How To Embarass Yourself In The Cinema

Gw mau cerita soal pengalaman di bioskop. Gw suka banget nonton bioskop. SUKA BANGET. Biarpun ada teknologi DVD, 40 inch LCD, dll, ga ada yang bisa menggantikan pengalaman dateng ke bioskop. Layar raksasa, tata suara pol, dan kesempatan ngelirik cewek-cewek cakep yang juga pengunjung bioskop (kalo pas gak kepergok cewek gw). Begitu sukanya gw sama nonton di bioskop, sampai gw orangnya niat banget. Kalo mau nonton film yang emang gw incer, dan rame, gw bisa dateng 1.5 jam sebelumnya buat ngantri tiket untuk dapet kursi yg sempurna di tengah. Kalo gak dapet, gw mending nunda ke jam berikutnya daripada nonton di pinggir. Jadi alkisah, beberapa bulan yang lalu, nontonlah gw di Blitz dengan cewek gw. Gw udah duduk anteng di dalam studio, di kursi yang PAS. Di tengah, ga terlalu ke depan, gak terlalu ke belakang. All iz well. Sampai kemudian datenglah 4 remaja tanggung, duduk di sebelah gw, dan BERISIK BANGET. Ngobrol, ketawa2 dengan suara kenceng dan pilihan tangga nada yang kurang menyenangkan. Awalnya gw sih ga papa. Toh filmnya belom dimulai. Tapi kok lama2 gw terganggu, karena volume suara mereka gak turun2. Gw khawatir mereka akan terus begini sampe film dimulai. Sebagai warga-negara Republik Indonesia yang demokratis dan sadar hukum, gw merasa perlu melakukan sesuatu untuk kemaslahatan umum. So I went “SSSSSSTTTTTTT!!!” dengan kekuatan 230 desibel. Dan remaja2 malang itu pun terdiam. Dan sound-system bioskop pun gak tau kenapa ikut diam. (Hanya ada iklan/pengumuman tanpa musik latar). Dan SELURUH […]

Read More →

Through The Eyes of A Dying Primate.

My boss sent me this video link  Green, Death of Forests. Now, usually environmental video is not really my favorite subject (does not mean that I am ignorant about it though), but it’s not the kind of video link that I will excitedly jump onto (unlike upcoming blockbuster trailers!). Out of curiousity, I checked it out anyway (hey, the BOSS sent it!). And there I came across a “visual essay” about deforestation in Indonesia. Deforestation is not a new topic, but the movie maker is brilliant enough to tell the story through the eyes of a dying orang-utan (her name is Sandra. And according to the movie-maker’s blog, Sandra still survives but partially paralyzed :() The genius of this ‘visual essay’ is there is audio commentary. You will only hear ambient sounds, with some background music. The camera work was done at times as if we are seeing what Sandra sees. Do check out the video yourself. The first 5 minutes will already wrench your heart. If you look closely at the orang-utan scenes (do skip forward if you want, it’s a rather long video), you will notice how eerily similar orang utan with us in many ways. Look at the scared eyes, the whimpering when they are caught and tied-up, or even the ‘love’ shown between the mother and its baby.  The poor orang-utans were driven out because another species has insatiable thirst for wood and land for the palm-oil industry. Humans […]

Read More →

Tentang Berpulang

Tadi pagi, sekitar jam 6 pagi, gw terbangun karena sayup-sayup terdengar pengumuman dari mesjid RW sebelah: “Telah berpulang ke Rahmatullah, ibu…”. Dalam keadaan setengah terbangun, otak gw malah sibuk mikir…. Gw lahir dan besar dalam tradisi Kristen. Dan kebetulan, istilah yang dipakai mirip, “…pulang ke rumah Bapa di surga” “Pulang” memposisikan kematian sebagai hal yang tidak perlu ditakuti. Dengan kata “pulang”, maka alam pasca kematian menjadi “rumah” kita yang sejati, dan kehidupan kita di dunia ini seolah-olah bagaikan “perantauan”, sebuah kondisi transisional. Banyak orang yang sibuk mempersiapkan “kepulangan” ini, minimal untuk memastikan bahwa pulangnya ke “rumah yang benar” (masuk Surga, dan bukan ke Neraka). Dan gw jadi teringat cerpen klasik karya AA Navis ‘Robohnya Surau Kami’. Dalam cerpen itu ada ‘kisah dalam kisah’, mengenai Haji Soleh yang selama hidupnya tekun beribadah, dan ketika meninggal Tuhan bertanya apa saja yang dia lakukan selama hidup. Haji Soleh membeberkan semua jenis ibadah yang ia lakukan, setiap hari, pagi dan malam. Dan akhirnya ketika Tuhan bertanya “Ada yang lain?”, dan Haji Soleh tidak bisa menjawab, masuklah ia ke neraka. Singkat cerita, ketika ia memprotes kepada Tuhan karena ia merasa ia berhak masuk Surga, Tuhan menjawab, “….Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang…” (ini hanya kutipan saja. Teman-teman sebaiknya membaca cerita selengkapnya ya :)) Gw jadi mikir, jika kematian adalah ‘pulang’ ke rumah asli kita, justru pertanyaannya menjadi: sudah melakukan apakah kita […]

Read More →

The Secret to Happiness? There is no secret!

One of the phrases that annoy me most is “the secret to happiness” Motivators, self-help gurus, anyone who wants to be famous, have used this phrase to get money. From seminars, books, aromatherapy, amulets, or whatever things that can be sold to millions searching for “the secret”. Why do I hate the phrase? Because it uses the word “secret”, as if it is hidden from plain view, and people must struggle to find it. Or at least buy some books/DVDs. Here is my position: THERE. IS. NO. SECRET. TO. HAPPINESS. Science, through countless experiments, surveys, and studies, have revealed A LOT about things that make people happy. And those things are SIMPLE, “normal” everyday things that hardly qualify as “secret”. Friendship, healthy relationship (married or not), having a job that matches your passion, gratitude over small blessings, physical health – these are some of the pretty standard stuff that are proven again and again to affect your happiness. The problem with “Secret to Happiness” is it makes people overlook all the stuff above, and instead putting them on unrealistic pursuit of a single magical solution to happiness. And when you are busy looking for “the secret”, you forget and neglect the very simple stuffs of happiness. Your friends, your partner, your family, your colleagues, your hobby, your passion, your job, your pet – all the things around you that can be a source of joy if you just care. Of course, the […]

Read More →

Drama Demam Berdarah

Awalnya sih Kamis tengah malem minggu lalu demam tinggi. Gw pikir, ah palingan flu. Jumat paginya sebenernya udah keliyengan dahsyat gitu, tapi gw ada tugas satu presentasi di siang harinya. Gw pikir bisa lah gw jabanin. Buset, pas di tempat diskusi panel di mana gw harus presentasi, demamnya gak turun-turun, dan badan gw rasanya suakit semuanya. Selesai presentasi, gw langsung pulang. Driver kantor udah ngusulin, “Pak, gak mau ke rumah sakit aja?” Typical laki-laki, ga mau ngaku kalo udah saatnya nyerah, tetep ngotot pulang aja. Cuma modal parasetamol, gw coba tidurin aja cepet. Sabtu pagi gak ada perbaikan sama sekali, demam masih tinggi, badan rasanya remuk. Tapi berhubung udah janji sama tukang, ya gw tungguin deh mereka kerja sampe sore. Jam 4-5 sore gitu panas gw udah tinggi banget, dan udah ampir gak bisa bangun dari tempat tidur. Kali ini cewek gw ngotot gw ke UGD, dan gw udah gak bisa ngelawan lagi. Pada saat ini udah berasa ini kayaknya bukan flu (leher gak sakit, gak ada pilek). Walhasil, gw pun di UGD di malam minggu. Suhu ternyata udah 39. Sama dokter UGD langsung dikasih obat demam intra-vena (via infus). Langsung tes darah, dan hasilnya positif demam berdarah. Pikiran pertama yang terlintas adalah: ngehek! Gw tuh emang kemaren2 lagi ngerjain project untuk client, untuk program pencegahan demam berdarah. LAH GW MALAH KENA PENYAKITNYA?! Dokter jaga langsung rekomendasi gw supaya rawat inap. Gw masih sempet2nya nawar, emang gak bisa rawat jalan […]

Read More →

‘Brainstorming’ and Diffusion of Responsibility

There are a lot of murder cases, but one murder case in US sparked controversy, which later led to studies on a specific social-psychological phenomenon. Kitty Genovese was murdered on a cold night in March 1964, and supposedly, the murder happened in the view of a DOZEN witnesses who DID NOTHING. The story goes that all witnesses heard/saw the attack, but did not do anything. The question: why? Ironically, the story was later questioned for its accuracy, especially regarding the passive witnesses who ‘did nothing’, but it already resulted in investigation and research that discovered an interesting human insight. I won’t talk much about the studies because people can google for themselves, so I will jump straight to the findings, which are now popularly known as ‘The Bystander Effect’, and its cause: the diffusion of responsibility. Put it simply, The Bystander Effect says that the more witnesses there are, the less likely somebody will come forward to help the victim. This happens because people are waiting for each other to initiate help first, and if nobody is helping, the message is no help is needed in the first place. Researchers call it ‘diffusion of responsibility’ – the more people there are, the more the responsibility is diffused among individuals, the less pressure on each individual to react and do something. I once read that if you are a victim of a crime or accident, and you find yourselves in front of a large […]

Read More →

“Indonesia Tanpa Kekerasan” Yang (Seharusnya) Tidak Perlu

Sore ini TL Twitter lagi ramai soal Aksi Indonesia Tanpa Kekerasan (sebelumnya sering juga disebut ‘Indonesia Tanpa FPI’). Gw salut sama teman-teman Alissa Wahid dkk. yang menggunakan haknya bersuara, untuk mewakili keresahan banyak orang Indonesia akan konflik horizontal dan kekerasan semena-mena yang dilakukan oleh ormas. Menarik untuk dianalisa adalah perubahan dari ‘Indonesia Tanpa FPI’ menjadi ‘Indonesia Tanpa Kekerasan’. Secara pribadi, gw tidak setuju dengan pembubaran FPI. Walaupun gw sangat mengerti argumen yang pro pembubaran (karena track record yang buruk, banyak sekali jumlah kekerasan yang terjadi di sekitar kehadiran ormas tersebut), secara prinsipil gw tidak setuju dengan pembubaran. Alasannya ada 2 macam: alasan pragmatis, dan alasan prinsipil. Secara pragmatis, gw tidak melihat manfaat signifikan jika FPI dibubarkan. Karena bubar satu tinggal didirikan lagi sepuluh yang baru. Ganti baju itu masalah mudah kok. Memang ada argumen “Tapi ini kan sinyal bahwa organisasi yang nakal jangan main-main, bisa dibubarkan”. Tapi argumen ini juga mudah dipatahkan dengan ‘reinkarnasi’ yang cepat dan mudah, yang justru bisa kontraproduktif (“Tuh kan rusuh itu gampang, abis dibubarin, kita bikin baru aja cyiin…”) Secara prinsipil, gw tidak setuju dengan pembubaran organisasi, karena menurut gw yang naif ini, hal tersebut bisa menjadi preseden buruk bagi demokrasi muda seperti Indonesia. Jika ‘mereka’ bisa dibubarkan, maka ‘kami’ pun juga bisa dibubarkan, gampang kan? Sebagai pro-demokrasi, menurut gw hak berkumpul dan berorganisasi harus dilindungi dan berlaku untuk semua (kecuali jelas-jelas menentang ideologi negara/merencanakan makar). Sebagai seseorang yang pernah hidup di, uhuk, era Orde Baru […]

Read More →

Tentang Memuji Brand.

Kadang2 di Twitter gw suka memuji brand/produk/jasa tertentu, dan biasanya selalu ada aja yang nuduh “twit berbayar”, padahal gw beneran memuji tanpa dibayar. Gw juga pernah denger orang bilang, “Ih, males amat gw muji brand tertentu kalo gak dibayar, kan mereka jadi dapet promosi gratis”, dengan nada dan paras pamrihan. (Kebayang gak elu ‘paras pamrih’?) Kalo prinsip pribadi gw, “fair” aja sih. Kalo gw gak segan2 mencela, mengkritik produk dan layanan yang jelek (misalnya Nissan Juke :p atau Telkomsel kemaren2), maka to be fair harusnya juga gw nggak segan untuk memuji ketika merasakan produk dan layanan yang bagus. Pertimbangan gw lainnya, selain “fairness”, adalah: sebenernya kita diuntungkan kalo kita nggak pelit memuji brand, biarpun nggak dibayar! Kok bisa? Nih gw jelasin prinsip sederhananya. Kalo kita hepi dengan produk/jasa yang bagus, entah itu elektronik, restoran, baju, toko, dll, tentunya kita pengen produk/jasa yang bagus itu ada terus di masa depan, iya nggak? Ketika gw hepi banget dengan makanan dan layanan suatu restoran, artinya gw pengen restoran ini tetap ada di masa depan, supaya gw bisa balik lagi. Nah, dengan kita bantu promosiin, restoran ini semoga tetap/tambah ramai dikunjungi, bisnisnya makin baik, dan jadinya bisa tetap eksis. Simple, kan? Dan prinsip yang sama berlaku dengan produk/jasa lainnya yang kita gunakan. Entah itu handphone, bank, sepatu, salon, dan lain-lainnya. Kalo kita hepi dengan suatu brand, kita juga diuntungkan kalo brand tersebut gak bangkrut keesokan harinya, jadi gak ada salahnya membantu mempromosikan bisnisnya, biarpuh gak […]

Read More →

The Futility of Fanaticism

Twitter is pretty much like a mini-world. It has its “countries”, “citizens”, “rules”, and occasionally, it has its own “wars”. Just like in real world, Twitter wars (or “twitwar”) for short can arise over important issues (political differences, human rights, etc.) to the ridiculous ones (hairstyle, fake academic degree, etc.) One of the ridiculous cause of twitwar, to me, is over the Apple brand and anything about it (from iOS to iPhone to Steve Jobs). Apple devouts get angry over criticism towards their brand or its founder – as if their Prophet has just been insulted. My personal policy is fanaticism, over anything, is just plain stupid – (and I am not fanatic about this policy either :D). To those who are fanatic over Apple to the point of religiosity: seriously, grow up. It’s just a gadget, for God’s sake. Yes, they make good products – I have an iPad and iPod, and am happy about them, but that’s about it. No need to become overtly angry when being provoked and criticized. There is much more to life than computers and smartphones. But the same goes to the other side – the hater. Obsessive hatred towards something, anything, is also a waste of time and energy. I am not going Paulo Coelho or Mario Teguh on how hatred consumes your soul. Just from practical perspective – there is so much other more interesting things to do than hating other people, religion, or gadget […]

Read More →

Ekstrapolasi Pacaran Ke Pernikahan (Buat Yang Lagi Pacaran)

Tenaaang, gak usah panik, nanti gw jelasin apa artinya ‘ekstrapolasi’ 😀 ‘Ekstrapolasi’ sih bahasa begonya adalah memperkirakan nilai/kondisi sesuatu variabel, berdasarkan trend/pola variabel tersebut sebelumnya. (Definisi freedictionary.com:  To infer or estimate by extending or projecting known information. Lho, kok definisi Enggresnya lebih gampang dari definisi bego gua?). Contoh: kalo beberapa tahun berturut2 Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi x%, maka seseorang bisa memprediksi pertumbuhan 2012 dengan mengekstrapolasi trend angka sebelumnya. Asumsi dari ekstrapolasi adalah: perilaku suatu variable cenderung tidak berubah drastis. Karenanya ekstrapolasi digunakan untuk mengestimasi hal-hal yang sifatnya berubah secara steady/predictable. Contoh: pertumbuhan penduduk. Karena kemungkinannya kecil Indonesia dibom aliens yang tersinggung dengan jambul Syahrini, maka kita bisa pede mengekstrapolasi jumlah penduduk di tahun 2012, 2020, sampe 2050 – berdasarkan pertumbuhan penduduk yang kemarin (plus asumsi2). Beberapa hari yang lalu gw mengetwit: “Kesalahan fatal adalah mengekstrapolasi  kebahagiaan saat pacaran ke pernikahan”. Berhubung media Twitter sangat terbatas, mungkin gw bisa elaborate sedikit maksud gw di blog ini. (Buat yang mau ngomong: “Jangan sok tahu kalo belum ngerasain”, gw jawab: “Gw udah pernah ngerasain dua-duanya” :)) Maksud twit gw adalah: banyak orang mengira kalau pengalaman pacaran bisa diekstrapolasi ke pernikahan. Artinya, kalau cocok dan happy di saat pacaran, maka semua pasti bisa ‘diteruskan’/diekstrapolasi ke pernikahan. Ekstrapolasi dalam konteks ini bermasalah karena sebenarnya pacaran dan pernikahan bukan variable yang sama. Dua-duanya sangat berbeda, dari hal-hal sepele sampai hal-hal besar. Pacaran di konteks Indonesia, misalnya, gw asumsikan belum tinggal bareng. Dari tinggal terpisah menjadi tinggal bareng, […]

Read More →