Antara Memilih Gubernur dan Calon Suami – Catatan Pilkada DKI Bagian 1

Pilkada DKI berakhir sudah. Ibukota Indonesia akan memiliki pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur baru. Gw mengucapkan selamat kepada pasangan Anies & Sandi. Dan demi semangat kekinian, rasanya kurang afdol kalau “blogger” tidak ikut menulis soal Pilkada, maka gw akan menuangkan sedikit pikiran gw, dalam dua bagian. Selain demi kekinian, juga mungkin tulisan ini kelak bisa dibaca anak gw. Sebagai catatan opini ayahnya di suatu saat semasa ayahnya hidup. Halah kok jadi mellow begini…..

(Intermezzo: ngomong2, ini gw aja, atau spesies “blogger” makin lama akan punah ya? Kayaknya sekarang harus jadi “vlogger” baru bertahan hidup? Masih adakah manusia di muka bumi ini yang mau membaca ratusan untaian kata dibandingkan menonton video? Ah, hanya waktu yang akan menjawab *pilin-pilin ujung rok*…..Tapi gw akan tetap ngeblog, sampai tetes keringat pembaca terakhir!)

Kemenangan Anies bagi gw tidak terlalu shocking, walau tetap mengecewakan gw sebagai pemilih Ahok. Mengapa tidak mengagetkan? Karena proporsi suara yang didapat Ahok relatif sama dengan putaran pertama (sekitar 42%). Di akhir putaran pertama, gw sudah men-twit keraguan gw bahwa Ahok bisa menang. Pikir gw waktu itu, basis pemilih Agus-Sylvi akan pindah memilih Anies, karena asumsi gw mereka termasuk “yang penting bukan Ahok”. Dan sebagai orang awam, gw merasa hasil putaran kedua menunjukkan hal itu. 42% pemilih bertahan di sisi Ahok, dan sisanya semua bergabung ke Anies. I could be wrong though, the voting dynamics can be more complex.

Tapi yang pengen gw bahas di catatan pertama ini adalah hasil survei yang dimuat di harian Kompas sehari sesudah Pilkada DKI, terbitan Kamis 20 April 2017, mengenai alasan memilih calon:

foto kompas

Berdasarkan hasil di atas, gw akan membuat profile untuk masing-masing cagub/cawagub berdasarkan atribut yang menang dari saingannya. Maka hasilnya seperti begini:

  • Ahok/Djarot:
    • Jujur dan Bersih
    • Berani & Tegas
    • Programnya masuk akal
    • Berpengalaman
  • Anies/Sandi:
    • Satu agama
    • Merakyat
    • Karakter/perilaku
    • Lainnya (sayangnya Kompas tidak mendetilkan isinya selain menyinggung soal ‘kepandaian’ dan ‘pendidikan tinggi’)

Jujur, waktu gw melihat hasil survei di atas, gw seperti melihat dua set kriteria untuk memilih dua hal yang berbeda. Yang satu seperti memilih seorang pejabat profesional, dan yang satunya seperti memilih…..pasangan hidup. Seandainya gw adalah seorang investor maha tajir yang ingin menanamkan investasi di sebuah start-up baru, dan ingin memilih CEO yang andal, rasanya yang gw cari ya: jujur dan bersih (wajib ini), berani dan tegas (ya kalau gak berani dan tegas nanti malah baperan dan eksekusi berantakan), programnya masuk akal (ya kalo CEO programnya gak masuk akal gimana nasib perusahaan?), dan berpengalaman (ini perusahaan dan investasi gw yang bernilai milyaran, pengalaman jadi penting).

Sebaliknya, gw bisa mengerti kalau mencari jodoh/calon suami atau istri, maka faktor satu agama penting, begitu juga dengan karakter, perilaku, dan pendidikan. (Oke, “merakyat” mungkin bukan kriteria memilih suami/istri. Apa iya juga?)

Profil Ahok/Djarot di atas bagaikan kriteria yang ada di resume seorang profesional. Ahok/Djarot dipilih karena basis ekspektasi efektivitas, profesionalitas, bahkan integritas (“jujur & bersih” adalah atribut tertinggi yang diidentikkan dengan Ahok/Djarot). Sementara profil Anies/Sandi dipilih bagaikan seseorang yang akan kita ajak membangun bahtera rumah tangga bersama. Tsah.

Survei SMRC di April 2017 menunjukkan 76 persen warga DKI puas dengan kinerja Ahok/Djarot , dan ini jauh di atas proporsi pemilih Ahok yang hanya 42%. Gw menduga cukup banyak pemilih Anies yang sebenarnya puas dengan kinerja Ahok/Djarot, tapi ya kinerja tampaknya tidak cukup penting dibandingkan kesamaan agama, ‘merakyat’, dan kepribadian.

Anyway, gw gak bisa mengklaim yang satu lebih benar dari yang lain – karena ini sudah masuk ranah interpretasi. Kubu pemilih Ahok boleh saja ngomel-ngomel, “Kita ini mau milih pengurus kota yang efektif, atau mau nikah?!”, tetapi kenyataannya mayoritas warga DKI telah memilih dengan kriteria mereka sendiri. Demokrasi bukan hanya soal menghormati pilihan seseorang, tetapi juga menghormati alasan di balik pilihan tersebut, bahkan ketika kita tidak setuju dengannya.

And who knows, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI yang baru mungkin bisa menjadi “suami yang baik bagi warga” dan di saat yang sama menjadi pengurus kota yang efektif. Dan ini menjadi akhir Catatan Pilkada DKI Bagian Pertama gw. Akan gw teruskan di bagian kedua.

🙂

 Lanjut ke Berprasangka (Buruk) Yang Baik – Catatan Pilkada DKI Bagian 2

 

Advertisements

7 Comments »

  1. halo om! aku juga berpikir begitu, ‘blogger’ mungkin jg pada pindah jd ‘vlogger’ karena peminat pembaca blog mulai sepi. aku jg suka nulis nulis cerita pribadiku (yang tidak penting itu) di blog. walaupun sempat hapus blog yg lama karena malu dan bikin lagi karena aku suka sharing cerita.
    aku selalu suka tulisan om piring yang aku tau om piring awalnya dari ask.fm. jangan bosen-bosen ngeblog om hehe😊😊

  2. Hai, Om! Gue adalah orang yang gagitu suka ntn vlog dan will always prefer hundreds of words to minutes wasted away watching some random people doing their things.
    And yea, calon suami tho😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s