13 Reasons Why dan Pikiran Bunuh Diri

Jadi di long weekend ini, gw memutuskan menonton seri 13 Reasons Why yang lagi heboh (GW BELOM KELAR NONTON JANGAN SPOILER!). Menurut gw cukup heboh karena sudah jadi berita di luar negeri, di mana serial ini diprotes oleh para kesehatan jiwa karena dianggap mentenarkan bunuh diri di usia remaja. Premis serial ini memang mengenai seorang remaja perempuan bernama Hannah Baker yang bunuh diri, dan […]

Read More →

Prasangka (Buruk) Yang Baik – Catatan Pilkada DKI Bagian 2

Melanjutkan dari Catatan Pilkada DKI Bagian Pertama…. Seusai Pilkada DKI, gw memperhatikan beberapa macam respon dari pihak pendukung petahana. Beberapa bersifat sportif, mengucapkan selamat dan mengakui kemenangan sang pemenang. Ada yang menolak memberi selamat, dengan berbagai alasan (umumnya karena merasa kemenangan diperoleh dengan cara-cara yang tidak etis, seperti isu agama/fitnah). Ada juga yang sifatnya memberi prediksi, dengan bunyi respon/komen kira2 seperti ini: “Mulai sekarang kita akan masuk era kegelapan dikuasai kelompok intoleran…” “Siap-siap semua pembangunan Jakarta akan mangkrak!” “Korupsi akan merajalela kembali begitu Ahok pergi” dan lain-lain dengan beberapa variasi. Kesamaan dari respon2 jenis ini adalah prediksi tentang masa depan Jakarta yang suram di bawah Anies-Sandi. Dan prediksi ini bersifat absolut, “Jakarta nanti akan [masukkan semua ramalan suram dari korupsi merajalela, intoleransi, sampai kita dijajah ras alien superior dari planet Krypton]“ Dengan kata lain, sebagian respon pasca Pilkada adalah prasangka (buruk) terhadap pemenang Pilkada. Sebelum ada yang mencaci mereka yang memiliki prasangka buruk di atas, menurut gw kita harus menyadari bahwa prasangka itu bagian normal dari kemanusiaan kita sehari-hari. Termasuk prasangka buruk. Gw jamin setiap hari kita semuanya memiliki prasangka, termasuk yang buruk. Saat baru berkenalan sama orang, kita sudah otomatis secara insting membentuk prasangka (“Meh, kayaknya orangnya basi”, “Hmm, cantik nih, pasti hatinya juga baik”, dll). Urusan milih angkot dan kursi di busway/kereta juga ada prasangka-nya (“Ewwww, cowok itu kayaknya belom mandi 3 bulan purnama, males ah duduk di sebelah dia”). Sama juga soal menilai film baru atau restoran baru. (“Transformer baru pasti katrok”, “Pasti makanan […]

Read More →

Antara Memilih Gubernur dan Calon Suami – Catatan Pilkada DKI Bagian 1

Pilkada DKI berakhir sudah. Ibukota Indonesia akan memiliki pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur baru. Gw mengucapkan selamat kepada pasangan Anies & Sandi. Dan demi semangat kekinian, rasanya kurang afdol kalau “blogger” tidak ikut menulis soal Pilkada, maka gw akan menuangkan sedikit pikiran gw, dalam dua bagian. Selain demi kekinian, juga mungkin tulisan ini kelak bisa dibaca anak gw. Sebagai catatan […]

Read More →

Bahaya Ahok Menjadi Pemimpin

Gw sih mikir seribu kali menjadikan Ahok pemimpin gw. Gw mau pemimpin yang berani. Tapi gw mau pemimpin yang juga pandai berartikulasi, dan kalo ngomong gak bikin resiko. Menurut gw sih, Ahok ini PR disaster. Mimpi buruk humas. Di era di mana semua percakapan mudah direkam dan disebar-luaskan, pernyataan dan ujaran Ahok yang seringkali emosional dengan vocabulary yang lebih mirip obrolan kantin kampus […]

Read More →

Bertahan Waras di Jakarta Dengan Teknologi

Sudah beberapa minggu terakhir ini, gw merasa kemacetan Jakarta terasa makin menggila. Rasanya, rute gw pergi ke dan pulang dari kantor semakin parah. Dan entah perasaan gw aja, atau semua proyek pembangunan berjalan berbarengan ya? Ada underpass, ada jalan layang, ada tol, ada MRT, ada jalur busway – pokoknya semuanya harus turun bareng ke lantai dansa. Rame aja. Di satu […]

Read More →

High Cost Economy dan Mahluk Halus

Pernah denger istilah “High Cost Economy”? Kalo gw gak salah dan gak sok tahu, gampangnya adalah roda perekonomian menciptakan biaya tinggi karena inefisiensi, atau praktik korupsi. Contoh, perusahaan manufaktur yang harusnya biaya bahan bakunya misalnya hanya Rp 1,000 per unit, harus menambahkan biaya produksi karena dipalak di berbagai level: dari level pejabat pusat, pejabat daerah, ormas resek, sampe preman pengkolan. Akhirnya biaya produksi membengkak menjadi Rp 3,000 per unit.Yang rugi akhirnya konsumen, karena harganya jadi lebih mahal dari yang semestinya. High cost economy juga bisa disebabkan oleh inefisiensi, misalnya infrastruktur yang buruk. Misalnya jalan antar propinsi yang buruk, sehingga biaya transportasi komoditi menjadi lebih lama, sehingga harus membayar jasa shipping lebih tinggi, atau upah driver dan kenek yang lebih besar, atau tambahan asuransi. Begitu juga dapet gebetan yang banyak tuntutan, seperti kalo ngedate harus memakai BBM non-subsidi beroktan tinggi (ini pacar ato pembalap), atau bapaknya yang selalu harus dikasih upeti Dji Sam Soe kalo pulang malem, ini merupakan high cost economy, eh, gebetan. Jadi, singkatnya, definisi sok tau gw, high cost economy adalah aktivitas ekonomi menjadi mahal secara tidak perlu karena praktik-praktik korup, kolusi, nepotisme, etos kerja/layanan publik buruk, atau infrastruktur buruk. Yang rugi akhirnya konsumen (karena harusnya bisa membeli lebih banyak jika harganya lebih rendah), produsen (karena tidak bisa menjual sebanyak jika ongkos produksi lebih rendah sehingga harga lebih rendah), dan juga pemerintah (transaksi yang lebih sedikit artinya pemasukan pajak lebih rendah, pertumbuhan ekonomi tidak optimal). Gitu lah penjelasan awam gw. (Monggo kalo ada ekonom yang lebih berwenang mau menyanggah […]

Read More →

Mengapa Hanya Gen-X Yang Akan Selamat Dari Zombie Apocalypse

Hari ini gw menyadari bahwa jika zombie apocalypse melanda, bisa dipastikan hanya Gen-X (lahir dari tahun 1960-1980) dan MUNGKIN, SEBAGIAN dari Millenial (lahir dari tahun 1980-2000), yang akan survive. Oke lah, tambahkan Baby Boomer yang relatif sehat. Kalo Gen-Z rasanya sudah pasti punah. Jadi ceritanya, saat beres-beres untuk pindah rumah, gw menemukan sebuah radio. It’s a good ‘ol radio, masih bisa nangkep radio FM dan AM. Bahkan masih menyisakan tempat kaset. Yang penting, radio ini masih berfungsi sangat baik. Kebetulan karena kami memiliki ART (Asisten Rumah Tangga) baru yang berasal dari Pemalang (dengan usia Millenial muda), gw pikir radio ini akan gw pinjamkan saja ke dia. Lumayan kan, kalo malem2 di kamar dia bisa dengerin Wednesday Slow Machine (masih ada gak sih acara ini?), minimal update harga cabe kriting. Percakapannya seperti ini. Gw: “Nur, sinih” Nur: “Iya pak” Gw: “Ini saya ada radio tidak terpakai. Kamu bawa saja ke kamar, untuk hiburan” Nur dengan ekspresi bingung: “Makasih pak. Tapi, SAYA TIDAK TAHU CARA PAKAINYA PAK” (penekanan caps lock dari penulis blog ini) Gw: (butuh tiga detik untuk mencerna ini semua) Gw lagi: “GIMANA GIMANA?! KAMU GAK TAHU CARA PAKAI RADIO?! EMANG KAMU DENGER LAGU GIMANA CARANYA??” (Penekanan caps lock masih dari penulis blog ini) Nur: “Saya download lagunya pak, pake hape” Gw: *berkunang-kunang* Masih gw, sambil memunguti serpihan harga diri yang berceceran: “Ya udah, sinih saya ajarin cara memakai radio. Kan lumayan buat dengerin lagu, dan um, orang ngobrol….” (apa kabar dijeeeee….) Maka gw menghabiskan tiga menit berikutnya mengajarkan konsep tombol “on/off” […]

Read More →

Review Awam LG V20, “The Beast” 

Okay, sesudah sempat break dari review gadget dengan mereview status ke-ayah-an (ada gak sih kata “ke-ayah’an”? Ini maksudnya terjemahan dari “fatherhood”….), saatnya kembali ke review hape. Kali ini, gw berkesempatan mereview smartphone kategori phablet anyar dari LG, yaitu V20. Terima kasih kepada LG untuk unit reviewnya! Disclaimer bagi yang pertama kalinya membaca review gw: Review ini adalah “review awam”, yang […]

Read More →