Skip to content
Advertisements

“Emergent Systems” dan Kejombloan

Lagi asik baca buku “The Social Animal” karya David Brooks. Ini buku tentang human behaviors, yang dikemas menarik karena mengambil format “semi-fiksi”. Melalui perjalanan hidup tokoh fiktif “Harold” dan “Erica”, penulisnya merangkai berbagai hasil studi psikologi, neuroscience, social sciences untuk menjelaskan bagaimana manusia terbentuk oleh hubungan sosialnya. Di buku ini gw ketemu konsep “Emergent System”. Sederhananya, emergent system adalah ketika […]

Read More →

Cinta Harus Mati

Yup, cinta harus mati. Itu adalah sebuah keniscayaan. Kalau cinta adalah rasa menggebu-gebu, keringat dingin, deg-degan, susah tidur, tai kucing rasa coklat, romantic dinner dengan lilin, berpandang2an semalaman sampai jereng, dan buket bunga mawar, maka cinta harus mati. Dan akan mati. Tahap “infatuation”, “passionate love”, saat-saat awal manusia jatuh cinta dan tergila-gila, secara neuroscience tidak ada bedanya dengan kondisi “high on drugs”. Otak kita dibanjiri hormon-hormon yang memberi rasa senang melayang, tidak ada bedanya mungkin dengan efek narkoba. Masalahnya di artikel yang pernah gw baca, yang namanya “high” itu tidak bisa dipertahankan terus2an secara perspektif medis. Otak harus kembali ke equilibriumnya. Di buku “Happiness Hypothesis” oleh Jonathan Haidt disebutkan, saat passionate love padam, di sinilah tragedi cinta sering terjadi. Karena kita kemudian mengira “high” itulah keadaan cinta sejati. Dan hilangnya “high” itu membuat kita mengira cinta sudah mati. Untuk selamanya. Dan kemudian kita mencari cinta baru yang bisa memberikan “high” itu. Cinta memang harus mati. Karena dia harus memberi tempat untuk lahirnya sang pengganti, yaitu cinta lain yang tidak memabukkan, tetapi memberi rasa tentram, aman, dan “companionship” (gak ada kata yang tepat untuk menterjemahkan “companionship”, karena ‘pertemanan’ dan ‘persahabatan’ juga kurang pas. Kalo gw boleh bikin kata sendiri, yang pas itu ‘perpendampingan’, dari kata ‘pendamping’) Dan dalam cinta fase kedua inilah, menurut Jonathan Haidt, sebuah hubungan menjadi lebih tahan lama, dan membahagiakan. Dalam perpendampingan sudah tidak ada mabuk atau “high” yang ‘seru’ seperti di film-film romantis, dan ia menjadi ekuilibrium […]

Read More →

The Male Superiority Myth, or My Sit-Com Epilogue

As a member of the male humans, I can confidently say this: male superiority is a myth. And this realization came to me in full force thanks to the recent episode with Varicocelectomy (refer to previous two posts). Now, when I wrote the previous post, I was still recovering in hospital bed, and had still been connected to Urinary catheter. Urinary catheter, for you ignorant people who don’t know, is a tube conected through uretra to allow you to pee when conditions do not allow (in my case, when anesthesia still numbed my bladder). Now for male patients, it means sticking a small tube through the penis. I fully believe that the male penis evolved to eject stuff OUT (like urine, or little Marines hunting for the Egg), not to be inserted IN with alien stuff. It’s just wrong, and when you violate nature’s law, bad things happen. So last night in the hospital, the good news came, I could be detached from catheter. Hooray, I thought. Finally, FREEDOOOM!! Seriously, there is no way a man can fight dragons and aliens with his penis stuck to a tube! But the news came with two catches. First, I had to undergo “Bladder Training”. It was almost 48 hours since my bladder just went as it wishes, now I had to make sure I have the ability to hold/release my pee at will. Only after I prove I can do this then […]

Read More →

My Sit-com Life Episode – Part 2

Saturday morning, woke up at 6, was thirsty and hungry but could not eat or drink because of the pre-operation fasting rule. (The reason: if you feel nauseous due to the anesthesia, you don’t throw up at the doctors). So I showered, thinking this might be my last shower for the next 24-48 hours. Arrived the Siloam hospital at 7 am. Did some paper works (ensuring you don’t just run butt-naked from op-room without paying) and then I was sent to my room to wait for the operation. As I waited, suddenly the doctor-on-duty pop in to do preliminary check. You know, the basic stethoscope, heartbeat, and chit-chat. Now, she is a young cute Chinese doctor, with long lustrous black hair… Did I mention that my girlfriend was there with me? So yeah, I had to play it cool and all. Didn’t want any trouble before the operation, as if knife near balls isn’t big trouble already. Although when the doctor left the room, my gf promptly said, “I’m sure if I wasn’t here you would have flirted with her”. I guess we dated for too long…. A little while later, a nurse handed me liquid soap and told me to shower. Had I known this I wouldn’t have showered at home. It was an antiseptic soap – probably required to ensure I am germ-free for the operation. 9 am, the op-room nurse came to pick me with a wheel […]

Read More →

My Sit-com Life Episode – Part 1

Sometimes I think my life does resemble a sit-com series, more of “Seinfeld” and “How I Met Your Mother” combined. Like the latest event in my life… It began 3 weeks ago, when I started to feel a hint of pain, near the groin. My first reaction: “Crap, I hope this is not hernia again”. Back in 2004, I had a hernia operation – in Melbourne, Australia, when I was doing my Masters degree. Hernia is simply a tear in your abdomen wall, which allows internal organs to protrude, sometimes even visible from outside. I got hernia because I lifted up a heavy suitcase when leaving for Australia. Thanks to student medical insurance, I could get operated there free of charge. The thing about hernia operation is NOT the operation itself. Back then, I did not even need to be hospitalized. Surgery in the morning, and in the afternoon, shoo-shoo, get out! Yup, I guess the Australian medical world is that efficient. It’s the POST-operation period. Since the surgeon stitched/put a mesh on the tear, there was a wound inside. Now, a simple cough or sneeze that moved the abdomen feels like someone put a hot iron through your abdomen. I’m not joking. It hurts like friggin’ hell. So when a similar pain occurred 3 weeks ago, I thought, “Oh no, not again”. So off I went to see the doctor. First, a digestive surgeon. Nope, no hernia. I felt […]

Read More →

Spesies Paling Penakut

Takut mati, takut miskin, takut istri, takut suami, takut bos, takut bodoh, takut terlihat bodoh, takut diomongin, takut tetangga, takut penjahat, takut ditipu, takut mertua, takut menantu, takut menganggur, takut kawin, takut telat kawin, takut sendirian, takut jomblo, takut sukses, takut polisi, takut pacar, takut anjing, takut gelap, takut neraka, takut Tuhan, takut setan, takut telat, takut kecepetan, takut hamil, takut gak bisa hamil, takut pemerintah, takut ormas, takut teroris, takut bom, takut neraka, takut kalah, takut menang, dan sejuta rasa takut lainnya. Kita adalah spesies tercerdas di planet ini, dan juga spesies dengan rasa takut terbanyak. Tetapi, kita juga spesies dengan kisah keberanian terbanyak. Dari yang menantang maut: si prajurit yang berani mati menembus desingan peluru, si pemadam kebakaran New York saat 9/11, orang asing yang terjun ke laut menyelamatkan orang tenggelam yang tak dikenalnya. Sampai yang menantang reputasi dan kecaman masyarakat: Martin Luther King yang melawan rasialisme, Ibu Siami yang membongkar praktik menyontek massal. Atau sampai hal-hal yang terkesan remeh sekalipun: si kecil yang berani masuk sekolah di hari pertama, ataupun si karyawan fresh graduate yang memberikan presentasi pertamanya. Maka “Berani” adalah kata sifat yang membutuhkan “Takut”. Di dalam hidup yang tidak ada rasa takut, maka “berani” adalah konsep yang tidak berharga, tidak relevan, dan bahkan mungkin tidak ada. Jadi betul kata-kata bijak “Courage is not the absence of fear, it is the action despite of it” Menjadi berani bukannya menghilangkan rasa takut. Menjadi berani adalah menjadi manusia […]

Read More →

Ibu Siami, dan Kejujuran Yang Terusir Itu

Shock membaca, dan menonton, berita tentang Ibu Siami. Seorang ibu yang berani menentang dan mengungkapkan ketika sekolah putranya malah menganjurkan melakukan “nyontek massal”. Alih-alih dibela, justru Ibu Siami dicerca oleh warga sekitar, dan bahkan sampai DIUSIR dari tempat mereka tinggal. Dalam wawancara dengan MetroTV, Ibu Siami berkata bahwa ia terpaksa mencari kontrak atau kosan karena tidak berani kembali ke rumahnya. (Buat yang belum tahu: klik di sini: Nasib Ibu Siami) Bagi gw, pejabat, aparat, atau wakil rakyat korupsi, mencuri, bertindak tidak etis – itu sudah hal biasa. Juga sudah biasa kalau mereka berusaha membungkam pihak-pihak yang mau membongkar kebusukan itu. Namanya juga penjahat, ya wajar tidak mau ketahuan. Tetapi yang membuat gw shock adalah, bahwa WARGA SETEMPAT justru mendukung tindakan mencontek massal tersebut, dan bahkan menganiaya pihak yang mau menyuarakan dan memperjuangkan hal yang benar. Ini baru luar biasa. Selama ini kita terbiasa dengan dikotomi Kebaikan vs. Kejahatan, dengan meletakkan masyarakat sebagai “Kebaikan”, dan para koruptor, wakil rakyat penjahat, teroris, pengusaha hitam, dan pemerintah zalim sebagai “Kejahatan”. Masyarakat adalah korban, kaum teraniaya, melawan sekelompok setan  jahat. Maka gw pun shock berat kali ini, ketika justru “masyarakat” terang-terangan berusaha menindas suara jujur, suara yang melawan praktik yang salah. Ada apa dengan “masyarakat”? Teori pertama berkata, ini semua salah pemimpin. “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Karena rakyat hanya meneladani pemimpinnya. Pemimpinnya korup moral, maka wajar kalo rakyatnya korup moral juga. Gw percaya bahwa ada efek “teladan pemimpin”, tapi menurut gw ini […]

Read More →

Kisah Dedikasi Di Tengah Himpitan

Ini cerita yang dialami pacar gw, bukan gw… tapi menyentuh gw banget, makanya gw merasa harus menshare ini. Jadi ceritanya siang ini pacar gw bersama koleganya mengambil taksi Blue Bird di jalan TB Simatupang. Sang pengemudi berusia kira-kira 40 an. Sepanjang perjalanan si pengemudi bernama pak Bambang S. ini terkesan ramah. Dia sempat mengeluhkan soal ormas-ormas preman yang kerjanya hanya memalak orang kecil seperti dia. Tiba-tiba di tengah jalan, handphonenya berbunyi. Pak Bambang mengangkat dan segera berujar “Nanti ya, bapak lagi bawa penumpang”. Tetapi sebelum sempat menutup pembicaraan, tampak bahwa si penelepon punya masalah serius, dan tiba-tiba suara pak Bambang berubah: “Kenapa?? Sudah, bawa dia ke rumah sakit! Kamu jangan panik, bawa dia ke rumah sakit terdekat!” Pacar gw pun bingung, saling liat2an dengan koleganya, dan menanyakan kalau pak Bambang ada masalah dan perlu pulang. Pak Bambang diam saja, terus menyetir dengan tenang walaupun pelan-pelan melambat sambil menyalakan lampu sinyal ke kiri. Dan pacar gw melihat dari kaca spion mata pak Bambang memerah dan berkaca-kaca. Kemudian pak Bambang merapat ke pinggir jalan dan berkata, “Maaf ya bu, anak saya anfal, saya tidak bisa melanjutkan perjalanan”. Pacar gw pun berkata tidak apa-apa karena bisa melanjutkan dengan taksi lain. Pak Bambang berkata, “Bu, jangan di sini, saya akan carikan tempat yang ibu gampang cari taksi” Akhirnya taksi melaju lagi, dan akhirnya berhenti di showroom Nissan di arteri Pondok Indah. Pak Bambang kemudian turun dari taksi, dan segera oleh 2 penumpang perempuannya pak Bambang […]

Read More →

Tentang Peti Mati Dan “Yang Penting Ngetop!”

Jadi kemarin media massa, khususnya Twitter, heboh dengan kedatangan peti mati di berbagai tempat. Kebanyakan yang mendapat adalah kantor-kantor media massa, bahkan konon ada individu yang juga menerimanya. Tentunya terjadi kehebohan. Tuduhan pertama adalah ini merupakan aksi teror terhadap media massa supaya tidak ‘vokal’ bersuara. Sempat ada headline di detik.com “DPR Perintahkan Usut Teror Peti Mati”. Beberapa orang sudah curiga bahwa ini adalah publisitas marketing. Dan benar saja, di siang hari, pelakunya mengakui bahwa ini adalah sebuah promosi buku tentang advertising. Bukunya sendiri akan membahas tentang ‘kematian’ advertising tradisional dengan lahirnya word-of-mouth marketing. Dan pengiriman peti mati ini rencananya adalah contoh kekuatan “diomongin” vs. “diiklankan”. Diomonginnya sih bener kejadian. Masalahnya, kayaknya si pelaku ini gak bisa ngebedain antara sekedar “diomongin”, dan “diomongin secara POSITIF”. Dan yang kejadian kemarin, si pelaku memang “diomongin”, tapi isinya jauh dari positif. Bahkan berujung dengan dia diperiksa polisi. Peti mati bukan sembarang benda untuk dikirim sebagai mainan. Kematian adalah topik yang menakutkan secara universal, dan bagi banyak orang simbol peti mati membangkitkan banyak kenangan sedih dan menyakitkan. Karena peti mati berukuran anak kecil, banyak karyawan wanita, khususnya ibu, yang tentunya shock melihatnya. Tragisnya, di kantor Detik.com yang juga menerima peti itu, ternyata salah seorang karyawan baru saja kehilangan anaknya yang meninggal dunia di hari yang sama. Dan trik marketing yang sudah tidak lucu itu berubah menjadi tragedi yang menjijikkan. Sang pelaku mengklaim diri sebagai pionir word of mouth (WOM) marketing. Tidak hanya klaim ini menggelikan, […]

Read More →

Calon Pemimpin Impian – Sebuah Rekaan Perjalanan

Punya presiden yang tidak decisive, ribet dengan citra diri sendiri. Bendahara partai yang katanya hobi ninggalin amplop. Menteri yang gak becus dan hanya menjalankan agenda partai/pribadinya. Calon bupati yang ‘murah hati’ bagi-bagi uang sedekah menjelang pilkada. Ah, hanya serangkaian kecil dari begitu banyak masalah politik sehari-hari di negeri ini. Berhubung melihat realita negeri ini hanya bikin kheki (eh, kalian yang muda masih tau kata “kheki” gak sih? :D), mendingan gw berkhayal aja deh. Gw mau mengkhayalkan seorang politisi yang asik dan ideal, seorang politisi “impian” menurut standar gw. Dan karena gw bego politik, tentunya ini hanya rekaan asal saja, tidak perlu dibahas serius 🙂 Si politisi impian ini (gimana kalo kita kasih nama “Mas Boy”? :D) termotivasi masuk politik karena gabungan semua emosi negatif: SEDIH, KECEWA, MARAH, DAN IRI-HATI. Mas Boy sedih, karena melihat bangsa ini begitu besar, begitu banyak potensi, tapi justru lebih lemah dibanding tetangga-tetangganya. Kecewa, kecewa dengan pemerintahan sekarang yang tidak berpihak pada rakyat. Marah, dengan korupsi yang semakin tidak tahu malu, dengan wakil rakyat yang sibuk jadi calo dan jalan-jalan ke luar negeri. Iri hati, dengan para bapak/ibu bangsa, yang lebih muda dari Mas Boy tapi sudah berkarya begitu banyak untuk negeri. Mas Boy masuk dunia politik karena terusik. Bukan karena melihat kesempatan mengejar duit dan takhta. Mas Boy datang dari keluarga yang mengajarkan anak-anaknya sejak kecil tentang pentingnya memberi sesuatu ke dunia, bukan bagaimana mengambil sesuatu dari dunia. Materi penting, tetapi reputasi dan hati nurani […]

Read More →