Pahlawan (Di) Lembaran Uang

Alkisah, di suatu titik dalam sejarah, sekelompok pejuang kemerdekaan harus berjuang melawan penjajah. Para pejuang ini datang dari berbagai latar belakang, warna kulit, bahkan kepercayaan. Tetapi mereka tidak mempersoalkan perbedaan di antara mereka. Yang mereka tahu ada sesuatu yang lebih besar yang mereka perjuangkan. Kemerdekaan menentukan nasib sendiri, kemerdekaan dari tirani. Dan hal ini jauh lebih penting dari perbedaan di antara mereka, bahkan perbedaan keyakinan sekalipun.

Apakah saya sedang membicarakan pahlawan Indonesia? Oh, bukan. Saya sedang membahas film Rogue One, sebuah cerita yang mengambil setting di semesta Star Wars. Saya senang dengan ceritanya yang menggambarkan berbagai penghuni galaksi yang dijajah Empire bersatu. Bentuknya macam2, ada yang manusia, ada yang mirip cumi, warnanya juga macam2. Ada yang relijius, ada yang agnostik. Tapi semua berjuang bersama untuk common goal. Mereka meneteskan darah, keringat, bahkan mengorbankan nyawa untuk melawan tiran.

Ini memang hanya fiksi, yang seringkali menjadi potret ideal yang jarang ditemui di dunia nyata. Tapi, Indonesia rasanya memiliki sejarah yang tidak jauh berbeda dari kisah Rogue One. Dalam masa penjajahan Belanda dan perang revolusi, bangsa ini pernah melahirkan anak-anak perjuangan yang mengesampingkan perbedaan. Ada yang bersuku Aceh, Jawa, Manado, Ambon, Tionghoa, dan lain-lain. Ada yang beragama Kristen, Muslim, Buddha, Hindu, Katolik. Ada yang intelek, ada yang dokter, ada yang pendekar. Rasanya disbanding para protagonis Rogue One, kisah pejuang Indonesia tidak kalah heroik dan menginspirasi. Bahkan lebih dahsyat, karena ini kisah nyata, bukan rekaan pujangga Hollywood.

Maka ketika uang baru Republik ini menciptakan keributan urusan agama para Pahlawan Nasional di uang tersebut, di situ saya merasa sedih. Kalau para pejuang dan pahlawan bangsa dahulu mengikuti mentalitas generasi muda sekarang, yang lebih senang membelah daripada memadu, rasanya kita belum merdeka. Bagai seluruh galaksi terus takluk dalam genggaman Empire, sang Emperor, dan Darth Vader.

Sedih, karena kita sekarang hidup nyaman, dengan ponsel pintar di genggaman, bebas menyebar kebencian, justru adalah buah dari keringat, darah, dan nyawa para pejuang tadi. Di negeri merdeka dan relatif sejahtera ini, mengayunkan jempol di layar sentuh ponsel memang sangat mudah. Menuliskan hinaan dan cercaan bagi para pejuang hanya menghabiskan beberapa ratus kilobyte data, beberapa Rupiah tak berarti, mungkin dari ruangan kafe sejuk berpendingin AC. Sungguh kontras dengan apa yang harus dihadapi para pahlawan nasional, di antara desingan peluru, tekanan psikologis, teror penjajah, atau sekedar melawan egoisme demi memperjuangkan orang lain.

“Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”. Rasanya kalimat ini sudah terlalu sering disebut sehingga sudah menjadi klise, seklise “bersih itu indah”. Kita menjebak makna “menghargai” menjadi sesempit nama jalan, patung, atau gambar di lembaran uang. Padahal menghargai pahlawan juga berarti mengingat keberagaman mereka, yang tidak menghalangi perjuangan yang toh tidak menguntungkan mereka sendiri.

Ah, tapi mungkin kita memang belum layak menjadi bangsa yang besar. Bahkan jempol kita pun belum mampu berbuat hal bajik, lebih mudah menghardik dan menghujat. Mungkin bangsa ini memang baru pantas sampai taraf “OM TELOLET OM”…..

 

Advertisements

Categories: Uncategorized

7 Comments »

  1. belakangan ini saya sering speechless lihat sosial media, sering sedih-malu-marah sama kelakuan seperti itu 😦

    rasanya mau tutup sosial media aja, daripada malu tiap kali buka twitter atau fesbuk isinya seperti itu 😥

    maaf tapi kami harus mengakui kalau keimanan kami masih belum diimbangi dengan ilmu dan logika,

    saya nulis begini di fesbuk ; “Harusnya kita yang mayoritas ini memberikan rasa aman dan menahan diri kita agar tidak menjadi the Oppressor”

    btw, om Henry dari Manado, kan ?

    ini salah satu pahlawan favoritku, gak usah ditanya agamanya apa ya ^^

    https://id.wikipedia.org/wiki/Daan_Mogot

    • Hi Uchan, terima kasih komennya ya. Saya rasa ini tantangan bagi mayoritas di mana pun untuk tidak berubah menjadi oppressor, sama seperti mayoritas kulit putih/Kristen di AS harus bisa memberi rasa aman bagi kaum minoritas kulit berwarna/non-Kristen. Terima kasih link tentang pahlawan Daan Mogot. Saya bahkan tidak pernah tahu kisahnya sebelumnya 🙂

  2. semakin bagus desainnya dan semakin mengenal pahlawan negeri tercinta ini?
    siapa yang mendesain uang ya, apa Peruri sendiri atau di out source kan ya?
    terima kasih

  3. apa segitu susahnya melihat seseorang tanpa embel-embel agamanya? buat saya orang-orang yang sudah mempertaruhkan harta, tenaga, dan nyawanya untuk negara ini adalah pahlawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s