Terpycu dan Woles Ala Filsuf Yunani-Romawi

Gw doang ato sekarang banyak orang gampang “terpycu” (versi gaul dari “terpicu”, yang juga terjemahan dari “triggered”)?

‘Terpycu’ menurut definisi gw adalah kondisi ketika kita tersulut amarahnya karena sesuatu yang dibaca atau didengar, khususnya di medsos. Yang konyol, seringkali kita terpycu oleh postingan yang bahkan tidak menyasar kita secara pribadi.

Contoh, ada yang ngritik pemerintah (atau oposisi), loh yang ngamuk orang lain. “ELU TAU APA SOAL NGURUS NEGARA?!”, dan keluarlah segala cacian melibatkan kecebong dan kampret dan onta, dan lain-lain.

Ngritik film, yang ngamuk malah fans-nya. Ini pernah kejadian sama gw waktu gw review The Dark Knight Rises. Gw bilang film itu jelek, yang ada gw menuai makian, “ELO GAK PERNAH BIKIN FILM GAK USAH SOK TAHU”, atau, “ELO GAK NGERTI JENIUSNYA CHRISTOPHER NOLAN!!!” Lah, perasaan gw lagi membahas film, kenapa yang ngamuk2 orang lain….

Kasus lain baru2 ini, misalnya waktu gw pernah meng-RT becandaan terhadap SJW (Social Justice Warrior), eh, ada yang terpycu dan marah2 ke gw. Padahal gw tidak menargetkan orang tertentu, tetapi ada yang marah tersinggung. Bahkan sampe membawa-bawa umur gw (status om2 gw dijadiin bahan hinaan, which is buat gw rada jaka sembung gak nyambung……) Sebenarnya aneh bahwa ada yang tersinggung, karena artinya dia merasa bahwa dia adalah seorang SJW. Atau speaking of pake kata literally dicampur bahasa Indonesia, becandaan terakhir terhadap anak Jaksel yang konon senang mix English and bahasa Indonesia. Entah ada yang offended juga atau not tuh…..

Belum lama ini gw melihat twit dari Humas Polri yang menghimbau agar “Stop Black Campaign!” Kalau pesan ini disampaikan kepada para pembuat black campaign (atau yang memforward-nya), kok rasanya sia-sia. Mereka yang membuat black campaign rasanya hanya termotivasi dua hal: kebencian murni (yang rasanya susah hanya disuruh, ‘stop!’), atau bayaran (lebih susah lagi disuruh berhenti, wong mereka terima pesanan secara profesional….)

Mungkin, yang kita perlukan bukanlah himbauan untuk berhenti membuat kampanye hitam, tapi himbauan untuk menjadi orang-orang yang tidak mudah terpycu. Dalam hal ini, sekelompok filsuf Yunani-Romawi kuno mempunyai ajaran yang mungkin relevan dengan Indonesia saat ini. Mereka adalah para filsuf yang tergabung di dalam mashab filsafat Stoicisme, yang tumbuh berkembang dari abad 3 SM sampai abad ke-3. Banyak aspek dalam filsafat ini yang kalo kita baca masih sangat relevan dengan masa kini karena sangat practical, bahkan tulisan-tulisannya jika terbit sekarang lebih cocok berada di rak “Self Improvement” daripada “Filsafat”.

Stoicisme memiliki penekanan pada manajemen emosi negatif, dan “terpycu” ternyata salah satu yang juga dibahas dalam filosofi ini. Apa yang bisa kita pelajari dari para filsuf Stoa agar tidak mudah terpycu oleh provokator dengan hoax dan provokasinya? Epictetus, seorang filsuf Stoa berkata,

“Ingatlah bahwa untuk (seseorang bisa) benar2 menyakitimu, tidak cukup dengan hanya memukul atau menghinamu. Kamu harus percaya bahwa kamu sedang disakiti. Jika seseorang sukses memprovokasimu, sadarilah bahwa pikiranmu sendiri sudah membantunya

“Manusia (sebenarnya) tidak terganggu oleh hal-hal, tetapi oleh opini mereka sendiri atas hal-hal tersebut”

Epictetus (dari DailyStoic.com)

Dhuar! Dengan kata lain, kalo kita sensi, baper, ngamuk, emosi karena membaca hoax dan postingan medsos, yang salah adalah pikiran kita sendiri. Karena seperti kata Epictetus, sebuah provokasi baru sukses ketika yang diprovokasi merasa terprovokasi dan kemudian bereaksi. Sesungguhnya bukanlah kata-kata, celaan, atau cercaan itu sendiri masalahnya, tetapi opini kita sendiri atas hal-hal tersebut yang bikin kita jadi panas/baper sendiri. Saat kita woles dan bisa mengendalikan opini kita akan itu semua, ya tidak terjadi apa-apa.

Karenanya para filsuf Stoa paling gak mempan dipanas2i. Bahkan Epictetus juga berkata, “Kalo ada orang yang jelek2in kamu, jangan membela diri, tetapi jawablah, ‘wah kamu gak tau aja kejelek2an saya yang lain, kalo tahu pasti sudah kamu sebutkan juga….'”  Males kan yang mau provokasi kalo ngadepin doi?

Dan yang terakhir, Epictetus menjelaskan betapa tololnya kalau kita terpancing kemarahan kita oleh para troll, hoax, provokator di media sosial:

“Anyone capable of angering you becomes your MASTER; he can anger you only when you permit yourself to be disturbed by him” 

(Siapapun yang mampu membuat kamu marah otomatis menjadi MAJIKANMU; dia hanya bisa membuat kamu marah kalau kamu mengijinkan dirimu sendiri terganggu olehnya.)

Bete gak kalo kita menyadari bahwa provokator dan troll yang sukses memprovokasi kita sebenarnya sudah menjadi majikan/tuan kita? Saat kita heboh maki2/twitwar ngeladenin orang gak jelas (apalagi akun anonim), saat itu orang itu sudah jadi majikan kita. Ih, gw sih males ya.

Jadi, mari kita dukung polisi menghimbau untuk stop kampanye hitam dan kebencian, dengan cara kita sendiri menjadi tidak mudah terpycu, Inget, yang salah di mata filsuf Stoa selalu adalah mereka yang terpycu, bukan si pembuat kampanye hitam, provokator, dan troll. Kalau kita semua woles, para pembuat kampanye hitam gantian kesal karena dicuekin dan gagal, dan mungkin gak dibayar sama ‘sponsor’nya.

Salam woles!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s