Love. Demystified. Not De-beautified.

I am utterly confident neuroscience will unravel love in the near future. Not that they are not doing it ALREADY. Studies have pried open many aspects of love and romance – dismantling its neurology and chemistry elements. Now people have heard of various chemicals involved behind this love phenomenon: from dopamine, serotonin, to oxytocin– currently dubbed as “hormone of love” (check out Paul Zak’s presentation on Oxytocin the Trust & Morality Molecule) Love is no longer the domain of philosopher, or poet, or songwriters. Make way for the new cool of badass: the neuroscientists. Now, most people would probably resist the idea of love being explained. Some people think if something is so beautiful, then it cannot be explained. History of science has proven this wrong. Many natural phenomenon which used to be a beautiful mystery has been explained: from aurora borealis at the North Pole, to simple rainbow, to altruism. Just because something is beautiful and amazing does not necessarily it should not, or can not, be explained. But let’s say we accept the premise that love is just a biological, and hence completely explicable, phenomenon. Would it make it no longer magical? If love has been laid bare, down to every chemical, neuron, axons, and hormone involved, will we turn it into a subject as cold and uninteresting as pimples? (By the way, acne and pimples actually make INTERESTING subject once you get into their biological explanation.. :D) […]

Read More →

Operasi Plastik, Emang Kenapa?

Baru balik dari Korea, negeri yang sudah sangat maju industri operasi plastiknya. Konon mayoritas artis K-Pop yang kece2 mampus itu karena sudah operasi mata, hidung, dll. Waktu di airport menunggu pesawat pulang, gw dua kali melihat orang yamg diperban telinga, dan hidung. Kata temen kantor sih mereka baru saja operasi plastik. Di Indonesia, operasi plastik rasanya masih ada stigma negatif. Entah itu operasi mata, hidung, payudara, gw suka denger cibiran “Ah, itu kan operasi?” Sebenarnya, emang kenapa coba kalo cantik/ganteng karena operasi? Umat manusia selama ribuan tahun di berbagai kebudayaan terbukti selalu berusaha mempercantik diri. Kosmetik home-made, sampai kosmetik yang diproduksi komersial, sudah ada selama ratusan tahun, menunjukkan keinginan mempercantik diri itu sangat manusiawi (dan tidak disebabkan oleh advertising modern abad 20 saja). “Mengubah fisik” dilakukan oleh kita semua. Kita semua pada dasarnya tidak menerima fisik kita “apa adanya”. Dari menyisir rambut, potong rambut, memakai gel rambut, memakai hand & body lotion, bedak, lipstik, kuteks, mascara, eye shadow, Lasik, dll, semua ini tidak ada bedanya secara esensi dari operasi plastik. Kita tidak puas dengan diri kita apa adanya, dan melakukan hal-hal untuk mengenhancenya. Jadi kalo esensinya sama, kenapa ya operasi plastik dianggap lebih negatif? Ada yang bilang, operasi plastik kan “permanen” sifatnya, sementara kosmetik hanya temporary. Tapi kalo kosmetik atau wonderbra-nya dipake setiap hari, ya nggak ada bedanya sih menurut gw. Malahan operasi plastik cara yang jauh lebih efisien untuk mempercantik diri. Misalnya, topik favorit pria: memperbesar payudara. Gw sejujurnya […]

Read More →

Berbohong Itu Baik

Lagi2 ketemu buku asik! Judulnya “Born Liars – Why We Can’t Live Without Deceit”, oleh Ian Leslie Begitu gw ngeliat premise-nya, gw langsung tertarik. Ini adalah buku yang didedikasikan pada perilaku “berbohong” pada spesies manusia, ditinjau dari berbagai aspek: psikologi, neurologi, budaya, sampai ekonomi. Dan kesimpulan si penulis cukup mengejutkan: berbohong adalah sifat alami manusia, dan tanpa kebohongan spesies manusia […]

Read More →

“Not To Be Used As A Sole Source of Nutrition”

My PT (Personal Trainer) recommended that I have Whey Protein drink occasionally. It’s basically a high protein derivative of milk, if I’m not mistaken. The idea is, when one is working out using weights, extra protein is needed to repair muscles. Since for many people it is hard (and probably unhealthy) to eat 1,000 gram steak 3 times a day, comes the convenient Whey Protein drink as supplement. Now, my PT also reminds me that Whey Protein drink should not replace real meals. So I was still expected to get protein from chicken, beef, or fish. The drink is only a supplement, just to top-up my protein intake from regular meals. Coincidentally, this morning, as I prepared my drink after workout, I noticed the following sentence on the whey protein pack: “Not To Be Used As A Sole Source Of Nutrition” I guess since the product came from the US, it makes sense. I mean, the Americans are notorious for not using common sense on many things, and explicit instruction for products is always required (I once read there is real warning for iron that says: “Do Not Iron Clothes On Body”) What interests me however, is that the sentence contains a bigger truth about life. Take wisdom and knowledge. There isn’t anything that should be used as ‘a sole source of wisdom’. We learn from our parents, but also from our teachers, our friends, heck, even from our pets.  The […]

Read More →

Semua Yang Alami Itu Baik. Masak?

Awalnya gara-gara tadi di ruang meeting dapet air mineral mereknya “Fiji Water”. Di botolnya dibilang (dalam bahasa Inggris), “dari mata air kepulauan Fiji”, dengan gambar pulau tropis yang indah. Jadi kesannya ini air alami banget, dari sumber alam, jadi pasti murni dan sehat. Karena apapun yang “alami” biasanya dianggap sehat. Gw jadi ketawa karena pernah baca di artikel bahwa sebuah penelitian menemukan kadar bakteri yang tinggi di Fiji Water. So much deh dengan “murni alami”…. Di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, kayaknya kalo sebuah produk makanan/minuman/obat mengklaim sebagai “alami”, maka asosiasinya adalah sehat, baik bagi tubuh manusia. Semua jamu pasti baik karena dibuat dari bahan alami. Semua obat Barat pasti jelek karena kimia. Alam = pasti baik. Buatan/artificial = pasti jahat. Tapi kalo dipikir-pikir, sebenarnya kalo kita betul-betul alami, justru banyak juga gak enaknya: Kalo beneran alami, maka harusnya kita makan gak cuci tangan dulu. Karena bakteri/kuman itu alami kok… Kalo mau alami, makanan gak perlu dimasak. Semua makanan dimakan mentah kayak sashimi gitu. Alami banget? Kalo kena infeksi bakteri, atau kanker, jangan dikasih antibiotik/kemoterapi, karena bakteri dan sel kanker adalah ciptaan alam…. Kenyataannya, kalo kita beneran mau konsekuen dengan hidup ‘alami’, banyak dari kita yang tidak akan hidup lama. Cara ‘alami’ justru adalah persaingan dalam mempertahankan hidup, antara mangsa dan pemangsa, antara inang dan parasit, dll. Manusia sebagai spesies justru menguasai flora dan fauna lainnya karena melakukan ‘manipulasi’ melawan ‘alam’. Kita mengembangkan disinfektan agar kita tidak terinfeksi kuman, […]

Read More →

Bosku Guruku

(Judulnya sumpah kayak  judul drama percintaan picisan, “Bosku Pacarku”, “Guruku Pacarku”, “Pacarku Sadakoku”, dll) Gw sudah pernah kerja sama beberapa bos, baik produk lokal maupun expat. Gw bersyukur hampir semuanya bos gw baik orangnya, dan lebih penting lagi, ada sesuatu yang bisa gw pelajari dari mereka. Hanya satu yang sedikit “deng dong”, tetapi itu toh tidak terlalu mengganggu karena dia orangnya baik. Berikut beberapa pelajaran yang gw petik dari bos-bos gw, secara tidak berurutan…. (ceritanya supaya yang tau CV gw gak bisa nebak ini bos yang mana :p) Bos 1: Bos yang ini terkenal galak banget, tetapi galaknya bukan elu dimaki-maki atau ditimpuk sepeda fixie. Dia galak karena pinter keminter banget. Kalo presentasi atau e-mail ide ke dia dan kita pemikirannya gak siap, bisa ditembakin lebih cepat dari Lucky Luke. Banyak banget kolega yang takut kalo dia dateng ke presentasi kita. Kok serem? Jadi apa dong yang bisa gw pelajari dari dia? Yang gw dapet dari dia adalah soal team leadership. Dia akan sangar sama anak buahnya. Kita akan dicambuk, digiling, dan digoreng soal kualitas pemikiran kita, betul, tetapi ketika berhadapan dengan pihak di luar team, dia akan ngebelain kita mati-matian. Jadi walaupun kita digembleng berat di dalam, tapi di luar anak-buahnya merasa terlindungi. Malah kadang2 gw berasa kayak kerja sama Godfather gitu…aman dari yang lain 😀 Soalnya gw sering denger cerita soal bos yang gak akan ngebelain anak buahnya di depan. Bahkan bisa ikut-ikutan menghajar anak-buah sendiri di depan yang […]

Read More →

The Low-Rise Jeans Lesson.

I am NOT a fashionable person. In fact, my fashion score is probably even lower than the average person in Indonesia. There are two reasons for that: First, I really couldn’t care less about appearance. I will keep myself clean, cut my hair, clip my fingernails, and that’s it. Secondly, I find shopping for clothes a horror show. I would be overwhelmed with the choices, the need to ‘color-match’, not to mention the hassle of going to changing room. But put me in a bookstore, and I will become a happy camper for hours. This ignorance over fashion even extends to things as basic as jeans. The last time I bought a pair of jeans was probably 5 years ago. (OK, underwear is different thing! I still buy it occasionally, okay…) So after I complained a few times about old, worn old jeans without actually doing anything, my girlfriend decided enough is enough. When we happened to be within 200 meter radius of a department store, she dragged me there while I fought, biting and screaming. But actually, accompanied shopping is the best solution for me. I just need someone to pick whatever item she thinks would look good on me, and then I will try them on, if it fits, off I go to the cashier. I actually benefit from delegating the choosing task. As long as the price tag is not ridiculously expensive or the style makes me […]

Read More →

“Anak-anak bodoh”

Tadi sempet bengong di meja kantor, males ngebales e-mail dari orang bule, terus menerawang ke luar jendela dari kantor gw di lantai 11. Dari jendela gw bisa melihat sebuah lahan menganggur yang dijadikan lapangan bola seadanya. Lapangan tersebut nyaris tidak ditumbuhi rumput, hanya tanah merah berdebu. Selain menjadi akses “jalan potong” bagi motor, lapangan itu juga sering dipakai anak-anak bermain bola. Pagi tadi, gw melihat sekelompok anak bermain. Seorang anak duduk di atas sesuatu yang nampak seperti daun pisang kering. Kemudian anak yang lain berusaha menarik di daun pisang, seolah-olah menjadikan si daun pisang itu seperti kendaraan. Beberapa anak lain tampak mengerumuni dan tertawa. Tentunya berat sekali konsep kendaraan tanpa roda seperti itu, dan hasilnya ya majunya “ajrut-ajrutan”. Pikiran pertama yang terlintas di pikiran gw “Anak-anak bodoh”. Ngapain melakukan hal yang begitu melelahkan dan jelas-jelas sia-sia? Tetapi kemudian gw mikir lagi; apa yang mereka lakukan mungkin ‘bodoh’, tetapi mereka tampak bahagia dan lepas melakukannya. Isn’t that what really matters? Kita yang sudah dewasa memang lebih pintar, lebih mengerti banyak hal, lebih “tahu” macam2. Tetapi justru karena itu kita tidak sebebas mereka si “anak-anak bodoh”. Dalam mengerjakan sesuatu, apa itu di kampus, pekerjaan, atau kehidupan sosial, kita sibuk berpikir “Gw keliatan bego gak ya?”, “Ini sudah cara yang paling canggih gak?”, “Apakah ini akan memberikan hasil maksimal?”, dan sejuta ‘pertimbangan dewasa’ lainnya. Dengan segala uang, jabatan, ijazah yang kita miliki, mungkin justru kita hidup di dalam “penjara yang tak kasat mata” (invisible […]

Read More →

‘Personal Branding’ dan Akun Yang Ditutup

Sebenarnya kemarin adalah hari yang menarik di Twitter, minimal di TL gw. Kira-kira siang menjelang sore kemarin, akun @AkademiBerbagi sedang merelay pembicara Vera Makki yang sedang membawakan topik “Personal Branding”. Gw tidak terlalu mengikuti sih, tetapi dari beberapa twit yang gw baca isinya tentang bagaimana setiap dari kita mempunyai citra/image, bagaikan “merek” produk. Citra atau image brand ini pun harus dimanage dengan baik, dalam konteks Social Media. Kalau kita ingin mempunyai “personal brand” yang baik, ya kita harus memperhatikan isi Twitter/Blog kita, menghindari hal-hal yang membuat brand image kita menjadi jelek. Nah, di saat yang sama pula, ada insiden lain yang melibatkan akun @AlberthieneE. Mengomentari peristiwa bom bunuh di Solo, sang pemilik akun mentwit “Pak Harto emang hebat, kagak pernah ada bom.” Spontan twit “sensitif” ini menimbulkan reaksi. Gw tidak tahu persis apa yang terjadi, tapi kayaknya ada twit-twit reaksi yang mungkin kasar atau memaki2. Ujung-ujungnya, si pemilik akun menyatakan terpukul akan reaksi kasar tersebut, dan menyatakan akan menutup akun Twitternya. Dasar yang namanya Twitter, rencana ini malah menimbulkan reaksi lebih besar lagi, dari yang memohon agar niat ini diurungkan, sampai yang malah menantang apakah benar akan dilakukan. Bagi gw, menarik sekali bahwa dua peristiwa ini terjadi hampir bersamaan di hari yang sama. Ada sharing tentang Personal Branding di social media, dan kekecewaan pemilik akun Twitter yang berbuntut penutupan akun sebagai ekspresi kecewa. Namanya The Laughing Phoenix, tentunya wajib berkomentar! 😀 Pertama-tama, soal Personal Branding. Menurut gw sih, Personal Branding […]

Read More →