Why I Love Donald Trump’s Slogan

Whether you like it or not, our view of the world will to certain extent be influenced by our profession. The economist will see life with some bias towards economics lens. The military guy will see current affairs through geopolitical power struggle lens. Me? I am just an advertising guy whose daily obsession is how to make people buy my client’s stuff. And I too will have a way when looking at the world, as my advertising background colors my lens. Now, I am not an American, and I am not following closely the American presidential election. But as an advertising guy, I can’t help noticing candidates’ slogan. And regardless of my attitude towards Donald Trump as presidential candidate, I had to say I think his choice of slogan is clever. Now this could be the typical post-rationalization thing (it is always easier to explain a success than predicting one), I know, but I just want to explain why I love “Make America Great Again” (and its derivatives). First, the slogan has a compelling structure: MAKE AMERICA [INSERT POSITIVE ADJECTIVES HERE] AGAIN I think the above structure is clever because in ONE sentence, it communicates several narratives: American was ONCE ideal, a better country than it is now. Just drop any positive word there: great, safe, strong, prosperous, peaceful, etc. Make America Great Again. Make America Safe Again. Make America Strong again. Make America Prosperous Again. Make America Work Again. Immediately […]

Read More →

Tentang Peti Mati Dan “Yang Penting Ngetop!”

Jadi kemarin media massa, khususnya Twitter, heboh dengan kedatangan peti mati di berbagai tempat. Kebanyakan yang mendapat adalah kantor-kantor media massa, bahkan konon ada individu yang juga menerimanya. Tentunya terjadi kehebohan. Tuduhan pertama adalah ini merupakan aksi teror terhadap media massa supaya tidak ‘vokal’ bersuara. Sempat ada headline di detik.com “DPR Perintahkan Usut Teror Peti Mati”. Beberapa orang sudah curiga bahwa ini adalah publisitas marketing. Dan benar saja, di siang hari, pelakunya mengakui bahwa ini adalah sebuah promosi buku tentang advertising. Bukunya sendiri akan membahas tentang ‘kematian’ advertising tradisional dengan lahirnya word-of-mouth marketing. Dan pengiriman peti mati ini rencananya adalah contoh kekuatan “diomongin” vs. “diiklankan”. Diomonginnya sih bener kejadian. Masalahnya, kayaknya si pelaku ini gak bisa ngebedain antara sekedar “diomongin”, dan “diomongin secara POSITIF”. Dan yang kejadian kemarin, si pelaku memang “diomongin”, tapi isinya jauh dari positif. Bahkan berujung dengan dia diperiksa polisi. Peti mati bukan sembarang benda untuk dikirim sebagai mainan. Kematian adalah topik yang menakutkan secara universal, dan bagi banyak orang simbol peti mati membangkitkan banyak kenangan sedih dan menyakitkan. Karena peti mati berukuran anak kecil, banyak karyawan wanita, khususnya ibu, yang tentunya shock melihatnya. Tragisnya, di kantor Detik.com yang juga menerima peti itu, ternyata salah seorang karyawan baru saja kehilangan anaknya yang meninggal dunia di hari yang sama. Dan trik marketing yang sudah tidak lucu itu berubah menjadi tragedi yang menjijikkan. Sang pelaku mengklaim diri sebagai pionir word of mouth (WOM) marketing. Tidak hanya klaim ini menggelikan, […]

Read More →