dengan fenomena naik motor melawan arah ini. Yang paling mendasar tentunya faktor keamanan. Dan yang selalu saya cemaskan adalah penyeberang jalan. Karena di Indonesia kita kalau menyeberang praktis melihat ke kanan dulu (arah datang kendaraan), dan tidak melihat ke kiri. Jadi motor yang melawan arah bisa tidak terlihat saat kita menyeberang jalan. Brengsek kan?

Tetapi ada masalah lain yang juga tidak kalah mengkhawatirkannya dari masalah penyeberang tertabrak. Dan ini ada hubungannya dengan “mencari jodoh berwajah mirip”, yaitu mentalitas “jalan pintas” (shortcut).

Naik motor melawan arah adalah bentuk ketidaksabaran menunggu/mengikuti rute yang benar. Pengen cepet? Ya melawan arah sajalah. Jarak dan waktu tempuh menjadi singkat, yang penting SAYA tiba di tujuan dengan cepat. Persetan keselamatan orang lain. Sama juga dengan kebiasaan menerabas lampu merah. Entah apa susahnya menunggu beberapa detik lagi sampai lampu hijau. Semua ini mirip kan dengan mengenal orang dari zodiak/golongan darah? Yang penting “cepat kenal”, gak pake lama bang!

Terus memang apa masalahnya dengan mental “jalan pintas” ini?

Well, tidakkah motivasi yang sama sebenarnya juga ada di belakang korupsi? Kita ingin cepat kaya, pamer mobil, rumah, batu akik motif Naga Main iPhone, tetapi gaji sebenarnya tidak mencukupi. Mau menunggu jalur karir resmi, ah lama. Ya sudah, daripada lama2 ya korupsi aja. Lebih cepat dan nyaman! Kekhawatiran saya adalah mental jalan pintas yang dibiarkan tumbuh di jalan raya bisa mendidik orang bahwa itu adalah hal yang wajar. Dan ini bisa merembet menjadi lebih besar – dari jalan raya, sampai ke kantor, bahkan sampai ke pemerintahan. Dari sekedar tidak sabar menunggu lampu hijau, akhirnya menjadi tidak sabar bekerja keras/menunggu hasil usaha yang halal. Dan ketika fenomena melawan arah tidak ditindak dan makin marak, semakin banyak orang merasa bahwa “mencari jalan pintas” itu dimaklumi dan dimaafkan. Kalau di jalan boleh, artinya di pekerjaan juga boleh, dan di tender triliunan dengan uang rakyat juga boleh….

Waktu saya mengeluhkan soal naik motor melawan arah/nerabas lampu merah di Twitter, bukannya saya mendapat dukungan, justru saya malah diminta memaklumi! Seseorang berkata, “Masalah itu rumit mas, kita semua kan dididik waktu adalah uang”. Seseorang lain lagi berkata, “Ada faktor lingkungan juga yang memaksa”. Keduanya bernada “minta pengertian”. Gw jadi tambah stres.

Kalau sampai perilaku sesederhana MENUNGGU LAMPU MERAH, atau berkendara TIDAK MELAWAN ARAH saja sudah dibilang “rumit”, ini sungguh menyedihkan. Beneran. Ini artinya sudah membuka celah untuk berargumen membela pelanggaran dasar. “Ngerti dong, ini kan macet banget! Saya juga harus nyampe kantor tepat waktu! Masak nerabas lampu merah/ngelawan arah aja gak bisa dingertiin sih?” Saya pun menolak jawaban “rumit” ini. Nggak! Taat lalu lintas itu gak rumit. Itu SEDERHANA. Gak usah dirumit2in. Saya masih bisa menerima argumen “rumit” kalau menyangkut mahasiswa miskin yang menggunakan software bajakan atau memfotocopy text book impor. Tetapi kalo sekedar nungguin lampu merah dan tidak melawan arah dirumit2in juga, ijinkan saya mengquote Ahok: “T*I!!!”

Tragedi lain dari perilaku jalan pintas ini adalah yang disebut Tragedy of The Commons (Google deh). Artinya, individu2 yang nyari “jalan pintas” ini mengira dirinya diuntungkan (advantaged) dari perilaku itu. Tetapi, ketika makin banyak individu yang melakukan hal itu, akhirnya malah terjadi chaos, dan SEMUAnya malah kena macet, dan semua orang berada di situasi lebih buruk dari sebelumnya.

Perhatikan bahwa mental jalan pintas ini begitu prevalen di mana2. Dari naik motor melawan arah, pengendara menerabas lampu merah, korupsi, sampai sekedar “beli follower” di social media. Bahkan kalau perlu masuk surga pun kita mencari jalan pintas. Semua tidak ingin mengikuti proses dan waktu yang seharusnya.

Mengapa begitu sulit bagi kita untuk sabar dan disiplin di jalan raya? Untuk sekedar menunggu lampu merah? Atau berkendara mengikuti arah semestinya? Sabar dan disiplin adalah values penting untuk kemajuan bangsa. Mengapa tidak diajarkan? Apakah ini kesalahan sistem pendidikan? Atau kesalahan orangtua? Saya juga tidak tahu jawabnya…Ada eksperimen psikologi terhadap anak2 kecil usia 7-9 di AS yang sangat menarik di tahun 60-an (Stanford Marshmallow Experiment) . Setiap anak ditempatkan di sebuah ruangan dengan meja dan piring berisi sepotong marshmallow atau kue. Si anak diberitahu bahwa dia boleh saja langsung memakan marshmallow/kue tersebut, TETAPI, jika dia mampu menunggu selama 15 menit saja tanpa menyentuh marshamallow/kue tersebut maka dia akan mendapat tambahan marshmallow/kue kedua. Tes ini menguji kemampuan anak menahan diri, bersabar menunda kenikmatan (delay gratification). Hasilnya: sebagian anak tidak tahan godaan, langsung memakan hidangan di meja, dan sebagian lain sukses bersabar menunggu (dengan cara yang lucu2 seperti menutup mata, dll).Tetapi bagian terpenting dari eksperimen ini justu datang puluhan tahun kemudian. Lebih dari 20 tahun kemudian, peneliti mengecek anak2 tadi untuk melihat bagaimana perkembangan akademis, karir, dan kesuksesan hidupnya secara umum.Hasilnya: Anak2 kecil yang mampu bersabar menahan diri untuk tidak segera memakan marshmallow/kue di eksperimen tadi belakangan memiliki nilai ujian nasional yang lebih tinggi, prestasi akademis keseluruhan yang lebih tinggi, bahkan berat badan (berdasar Body Mass Index) yang lebih ideal!! Orang tua dari anak2 yang mampu bersabar di eksperiman tersebut ketika disurvey juga menjelaskan anak2 mereka sebagai lebih kompeten, dibandingkan orang tua dari anak2 yang tidak sabaran.Dengan kata lain, kemampuan menahan diri, disiplin diri, dan bersabar bisa menjadi indikasi penting keberhasilan seseorang kelak. Hal ini penting sekali untuk orangtua dan cara membesarkan anak.Maka setiap pagi, ketika di jalan gw melihat puluhan orang dengan santai melawan arah atau menerabas lampu merah, gw hanya bisa bisa mengelus dada, “Mau jadi apa bangsa ini nanti?”

Advertisements

Categories: Random Insight

25 Comments »

  1. Kai, kalau muka cocok, zodiak pas, shio klop, hobby sama, barengan founding membersnya Haji Lulung fans club gak bakal dianggap malas kan kak?

  2. Sepakat, om.
    Empet banget ama orang2 yg ngelanggar rambu dgn alasan udah biasa, biar lebih cepet, ga ada polisi. Huffft… Pengen rasanya ngegamparin orang2 itu.

  3. Sepakat, om.
    Empet banget ama orang2 yg suka ngelanggar rambu lalu lintas. Pengen rasanya ngegamparin orang2 itu.

    Soal jodoh juga. Mau ngerti cocok apa engga ya pdkt lah. Jangan cuma percaya hal2 kek zodiak2 gitu lah.

    Tp, om, saya sih suka aja baca2 artikel soal zodiak2an gitu. Buat lucu2an aja, ga buat dipercaya.

  4. Kemaren siang gue hampir ditabrak ama bajaj yg melawan arah pas gue lg nyebrang di Jln. Wahid Hasyim deket Sarinah. As true as the saying ” Haters will always be haters”, so is losers will always be losers. There are reasons why those guys are riding bajaj and motorcycles only and not owning any nice cars. They have been given their full reward (including higher risk of accidents). Those ppl will always be self-centered then become undisputeable T*I in the end. We… at our best, be more alert so we do not get ourselves dirty or slammed by those T*I ppl. As long as we live here, such survival skill is necessary or else let us just move out.

  5. Selalu suka baca post Om Piring. Dapat ilmu baru ternyata apa yang selama ini saya mengganggu emosional saya di jalanan ternyata ada istilahnya, Tragedy of The Commons.

    Anyway couldn’t more agree to your point, Om.

  6. Tulisan bagus om Piring.. setiap hari sih saya kerja naik motor.. dan itu makan waktu sampai kantor 30menit. Kalau macet. Apakah saya taat berkendara? Tidak selalu. Tapi ya boleh dibilang saya cukup sabar untuk tidak melawan arah/menerobos lampu merah. Ketika panas sekali menyerang helm sampai basah, macet yang luar biasa, bising klakson luar biasa. itulah saat dimana saya sudah tdk tahan lagi. Namun saya sendiri juga cukup sering pakai mobil. Dan ketika pakai mobil entah kenapa saya jadi jauh lebih disiplin dan sabar. Hmm apakah pengaruh ya? Saya coba melihat dari 2 sisi saja.

  7. Bener memang, sekedar ngasih jalan ke penyeberang jalan yg jalan kaki aja kita susah..

    Pengen cepet semuanya.. ML nya apa ya cuma 2 menit keluar ya? *eh

  8. Seperti biasa tulisan oom bagus mulu. Saya aja belum lama ini gemes sama kelakuan pengendara bermotor yang gak sabaran. Bayangkan, lampu lalu lintas belum hijau (masih kurang dua detik lagi) tetapi para pengendara motor udah ngasih klakson ke mobil di depannya untuk segera maju! Dan fyi ini bukan di JKT lo oom, ini di Jogja.
    Itu baru kasus di jalanan, belum lagi kasus ‘jalan pintas’ yang lain misalnya aja proses pedekate. Yang gebet malah nyari tahu kesukaan si gebetan dari profil FB alih-alih nanya sendiri ke yang bersangkutan. Padahal kan itu bisa dijadiin topik pas ketemuan ya oom.. eh pas ketemuan malah sibuk sama gadget masing-masing. #tepokjidat

    Ohya makasih untuk penjelasan dari tragedy of commons-nya, pencerahan buat saya
    Tetep sehat oom biar bisa nulis yang keren-keren gini 😀

  9. generasi instan emang gitu maunya shortcut semua. maunya cepat tanpa mau mikir konsekuensinya. tapi itu mental sih emang. parahnya sekarang bukan cuma motor yang nglawan arus ( 5 taon yg lalu nglawan arus gak sebanyak sekarang loh) .. mobil, angkot pun begitu. itlah mental pengendara motor baru bisa beli mobil.

  10. setuju sama om… gw sebagai pengendara motor kesel juga sama motor lain.. klo di lampu merah padahal ijonya masih kurang 2 detik gw udh di klaksonin terus… dan yang paling parah the power of Ibu2… klo naek motor se enak jidatnya ga pake lampu sen klo belok.. apalagi klo liat abang2 jualaan… bisa bisa nya dia langsung berenti ga pake minggirin itu motornya… alhasil gw gw tabrak dr belakang… eh malah dia yang teriaaakk… pengen banget gw cabein mulut.. ya tp dia kan ibu2 jadi harus kita yang maklum *nangis* *semoga nanti ga jadi ibu2 yg nyebelin kaya gitu*

  11. Mengutip pertanyaan Om Piring tentang “Mengapa begitu sulit bagi kita untuk sabar dan disiplin di jalan raya? Untuk sekedar menunggu lampu merah? Atau berkendara mengikuti arah semestinya? Sabar dan disiplin adalah values penting untuk kemajuan bangsa. Mengapa tidak diajarkan? Apakah ini kesalahan sistem pendidikan? Atau kesalahan orangtua?”

    Jadi beberapa hari yang lalu, saya sedang dijalan, di perempatan dimana lampu lalu lintas sedang merah, dan terkaget-kaget oleh suara sirine dan teriakan dari aparat bermotor yang menyuruh saya minggir karena ada seorang (atau beberapa orang) pejabat yang mau lewat tanpa menghiraukan bahwa itu sedang lampu merah.

    Lha pejabat aja ga mau berdisiplin nungguin lampu merah loh om, terus rakyat mau mencontoh kemana?

    Dan begitulah, saya tetap menunggu datangnya lampu hijau dengan tertib meskipun dengan tatapan sedikit kosong karena kecewa….

    ah Indonesia 😦

    • Kalau boleh menambahkan, saya juga bingung apa yang salah. Tarolah orang tua sudah mendidik dengan baik, tertib, disiplin, tapi kalo lingkungan sekitarnya masih begitu, sepertinya anak akan dengan mudahnya akan meniru dan mencap itu hal yang lumrah untuk dilakukan. Si anak ini suatu saat akan besar ya, dan saking banyaknya orang yang melakukan dia mungkin tau itu salah tapi menganggap gada salahnya untuk dilakukan. Terus kayak gitu.. Ga tau kapan berentinya. Huhuhuhu.. nangis aja deh yah..

  12. Tulisannya bagus om. Mau jd apa bangsa ini? Gw rasa, budaya ingin “cepat” itu sedikit banyak dilakukan oleh hampir semua struktur sosial masyarakat Indonesia dari yang terkecil yaitu keluarga. Contohnya, sebuah pasutri memilki batita atau balita, sebagian dari mereka akan berusaha untuk “cepat-cepat” mengajarkan banyak hal supaya anak mereka terlihat pintar. Tak sedikit para orang tua ingin mendengar “waahh pintar yaa umur setahun sudah bisa jalan,” atau “wah pintar yaa umur setahun sudah bisa lancar ngomong.” Lebih parah lagi sistem pendidikan kita di Indonesia yang carut marut ini, konyol waktu saya tau ternyata kalau mau masuk SD harus sudah bisa membaca, menulis dan berhitung (calistung). Pertanyaannya saya, bukannya saya sekolah SD biar bisa calistung? Ternyata tidak bagi SD favorit di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Argumen pihak SD adalah seharusnya itu (calistung) sudah diajarkan di TK, apalagi TK yang populer (dengan nada suara sinis). Buat saya itu tolol! TK aja singkatan Taman Kanak-Kanak. TK seharusnya semenyenangkan itu berisi semua wahana kotor2an, wahana menanamkan nilai basis kehidupan seperti antre, wahana membiasakan anak mengucapkan kata tolong, terima kasih lalu maaf, dan sebagainya dan sebaginya. TK seharusnya anak tidak diajari calistung yang rumit sebagai syarat masuk SD. Di negara maju baik Eropa, AS atopun Jepang, usia anak-anak mulai belajar hal-hal kognitif sangat lambat. Anak-anak di sana baru belajar membaca dasar ketika anak-anak Indonesia sudah mulai berkelidan dengan kalimat majemuk dalam bahasa Indonesia yang sangat rumit. Hasil akhirnya bisa ditebak, secara umum tingkat minat baca anak-anak Indonesia jauh di bawah negara-negara maju tadi atau bahkan negara tetangga seperi Malaysia atau Singapura. Anak-anak kita akan pandai secara kognitif, cepat menangkap apa yang disampaikan oleh buku maupun orang lain, namun “cepat” bosan dan tidak telaten. Ironinya keponakan gw kelas 4SD tidak suka membaca buku, bahkan Harry Potter sekalipun (gw dulu mangap2 pengen banget baca Harry Potter). Dengan entengnya dia bilang “ga ahh om nonton filmnya aja biar gampang.”

    Di situ kadang saya merasa optimis kalau anak saya akan terlambat membaca buku tapi minat bacanya tidak akan ada yang bisa mengalahkan.

    Salam.

  13. Banyak emang di jaman skrg ini yg memilih shortcut krna emang diutamakan hasil bukan proses.

    Sebagian nesar sistem penilaian individu di kantorku pun dlihat dr hasil bukan proses. UN..dll banyak yg melihat hasil bukan proses. Sehingga memang bnyak yg menggunakam shortcut utk mencapai hasilnya.

    Namun..
    Sy setuju n mmbenarkan bhwa shortcut yg dpakai atw dlakukan bnyak yg merugikan org lain.. dan bahkan org yg cenderung memilih shortcut mungkin tidak akan jd peka ketimbang orang2 yg menghargai proses.

    Masalah nunggu lampu merah n ngikutin rute yg bener itu ga rumit bro.. masalah sistem yg nuntut hasil jg ga rumit.

    Semuanya butuh perubahan n kalo bukam kita siapa lg.

    Have courage n be kind kalo kata cinderella.
    Thanks for the posting Mas

  14. situasi yg sdh amat memprihatinkan…… ini gak bisa ditangani dg penegakan hukum lg krn gak mungkin setiap meter jalan dijaga petugas 24 jam…. jelas jumlah petugas terbatas, pelanggar kian hari makin banyak dan anarkis…. saya blm denger nih kaum spiritualis khotbah atau ceramah yg angkat topik ini…. jelas ini kerusakan moral dan mental yg sdh amat buruk…. gak ada kesadaran sbg manusia yg berakal dan berbudi pekerti… sdh makin dekat ke hewaniah… mestinya para spiritualis prihatin dg kondisi ini, tp sptnya mrk amat fokus pd tatacara ritual saja…. padahal harusnya efek dr agama adalah moral, bukan hal yg terpisah…

  15. “kenal ndasmu”
    .
    ROTFL.
    Itulah yang gw batin setiapkali orang membahas zodiak dan kemudian mengklasifikasikan si A aries anaknya pasti pasti, la la la..
    Lha apes banget kalau yang lahir pas bintangnya nya dapet yang ga cihuy di mata khalayak umum. Really, like somehow no matter what yo do you still gonna be classified as the zodiak treats. cedih 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s