Skip to content
Advertisements

‘Personal Branding’ dan Akun Yang Ditutup

Sebenarnya kemarin adalah hari yang menarik di Twitter, minimal di TL gw. Kira-kira siang menjelang sore kemarin, akun @AkademiBerbagi sedang merelay pembicara Vera Makki yang sedang membawakan topik “Personal Branding”. Gw tidak terlalu mengikuti sih, tetapi dari beberapa twit yang gw baca isinya tentang bagaimana setiap dari kita mempunyai citra/image, bagaikan “merek” produk. Citra atau image brand ini pun harus dimanage dengan baik, dalam konteks Social Media. Kalau kita ingin mempunyai “personal brand” yang baik, ya kita harus memperhatikan isi Twitter/Blog kita, menghindari hal-hal yang membuat brand image kita menjadi jelek. Nah, di saat yang sama pula, ada insiden lain yang melibatkan akun @AlberthieneE. Mengomentari peristiwa bom bunuh di Solo, sang pemilik akun mentwit “Pak Harto emang hebat, kagak pernah ada bom.” Spontan twit “sensitif” ini menimbulkan reaksi. Gw tidak tahu persis apa yang terjadi, tapi kayaknya ada twit-twit reaksi yang mungkin kasar atau memaki2. Ujung-ujungnya, si pemilik akun menyatakan terpukul akan reaksi kasar tersebut, dan menyatakan akan menutup akun Twitternya. Dasar yang namanya Twitter, rencana ini malah menimbulkan reaksi lebih besar lagi, dari yang memohon agar niat ini diurungkan, sampai yang malah menantang apakah benar akan dilakukan. Bagi gw, menarik sekali bahwa dua peristiwa ini terjadi hampir bersamaan di hari yang sama. Ada sharing tentang Personal Branding di social media, dan kekecewaan pemilik akun Twitter yang berbuntut penutupan akun sebagai ekspresi kecewa. Namanya The Laughing Phoenix, tentunya wajib berkomentar! šŸ˜€ Pertama-tama, soal Personal Branding. Menurut gw sih, Personal Branding […]

Read More →

The Body Combat Affair

While women start their problems by involving their hearts, men start theirs by involving their ego. I have been a gym member for more than 3 years now, and all those time I always rely on Personal Trainers. Most of my workout regime falls under weight training, although my PT will throw Muay Thai exercise for variations. But it’s always the Smith machine, the dumbells, or the TRX suspension. Now, I am never interested in “group exercises”. Well, I joined hot yoga a couple of times, and that’s it, no interest to keep doing it. Partly perhaps because I am naturally a ‘loner’ workout person (I enjoy working out alone, with a PT’s company at most), but partly also because I think group exercises are for….women. I had this impression that only women and pansy-asses do aerobic or yoga. “Real men” lifts weights – with the images of Chuck Norris, Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger flexing their muscles with barbells. So when my girlfriend challenged me to join her in Body Combat class, I cringed. Isn’t that a class for chicks? No, she said, there are guys in it also. Fine. And she also said that she wanted to see whether I have the ability to endure it. Excuse me? Like I said, nothing makes men do stupid things faster than their tickled ego. “Fine, I’ll do it!” So yesterday, on a beautiful Saturday morning, I dragged my ass to the […]

Read More →

Berbagi di Akademi Berbagi

Minggu lalu gw jadi pembicara di Akademi Berbagi. Buat yang nggak tau Akademi Berbagi, cek www.akademiberbagi.org atau Twitter @akademiberbagi. Ini adalah sebuah inisiatif keren di mana kita bisa belajar dari praktisi atauĀ profesional tanpa dipungut biaya. Semua yang terlibat adalah relawan, dari organizer, pembicara, bahkan ruangan kelas pun berpindah-pindah dari “donor ruangan” satu ke yang lainnya. Buat gw ini adalah inisiatif masyarakat urban yang hebat, di mana berbagi ilmu terjadi secara horizontal, antar masyarakat. Akademi Berbagi saat ini sudah diadakan di beberapa kota: Jakarta, Bandung, Surabaya, dll. Topik-topik yang dicover pun cukup bervariasi, walaupun umumnya menyangkut sharing skill suatu dunia profesi tertentu. Misalnya advertising, media, fotografi, Public Relations, film, dll. Tetapi tidak tertutup untuk share “ilmu” juga. Misalnya gw yang diberi kesempatan untuk sharing topik psikologi berdasarkan buku-buku yang gw baca. Sebenernya yg menarik bagi gw adalah saat proses persiapan materi. Dalam menyiapkan presentasi, gw harus membuka-buka lagi sumber referensi, ngecek informasi, cross-check di internet, dan kemudian menyambung materi-materi ini menjadi satu kesatuan cerita yang masuk akal. “Mengajar” itu dimulai dari persiapan materi, tidak hanya saat berdiri di depan audiens. Beberapa hari yang lalu, Anies Baswedan men-twit “Mengajar itu adiktif”. Gw mulai melihat kebenaran dari statementĀ tersebut. Karena dalam proses persiapan mengajar, gw menemukan bahwa gw sendiri BELAJAR. Kalau kita membaca buku atau mendengar ilmu sekali saja, maka pelan-pelan ilmu tersebut akan lenyap. Tetapi ketika ketika harus membaginya ke orang lain, justru knowledge kita diingatkan kembali, bahkan bisa bertambah kaya. Gw juga […]

Read More →

Not A ‘Planet Of The Apes’, Could Be Worse

Watched Rise of The Planet Of The Apes yesterday. Excellent movie: great plot, great special effects, and a thought-provoking story. How some “lab test apes” acquire higher intelligence through human’s experiments, and the beginning of their rule over earth. (This is actually the prequel for ‘Planet of The Apes’. Watch for the astronaut hint in the movie :)) The movie shows how chimpanzees become test subjects, living in a pitiful cages, exposed to harmful chemicals. Because we don’t want to harm humans, hence we turn to them to try out our ‘inventions’. Hey, if they die, they are just chimps, right? It just happens that I just finished a book titled ‘The Third Chimpanzee” by Jared Diamond. The book is about human evolution in general, but it mentions something interesting about our relationship with chimpanzee. Chimpanzee is indeed the closest ‘cousin’ to humans, as we emerge from the same ancestor, and it shows in our genetic profile. Despite our obviously different looks, we share 98% of our genes with chimpanzees (which also explains why they make good experiment subjects for human drugs). But here is a disturbing question raised by Diamond’s. Now that we know we are SO CLOSE genetically to chimps, shouldn’t that knowledge disturb you that we experiment on them? Not only by exposing them to often harmful chemicals, but also kidnap them from their natural habitat, put them in cages, and disregard their fears, pain, and anxiety? […]

Read More →

Tombol Fast Forward Kehidupan

Hari ini gw ada 3 session kerjaan yang nyambung, seharian. Jujur, di session pertama gw resah banget. Ngeliatin jam terus, dan berharap waktu berjalan lebih cepat. Dalam hati gw, “Duuh, cepetan deh hari ini berlalu….” Terus gw jadi keinget film ‘Click’ (Adam Sandler). Tentang seseorang yang gak sabaran pengen cepet2 naik pangkat, dan merasa hidup berjalan terlalu lambat. Terus dia ketemu “remote DVD” ajaib, di mana dia bisa mempercepat jalan hidupnya dengan menekan tombol Fast Forward. Dan dia pun akhirnya bisa mempercepat hidupnya. Dari “skip” langsung ke saat dia naik pangkat, dia ketagihan dan terus-menerus mempercepat hidupnya, sampai menjadi pengusaha kaya, sukses, dan tiba-tiba dia sudah tua dan menjelang ajal. Catch-nya dari remote itu? Gak bisa diputer mundur! Dan si tokoh Adam Sandler pun digambarkan menyesal karena sudah kehilangan banyak momen hidup karena tak sabar ingin “skip” ke bagian-bagian yang menyenangkan saja. Dia kehilangan masa2 melihat anaknya tumbuh, dan momen2 perkawinannya. (Btw filmnya bagus. Buat yang biasanya gak suka Adam Sandler, film ini surprisingly pesan moralnya bagus banget, walaupun tetap diselingi humornya Adam Sandler.) Jujur, gw sih sering dalam situasi seperti itu. Pekerjaan yang lagi gak enak, situasi yang lagi gak enak, dan yang ada dipikiran cuma, “I wish bagian ini bisa dipercepat aja deh.” Dan tiba-tiba hari sudah menjelang malam, gw udah di kamar lagi, dan walaupun sebagian diri gw lega udah melewati bagian gak enak, sebagian diri gw yang lain mempertanyakan “Wow, tiba-tiba sehari sudah berlalu…where has all […]

Read More →

Garuda di Timelineku!

“Jadi sekarang elu suka bola, Ring?” Beberapa kali gw dapet pertanyaan itu di Twitter, secara gw jadi sering nonton Timnas dan meramaikan timeline, padahal gw pernah bilang bahwa gw gak suka sepak bola (90 menit nonton 22 LAKI2 ngejer2 bola? Mending gw nonton K-Pop…) Well, kenyataannya, gw masih gak suka bola sih. Tapi pengecualianĀ buat Timnas. Analisa atas diri sendiri gw sih simple aja. Gw banyak kecewa dengan negera ini, dari presiden, menteri, wakil rakyat, penegak hukum, dll, gak ada yang bener ngerjain tugasnya. Biarpun gw gak suka bola, tapi kalo TimNas tanding, apalagi sampeĀ menang, rasanya seperti pelarian sesaat dari carut-marut pemerintahan. Tetapi selain untuk mengobati kekecewaan, TimNas juga punya ‘magic’ lain, yaitu mempersatukan kita, baik di dunia nyata maupun di dunia online. Ambil Twitter contohnya, yang sehari-hari isinya sering nyinyir atau berdebat satu sama lain, dari yang politik (partai ngehe vs. partai sompret), penyanyi (tim Geisha vs. tim Vierra – eh ini ciptaan gw doang ya? :p), yang pro dan kontra LDR (pacaran jarak jauh itu loh), sampe urusan gadget (Apple vs. Blackberry vs. Stroberi kali…) Apa juga bisa diperdebatkan, dan menciptakan kubu-kubu. Tetapi kalo TimNas lagi beraksi, tiba-tiba semua menjadi satu, mendoakan, dan bersorak-sorai buat para “local heroes” kita. Semua perbedaan dihentikan untuk 90 menit, dan semua mengutuki siapapun yang jadi lawan kita. Jadi benar kata orang, kehadiran musuh bersama (common enemy) itu mempersatukan. Kalau musuh bersamanya hilang, byar bubar semua, berantem lagi sendiri-sendiri. Begitu gak ada TimNas, para […]

Read More →

Kapan Kawin? – Sebuah Tinjauan Filosofis, Psikologis, dan Bisnis

Jadi hari ini Twitter sempet rame dengan becandaan “Kapan kawin?” Fenomena pertanyaan ‘Kapan kawin?’ adalah fenomena umum saat pertemuan-pertemuan keluarga ataupun reuni dengan teman. Dan menjelang Lebaran yang penuh dengan silaturahmi, pertanyaan menyebalkan ini biasanya muncul. Which is cukup ironis kalo urutan ngomongnya “Minal Aidin Wal Faidzin ya jeeeung” *cipika cipiki* “Kapan kawin??” (BARU MINTA MAAF UDAH LANGSUNG BIKIN DOSA!! TAMPAR AJA! TAMPAR!) PertanyaanĀ ini begitu jamaknya sampai kita mungkin sudah take it for granted, selain ngebecandain dan menyiapkan balasan yang lucu2 (the best balasan buat gw so far: “Kapan kawin? ” “Kapan mati?”) Tapi gw pengen sok menganalisa fenomena ini lebih dalam, dari berbagai aspek. Analisa: SANG PENANYA “Kapan kawin?” justru bisa dianalisa dari sisi sang penanya. Latar-belakang dan motivasi penanya bisa memberikan berbagai interpretasi. Contoh: Jika sang penanya sudah menikah, dan pernikahannya bahagia, arti “Kapan kawin?” adalah: Gua ternyata happy banget menikah, dan gw sayang elu, dan pengen elu bisa ikutan happy…. Tapi kalau sang penanya sudah menikah dan menderita, artinya adalah: Yuk cepetan bergabung dengan penderitaan gw….. Kalau sang penanya belum menikah, maka maknanya bisa jadi kompetitif: Apa elu belum ada calon? Semoga gw duluan! Najis banget gw disalip sama elu…. Kalau sang penanya belum menikah, jomblo, berjenis kelamin sama dengan yang ditanya, dan kenal dengan pasangan yang ditanya, maka maknanya: WOOHOO! GW MASIH ADA KESEMPATAN DENGAN COWOK/CEWEK ELU! Kalau sang penanya masih keluarga/teman dekat dengan yang ditanya, dan yang ditanya sebenarnya SUDAH kawin, maka maknanya menjadi: Gua […]

Read More →

A Near Death Experience (The Privacy Conundrum)

So this morning I got ANOTHER of those notorious Broadcast Messages, the curse of Indonesian BlackBerry users. Usually I just deleted it instantly without looking, but this one came from my girlfriend, so it may be a baaaaaad idea not to take a peek. The BM is basically saying that Facebook can access your mobile’s phonebook, and may have published it on your FB page without your knowledge. It was complete with ‘instruction’ on how it remove it from your FB page. “So what do you think? Is it true?” my girlfriend asked. “I don’t know. But thank God I already closed my FB account”, I texted back, while I smiled smugl. No, seriously, I closed my FB account. I used to be a quite active FB user for 4 years, especially in the photos upload department, thinking “MY FRIENDS NEED ME TO ENSURE THEIR EMBARASSING PICTURES ARE PRESERVED.” So when I was closing the account, I thought I was gonna die. I did not. In fact, I am very much alive today. Why did I close it? Oh, I don’t know. Sometime early this year I just realized that FB is just too “open”, that my life becomes transparent. Yeah, sure, I know about the (very complex) privacy setting. But really, how many people actually go through the trouble of setting privacy for every individual photo album, or comments, or notes? (I heard Google+ attempts to solve this with […]

Read More →

17 Agustus Bukan Kemenangan Atas “Penjajah”

Hari ini 17 Agustus, HUT RI ke 66th (kebetulan HUT gw juga sih, tapi gak perlu membuka umurlah, ihiy) 17 Agustus seringkali diidentikkan dengan kemenangan atas penjajah. 3.5 abad oleh Belanda dan 3.5 tahun oleh Jepang, dan akhirnya kita berhasil “mengalahkan” mereka semua. Biasanya lengkap dengan retorika bambu runcing melawan senjata lengkap penjajah. Tapi di hari ini, gw mau mengambil posisi yang mungkin “kurang populer”. Gw mau bilang, 17 Agustus BUKANLAH hari kemenangan atas penjajah. Sebelum gw dimaki2, (atau worse, diunfollow di Twitter :p),Ā  ijinkan gw menjelaskan posisi gw. Ada 2 alasan kenapa gw gak merasa 17 Agustus itu momen menang atas penjajah. Alasan pertama adalah common sense, alasan kedua nanti gw bahas. Menurut gw sih, 17 Agustus 1945 itu kita tidak “mengalahkan penjajah”, karena kita mendeklarasikan kemerdekaan dalam “window of opportunity” Jepang yang sedang babak belur dibom atom, dan sekutu yang belum terlalu mikirin kita. Ingat gw hanya komentar soal 17 Agustus-nya ya, bukan pertempuran2 sebelum dan sesudah-nya. Intinya, 17 Agustus tidak diperoleh karena kekuatan militer kita memukul mundur penjajah secara telak. Tapi alasan di atas buat gw sepele, bukan utama. Alasan kedua gw bahwa 17 Agustus itu bukan kemenangan atas “penjajah”, adalah justru karena hari itu adalah kemenangan atas hal-hal lain, yang jauh lebih besar. 17 Agustus 1945, adalah satu titik kulminasi dari proses panjang sebelumnya, dan di dalam proses panjang ini, kita berhadapan dengan musuh-musuh yang jauh lebih berat dari semua penjajah dan persenjataannya. Di tanggal 20 […]

Read More →