Berbagi di Akademi Berbagi

Minggu lalu gw jadi pembicara di Akademi Berbagi. Buat yang nggak tau Akademi Berbagi, cek www.akademiberbagi.org atau Twitter @akademiberbagi. Ini adalah sebuah inisiatif keren di mana kita bisa belajar dari praktisi atau profesional tanpa dipungut biaya. Semua yang terlibat adalah relawan, dari organizer, pembicara, bahkan ruangan kelas pun berpindah-pindah dari “donor ruangan” satu ke yang lainnya. Buat gw ini adalah inisiatif masyarakat urban yang hebat, di mana berbagi ilmu terjadi secara horizontal, antar masyarakat. Akademi Berbagi saat ini sudah diadakan di beberapa kota: Jakarta, Bandung, Surabaya, dll. Topik-topik yang dicover pun cukup bervariasi, walaupun umumnya menyangkut sharing skill suatu dunia profesi tertentu. Misalnya advertising, media, fotografi, Public Relations, film, dll. Tetapi tidak tertutup untuk share “ilmu” juga. Misalnya gw yang diberi kesempatan untuk sharing topik psikologi berdasarkan buku-buku yang gw baca. Sebenernya yg menarik bagi gw adalah saat proses persiapan materi. Dalam menyiapkan presentasi, gw harus membuka-buka lagi sumber referensi, ngecek informasi, cross-check di internet, dan kemudian menyambung materi-materi ini menjadi satu kesatuan cerita yang masuk akal. “Mengajar” itu dimulai dari persiapan materi, tidak hanya saat berdiri di depan audiens. Beberapa hari yang lalu, Anies Baswedan men-twit “Mengajar itu adiktif”. Gw mulai melihat kebenaran dari statement tersebut. Karena dalam proses persiapan mengajar, gw menemukan bahwa gw sendiri BELAJAR. Kalau kita membaca buku atau mendengar ilmu sekali saja, maka pelan-pelan ilmu tersebut akan lenyap. Tetapi ketika ketika harus membaginya ke orang lain, justru knowledge kita diingatkan kembali, bahkan bisa bertambah kaya. Gw juga […]

Read More →

Tombol Fast Forward Kehidupan

Hari ini gw ada 3 session kerjaan yang nyambung, seharian. Jujur, di session pertama gw resah banget. Ngeliatin jam terus, dan berharap waktu berjalan lebih cepat. Dalam hati gw, “Duuh, cepetan deh hari ini berlalu….” Terus gw jadi keinget film ‘Click’ (Adam Sandler). Tentang seseorang yang gak sabaran pengen cepet2 naik pangkat, dan merasa hidup berjalan terlalu lambat. Terus dia ketemu “remote DVD” ajaib, di mana dia bisa mempercepat jalan hidupnya dengan menekan tombol Fast Forward. Dan dia pun akhirnya bisa mempercepat hidupnya. Dari “skip” langsung ke saat dia naik pangkat, dia ketagihan dan terus-menerus mempercepat hidupnya, sampai menjadi pengusaha kaya, sukses, dan tiba-tiba dia sudah tua dan menjelang ajal. Catch-nya dari remote itu? Gak bisa diputer mundur! Dan si tokoh Adam Sandler pun digambarkan menyesal karena sudah kehilangan banyak momen hidup karena tak sabar ingin “skip” ke bagian-bagian yang menyenangkan saja. Dia kehilangan masa2 melihat anaknya tumbuh, dan momen2 perkawinannya. (Btw filmnya bagus. Buat yang biasanya gak suka Adam Sandler, film ini surprisingly pesan moralnya bagus banget, walaupun tetap diselingi humornya Adam Sandler.) Jujur, gw sih sering dalam situasi seperti itu. Pekerjaan yang lagi gak enak, situasi yang lagi gak enak, dan yang ada dipikiran cuma, “I wish bagian ini bisa dipercepat aja deh.” Dan tiba-tiba hari sudah menjelang malam, gw udah di kamar lagi, dan walaupun sebagian diri gw lega udah melewati bagian gak enak, sebagian diri gw yang lain mempertanyakan “Wow, tiba-tiba sehari sudah berlalu…where has all […]

Read More →

A Near Death Experience (The Privacy Conundrum)

So this morning I got ANOTHER of those notorious Broadcast Messages, the curse of Indonesian BlackBerry users. Usually I just deleted it instantly without looking, but this one came from my girlfriend, so it may be a baaaaaad idea not to take a peek. The BM is basically saying that Facebook can access your mobile’s phonebook, and may have published it on your FB page without your knowledge. It was complete with ‘instruction’ on how it remove it from your FB page. “So what do you think? Is it true?” my girlfriend asked. “I don’t know. But thank God I already closed my FB account”, I texted back, while I smiled smugl. No, seriously, I closed my FB account. I used to be a quite active FB user for 4 years, especially in the photos upload department, thinking “MY FRIENDS NEED ME TO ENSURE THEIR EMBARASSING PICTURES ARE PRESERVED.” So when I was closing the account, I thought I was gonna die. I did not. In fact, I am very much alive today. Why did I close it? Oh, I don’t know. Sometime early this year I just realized that FB is just too “open”, that my life becomes transparent. Yeah, sure, I know about the (very complex) privacy setting. But really, how many people actually go through the trouble of setting privacy for every individual photo album, or comments, or notes? (I heard Google+ attempts to solve this with […]

Read More →

Ketulusan vs. Hasil Akhir, Penting Mana?

Ebuset, produktif amat nih gw, sehari ngepost 2 biji! Tapi emang kebetulan lagi ada topiknya siiih. Plus lagi sendirian aja. Ya why not. Jadi hari ini terjadi fenomena menarik di dunia Twitter. Di awali dengan kemunculan akun @gerychocolatos (tau kan, snack coklat dengan Nikita Willy sebagai bintang iklannya. Nggak senyebelin Sozis sih iklan2nya…) Merek produk punya akun Twitter sih sudah biasa, tetapi bedanya yang ini lahir dengan iming-iming “Kalau follow akun ini, Gery Chocolatos akan menyumbang Rp 100 per follower untuk baju lebaran anak jalanan.” Bahkan belakangan tawaran dinaikkan menjadi Rp 500 per follower! Dan di dunia Twitter terbentuk dua kubu. Satu kubu dengan semangat menyambut positif ide ini (di luar para buzzer berbayar tentunya). Hanya dengan memfollow sebuah akun, bisa ikutan menyumbang Rp 500 untuk anak jalanan! Gampang syaratnya, banyak manfaatnya. So why not? Tapi ada kubu lain, yang lebih sangar dan galak-galak (hihihi), yang mengecam keras inisiatif ini. Serangan pertama adalah mengenai “ketulusan” menyumbang. Mereka menuduh bahwa sebuah merek produk komersial telah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan follower, bahkan dengan memanfaatkan anak jalanan. Kalau memang pihak Gery Chocolatos perduli dengan anak jalanan, kenapa tidak menyumbang langsung? Kenapa harus dengan pamrih, melalui mekanisme “transaksi” menggaet follower? Fenomena menarik ini sebenarnya menggambarkan dua cara berpikir yang terkadang bertentangan. Yang positif dengan ide ini menurut gw menggunakan cara berpikir pragmatis. “Lho, yang penting kan ada anak jalanan yang menerima bantuan? Perduli amat bahwa ini untuk menambah follower, toh tidak ada yang […]

Read More →

Kisah Dedikasi Di Tengah Himpitan

Ini cerita yang dialami pacar gw, bukan gw… tapi menyentuh gw banget, makanya gw merasa harus menshare ini. Jadi ceritanya siang ini pacar gw bersama koleganya mengambil taksi Blue Bird di jalan TB Simatupang. Sang pengemudi berusia kira-kira 40 an. Sepanjang perjalanan si pengemudi bernama pak Bambang S. ini terkesan ramah. Dia sempat mengeluhkan soal ormas-ormas preman yang kerjanya hanya memalak orang kecil seperti dia. Tiba-tiba di tengah jalan, handphonenya berbunyi. Pak Bambang mengangkat dan segera berujar “Nanti ya, bapak lagi bawa penumpang”. Tetapi sebelum sempat menutup pembicaraan, tampak bahwa si penelepon punya masalah serius, dan tiba-tiba suara pak Bambang berubah: “Kenapa?? Sudah, bawa dia ke rumah sakit! Kamu jangan panik, bawa dia ke rumah sakit terdekat!” Pacar gw pun bingung, saling liat2an dengan koleganya, dan menanyakan kalau pak Bambang ada masalah dan perlu pulang. Pak Bambang diam saja, terus menyetir dengan tenang walaupun pelan-pelan melambat sambil menyalakan lampu sinyal ke kiri. Dan pacar gw melihat dari kaca spion mata pak Bambang memerah dan berkaca-kaca. Kemudian pak Bambang merapat ke pinggir jalan dan berkata, “Maaf ya bu, anak saya anfal, saya tidak bisa melanjutkan perjalanan”. Pacar gw pun berkata tidak apa-apa karena bisa melanjutkan dengan taksi lain. Pak Bambang berkata, “Bu, jangan di sini, saya akan carikan tempat yang ibu gampang cari taksi” Akhirnya taksi melaju lagi, dan akhirnya berhenti di showroom Nissan di arteri Pondok Indah. Pak Bambang kemudian turun dari taksi, dan segera oleh 2 penumpang perempuannya pak Bambang […]

Read More →

Tentang Peti Mati Dan “Yang Penting Ngetop!”

Jadi kemarin media massa, khususnya Twitter, heboh dengan kedatangan peti mati di berbagai tempat. Kebanyakan yang mendapat adalah kantor-kantor media massa, bahkan konon ada individu yang juga menerimanya. Tentunya terjadi kehebohan. Tuduhan pertama adalah ini merupakan aksi teror terhadap media massa supaya tidak ‘vokal’ bersuara. Sempat ada headline di detik.com “DPR Perintahkan Usut Teror Peti Mati”. Beberapa orang sudah curiga bahwa ini adalah publisitas marketing. Dan benar saja, di siang hari, pelakunya mengakui bahwa ini adalah sebuah promosi buku tentang advertising. Bukunya sendiri akan membahas tentang ‘kematian’ advertising tradisional dengan lahirnya word-of-mouth marketing. Dan pengiriman peti mati ini rencananya adalah contoh kekuatan “diomongin” vs. “diiklankan”. Diomonginnya sih bener kejadian. Masalahnya, kayaknya si pelaku ini gak bisa ngebedain antara sekedar “diomongin”, dan “diomongin secara POSITIF”. Dan yang kejadian kemarin, si pelaku memang “diomongin”, tapi isinya jauh dari positif. Bahkan berujung dengan dia diperiksa polisi. Peti mati bukan sembarang benda untuk dikirim sebagai mainan. Kematian adalah topik yang menakutkan secara universal, dan bagi banyak orang simbol peti mati membangkitkan banyak kenangan sedih dan menyakitkan. Karena peti mati berukuran anak kecil, banyak karyawan wanita, khususnya ibu, yang tentunya shock melihatnya. Tragisnya, di kantor Detik.com yang juga menerima peti itu, ternyata salah seorang karyawan baru saja kehilangan anaknya yang meninggal dunia di hari yang sama. Dan trik marketing yang sudah tidak lucu itu berubah menjadi tragedi yang menjijikkan. Sang pelaku mengklaim diri sebagai pionir word of mouth (WOM) marketing. Tidak hanya klaim ini menggelikan, […]

Read More →

Dunia Ajaib Synesthesia

Bayangkan terlahir dengan kondisi seperti ini: Setiap melihat angka tertentu, kamu melihat warna yang berbeda. Misalnya, angka 2 disertai warna biru, 4 merah, 8 ungu, dll. Setiap mendengar nada tertentu, kamu melihat warna yang berbeda-beda. Setiap mendengar/melihat hari (Senin, Selasa, Rabu, dll) melihat warna yang berbeda-beda. Setiap menyentuh tekstur berbeda, kamu merasakan emosi yang berbeda. Kain jeans: “sedih”, sutera “damai”, […]

Read More →

Antara Merah Putih dan “Lebay”

Minggu malam, masih batuk-batuk karena flu, saya jadi emosi karena membaca adanya aksi injak bendera Merah Putih di Ultah PKS Tasikmalaya http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=25127 Tifatul Sembiring melalui Twitter accountnya mengklarifikasi bahwa insiden ini adalah buntut sumbangan sebuah SMA yang menjadi pengisi acara, dan pihak PKS setempat berjanji untuk lebih ketat di masa depan. Tapi kemudian saya menjadi bingung sendiri melihat reaksi saya, kenapa saya bisa emosional urusan seperti ini. Mungkin banyak orang merasa saya “lebay”. Saya juga mikir, kenapa ya? Entahlah…. Tapi yang saya tahu, saya kagum dengan kisah terbentuknya negeri ini. Dan saya ngefans berat dengan para Bapak Bangsa. Terutama sejak Periode Kebangkitan Nasional, sampai Kemerdekaan. Dari Dr. Wahidin Soedirohusodo, tokoh2 Kongres Pemuda II, sampai Soekarno-Hatta. Mengapa? Karena bagi saya negeri ini adalah suatu KEAJAIBAN. Karena kebhinekaannya, tetapi berhasil mengatasi perbedaan untuk memiliki satu identitas bersama. Dan pencapaian ini luar biasa bagi saya – bukan hal sepele. Kalau sempat, datanglah ke Museum Sumpah Pemuda di Jl. Kramat Raya. Ada satu pojok di dalam gedung itu yang bikin saya merinding. Saya sempat berlama-lama berdiri di situ dan pernah berpikir, kok bisa pemuda 80 tahun yang lalu berfikir semaju itu? Pojok yang saya maksud adalah tempat panji-panji dari kontingen2 Kongres Pemuda II 1928. Di situ tergantung panji-panji dari organisasi2 pemuda yang menjadi peserta Kongres. Ada yang berbasis agama, ada yang berbasis suku, dan ada yang berbasis ideologi. Dan bayangkan mereka yang datang ke Kongres itu dengan panji golongannya masing-masing, mengakhirinya dengan “Indonesia Raya” […]

Read More →