Laporan Survey LDR Nasional

Sesudah beberapa kali membuat beberapa #SurveyNewsplatter (Survey Jomblo, Survey Gebet, dll), gw menerima banyak request untuk membuat Survey LDR (Long Distance Relationship/Hubungan Asmara Jarak Jauh). Jujur, tadinya gw ragu. Pikir gw, emang banyak ya LDR di luar sana? Tetapi karena yang minta dibuatkan Survey LDR mulai banyak, dengan menggunakan nada memelas/mengancam, gw jadi tergugah dan tergerak (halah). Dan memang hasilnya mengejutkan. Survey dibuka Jumat tengah malam/Sabtu pagi. dan berakhir Minggu pagi ini, dan dalam tempo sesingkat itu, berhasil mendapatkan 1,504 responden! Tidak disangka, animo terhadap dunia per-LDR-an begitu tinggi. Jadi, mari kita lihat hasilnya. Status LDR Responden Tampaknya survey ini memang menarik para LDR-ians (sebutan mesra untuk mereka yang sedang LDR… sumbangan @distyjulian). 44% responden pernah menjalani LDR, dan 42.4% sedang menjalani LDR. Dalam survey ini, mereka yang “pernah” menjalani LDR mendapatkan set pertanyaan yang berbeda dari mereka yang “sedang” menjalani LDR. Pengalaman Mereka Yang PERNAH Menjalani LDR Berapa lamakah hubungan LDR yang terakhir? Durasi LDR paling umum adalah kurang dari 6 bulan sampai 3 tahun (sekitar 85%), tersebar cukup merata antara yang short-term (kurang dari 6 bulan), 6-bulan – 1 tahun, dan 1 – 3 tahun. Bahkan 15% menjalani LDR lebih dari 3 tahun! Bagaimana nasib LDR kamu yang terakhir? Di sini temuan agak memprihatinkan. Hampir 63% hubungan LDR yang terakhir berakhir saat masih berhubungan LDR. Fakta ini walaupun pahit, adalah temuan yang mengejutkan gw (gw sudah expect banyak hubungan LDR yang tumbang, tapi tidak setinggi itu). Sementara itu […]

Read More →

Tentang Infotainmen dan “Mata Uang Sosial”

Salah satu kebiasaan setiap pagi, setelah bangun tidur dan pipis kira-kira 300 ml, adalah sarapan sambil nonton tipi. Dulu-dulu gw sering nonton berita. Tetapi karena makin lama berita tentang Indonesia seringan bikin stres, akhirnya gw pindah ke program infotainmen. Tentunya gw nonton sambil ngetwit ya. Walhasil, beberapa kali gw terima mentionan seperti ini: “Kok Om Piring tontonannya infotainmen?” Lho, emang kenapa? Kesannya hina begitu… emang salah ya? Tapi gw jadi mikir juga sih, kenapa acara infotainmen cukup ‘laku’ ya. Sebenernya fenomena gosip, baik itu ngegosipin orang di sekitar kita, maupun artis, sudah dicoba dibahas oleh dunia sains. Menurut evolutionary psychology, kebiasaan bergosip adalah kebiasaan purba yang sudah dilakukan nenek moyang kita sejak puluhan ribu tahun lalu. Dahulu bergosip memiliki manfaat penting untuk spesies manusia yang cenderung makhluk komunal (berkelompok), karena dengan bergosip kita saling memberi-tahu siapa yang jahat, yang malas, yang tukang mencuri, dan pemilik kebiasaan jelek lain yang bisa merugikan kelangsungan hidup kelompok. Gosip juga bisa menjadi mekanisme untuk membuat si manusia purba mengurungkan niat (deterrence) melakukan hal-hal yang egoisdan merugikan orang lain. “Gw pengen sih mencuri pisangnya tetangga, tapi kalo ketauan gw bakal diomongin sebagai maling, males banget…” Konon, mekanisme gosip yang dilakukan selama puluhan ribuan tahun ini akhirnya menjadi “software” di otak manusia yang susah dihilangkan, walaupun kita sekarang sudah hidup di era internet, smartphone, dan Instagram. Dan karenanya, kebiasaan itu tetap hidup sampai sekarang – bahkan mungkin menemukan medium baru dengan acara infotainment, BBM, dan social […]

Read More →

The Laughing Phoenix On Beauty

I want to talk about beauty It may seem a subject that has been talked about for too long, and too much But mankind never gets tired of beauty, ever since the dawn of civilization Ancient Greeks say it can launch a thousand ships Scientists say it advertise genetic quality Poet says it is God’s handwriting Economists say it has a price (not a too remote idea if you consider rich men’s wives, girlfriends, and mistresses!) Comedian says beauty is in the eye of the beer holder Photoshop operators say beauty is digital trick Now, I am not Greek (if you took out the ‘r’, that’s more like it!), nor I am a scientist, a poet, or economist. I can’t operate Photoshop But here’s what I can say about Beauty It is The Eyes that penetrate your defenses, make you feel feel naked behind steel armor It is The Voice that makes your soul tremble and jump in joy at the same time It is The Smile so glorious it gives you sleepless nights It is The Touch that sends electric currents from your skin all the way to the Central Nervous System It is The Face of The Goddess, where all truth and faith radiate from Beauty is what makes you forget all the other ugliness we call ‘reality’ Beauty is what makes a coward out of brave men, and a hero out of coward men But most exquisite […]

Read More →

Tentang “Meremehkan”

Akhirnya Pilkada DKI selesai sudah. Hari pemilihan bagi gw terasa seru. Bagaikan perang besar Bharatayudha, dua kelompok besar yang sama kuatnya (minimal menurut survey Tempo) bertarung. Dan sampai saat ini, hasilnya pun terasa mengejutkan. Pasangan challenger Jokowi-Ahok menang atas incumbent Foke-Nara, walaupun tidak terlalu jauh. Gw gak bakal menganalisa penyebab kalah-menang. Toh dalam hitungan detik ketika Quick Count mulai berjalan, ratusan analisa mengalir dengan derasnya di berbagai media. Dari yang becandaan (“Ahok menang soalnya kiyut!”), sampai yang serius (“Gara-gara swing voters di menit terakhir mendukung Jokowi. Ngomong-ngomong, swing voters itu apa?”). Gw lebih tertarik dengan fenomena di antara banyak orang. termasuk gw sendiri, yaitu “meremehkan”. Waktu putaran pertama, gw jujur sudah agak pasrah bahwa Foke akan menang lagi. Kenapa tidak? Doi adalah incumbent, sehingga namanya jauh lebih dikenal. Doi juga punya budget yang kencang (yang sayangnya disalurkan dalam bentuk lagu + videoklip terkutuk “Fokelah kalau begitu”. Eh, mungkin itu penyebab kalah ya?) Tapi di balik sikap “pasrah” ini, justru tersembunyi sikap meremehkan. Gw meremehkan begitu banyak orang yang menginginkan perubahan. Dan hasilnya: Foke gagal menang satu putaran. Foke kaget. Dan gw pun ikutan kaget. Jokowi-Ahok mampu mengalahkan Foke-Nara, dan pilkada harus lanjut ke putaran kedua. (ada satu kaget “kecil” gw yang lain, yaitu bahwa pasangan Faisal-Biem dengan dana iklan/promosi yang begitu minim, bisa mengalahkan pasangan Alex-Nono yang gencar beriklan. Tapi ini topik lain lagi) Menjelang putaran kedua, mendadak berhembus kencang isu SARA. Terdengar himbauan agar jangan memilih pemimpin yang non-Muslim, atau […]

Read More →

Hasil Survey Pilkada DKI 2012! [UPDATED]

Whew, satu lagi #SurveyNewsplatter selesai! Ini adalah survey TERCEPAT yg pernah gw bikin, dari pembuatan pertanyaan, pengumpulan data, sampai publikasi hasil 😀 Tercatat 1,101 respon masuk selama masa survey pukul 21.00 – 22.30 OK, tanpa basa-basi lagi: Nonton Debat Malam ini (16 September 2012) Atau Tidak? 73% responden mengaku menyaksikan debat Cagub malam ini di MetroTV Siapa yang tampil lebih […]

Read More →

Terorisme, Ngamukisme. Dan Kita Bukan Wayang

Pagi-pagi, jam 5an gw udah terbangun di Jogja, karena laper. Udah 2 hari gw di Jogja untuk acara kantor. Karena masih pagi dan bengong mau ngapain, seperti biasa gw baca-baca Twitter aja. Baru nyadar bahwa gw lumayan ketinggalan berita internasional. Gw baru membaca soal film provokatif yang diupload di Internet, yang menyebabkan kemarahan umat Islam di berbagai belahan dunia. Bahkan kemarahan ini sudah memakan korban nyawa, termasuk dubes AS di Libya. Sebuah film pendek yang dibuat untuk menghina agama tertentu, yang hanya menggunakan internet sebagai medium, telah sukses menciptakan reaksi besar dan menjadi berita. Kemudian di Twitter gw membaca RT sebuah himbauan “Internet videos will insult your religion. IGNORE THEM” (Klik untuk artikel lengkapnya – thanks @juillet29 buat RT-nya). Gw harap pada ngebaca full tulisan di link tersebut, walaupun dalam bahasa Inggris. Intinya adalah, William Saletan si penulis himbauan mengajak seluruh umat beragama untuk menyadari satu hal. Kehadiran internet memberikan akses untuk sekelompok orang mengupload film yang akan menghina agama APAPUN. Kenyataannya, di YouTube, kita bisa menjumpai film yang menghina berbagai agama: Kristen, Islam, Buddha, Yahudi, dll. Film-film tersebut bisa hanya sekedar penghinaan, tetapi ada juga yang bertujuan provokasi untuk mengadu-domba satu sama lain. Si Penulis melanjutkan bahwa ini adalah realita era internet, dan sebenarnya bagaimana kita mau terpancing atau tidak, semuanya di tangan kita. Dan “Tuhan terlalu BESAR untuk bisa terganggu oleh penghinaan orang-orang tolol seperti ini”. Menurut gw pribadi, tidak ada kepuasan yang lebih besar bagi para provokator […]

Read More →

Bedanya Sekolah Akademik dan Sekolah “Hidup”

Gw suka analogi bahwa hidup itu bagaikan sekolah di mana kita terus belajar dan terus naik kelas tanpa ada tanggal “wisuda”. (Beberapa orang menyamakan kematian sebagai “hari Wisuda”.) Gw pernah membaca bahwa, konon, yang namanya ‘pencobaan’ itu sebenarnya adalah sejenis ujian. Pencobaan yang sama terjadi berulang-ulang karena kita belum memberikan respon berupa tindakan yang tepat. Karena belum lulus, maka hidup memberikan pencobaan yang sama lagi dan lagi. Sampai kita memberikan “jawaban yang benar”, barulah “ujian” itu berakhir. Misalnya, setiap kali pacaran seseorang diputusiiiiiin melulu, dan ia bertanya-tanya, ‘kok nasib gw apes melulu, diputusin melulu ya?’. Maka menurut teori di atas, mungkin kita sedang dites oleh hidup dan perlu berusaha mengetahui, apa yang belum dilakukan untuk bisa lulus. Ketika ketika kita memahami apa yang harus dilakukan, dan melakukannya, maka kita akan “lulus tes”, dan niscaya pacar berikutnya tidak mutusin dia lagi. Jadi, siapa tahu dalam kasus cowok yang diputusin melulu, karena dia senang ngajak kenalan cewek lain SAAT LAGI JALAN DENGAN PACARNYA. Ketika dia menyadari bahwa perilaku ini tidak disukai kebanyakan wanita, dan dia merubahnya (dengan ngajak kenalan cowok lain….lho?), maka dia dianggap “lulus tes” oleh hidup, dan semoga tidak diputusin lagi berikut kali. Yah, kira-kira gambaran kasarnya seperti itu. Gw pribadi tidak percaya bahwa Hidup itu adalah Guru raksasa yang tugasnya ngecekin satu-satu murid-muridnya, dan sengaja memberikan tes-tes kehidupan (kalo bener, kenapa banyak penjahat dan koruptor hidupnya hepi dan kawin dengan artis sinetron/dunia entertain?) Gw lebih percaya pada randomness dari […]

Read More →

Who, or what, are you falling in love with?

After so many years observing people (and myself!) in the complicated game of love, I can say this: often times, you don’t fall in love with a person. You fall in love with something else. Most often, people fall in love with their own imagination of the perfect man/woman. You meet somebody, you barely know him/her, and then you start imposing your own ideals of a soulmate onto the person. Problem begins when the illusion starts to shatter, and you start to see ‘the real him/her’. And tragically, you accuse the person of ‘having changed’ – although it was your own eyes which finally opened. Often times, people fall in love not with a person, but a “way out”. You are feeling lonely, you just don’t want to be alone and miserable, and you see this person as a ‘solution’. Then, you are falling in love with the solution to your problem, not with a person. Some people fall in love with “agenda”. You have made plans for your life: when to find a partner, when to get married, when to have children, etc. And then you see this person as the fulfilment of your life’s “Outlook calendar”. Again, you are falling in love with your life schedule, not with a person. Some others fall in love with “therapy”. You were broken inside, you have mental scars, you have childhood trauma. And then you find this person whom you think can […]

Read More →

Tentang Fanatisme Itu

Urusan film The Dark Knight Rises belom kelar juga nih, masih bisa bikin topik blog baru. (Gokil nih film, bisa bikin banyak topik! :D) Gw memperhatikan komen-komen terhadap review TDKR yang gw buat. Ada istilah yang menarik yang beberapa kali muncul dari mereka yang membela TDKR: “Gw Tim Nolan!” Buat gw, istilah “Tim Nolan” ini agak aneh muncul dalam membela sebuah film. Bagus tidaknya sebuah film, seharusnya tidak dikaitkan apakah kita ngefans dengan sutradara-nya atau tidak (atau dengan aktor/aktrisnya, produsernya, penata musiknya, dll, dll). Apakah fanatisme terhadap seorang sutradara berarti menganggap semua karyanya bagus, tidak ada yang jelek? Gw sendiri punya “sutradara favorit” (Ridley Scott, Tony Scott, Michael Bay, Steven Spielberg, dll), tetapi gw menilai setiap film sebagai produk terpisah. Misalnya, gw suka dengan Michael Bay, tetapi gw terang2an bilang Transformers 2 itu jelek banget. Kesukaan gw terhadap Bay tidak harus membutakan gw terhadap karyanya yang buruk. Dari soal fanatisme terhadap sutradara film, gw jadi kepikiran soal fanatisme secara umum. Satu hal dari fanatisme yang gw perhatikan, adalah terjadinya suspension of critical thinking, atau “berhentinya pemikiran kritis” menyangkut obyek pujaan. Saat kita fanatik mengenai sesuatu, kita seringkali tidak mampu berpikir kritis mengenainya. Dan akibat berhentinya pemikiran kritis, kita jatuh pada generalisasi (“Pokoknya SEMUA yang dia lakukan pasti benar”), rasionalisasi (“Kalau dia KELIHATAN seperti salah, pasti karena elu aja gak ngerti maksud jenius dia”), atau persepsi selektif (baca: sensor) di mana kita menolak melihat fakta-fakta yang jelek menyangkut obyek fanatisme tersebut (“Gw […]

Read More →