Masih Adakah Kesetiaan (Pelanggan)?

Akhir2 ini, gw kembali menggunakan taksi Blue Bird. Ini merupakan “balikan” gw yang cukup signifikan, mengingat dalam beberapa bulan terakhir, gw sempet memilih menggunakan Uber saja. Gw hanya memakai Blue Bird karena kepepet: Misalnya Uber sedang tak terlihat atau kena surge pricing yang keterlaluan, atau gw harus awe-awe (terjemahan: melambai2, bukan Oum Awe yang kontroversial di Twitter!) di jalan. Tetapi jika […]

Read More →

Customer is King, But Not Necessarily The Smartest

“Customer is King”, so goes the old adage. In the marketing world, this expression has almost never gone unchallenged. There are companies who will do anything to know what the customers want, through extensive consumer research and survey. The problem that I had is, a lot of important marketing strategic decisions were let to customers to decide, because, well, they are “King”. Unfortunately, this blind interpretation of “customer is King” often costs companies great innovation opportunities, or great communication ideas. Let me explain this by first proposing a further interpretation of “customer is King”. Customer is King, but the King is not necessarily the smartest person in the country. There, I said it. To me customer is King means companies should act in the best interest of the customers. Because that’s how companies retain their customers and keep the business. But it is not the same with treating the King (customers) as the smartest people in the world, or as marketing experts, because they are NOT. That’s why a King does not have to design its own castles, or train his own army, or design its own weapons. He has competent people in their fields to do all that, and eventually, by letting the experts do their job, the King eventually reaps the benefits himself. Again, let me say it. The King is not the smartest person in the kingdom, and letting him decide on things that are not his expertise may […]

Read More →

Tentang Peti Mati Dan “Yang Penting Ngetop!”

Jadi kemarin media massa, khususnya Twitter, heboh dengan kedatangan peti mati di berbagai tempat. Kebanyakan yang mendapat adalah kantor-kantor media massa, bahkan konon ada individu yang juga menerimanya. Tentunya terjadi kehebohan. Tuduhan pertama adalah ini merupakan aksi teror terhadap media massa supaya tidak ‘vokal’ bersuara. Sempat ada headline di detik.com “DPR Perintahkan Usut Teror Peti Mati”. Beberapa orang sudah curiga bahwa ini adalah publisitas marketing. Dan benar saja, di siang hari, pelakunya mengakui bahwa ini adalah sebuah promosi buku tentang advertising. Bukunya sendiri akan membahas tentang ‘kematian’ advertising tradisional dengan lahirnya word-of-mouth marketing. Dan pengiriman peti mati ini rencananya adalah contoh kekuatan “diomongin” vs. “diiklankan”. Diomonginnya sih bener kejadian. Masalahnya, kayaknya si pelaku ini gak bisa ngebedain antara sekedar “diomongin”, dan “diomongin secara POSITIF”. Dan yang kejadian kemarin, si pelaku memang “diomongin”, tapi isinya jauh dari positif. Bahkan berujung dengan dia diperiksa polisi. Peti mati bukan sembarang benda untuk dikirim sebagai mainan. Kematian adalah topik yang menakutkan secara universal, dan bagi banyak orang simbol peti mati membangkitkan banyak kenangan sedih dan menyakitkan. Karena peti mati berukuran anak kecil, banyak karyawan wanita, khususnya ibu, yang tentunya shock melihatnya. Tragisnya, di kantor Detik.com yang juga menerima peti itu, ternyata salah seorang karyawan baru saja kehilangan anaknya yang meninggal dunia di hari yang sama. Dan trik marketing yang sudah tidak lucu itu berubah menjadi tragedi yang menjijikkan. Sang pelaku mengklaim diri sebagai pionir word of mouth (WOM) marketing. Tidak hanya klaim ini menggelikan, […]

Read More →