The Alpha Girl’s Journey

Sudah 4 bulan berlalu sejak buku The Alpha Girl’s Guide terbit di awal Desember 2015, dan gw baru sadar gw belom pernah menulis blog post tentang buku ini. Seiring perjalanan buku ini, dan sesudah mendapat banyak input dari pembaca, rasanya sudah saatnya menulis tentang awal mula dan sedikit perjalanan dari buku ini sampai saat ini.

The Alpha Girl’s Guide adalah buku ketiga yang gw tulis. Buku ini bukanlah buku yang “direncanakan” sejak lama, tapi lebih terjadi secara spontan. Berawal dari sebuah pertanyaan seorang remaja perempuan di media sosial Ask.fm, “Om, untuk apa sih perempuan harus bersekolah tinggi, kalo ujung2nya hanya di dapur saja?” Jawaban “sarkas konstruktif” gw tanpa disangka-sangka mengundang ribuan likes, dan pertanyaan-pertanyaan mengenai pilihan perempuan yang serupa. Tanpa direncanakan, gw pun terseret ke dalam pusaran (halah!) kegalauan perempuan mengenai pilihan pendidikan, pekerjaan, pacaran, sampai pernikahan. Sampai akhirnya follower di Ask.fm sendirilah yang menganjurkan gw untuk membukukan jawaban-jawaban yang gw berikan agar memudahkan orang lain untuk mengaksesnya kembali.

Gw nggak percaya dengan “universe” yang sinkron untuk mewujudkan sebuah angan, tapi kebetulan sekali berdekatan dengan ide menulis buku tentang perempuan, Penerbit Gagas Media menghubungi gw sebelum libur lebaran 2015 untuk mencari kesempatan bekerja sama. Ya pas banget sih. Dan akhirnya kami sepakat mencoba project menulis buku yang ditujukan kepada remaja perempuan, menyentuh topik-topik yang menyentuh kehidupan sehari-hari mereka.

Proses penulisan terjadi paling intens selama libur lebaran 2015, karena gw kebetulan tidak kemana2. Setiap hari selama liburan gw memaksa diri untuk menulis, memakai kuota. Pokoknya minimum gw harus menulis minimal 2,500 kata setiap harinya. Dan seusai libur lebaran bisa dibilang 70-80% isi buku sudah selesai. Selanjutnya adalah proses mencicil tambahan isi. Buku ini ditulis tidak hanya mengandalkan opini dan pengamatan pribadi, tetapi juga riset artikel psikologi, dan interview dengan perempuan-perempuan yang saya anggap smart dan inspiratif, termasuk jurnalis nasional Najwa Shihab dan aktivis muda Alanda Kariza.

Karena buku ini ditujukan kepada remaja, bahasa yang digunakan cenderung ringan, tanpa mengurangi keseriusan isi. Ilustrasi kocak juga diberikan di sana-sini agar tidak membosankan. Dan akhirnya draft final buku yang diberi judul The Alpha Girl’s Guide ini selesai di bulan November 2015, naik cetak, dan mulai dijual di toko buku fisik dan online di bulan Desember 2015.

Adobe Photoshop PDF

Pertanyaan yang paling sering gw terima adalah, “Mengapa cowok menulis tentang kemajuan perempuan?”Well, jawaban pertama adalah why not? Mempertanyakan gender tertentu boleh atau tidak menulis sebuah topik bukannya sikap sexist ya? Jika saya menemukan buku bagus tentang menjadi laki-laki yang lebih baik karya penulis perempuan, saya tetap saja senang membacanya, tanpa harus memusingkan gender penulisnya. Bagi saya wisdom, knowledge harus diterima dari siapa pun, tanpa mendiskriminasi gender.

Jawaban kedua saya untuk pertanyaan di atas adalah, “Justru saatnya ada suara laki-laki di topik ini”. Perempuan-perempuan hebat yang menyerukan kemajuan sesamanya sudah banyak sekali. Masalahnya, bagi perempuan muda dan remaja, seringkali keputusan hidup mereka dipengaruhi opini lawan jenis. Hal ini sangat manusiawi, karena adanya kebutuhan mencari pasangan, baik sebagai tuntutan biologis maupun konstruksi sosial. Banyak perempuan yang mengira semua laki-laki tidak menyukai perempuan smart dan independen, dan ini menahan diri mereka untuk mengejar pendidikan atau berkarir di bidang yang mereka inginkan. Dalam hal ini, buku gw semoga menjadi “suara laki-laki” yang berbeda, yang mewakili banyak laki-laki yang tidak hanya menerima, bahkan sangat mendukung perempuan-perempuan yang mau berprestasi setinggi-tingginya.

Kenapa “Alpha Girl”? Judul buku ini dipengaruhi konsep “Alpha Female” (“Alpha Girl” maksudnya adalah Alpha Female remaja/muda). Berawal dari penelitian binatang berkelompok, konsep Alpha Male dan Alpha Female merujuk pada jantan dan betina yang dominan di sebuah kelompok binatang (“Alpha” adalah alfabet Yunani pertama, menjadi simbol pemimpin/yang diutamakan). Belakangan konsep ini juga diterapkan pada mahluk sosial lain: manusia. Kenyataannya di sekeliling kita bisa dilihat laki-laki atau perempuan yang dominan dan diikuti oleh teman-temannya. Perhatikan setiap kelompok pertemanan laki-laki atau perempuan, akan selalu ada satu orang yang secara alami menjadi pemimpin yang lain kan?

Buku ini bertujuan mencari benang merah, atau sifat-sifat apa yang ada di antara para perempuan smart, mandiri, dan anti-galau yang bisa dipelajari oleh para remaja perempuan. Inspirasi buku ini didapat dari wawancara langsung para perempuan-perempuan hebat, dari orang sekitar sampai tokoh terkenal seperti Najwa Shihab, dan juga riset banyak artikel. Buku ini dibagi menurut aspek kehidupan sehari-hari target pembaca remaja/muda: bagaimana seorang Alpha Girl bersikap di sekolah, pertemanan, pacaran, sampai memulai pekerjaan. Tujuannya adalah agar mereka lebih menghargai pentingnya pendidikan bagi perempuan, mengapa perempuan harus siap mandiri, berteman yang bijak dan konstruktif, pacaran sehat yang menghormati tubuh sendiri, sampai bagaimana sifat dan sikap profesional saat mengawali dunia kerja.

Tanpa disangka, saat blog ini ditulis, 4 bulan sesudah The Alpha Girl’s Guide diterbitkan, buku ini sudah mengalami cetak ulang sebanyak 5 kali. Gw cukup terkejut dengan respon pembaca yang sangat positif. Tetapi lebih dari sekedar penjualan, gw lebih tersentuh dengan begitu banyak komentar positif yang berdatangan di platform Ask.fm. Dari pembaca remaja yang merasa menjadi lebih semangat belajar, sampai ibu yang senang karena putrinya tidak galau lagi sesudah membaca buku ini, bahkan sampai guru-guru yang membelikan buku ini untuk koleksi perpustakaan sekolah. Ketika gw mendapat laporan bahwa buku gw bisa membuat orang lain lebih semangat berprestasi, mengejar cita-citanya, di situ gw sudah merasa sangat bahagia.

Saat blog ini ditulis, sudah beberapa kali acara Meet & Greet dilakukan. Dan gw senang banget mendapat kesempatan berinteraksi langsung, bertanya-jawab, dan berdiskusi dengan pembaca.

Gramedia Depok dan Kelapa Gading…

 

Bekasi….

 

Gramedia Malang Town Square seru dan penuh banget!

 

Gramedia Royal Plaza Surabaya gak kalah seru!

 

Central Park, Jakarta. Membawa Anne Ridwan, Group CEO Publicis One sebagai “big sister” inspiratif bagi adik-adik pembaca.

Setiap Meet & Greet selalu ada pengalaman dan diskusi yang berkesan. Di Kelapa Gading ada yang datang untuk menyempatkan terima kasih karena buku The Alpha Girl’s Guide susah membantu mereka saat mereka sedang down. Di Central Park gw gusar mendengar seorang pembaca yang saat SMA dilarang guru ikut mencalonkan diri menjadi Ketua OSIS “karena dia perempuan” (seriously!) Di Malang saya sampai dua kali menjadi tamu di acara radio, ngobrol dengan penyiar dan juga pendengar. Yang selalu sama di setiap kota adalah antusiasme dan energi yang  besar dari perempuan muda yang ingin bisa mencapai lebih dengan talenta dan passion mereka.

Gw selalu bilang bahwa buku ini bukan benar-benar “karya gw”. Inspirasi buku ini datang dari teman-teman follower di Ask.fm, dan konten datang dari interview dan pengamatan banyak perempuan hebat. Peran saya di sini hanyalah sebagai “perantara”, “penyambung lidah” perempuan-perempuan hebat dengan adik-adik mereka yang memerlukan perspektif berbeda tentang apa itu menjadi perempuan Indonesia.

Harapan gw dari buku ini adalah minimal menjadi bahan pembicaraan dan perdebatan di antara para perempuan muda Indonesia. Buku ini jangan ditelan mentah-mentah, tetapi dibahas dengan kritis. Bagi gw, memulai diskusi tentang pilihan hidup perempuan saja sudah awal yang baik. Lebih bagus lagi kalo semakin banyak perempuan yang tergerak untuk mengejar pendidikan dan berkarya. Karena topik ini tidak hanya menyangkut kesejahteraan dan potensi perempuan saja, tetapi juga seluruh bangsa. Mengutip Michelle Obama, “Ketika remaja perempuan memperoleh pendidikan, negara tempat mereka berada menjadi lebih kuat dan sejahtera”. Kualitas perempuan Indonesia bukanlah masalah perempuan saja, tetapi tantangan bagi seluruh bangsa ini.  

062813flotus-tumblr-twitter

(Sumber: quotesgram.com)

And The Alpha Girl’s Journey continues!

Advertisements

2 Comments »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s