Ibu Siami, dan Kejujuran Yang Terusir Itu

Shock membaca, dan menonton, berita tentang Ibu Siami. Seorang ibu yang berani menentang dan mengungkapkan ketika sekolah putranya malah menganjurkan melakukan “nyontek massal”. Alih-alih dibela, justru Ibu Siami dicerca oleh warga sekitar, dan bahkan sampai DIUSIR dari tempat mereka tinggal. Dalam wawancara dengan MetroTV, Ibu Siami berkata bahwa ia terpaksa mencari kontrak atau kosan karena tidak berani kembali ke rumahnya.

(Buat yang belum tahu: klik di sini: Nasib Ibu Siami)

Bagi gw, pejabat, aparat, atau wakil rakyat korupsi, mencuri, bertindak tidak etis – itu sudah hal biasa. Juga sudah biasa kalau mereka berusaha membungkam pihak-pihak yang mau membongkar kebusukan itu. Namanya juga penjahat, ya wajar tidak mau ketahuan.

Tetapi yang membuat gw shock adalah, bahwa WARGA SETEMPAT justru mendukung tindakan mencontek massal tersebut, dan bahkan menganiaya pihak yang mau menyuarakan dan memperjuangkan hal yang benar. Ini baru luar biasa.

Selama ini kita terbiasa dengan dikotomi Kebaikan vs. Kejahatan, dengan meletakkan masyarakat sebagai “Kebaikan”, dan para koruptor, wakil rakyat penjahat, teroris, pengusaha hitam, dan pemerintah zalim sebagai “Kejahatan”. Masyarakat adalah korban, kaum teraniaya, melawan sekelompok setan  jahat.

Maka gw pun shock berat kali ini, ketika justru “masyarakat” terang-terangan berusaha menindas suara jujur, suara yang melawan praktik yang salah.

Ada apa dengan “masyarakat”?

Teori pertama berkata, ini semua salah pemimpin. “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Karena rakyat hanya meneladani pemimpinnya. Pemimpinnya korup moral, maka wajar kalo rakyatnya korup moral juga.

Gw percaya bahwa ada efek “teladan pemimpin”, tapi menurut gw ini bukan satu-satunya penjelasan.  Karena kalau masyarakat memiliki tata-nilai yang hanya pasif mengikuti pemimpin, menurut gw selain naif, ini merendahkan individu-individu masyarakat seolah-olah mereka tidak punya value-system sendiri. Dan kita menjadi seperti sapi yang mengikut saja harus pergi ke mana.

Ada yang menyalahkan sistem pendidikan. Karena sistem pendidikan yang jelek, jadi susah untuk lulus ujian, jadi “contek massal” adalah bentuk kefrustrasian massa. Walaupun mungkin ada benarnya, tetapi seram sekali membayangkan society yang mudah merasa terjustifikasi untuk berbuat curang dan menipu, hanya karena mereka “frustrasi”. Apalagi  ini belum sampai rasa lapar, “hanya” ujian nasional.

Kalau kita mengembalikan ke masyarakat sendiri, tanpa menyalahkan pihak luar, maka potretnya lebih suram lagi. Bagaimana sebuah society secara kolektif kehilangan kompas dan “sense of right and wrong”? Lebih lagi, secara kolektif mencerca mereka yang mau berbuat benar?

Gw meragukan agama, minimal agama yang penuh praktik lahiriah tanpa penghayatan substansi, adalah cara yang efektif mencegah praktik korupsi/ketidak jujuran. Semua pejabat publik disumpah dengan kitab suci saat pengangkatan. Dan jelas bahwa sumpah yang sudah dilakukan secara publik ini tidak efektif. Jelas ancaman neraka/iming-iming surga tidak cukup untuk mengajak orang menjauhi praktik kebohongan.

(Kecuali kalau “tidak jujur” dan “korupsi” dianggap ada di luar ranah agama?)

Maka cemaslah gw, kalau “masyarakat” sudah kehilangan “kompas hati” ini. Gw sendiri nggak tahu apa solusinya.

Mungkinkah ada hubungannya dengan cara kita membesarkan anak? Apakah orang-tua menanamkan tata-nilai yang menghargai kejujuran? Dan ini harus dilakukan oleh orang-tua sendiri, tidak “di-outsource” ke pihak lain: agama, sekolah, dll.

Waktu kecil, orang-tua gw tidak religius, dan tidak pula menakut-nakuti gw dengan surga dan neraka. Tapi gw inget dari kecil mereka menanamkan nilai-nilai dan etika universal, dari hal sepele sampai hal besar. Sejak kecil gw diajarkan harus tepat waktu, tidak boleh telat, apalagi kalo ada janji dengan orang lain (“hargai waktu orang lain” kata bokap). Mereka juga sering mengajarkan konsep “malu” (shame). Dan merasa malu di sini bukan hanya malu kepada pihak eksternal (orang lain, orang-tua, teman, guru, Tuhan, dll), tapi justru malu internal – malu pada diri sendiri. Merasa malu karena sudah berbuat hal yang tidak terpuji, tanpa perlu dilihat orang lain.

Pejabat di Jepang bisa bunuh diri, minimal mundur, kalau dianggap lalai dalam menjalankan tugasnya. Mereka punya budaya malu yang kuat sekali.

Ibu Siami dengan penolakannya terhadap “contek masal” yang diikuti dengan pengusiran oleh warga, rasanya menjadi tamparan bagi kita semua. Kenapa kita bisa kehilangan sistem etika internal, atau kompas nurani ini?

Karena dengan mengusir Ibu Siami kita tidak hanya mengusir seorang ibu pemberani. Mengusir Ibu Siami adalah mengusir kejujuran dari dari tata-nilai kita. Dan kalau kejujuran resmi diusir dari negeri kita, maka kita resmi menjadi bangsa pencuri…

Dan gw gak rela disebut bangsa pencuri…. 😦

 

Advertisements

Categories: Negeriku

2 Comments »

  1. Mmmm,penanaman nilai dr org tua yg paling penting bang. Saya inget banget,ibu saya itu orang yg sgt menghargai proses,selalu bilang sm saya kwajiban sy cm usaha sungguh2, hasil udah bukan ‘ranah’ saya. Itu salah satu alasan kenapa sy nggak pernah takut nyodorin lembar ulangan yg nilainya (langganan) 1 untuk ditandatangani,karena ibu tahu itu hasil sy yg sebener2nya. Kedengerannya bego gitu ya saya,tapi ajaran ibu gada yg salah 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s