Review Awam Jadi Ayah di Usia 40-an. Part 2.

Okay, kita lanjut ceritanya aja nih ya? Buat yang belum baca Part 1-nya, sila klik di Review Awam Jadi Ayah di Usia 40an – Part 1

Jadi di akhir Part 1, saya sudah bercerita tentang program IVF yang berhasil setelah percobaan kedua. Nah, sebelum saya melanjutkan ceritanya, ada bagian yang sempat terlupa ditulis di Part 1, yaitu….

PENGALAMAN DENGAN SINSHE JELAMBAR!!

Jadiiii, sebelum kami memutuskan melakukan program IVF, kami sempat mencoba rekomendasi teman untuk berkonsultasi dengan seorang sinshe di daerah Jelambar. Rekomendasi ini karena konon seorang teman sukses hamil berkat tangan si sinshe (ini jangan diartikan literal). Aslik mencari tempatnya perjuangan banget untuk saya yang tidak biasa di daerah tersebut (dan itu pertama kalinya saya berada di daerah Jelambar seumur hidup). Anyway, dengan kombinasi Google Map dan Congor Map (nanya ke orang, maksudnya), kami bisa menemui sang Sinshe.

Tadinya dalam bayangan saya semua Sinshe itu ya seperti guru Kungfu gitu ya. Ternyata mas Sinshe yang satu ini memakai baju putih biasa seperti dokter. Dan ternyata doi juga memiliki pendidikan dokter (gak inget spesialis atau bukan). Tempat prakteknya sederhana, di rumah, dan para pasien yang menunggu bisa duduk di garasi yang dikosongkan. Ruang prakteknya pun biasa saja seperti umumnya ruang dokter, dengan meja tulis, kursi, dan tempat tidur. Tampak di dinding foto beliau bersalaman dengan Soeharto (haseeek), saat beliau tampak masih jauh lebih muda.

Tapi sampai di situ saja kemiripan dengan pengalaman berkunjung ke dokter. Yang seru adalah proses diagnosa yang khas sinshe, yaitu dengan memegang pergelangan tangan kita dan seperti “merasakan” sesuatu di urat nadi kita. Seorang sinshe bisa mengeluarkan diagnosa menyeluruh hanya dengan memegang pergelangan tangan kita, sampai seluruh kinerja organ dalam, bahkan organ reproduksi. Seolah2 aliran darah atau energi di badan kita memebeberkan seluruh rahasian badan kita. Dia meng-scan baik istri maupun saya.

Saya lupa dengan diagnosa istri saya, tapi saya ingat diagnosa saya sendiri. Diagnosanya bagi saya cukup unik karena tidak di-cover oleh dunia medis Barat (yang umumnya berkutat di sekitar jumlah sperma, persentasi sperma sehat, bentuk sperma, dan kecepatan berenang sperma). Beliau menyatakan bahwa saluran sperma dari testikel sampai ke penis milik saya ternyata berkelok-kelok yang menyebabkan batalyon pasukan komando melesat keluar barak dengan arah yang tidak lurus, sehingga lebih susah bagi mereka mencapai sel telur.

Saya: “………………….” (termangu sambil mikirin, kalo urusan pipa dan selokan di daerah situ gimana perbaikannya? Kan gak bisa cuma foto, upload ke aplikasi Qlue, terus nunggu petugas PU dateng?)

Sinshe: “Kita tidak perlu operasi. Sebisa mungkin jika bisa diobati tanpa operasi lebih baik. Jadi nanti saya tuliskan resep obat”. Oke deh, shifu!

Sang shinse menuliskan resep untuk saya dan istri yang semuanya dalam tulisan….Cina. Yang artinya resep ini harus ditebus di toko obat Cina, yang kebetulan juga dimiliki si Sinshe itu sendiri. Kami mendapat obat Cina tradisional yang harus diseduh air panas dan diminum, seperti jamu. Gimana rasanya? Percayalah bahwa rasa obat tradisional itu bisa membuat kamu lebih relijius.

Singkat cerita, kami hanya balik (dan nebus obat) ke sinshe tersebut dua kali saja. Sebenarnya bukannya kami menganggap terapi tradisional itu pasti akan gagal, tapi kami hanya merasa time was not on our side. Seandainya kami berusia lebih muda, mungkin bisa saja mencoba terapi alternatif selama setahun. Tetapi mengingat usia istri, kami tidak punya waktu yang panjang dan karena itu lah kami memutuskan ikut program IVF/bayi tabung saja. Dan melihat ke belakang, bagi kami itu adalah keputusan yang tepat.

Kembali ke lanjutan cerita terakhir…..

Jadi sesudah percobaan IVF pertama gagal, kami masih punya cadangan 3 embryo beku (Frozen jek. Saya sudah khawatir jadinya Anna dan Elsa aja). Sesudah sebulan dari insiden ovary torsion, sang dokter cukup pede untuk mencoba lagi. 3 embryo beku itu pun dicairkan, dan dicek hasilnya. Ternyata, hanya dua yang layak ditanam di rahim, yang satu rusak (rusak ini bisa terjadi saat embryo dibekukan, bukan dicairkan). Dari dua yang dianggap layak pun, hanya satu yang masuk grade excellent. Yang satunya tidak terlalu sempurna, tapi masih bisa dicoba.

Maka kedua embryo terakhir milik kami pun ditanam di rahim. Jika berhasil (embryo melekat di dinding rahim dan ‘tumbuh’) maka dalam 2 minggu, alat test pack akan menunjukkan kehamilan. Syukurlah, ternyata 1 dari dua embryo tersebut ‘jadi’, dan di bulan Januari akhir istri saya dinyatakan positif hamil.

Bagaimana rasanya jadi suami usia 40-an dari istri yang sedang hamil? Sebenarnya, tidak terlalu gimana banget. Trimester pertama (3 bulan pertama) akan jadi periode paling kritis dalam kehamilan, karena janin dianggap masih lemah, dan paling rentan untuk gugur. Ditambah lagi janin ini hasil bayi tabung (dengan jerih payah tenaga, waktu, dan biaya yang besar), tentunya kami jadi ekstra hati-hati sekali. Sang calon ibu tidak boleh traveling, atau terlalu lelah (walaupun istri saya tetap bekerja, hanya membatasi diri agar tidak terlalu lelah).

Selama kehamilan ini, efeknya di istri saya tergolong mild. Tidak ada reaksi mual muntah yang berlebihan. Tetapi yang pasti, indera penciuman dia super duper meningkat tajam. Tiba-tiba dia bisa mencium dengan lebih peka, dan akibatnya sering ilfil akibat bau. Dia bisa mencium apapun: bau, masakan, dusta, sampai teori konspirasi. Tentunya korban terdekat adalah….saya. Bau badan saya yang biasanya baik2 saja, sekarang intensitasnya meningkat di hidung dia. Kalo saya salah makan sedikit (misalnya makan masakan yang mengandung bawang putih), alamat saya tidur di sofa.

Tes kromosom

Masuk minggu keduabelas, dokter obgyn menawarkan jika kami mau melakukan tes kromosom. Seperti telah diulas di post sebelumnya, perempuan yang hamil di atas usia 35 mengalami peningkatan resiko melahirkan bayi engan Down Syndrome yang lebih tinggi. Down Syndrom ternyata sudah bisa diidentifikasi dari kromosom. Sebenarnya bisa dideteksi secara visual juga, jadi dari USG dokter akan melihat ketebalan leher (anak dengan Down Syndrome memiliki ciri fisik di leher/pundak) misalnya. Tapi menurut penjelasan dokter, akurasi cek visual ini hanya sekitar 70%, bandingkan dengan tes kromosom yang bisa lebih dari 90%.

Tes kromosom ini tentunya ada biaya tambahan. Tetapi tes ini tidak hanya mengidentifikasi Down Syndrome, tapi juga beberapa kondisi cacat lain yang disebabkan cacat kromosom (autisme TIDAK BISA dideteksi oleh tes kromosom ini). Tes ini tidak wajib, dan diserahkan kembali kepada orang-tua. Saya dan istri akhirnya sepakat melakukan tes ini.

Sampai di sini pasti ada yang bertanya, “Terus, kalo dari tes ketahuan sang janin menderita cacat genetik, apa yang akan dilakukan? Emangnya mau diaborsi?” Pertanyaan sama juga menghantui saya, dan saya pun langsung saja bertanya kepada dokter. “Terus, kalo ternyata, amit2 (ketok meja dokter) ketahuan bayi saya memiliki Down Syndrome atau sindrom2 lain, untuk apa?”

Dokter: “Tujuannya supaya orangtua bisa MEMPERSIAPKAN diri untuk membesarkan anak dengan kondisi tersebut. Selain itu, Down Syndrome memiliki range severity (keparahan), dari yang bisa berfungsi seperti layaknya anak normal, sampai yang benar2 parah sehingga perlu perhatian khusus”.

Memang bukan jawaban yang menghibur (karena kondisi ini belum ada obatnya), tapi jawaban yang logis, agar orangtua bisa merencanakan dengan lebih baik (dan tidak kaget saat anak sudah lahir).

Kami menantikan hasil tes kromosom (yang dilakukan dengan mengambil sampel darah calon ibu) dengan harap2 cemas. Sampel darah ini dikirim ke AS (rupanya belum ada lab yang bisa melakukan analisa ini di Indonesia). Ketika hasilnya kembali di dalam amplop tertutup rapat, kami segera membukanya, dan……syukurlah tidak ada cacat genetis (dari list semua cacat genetik yang bisa diidentifikasi dan bisa dideteksi oleh lab tersebut). Tetapi tes kromosom ini memberikan bonus informasi di luar soal cacat….

Karena jenis kelamin bisa dilihat dari susunan kromosom (perempuan: XX, laki2: XY), maka otomatis tes kromosom ini menunjukkan jenis kelamin si janin. Tidak perlu tebak2an melihat foto USG apakah itu Monas/ketimun/pentungan satpam/rudal, dll. Tes kromosom dijamin akurat memberitahukan jenis kelamin si janin. Karenanya, kami sudah bisa mencari (dan mempertengkarkan) nama bayi laki2 sejak masih kehamilan usia 4 bulan….

Melewati trimester pertama, tidak ada sesuatu yang menarik untuk dilaporkan. Kehamilan berjalan biasa saja, dengan cek rutin dokter setiap bulan. Saya selalu menunggu2 saat cek rutin, karena artinya ada USG dan mendengar detak jantung si janin. Setiap melihat penampilan si janin di layar monitor, dan mendengar suara detak jantungnya yang cepat, hati rasanya senang sekali.

20160322_175024

Selama kehamilan pun kami mengikuti “tips standar” seperti memperdengarkan musik klasik ke perut, sering mengajak ngobrol si janin, atau sekedar menstimulasi perut mulai usapan. “Tendangan” si janin awalnya dinanti2, dan saat baru awal terasa selalu disambut dengan pesta rakyat. Tapi percaya lah, seiring si janin makin besar dan menguat, tendangan2 lucu tadi mulai berasa bagai tendangan atlet MMA (Mixed Martial Art) dan bisa tidak nyaman, bahkan sakit, bagi si ibu.

Apa yang bisa dilakukan calon ayah?

Sebenarnya, calon ayah bisa banyak berkontribusi selama proses kehamilan istri. Jangan bayangkan hal-hal fantastis seperti meminta Chris Martin dari Coldplay datang untuk mengelus2 perut istri. Every little thing helps. Dari sekedar menemani cek ke dokter, sampai membantu pekerjaan rumah. Bahkan tidak menjadi suami ngeselin pun sudah sangat membantu. Maksudnya gimana? Kenali lah hal2 yang selama ini menyebalkan sang istri, dan coba lah kurangi selama kehamilan (ya kalo bisa emang selamanya sih….)

Contoh: saya punya kebiasaan berantakan kalo berganti baju sesudah pulang kerja. Kemeja kerja bisa ada di tempat tidur, kaos kaki ada di depan kamar mandi, dan kolor bekas ada di tempat bumbu dapur. Hal ini tentunya menjengkelkan istri pada umumnya, tapi SAAT HAMIL, hal-hal ini akan terasa lebih ngeselin lagi. Jadi bagi para suami, MINIMAL BANGET, lebih sadar diri tentang kelakuan yang ngeselin si calon ibu (berantakan di rumah, main game melulu, kawin lagi, dll) dan cobalah dihilangkan/dikurangi selama periode kehamilan. Ini saja sudah sangat membantu sang calon ibu. Apalagi kalo didatengin Chris Martin sik.

Oh iya, TIPS PENTING, jika kehamilan sehat, tetap lah beraktivitas biasa, termasuk jalan2/berlibur. Jangan terlalu takut, sepanjang tidak berlebihan dan sudah diberi ijin dokter. Sesudah lewat trimester pertama, dan sebelum masuk minggu2 terakhir kehamilan, manfaatkan untuk berlibur dan bersenang2, karena sesudah si bayi lahir akan lebih sulit lagi merencanakan perjalanan. Kami menyempatkan baby moon trip ke luar kota sekedar break untuk sang ibu, sebelum dia harus menjalankan peran ibu sepenuh waktu.

Tali Pusar Yang Terlilit!

Di sekitar usia kehamilan 7 bulan, USG mulai menunjukkan bahwa sang janin terlilit tali pusarnya sendiri, DI LEHER. Entah dia heboh apaan di dalem melakukan manuver akrobat, hasilnya, doi terlilit sendiri. Sebagai first time parents, waktu mendengar kabar ini rasanya shock banget, sampe ketakutan. Tapi sang dokter tampak santai saja, dan berkata bahwa ini wajar terjadi, dan harus dimonitor terus. Terkadang, si janin akhirnya akan bisa lolos sendiri menjelang kelahiran. Melihat reaksi si dokter yang sangat tenang, setenang pejabat koruptor Indonesia kalo ditangkap, kami pun ikut tenang.

Bagaimana soal keputusan lahir normal vs. Caesar, dan drama proses kelahiran, sampai 3 bulan pertama menjadi ayah di usia 40-an? Rasanya harus dilanjutkan di Part 3 nih, karena sudah panjang. Tungguin ya!

Advertisements

9 Comments »

  1. Haii kak pir…senang baca tulisanmu..kocak beud.akhirnya komen krn mslh terllilit tali pusat itu..wkwkwk..saya sndr mengalaminya 18th yg lalu…puji Tuhan anaknya ganteng dan pinter..smoga baby Kai jg yaa..selamat jd papa yaa…d tunggu part 5 nyaa…😁😂

  2. Ngomong2 tentang shinsei, q berhasil lho om , hahaha. Mgkn rezekinya dari situ ya, cuma 2x nebus obat. Yg pertama gagal karena q emanh ngelanggar pantangan yg disuruh shinsei. Trs nebus kedua bener2 pantang, belum abis obatnya langsung positif 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s