Menengok Ahok

Kemarin saya beruntung mendapat kesempatan menengok Ahok di Mako Brimob, thanks to teman saya Deffy yang membantu menjadwalkan. Jujur saja, perasaan saya campur aduk. Ada senang gemesh seperti seorang fans K-Pop mau ketemu idolanya tanpa takut digebukin fans lain. Tapi ada rasa deg2an juga karena saya belum pernah membesuk orang dalam status terpidana di “tahanan”. Tapi karena saya belum pernah bertemu pak Ahok langsung, saya semangat melakukannya. (Sedikit kecewa karena hape tidak diperbolehkan dibawa saat bertemu untuk alasan keamanan, gak bisa selfie deh).

Kami tiba di Mako Brimob persis sebelum jam 2 siang, yaitu slot waktu yang disediakan bagi rombongan kami. Group kami terdiri dari 12 orang yang sebagian baru saling mengenal kemarin. Menengok Ahok hanya disediakan slot 30 menit, karena banyak yang sudah antri.

Kami pun dipanggil masuk ke ruang pertemuan (semacam ruangan khusus untuk menerima tamu) sesudah grup sebelumnya selesai. Kesan pertama salaman sama pak Ahok, “Buset, nih orang GEDE juga ya”. Tidak hanya tinggi, tetapi juga beliau “tebel” gitu. Pokoknya saya kalo didudukin doi ya gak bisa gerak lah sampe tepuk lantai 3x.

Begitu duduk, Ahok langsung menawarkan untuk tandatangan/menulis pesan2 bagi yang mau sebelum ngobrol. Ah pak Ahok sudah jadi seleb pro. Tapi di sisi lain, ini mengingatkan saya saat Ahok masih menjadi gubernur: apa yang bisa dikerjakan cepat dan duluan, selesaikan segera! Efisien dan efektif, dan sisi itu masih ada bahkan saat di Mako Brimob sekalipun. Saat ada yang minta pesan Ahok ditulis di kaos dengan tambahan “Love”, beliau masih bisa bercanda, “Wah kalo pake ‘love’ harusnya nambah sacap tiaw (tiga puluh juta) nih!” Saya ngakak lepas mendengarnya, becandaan receh is always good for me.

Sesudah “book/letter/kaos signing” selesai, barulah kami bisa ngobrol santai. Pak Ahok terlihat ceria dan gembira. Beliau membuka dengan komen tentang bagaimana dia menjadi gemukan sampai celana sempat tidak muat. Dan juga bagaimana dia sekarang bisa push-up 75 kali (APAAAA, PUSH UP 75 KALIII? PANTES TEBEL GITU BADANNYA). Jujur aja, percakapan tidak terasa bagaikan kita membesuk tahanan. Lebih terasa bagai acara keluarga besar di mana pakdhe yang dituakan memberikan petuah bagi kami ponakan-ponakan yang nakal-nakal. Ini beberapa kutipannya:

Soal Golput

Salah seorang dari group kami jujur curhat tidak ketidakpuasan akan cawapres pilihan Jokowi di kalangan banyak orang (pendukung Jokowi/Ahok), dan kemudian mikir mau golput saja. Ahok hanya menjawab, “Jangan golput lah. Masak you mau kalah dua kali sih.” Saya menafsirkan “kalah dua kali” ini sebagai kekalahan Ahok di Pilkada kemarin sebagai yang pertama, dan bagi pendukung Jokowi, kalau golput malah mengurangi kans Jokowi menang.

Soal Memutar Waktu Kembali

Ahok bercerita pernah ada yang menanyakan, jika waktu bisa diputar kembali, apakah beliau akan memilih agar tetap menjadi gubernur DKI full, atau mengulangi “sejarah” mendekam di Mako Brimob? Jawabnya mengejutkan, “Saya akan tetap memilih ke sini (mako Brimob)….jika saya tetap menjadi gubernur, saya akan ‘menguasai kota’ selama 5 tahun. Tapi di sini saya belajar ‘menguasai diri’….” DHUAR! Golden Ways, eh, Platinum Ways by Ahok.

Saat mendengar itu saya tercenung (walau gak bisa lama-lama karena harus mengikuti obrolan). Saat ini saya sedang mendalami dan mencoba mempraktikkan sebuah mashab filsafat Yunani-Romawi kuno bernama Stoicisme (dari kata Yunani “Stoa Poikile” yang artinya “teras berpilar”, karena 2,300 tahun lalu para murid filsafat Stoicisme senang ngobrol dan berdiskusi di teras bangunan di Athena). Filsafat ini sangat menekankan pada penguasaan diri, termasuk menguasai penafsiran akan peristiwa hidup. Dalam konteks ini, bagi filsuf Stoa, “dipenjara” adalah sebuah fakta obyektif, sifatnya netral, tidak baik atau buruk. Yang memberikan nilai “baik” atau “buruk” itu kita sendiri. Dipenjara bisa dianggap bencana bagi sebagian orang, tetapi bagi sebagian orang lain, dipenjara bisa dianggap berkah, pembelajaran, hal yang positif. Dan ia pun menjadi hal yang positif.

Mendengar komentar Ahok mengingatkan saya pada filosofi tersebut. Hukuman penjara (terlepas dari adil tidaknya) itu netral. Jika kita menemukan kebaikan di dalamnya, maka “baik”lah ia. Dan Ahok tampaknya menemukan hal itu.

Little blessings in life

Lanjut mendengarkan Ahok, bisa-bisa kita mau dipenjara juga loh. Beliau bercerita tentang banyaknya “nikmat” jadi tahanan. Ahok bercerita tentang kualitas air yang sangat bersih. “Saya pernah eksperimen, air di sini saya taruh di botol aqua. Bening banget. Dan dibiarkan berhari-hari tetap bening gak ada lumut loh.” Wah, ini sih lebih bersih dari air di tempat gw tinggal…..

Atau tentang tidur teratur. Menurut Ahok, yang sehat dari kebiasaan tidur itu adalah keteraturan. Dan sebagai tahanan, ia bisa menikmati disiplin tidur setiap jam 10 malam. “Coba dulu waktu jadi gubernur…harus standby ditelpon presiden. Pernah saya dikabari presiden, nanti malam saya telpon. Saya sudah tungguin telponnya sampai tidak tidur, eeeh beliau lupa! Baru besoknya pak Presiden minta maaf sudah lupa nelpon, hahaha!” Wah, sebagai anak ahensi ngerti banget neh. Apalagi anak account yang udah nasib harus siap ditelpon klien sampai tengah malam sekalipun. Saran saya bagi anak ahensi: masuk penjara gih. Lebih sehat tidurnya.

Ahok juga menyebut kualitas dokter yang top di Mako Brimob, karena mengurusi begitu banyak personil yang harus sehat dan fit selalu untuk bertugas. Selain kesehatan fisik, beliau juga menyebutkan sekarang ia punya banyak waktu untuk meditasi/refleksi diri yang sehat bagi mental. Ahok juga tidak luput menyinggung soal pertemanan yang dia nikmati selama di tahanan. Dan ternyata yang ia maksud adalah pertemanan dengan para polisi yang ada di sekitar beliau. Ah, Ahok memang sosok yang tampaknya selalu mudah berteman (walau juga dibenci koruptor dan maling uang rakyat…..)

Tentang Ikhlas dan Mikir Sebelum Mikir

Saya juga belajar tentang mengapa ikhlas penting, secara aspek kesehatan. Ujar Ahok, “Dulu saya kalau mikirin bagaimana saya kehilangan jabatan, kehilangan istri, sampai kehilangan kebebasan….wah kepala belakang tuh sampai panas loh. Karena rasanya tidak terima. Tapi akhirnya saya bisa belajar ikhlas akan keadaan.”

“Dulu kan saya selalu disuruh ‘mikir sebelum ngomong’, tapi saya sekarang malah belajar ‘mikir sebelum mikir’. Bayangin, saya harus mikir mau mikir apa. Saya jadi belajar untuk bisa membedakan hal-hal apa yang tidak bisa saya capai, karena kalau dipikirin malah bikin kepala panas….”

Lagi-lagi, kutipan di atas mengingatkan saya pada Stoicisme. Salah satu filsuf Stoa bernama Epictetus berkata bahwa kita harus bisa membedakan hal-hal yang di bawah kendali kita (pikiran, opini kita), dan hal-hal yang TIDAK di bawah kendali kita (harta benda, kesehatan, kebebasan fisik, reputasi, sikap orang lain, dll). Menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan alamat frustrasi sendiri, atau seperti kata Epictetus, akan menjadikan kita suka menyalahkan orang lain atau para dewa. Kalimat Ahok mengenai tidak terobsesi pada hal-hal yang tidak bisa dicapainya (tidak di bawah kendalinya) mengingatkan saya pada ajaran Stoicisme ini.

Hidup sesudah penjara

Jadi ngapain dong pak Ahok selesai menjalani hukuman? Entah serius atau tidak (kayaknya sih serius), Ahok berkata mau jalan-jalan terus mengunjungi ratusan atau bahkan ribuan destinasi. Caranya? “Saya mau jadi pembicara saja di acara-acara, pasti banyak kan undangan untuk talk show.” Tidak hanya itu, Ahok sudah punya strategi agar bisa senang-senang sambil keliling dunia.

“Jadi hari pertama di kota itu saya jadi pembicara, terus hari kedua saya minta disewakan mobil SUV yang saya sendiri gak tega beli sendiri, terus jalan-jalan deh, hahahaha!!!”

Sesudah 30 menit, petugas mengingatkan bahwa waktu sudah berakhir dan kami harus memberi waktu dan tempat kepada group berikutnya. Dengan berat hati kamipun pamit. Ahok masih sempat berseloroh, “Nah, 30 menit pas nih untuk acara Ahok Show. Saya sudah sering latihan jadinya.”

Sayapun beserta rombongan pamit kepada pak Ahok. Sambil melangkah meninggalkan Mako Brimob, saya sempat terpikir, mungkin pak Ahok saat ini jauh lebih “bebas” dari begitu banyak orang yang ada di luar penjara.

Sampai ketemu lagi pak Ahok. Segera.

PS: Sebagai fanboy gak mau rugi, saya menyempatkan meminta pak Ahok menulis sedikit di sebuah buku saya yang beli untuk hadiah ultah saya sendiri. Buku itu adalah otobiografi Nelson Mandela, “Long Walk To Freedom”. Nelson Mandela adalah pejuang melawan kebijakan rasialis apartheid di Afrika Selatan yang harus mendekam di penjara selama 27 tahun, sebelum akhirnya bebas dan menjadi pemimpin Afrika Selatan dengan semangat perdamaian dan rekonsiliasi (Mandela tidak mengejar dendam pada rezim kulit putih yang memenjarakannya). Saya pikir, menarik jika buku saya ditandatangani oleh pak Ahok, seorang politisi yang juga sedang menjalani apa yang dijalani Nelson Mandela. Mandela keluar dari penjara menjadi seseorang yang lebih kuat dan bijak, dan saya harap ini juga yang akan Ahok alami.

Dan ini yang pak Ahok tuliskan kepada saya.

mandela

Advertisements

Categories: Random Insight

Tagged as:

20 Comments »

  1. Terima kasih Om Piring telah berkenan membagi pengalaman berkunjung ke Pak Ahok.

    Saya membacanya sambil “nggregel” kalau kata orang Jawa. Artinya bisa ditanyakan ke Nyonya hehe. Intinya terharu, ya sedih, ya kagum. Sekalipun beliau “disakiti” seperti itu, tapi masih secerah dan seikhlas itu.

    Semoga Pak Ahok bisa segera mendarmakan hidupnya lagi untuk Indonesia. Banyak yang rindu..

  2. Huhuhu beruntung sekali, Om.

    Aku bacanya mau nangis saking kangennya. Baru kali ini kangen sama mantan Pemimpin 😢

    Tapi Alhamdulillah kalau di sana Pak Ahok jauh lebih sehat. Terima kasih sudah sharing ya, Om. 😊😊

  3. Terimakasih telah berbagi dan menceritakan dengan apik dan indah.
    Sungguh beruntung dapat menjumpai beliau dalam keadaan sebagai pribadi dengan jiwa yang bebas.

  4. Makasih om udah share pengalaman ketemu Pak Ahok..
    Bagus bgt cerita nya om. Banyak pelajaran hidup yang bisa diambil. Salam dari pecinta om Dan Pak Ahok .

  5. Terharu banget nget nget dan sampai merinding ding ding bacanya. Terima kasih ya sudah mau berbagi cerita tentang Ahok. Tuhan memberkati.

  6. Waahh, push up 75x??
    Kayaknya nanti sesudah keluar, sponsor & endorsement udah ngantri nih buat Ahok. 😂😂
    Iya, bener juga sih, secara hanya ada 2 kandidat. Kalau golput bisa berarti ‘kasih jalan’ ke kandidat lain yg lebih buruk & selama ini sebenarnya kita lawan. Itulah realitas politik. Kalau kita terus berkutat dgn utopia, bisa2 hasilnya hanya kekalahan karena ngga mau bertindak berdasar kenyataan.

  7. Terima kasih sudah berbagi Ompir! Kangen sekali sama Pak Ahok, glad to know he’s that fine ❤ – Salam dari kader Partai PELUK hahahaha

  8. Dulu ketika berkuasa beliau berhasil menaklukkan org lain, skr ketika mendapat musibah beliau justru berhasil menaklukkan diri sendiri
    Sebuah pelajaran yg sangat berharga, bahkan seorang ahok pun mampu berdamai dgn dirinya
    Gak seperti netijen yg saban waktu suka debat sendiri sok bener sok hebat komentarnya

  9. Terharu sampai mau nangis bacanya, Om.. Apalagi yg ketemu ya.. Rindu sekali dengan sosoknya, apalagi sekarang terlihat sekali beliau tambah bijak.. Terima kasih sudah berbagi, Om..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s