Memilih, Golput, dan “Jalan Ketiga”

Pemilu legislatif sudah tinggal beberapa hari lagi. Di social media pun ramai memperbincangkan apakah golput atau nggak. Yang pro golput nafsu dan berapi2 menolak memilih. Yang mengajak agar tidak golput pun juga sama napsunya. Pokoknya bulan ini bulan penuh hawa napsu. Loh. Mari kita mendengar argumen untuk golput. Sebagian besar argumen golput adalah skeptisisme terhadap partai, atau bahkan keseluruhan dunia politik di Indonesia. Semua partai dan caleg dianggap kacrut, korup, dan rampok. Jadi what’s the point memilih? Sebaliknya mereka yang mengajak untuk memilih berusaha meyakinkan, masih ada caleg yang baik, masih ada “orang baik” yang bisa dipilih. Bahkan ada yang bernada intimidatif, “Kalo golput gak usah komen soal pemerintah nanti!”. Galak cuuy…. Saya pernah menganalogikan bahwa memilih di antara semua pilihan yang jelek ibarat mau menikah. Kalau semua calon suami jelek, masak memaksakan menikah? Harusnya menikah karena memang bertemu calon yang beneran dianggap oke, iya kan? (Eh maaf kalo analogi ini menyinggung, ada yang berasa. Jeng jeng…) Ketika gw mengutarakan analogi di atas di Twitter, ada jawaban follower yang menarik. Kira2 dia berkata seperti ini: “Analoginya gak pas, mas. Kalau di Pemilu, biarpun kita gak memilih, TETEP AJA KITA DINIKAHKAN” Okeh. Doi bener juga sik. Ahaha aha ha. (Ketawa getir). Di pernikahan pada umumnya, kalau memang kita tidak mau, ya tidak jadi menikah. Di Pemilu, kita nggak mau memilih pun, ya ujung2nya “tetep menikah”, karena toh kita akan hidup di bawah pemerintahan yang baru. (Kecuali kita niat banget hijrah ganti […]

Read More →