Jakarta Bukan Ahok, Indonesia Bukan Jakarta

Jakarta bukan Ahok Jakarta bukan Pilkada 2017 Di Jakarta masih ada jutaan orang yang habis waktunya di kemacetan Di Jakarta masih ada banyak orang miskin Di Jakarta masih banyak kejahatan dan rasa tidak aman Di Jakarta masih ada ormas anti Pancasila dan ke-Bhinneka-an dan Indonesia bukan Jakarta Di Indonesia masih banyak daerah yang belum terjangkau listrik dan infrastruktur lain Di Indonesia masih banyak penduduk yang sulit mendapat akses pendidikan dan kesehatan Di Indonesia masih ada masalah ketertinggalan kualitas SDM dari negara2 ASEAN lain Di Indonesia masih banyak yang tidak bisa mendapat asupan protein yang cukup karena daging terlalu mahal Di Indonesia masih lebih banyak konsumen produk negara lain daripada pencipta dan pengekspor produk ke negara lain Di Indonesia masih banyak manusia yang ingin beribadah tapi dicekam ancaman gerudukan, penyegelan, pengusiran, pembakaran, pengeboman Di Indonesia masih banyak perempuan yang dilecehkan, diperkosa, dan masih pula disalahkan atas kekejian yang menimpanya Jakarta bukan Ahok, Indonesia bukan Jakarta Indonesia bukan hanya KAMU, ideologimu, agamamu, sukumu, hobimu, kotamu, partaimu, kandidatmu, delusimu Kalau Jakarta hanya Ahok, dan Indonesia hanya Jakarta – maka Jakarta akan tenggelam bersama, dan Indonesia akan jadi catatan kaki bangsa lain. Advertisements

Read More →

Melemahnya Spesies Kita: Antikuman, Bully, dan Blokir

Apakah spesies kita, Homo Sapiens, mengalami pelemahan? Dan tragisnya, kemajuan teknologi dan peradaban kita lah yang melemahkan diri kita sendiri. Pikiran ini muncul saat gw pertama kali membaca artikel tentang hubungan meningkatnya penggunaan produk-produk “antikuman” dengan kasus alergi dan asma. Alergi dalam penjelasan sederhananya adalah imunitas yang LEBAY. Misalnya, dalam kasus alergi debu atau serbuk bunga. Debu atau serbuk bunga yang sebenarnya harmless, tidak berbahaya, bagi sebagian orang dianggap musuh besar, sehingga timbul reaksi bersin terus2an. Terus apa hubungannya dengan penggunaan produk2 antikuman, seperti sabun antikuman, tisu antikuman, gel antikuman, dan sejuta produk antikuman lainnya? Para ilmuwan sudah lama mencurigai bahwa meningkatnya kasus alergi di antara anak-anak di negara maju adalah karena meningkatnya penggunaan produk antikuman di rumah tangga. Fenomena ini disebut “The Hygiene Hypothesis”: semakin higienis dan steril tempat anak bertumbuh, maka semakin besar resiko sistem imunitas si anak menjadi lebay, dan akhirnya makin rentan alergi. Sistem imunitas adalah sistem yang “belajar”. Tidak ada manusia yang terlahir dengan sistem imunitas dengan paket antivirus komplit. Sama dengan antivirus komputer, databasenya harus selalu diupgrade, begitu juga seorang manusia membangun database “musuh” secara gradual, sejak kecil. Secara sederhana, Hygiene Hypothesis berkata bahwa lingkungan anak yang terlalu steril membuat sistem imunitasnya tidak “berkenalan” dengan macam-macam mikroorganisme. Produk antikuman membunuh semua jenis mikroba, padahal sebenarnya ada mikroba baik di luar sana yang juga harus dikenal oleh sistem imunitas. Akibatnya, ketika bertemu hal sederhana seperti debu, bulu kucing, atau cowok buaya, sistem imunitasnya literally menjadi NORAK dan bereaksi lebay – dan timbul […]

Read More →

Dengan Foto Melawan Perubahan Iklim? #ad

Isu perubahan iklim, siapa yang perduli? Rasanya topik ini ada dalam prioritas terakhir kehidupan kita sehari2. Kita semua punya banyak topik lain untuk dipikirkan: tugas sekolah, kerjaan, pacar, mantan, client, setoran, terorisme, perang, korupsi, dan lain-lain. Siapa yang perduli dengan “perubahan iklim” (climate change), sesuatu yang tidak kita rasakan langsung (walaupun mungkin sudah tapi tidak kita sadari, seperti musim kemarau […]

Read More →

Pemenang Cover Buku Ketiga Adalah…

Jadi ceritanya saya sedang di dalam tahap akhir penulisan buku ketiga saya, “The Alpha Girl’s Guide”. Buku ini pada dasarnya bertemakan women empowerment, dengan angle bagaimana para perempuan muda dan remaja bisa menjadikan Alpha Female sebagai inspirasi: para wanita yang cerdas, percaya diri, berprestasi, dan menjadi pemimpin di bidang dan komunitasnya. Saat harus memilih desain cover dari beberapa desain yang diusulkan […]

Read More →

Kisah Seorang Dokter dan Seorang Salesman

Mau bercerita tentang seorang dokter. Suatu hari, kira2 dua bulan yang lalu, saya menderita sakit batuk yang lumayan parah. Batuknya parah banget sampai tidak bisa tidur. Akhirnya saya menyerah dan memutuskan menemui dokter umum langganan saya. Beliau meresepkan obat untuk meredakan gejala batuk saya. Entah kenapa, obat yang diresepkan tidak mempan. Batuk saya masih saja menghebat di malam hari, dan sesudah kira2 3 hari tidak ada perbaikan, saya pun kembali ke dokter yang sama. Di kunjungan berikut, beliau tampak sangat concern karena saya masih tidak merasa lebih baik. Sebenarnya tidak ada indikasi penyakit yang serius, hanya saya memang perlu bisa tidur di malam hari. Akhirnya dia pun meresepkan obat lain yang lebih kuat. Saat saya pamit dan keluar dari ruangan, sang dokter berkata, “Saya jadi merasa tidak enak kamu tidak merasa sembuh dan harus kembali lagi. Saya mohon maaf.” Jujur saya kaget sekali mendengar itu. Bagi saya ini bukan penyakit berat, hanya batuk flu saja. Dan namanya sakit kan kadang2 memang obatnya tidak bisa sekali klop. Tetapi si dokter ini sampai merasa mengutarakan kekecewaannya bahwa saya tidak sembuh dengan sekali kunjungan. Saya sampai harus berkata kepadanya, “Wah, ya gak apa2 kali dok. Obatnya belum pas aja kali.” Tetapi kejadian itu berkesan sekali bagi saya. Rasanya itu kejadian pertama saya mendengar dokter menyatakan maaf karena tidak bisa membantu pasiennya dalam sekali kunjungan. Kisah kedua, tentang seorang salesman di Electronic City. 2 minggu lalu saya mencari mesin cuci bersama istri di Electronic […]

Read More →

The Heroes of Our Times

I love the movies. I do believe in their power beyond entertaining the audience. Movies capture stories that can excite us, inspire us, even depress us. Movies are also the reflection of our times. Sure, the movie industry is probably lopsided with Hollywood dominance and its American values export, yet you can’t deny that movies still affect how we view […]

Read More →

Depresi, “No!” Ngehek, “No!”

Gw mau share dikit tentang “depresi” hasil penelitian Martin Seligman, profesor psikologi di University of Pennsylvania (Sumber: “Life’s A Pitch” karya Philip Broughton). Profesor Seligman menemukan bahwa banyak orang depresi yang menderita “learned helplessness”. Istilah Inggris ini sulit diterjemahkan secara ringkas ke Bahasa. Versi begonya: “Ke-tak-berdaya-an yang dipelajari”. Lebih jelasnya harus dipanjangin: perasaan tak berdaya (helplessness) yang sebenarnya dibangun sendiri oleh si penderita. Menurut Profesor Seligman, ketika kita mengalami peristiwa buruk yang ada di luar kendali kita (uncontrollable bad events), ada tiga kategori interpretasi kita akan peristiwa buruk tersebut (yang menentukan perilaku kita berikutnya). 1. Kategori pertama: Interpretasi apakah peristiwa tersebut disebabkan internal (kita sendiri), atau eksternal (karena situasi di luar kita). Contoh: saat kita ketinggalan kartu ATM. “Kartu ATM gw hilang karena gw adalah orang pikun tolol” adalah interpretasi internal. “Kartu ATM gw hilang karena tadi gw buru2 mengejar kereta terakhir, dan diteriakin sama temen2 disuruh cepet” adalah interpretasi eksternal. 2. Kategori kedua: Interpretasi apakah peristiwa tersebut disebabkan faktor yang stabil/tetap (stable factors), atau faktor kebetulan/insidental (unstable factors). Contoh interpretasi faktor stabil/tetap: “Gw selalu kehilangan kartu ATM kalo terburu2″, dan sebaliknya “Ah, ini sih lagi kebetulan aja gw khilaf” (faktor insidental). 3. Kategori ketiga: Interpretasi peristiwa ini sebagai “gambaran menyeluruh” (global) atau “spesifik”. Contoh interpretasi global: “Gw kehilangan kartu ATM ini memang gambaran hidup gw yang berantakan, pelupa, ceroboh“. Contoh interpretasi spesifik: “Yah cuma kartu ATM doang. Tinggal lapor polisi, urus kartu baru, beres deh”. Penderita depresi cenderung menginterpretasi peristiwa buruk […]

Read More →

Review Awam Sony Xperia Z

Bulan Maret bener-bener seru dengan smartphone baru. Kali ini gw mendapatkan Sony Xperia Z, smartphone Android terbaru dari Sony. Berikut adalah review awam gw. [Disclaimer wajib: ini adalah review awam seorang pengguna, jadi memang tidak akan membahas teknis terlalu detail. Jika teman2 ingin review yang komplit dan teknis, bisa mendapatkan dari sumber-sumber lain, misalnya review CNet, Techcrunch, Engadget, dll.] Mereview […]

Read More →

KakaoTalk Challenge! #spon

Jadi gw diminta client supaya bisa bikin permainan dengan teman2 via KakaoTalk nih. Lumayan kok hadiahnya. Pemenang pertama akan dapet smartphone Google Nexus 4 yang baru, gres, dan sexy! 2GB RAM, layar besar 4.7 inch, prosesor Quad-Core 1.5 Ghz, Android OS Jellybean. Gress banget dah! Yang jomblo dijamin dapet pacar pake hape ini! (Syarat & Ketentuan Berlaku) Selain itu ada […]

Read More →

Is ‘Social Tweeting’ A Waste of Time?

Indonesia never runs out of drama. From religious intolerance to Lady Gaga, we have our share of weird episodes in this young democracy. And with all these hoopla, we have our “Tweeting Middle Class” who always have something to say on the matter. Including me! Now, I’ve seen cynical voices about these Indonesian tweets, basically saying that tweeting alone is useless. It is only intellectual, digital masturbation that accomplishes nothing. These voices usually say that real action must be “offline”. That only “real” action in the physical sense gets things done. Hence, their mocking at Indonesians who are only “loud” on Twitter land. I agree with them. But not completely. I agree that change must happen through action. Well, it is kind of obvious, isn’t it? But I disagree that all the loud chirping over social issues on Twitter means completely nothing, and can be easily dismissed as a waste of time of the middle class. (my tweets over Syahrini or Bubu are OF COURSE effective time waster, that’s why you must put things in the context :D) Here’s why I disagree with the cynics, why I welcome all the ‘social tweeting’ in positive light. And it begins with….Leonardo DiCaprio. If you have seen ‘Inception’, you may remember a quote from Leo’s character, Cobb. “What is the most resilient parasite? Bacteria? A virus? An intestinal worm? An idea. Resilient… highly contagious. Once an idea has taken hold of the brain it’s […]

Read More →