Bertahan Waras di Jakarta Dengan Teknologi

Sudah beberapa minggu terakhir ini, gw merasa kemacetan Jakarta terasa makin menggila. Rasanya, rute gw pergi ke dan pulang dari kantor semakin parah. Dan entah perasaan gw aja, atau semua proyek pembangunan berjalan berbarengan ya? Ada underpass, ada jalan layang, ada tol, ada MRT, ada jalur busway – pokoknya semuanya harus turun bareng ke lantai dansa. Rame aja. Di satu […]

Read More →

High Cost Economy dan Mahluk Halus

Pernah denger istilah “High Cost Economy”? Kalo gw gak salah dan gak sok tahu, gampangnya adalah roda perekonomian menciptakan biaya tinggi karena inefisiensi, atau praktik korupsi. Contoh, perusahaan manufaktur yang harusnya biaya bahan bakunya misalnya hanya Rp 1,000 per unit, harus menambahkan biaya produksi karena dipalak di berbagai level: dari level pejabat pusat, pejabat daerah, ormas resek, sampe preman pengkolan. Akhirnya biaya produksi membengkak menjadi Rp 3,000 per unit.Yang rugi akhirnya konsumen, karena harganya jadi lebih mahal dari yang semestinya. High cost economy juga bisa disebabkan oleh inefisiensi, misalnya infrastruktur yang buruk. Misalnya jalan antar propinsi yang buruk, sehingga biaya transportasi komoditi menjadi lebih lama, sehingga harus membayar jasa shipping lebih tinggi, atau upah driver dan kenek yang lebih besar, atau tambahan asuransi. Begitu juga dapet gebetan yang banyak tuntutan, seperti kalo ngedate harus memakai BBM non-subsidi beroktan tinggi (ini pacar ato pembalap), atau bapaknya yang selalu harus dikasih upeti Dji Sam Soe kalo pulang malem, ini merupakan high cost economy, eh, gebetan. Jadi, singkatnya, definisi sok tau gw, high cost economy adalah aktivitas ekonomi menjadi mahal secara tidak perlu karena praktik-praktik korup, kolusi, nepotisme, etos kerja/layanan publik buruk, atau infrastruktur buruk. Yang rugi akhirnya konsumen (karena harusnya bisa membeli lebih banyak jika harganya lebih rendah), produsen (karena tidak bisa menjual sebanyak jika ongkos produksi lebih rendah sehingga harga lebih rendah), dan juga pemerintah (transaksi yang lebih sedikit artinya pemasukan pajak lebih rendah, pertumbuhan ekonomi tidak optimal). Gitu lah penjelasan awam gw. (Monggo kalo ada ekonom yang lebih berwenang mau menyanggah […]

Read More →

Mengapa Hanya Gen-X Yang Akan Selamat Dari Zombie Apocalypse

Hari ini gw menyadari bahwa jika zombie apocalypse melanda, bisa dipastikan hanya Gen-X (lahir dari tahun 1960-1980) dan MUNGKIN, SEBAGIAN dari Millenial (lahir dari tahun 1980-2000), yang akan survive. Oke lah, tambahkan Baby Boomer yang relatif sehat. Kalo Gen-Z rasanya sudah pasti punah. Jadi ceritanya, saat beres-beres untuk pindah rumah, gw menemukan sebuah radio. It’s a good ‘ol radio, masih bisa nangkep radio FM dan AM. Bahkan masih menyisakan tempat kaset. Yang penting, radio ini masih berfungsi sangat baik. Kebetulan karena kami memiliki ART (Asisten Rumah Tangga) baru yang berasal dari Pemalang (dengan usia Millenial muda), gw pikir radio ini akan gw pinjamkan saja ke dia. Lumayan kan, kalo malem2 di kamar dia bisa dengerin Wednesday Slow Machine (masih ada gak sih acara ini?), minimal update harga cabe kriting. Percakapannya seperti ini. Gw: “Nur, sinih” Nur: “Iya pak” Gw: “Ini saya ada radio tidak terpakai. Kamu bawa saja ke kamar, untuk hiburan” Nur dengan ekspresi bingung: “Makasih pak. Tapi, SAYA TIDAK TAHU CARA PAKAINYA PAK” (penekanan caps lock dari penulis blog ini) Gw: (butuh tiga detik untuk mencerna ini semua) Gw lagi: “GIMANA GIMANA?! KAMU GAK TAHU CARA PAKAI RADIO?! EMANG KAMU DENGER LAGU GIMANA CARANYA??” (Penekanan caps lock masih dari penulis blog ini) Nur: “Saya download lagunya pak, pake hape” Gw: *berkunang-kunang* Masih gw, sambil memunguti serpihan harga diri yang berceceran: “Ya udah, sinih saya ajarin cara memakai radio. Kan lumayan buat dengerin lagu, dan um, orang ngobrol….” (apa kabar dijeeeee….) Maka gw menghabiskan tiga menit berikutnya mengajarkan konsep tombol “on/off” […]

Read More →

Pahlawan (Di) Lembaran Uang

Alkisah, di suatu titik dalam sejarah, sekelompok pejuang kemerdekaan harus berjuang melawan penjajah. Para pejuang ini datang dari berbagai latar belakang, warna kulit, bahkan kepercayaan. Tetapi mereka tidak mempersoalkan perbedaan di antara mereka. Yang mereka tahu ada sesuatu yang lebih besar yang mereka perjuangkan. Kemerdekaan menentukan nasib sendiri, kemerdekaan dari tirani. Dan hal ini jauh lebih penting dari perbedaan di antara mereka, bahkan perbedaan keyakinan sekalipun. Apakah saya sedang membicarakan pahlawan Indonesia? Oh, bukan. Saya sedang membahas film Rogue One, sebuah cerita yang mengambil setting di semesta Star Wars. Saya senang dengan ceritanya yang menggambarkan berbagai penghuni galaksi yang dijajah Empire bersatu. Bentuknya macam2, ada yang manusia, ada yang mirip cumi, warnanya juga macam2. Ada yang relijius, ada yang agnostik. Tapi semua berjuang bersama untuk common goal. Mereka meneteskan darah, keringat, bahkan mengorbankan nyawa untuk melawan tiran. Ini memang hanya fiksi, yang seringkali menjadi potret ideal yang jarang ditemui di dunia nyata. Tapi, Indonesia rasanya memiliki sejarah yang tidak jauh berbeda dari kisah Rogue One. Dalam masa penjajahan Belanda dan perang revolusi, bangsa ini pernah melahirkan anak-anak perjuangan yang mengesampingkan perbedaan. Ada yang bersuku Aceh, Jawa, Manado, Ambon, Tionghoa, dan lain-lain. Ada yang beragama Kristen, Muslim, Buddha, Hindu, Katolik. Ada yang intelek, ada yang dokter, ada yang pendekar. Rasanya disbanding para protagonis Rogue One, kisah pejuang Indonesia tidak kalah heroik dan menginspirasi. Bahkan lebih dahsyat, karena ini kisah nyata, bukan rekaan pujangga Hollywood. Maka ketika uang baru Republik ini menciptakan […]

Read More →

Why I Love Donald Trump’s Slogan

Whether you like it or not, our view of the world will to certain extent be influenced by our profession. The economist will see life with some bias towards economics lens. The military guy will see current affairs through geopolitical power struggle lens. Me? I am just an advertising guy whose daily obsession is how to make people buy my client’s stuff. And I too will have a way when looking at the world, as my advertising background colors my lens. Now, I am not an American, and I am not following closely the American presidential election. But as an advertising guy, I can’t help noticing candidates’ slogan. And regardless of my attitude towards Donald Trump as presidential candidate, I had to say I think his choice of slogan is clever. Now this could be the typical post-rationalization thing (it is always easier to explain a success than predicting one), I know, but I just want to explain why I love “Make America Great Again” (and its derivatives). First, the slogan has a compelling structure: MAKE AMERICA [INSERT POSITIVE ADJECTIVES HERE] AGAIN I think the above structure is clever because in ONE sentence, it communicates several narratives: American was ONCE ideal, a better country than it is now. Just drop any positive word there: great, safe, strong, prosperous, peaceful, etc. Make America Great Again. Make America Safe Again. Make America Strong again. Make America Prosperous Again. Make America Work Again. Immediately […]

Read More →

Prayers Don’t Solve Terrorism

I’m writing this in anger. I am supposed to be enjoying my holiday today, instead I am enraged. I am angry to read about another terrorist attack on Saudi soil, not long after Baghdad, and not long after Istanbul. Even in countries where Holy Month is happening, innocent blood is spoiled.  And as usual, flood of #PrayFor[insert afflicted city here] is showing up on social media timeline.  It is said that one should never say anything in anger, and better to just bite your tongue. But today I just have to let this one out. Can’t take it anymore.  Prayers do NOT solve terrorism.  There, I said it.  If you were the sensitive, Jell-O type of the faint hearted, stop reading this and go back to making beautiful meme with touching quotes. But if you are sick of all this shit as I am, you are welcome to read on.  Ever heard of asymmetrical warfare? Well, I call this civilian version as asymmetrical struggle. And praying for cities bloodied by terrorism is a form of tragically hilarious yet asymmetrical struggle. Because terrorists don’t just ‘pray’. They build suicide bomb vest, car bombs, they plan, they coordinate, they manipulate, they teach, they preach, they corrupt gullible minds, they post and share online, they fire guns. They END people’s lives with many more means than just “praying”.  Prayers don’t solve terrorism. Actions do.  I know that all of us will wonder, “But […]

Read More →

Jakarta Bukan Ahok, Indonesia Bukan Jakarta

Jakarta bukan Ahok Jakarta bukan Pilkada 2017 Di Jakarta masih ada jutaan orang yang habis waktunya di kemacetan Di Jakarta masih ada banyak orang miskin Di Jakarta masih banyak kejahatan dan rasa tidak aman Di Jakarta masih ada ormas anti Pancasila dan ke-Bhinneka-an dan Indonesia bukan Jakarta Di Indonesia masih banyak daerah yang belum terjangkau listrik dan infrastruktur lain Di Indonesia masih banyak penduduk yang sulit mendapat akses pendidikan dan kesehatan Di Indonesia masih ada masalah ketertinggalan kualitas SDM dari negara2 ASEAN lain Di Indonesia masih banyak yang tidak bisa mendapat asupan protein yang cukup karena daging terlalu mahal Di Indonesia masih lebih banyak konsumen produk negara lain daripada pencipta dan pengekspor produk ke negara lain Di Indonesia masih banyak manusia yang ingin beribadah tapi dicekam ancaman gerudukan, penyegelan, pengusiran, pembakaran, pengeboman Di Indonesia masih banyak perempuan yang dilecehkan, diperkosa, dan masih pula disalahkan atas kekejian yang menimpanya Jakarta bukan Ahok, Indonesia bukan Jakarta Indonesia bukan hanya KAMU, ideologimu, agamamu, sukumu, hobimu, kotamu, partaimu, kandidatmu, delusimu Kalau Jakarta hanya Ahok, dan Indonesia hanya Jakarta – maka Jakarta akan tenggelam bersama, dan Indonesia akan jadi catatan kaki bangsa lain.

Read More →

Melemahnya Spesies Kita: Antikuman, Bully, dan Blokir

Apakah spesies kita, Homo Sapiens, mengalami pelemahan? Dan tragisnya, kemajuan teknologi dan peradaban kita lah yang melemahkan diri kita sendiri. Pikiran ini muncul saat gw pertama kali membaca artikel tentang hubungan meningkatnya penggunaan produk-produk “antikuman” dengan kasus alergi dan asma. Alergi dalam penjelasan sederhananya adalah imunitas yang LEBAY. Misalnya, dalam kasus alergi debu atau serbuk bunga. Debu atau serbuk bunga yang sebenarnya harmless, tidak berbahaya, bagi sebagian orang dianggap musuh besar, sehingga timbul reaksi bersin terus2an. Terus apa hubungannya dengan penggunaan produk2 antikuman, seperti sabun antikuman, tisu antikuman, gel antikuman, dan sejuta produk antikuman lainnya? Para ilmuwan sudah lama mencurigai bahwa meningkatnya kasus alergi di antara anak-anak di negara maju adalah karena meningkatnya penggunaan produk antikuman di rumah tangga. Fenomena ini disebut “The Hygiene Hypothesis”: semakin higienis dan steril tempat anak bertumbuh, maka semakin besar resiko sistem imunitas si anak menjadi lebay, dan akhirnya makin rentan alergi. Sistem imunitas adalah sistem yang “belajar”. Tidak ada manusia yang terlahir dengan sistem imunitas dengan paket antivirus komplit. Sama dengan antivirus komputer, databasenya harus selalu diupgrade, begitu juga seorang manusia membangun database “musuh” secara gradual, sejak kecil. Secara sederhana, Hygiene Hypothesis berkata bahwa lingkungan anak yang terlalu steril membuat sistem imunitasnya tidak “berkenalan” dengan macam-macam mikroorganisme. Produk antikuman membunuh semua jenis mikroba, padahal sebenarnya ada mikroba baik di luar sana yang juga harus dikenal oleh sistem imunitas. Akibatnya, ketika bertemu hal sederhana seperti debu, bulu kucing, atau cowok buaya, sistem imunitasnya literally menjadi NORAK dan bereaksi lebay – dan timbul […]

Read More →