Surat Untuk Kaum LGBT

Kepada kaum LGBT di Indonesia, sesama manusia dan saudara sebangsa. Saya menuliskan ini, karena kepikiran dengan segala pemberitaan, isu, rumor, sampai fitnah yang berkembang akhir-akhir ini menyangkut kamu. Saya pernah membaca, “Privilege is invisible to whose who have it”. Hak istimewa (privilege) tidak terlihat dan dirasakan oleh orang yang memilikinya. Menjadi orang kulit di putih di AS tidak merasakan privilege berkulit putih, karena mereka tidak pernah menjadi kulit hitam atau kuning yang harus menghadapi rasisme. Menjadi pria di dunia korporat mungkin tidak merasakan privilege berpenis, karena mereka tidak pernah menjadi perempuan yang harus menghadapi diskriminasi gender. Menjadi Sarjana mungkin tidak merasakan privilege akses pendidikan tinggi, karena tidak pernah merasakan menjadi mereka yang untuk menyelesaikan SD saja susah sekali. Memiliki orientasi heteroseksual mungkin membuat saya tidak menyadari memiliki privilege itu, karena saya tidak pernah merasakan menjadi minoritas yang memiliki orientasi seks yang berbeda. Tetapi saya tetap memberanikan diri menulis surat ini kepada kamu. Walaupun saya memiliki orientasi seks “mayoritas”, toh saya memiliki etnis dan keyakinan minoritas, dan juga pernah menghadapi kebencian, pelecehan, dan hinaan. Mungkin saya bisa berempati denganmu, walau hanya sedikit. Mungkin. Akhir-akhir ini ada begitu banyak prasangka, kecurigaan, dan kebencian yang beredar terhadapmu. Mungkin sebagian dari kamu kaget, bahkan teman, kolega, atau keluargamu yang kamu pikir selama ini baik kepadamu, bisa tiba2 ikut menyebar postingan WA, FB, atau social media lain yang menggambarkan kamu seolah2 bukan manusia, lebih rendah dari binatang, atau penderita sakit menjijikkan yang harus dijauhi seperti kalau tidak menular. Sebagian besar dari orang yang membencimu, adalah karena […]

Read More →

Melemahnya Spesies Kita: Antikuman, Bully, dan Blokir

Apakah spesies kita, Homo Sapiens, mengalami pelemahan? Dan tragisnya, kemajuan teknologi dan peradaban kita lah yang melemahkan diri kita sendiri. Pikiran ini muncul saat gw pertama kali membaca artikel tentang hubungan meningkatnya penggunaan produk-produk “antikuman” dengan kasus alergi dan asma. Alergi dalam penjelasan sederhananya adalah imunitas yang LEBAY. Misalnya, dalam kasus alergi debu atau serbuk bunga. Debu atau serbuk bunga yang sebenarnya harmless, tidak berbahaya, bagi sebagian orang dianggap musuh besar, sehingga timbul reaksi bersin terus2an. Terus apa hubungannya dengan penggunaan produk2 antikuman, seperti sabun antikuman, tisu antikuman, gel antikuman, dan sejuta produk antikuman lainnya? Para ilmuwan sudah lama mencurigai bahwa meningkatnya kasus alergi di antara anak-anak di negara maju adalah karena meningkatnya penggunaan produk antikuman di rumah tangga. Fenomena ini disebut “The Hygiene Hypothesis”: semakin higienis dan steril tempat anak bertumbuh, maka semakin besar resiko sistem imunitas si anak menjadi lebay, dan akhirnya makin rentan alergi. Sistem imunitas adalah sistem yang “belajar”. Tidak ada manusia yang terlahir dengan sistem imunitas dengan paket antivirus komplit. Sama dengan antivirus komputer, databasenya harus selalu diupgrade, begitu juga seorang manusia membangun database “musuh” secara gradual, sejak kecil. Secara sederhana, Hygiene Hypothesis berkata bahwa lingkungan anak yang terlalu steril membuat sistem imunitasnya tidak “berkenalan” dengan macam-macam mikroorganisme. Produk antikuman membunuh semua jenis mikroba, padahal sebenarnya ada mikroba baik di luar sana yang juga harus dikenal oleh sistem imunitas. Akibatnya, ketika bertemu hal sederhana seperti debu, bulu kucing, atau cowok buaya, sistem imunitasnya literally menjadi NORAK dan bereaksi lebay – dan timbul […]

Read More →