High Cost Economy dan Mahluk Halus

Standard

Pernah denger istilah “High Cost Economy”? Kalo gw gak salah dan gak sok tahu, gampangnya adalah roda perekonomian menciptakan biaya tinggi karena inefisiensi, atau praktik korupsi. Contoh, perusahaan manufaktur yang harusnya biaya bahan bakunya misalnya hanya Rp 1,000 per unit, harus menambahkan biaya produksi karena dipalak di berbagai level: dari level pejabat pusat, pejabat daerah, ormas resek, sampe preman pengkolan. Akhirnya biaya produksi membengkak menjadi Rp 3,000 per unit.Yang rugi akhirnya konsumen, karena harganya jadi lebih mahal dari yang semestinya.

High cost economy juga bisa disebabkan oleh inefisiensi, misalnya infrastruktur yang buruk. Misalnya jalan antar propinsi yang buruk, sehingga biaya transportasi komoditi menjadi lebih lama, sehingga harus membayar jasa shipping lebih tinggi, atau upah driver dan kenek yang lebih besar, atau tambahan asuransi. Begitu juga dapet gebetan yang banyak tuntutan, seperti kalo ngedate harus memakai BBM non-subsidi beroktan tinggi (ini pacar ato pembalap), atau bapaknya yang selalu harus dikasih upeti Dji Sam Soe kalo pulang malem, ini merupakan high cost economy, eh, gebetan.

Jadi, singkatnya, definisi sok tau gw, high cost economy adalah aktivitas ekonomi menjadi mahal secara tidak perlu karena praktik-praktik korup, kolusi, nepotisme, etos kerja/layanan publik buruk, atau infrastruktur buruk. Yang rugi akhirnya konsumen (karena harusnya bisa membeli lebih banyak jika harganya lebih rendah), produsen (karena tidak bisa menjual sebanyak jika ongkos produksi lebih rendah sehingga harga lebih rendah), dan juga pemerintah (transaksi yang lebih sedikit artinya pemasukan pajak lebih rendah, pertumbuhan ekonomi tidak optimal). Gitu lah penjelasan awam gw. (Monggo kalo ada ekonom yang lebih berwenang mau menyanggah atau menambah).

Mari pindah topik.

Jadi ceritanya kemarin, gw menunggui teknisi TV berbayar (gak bisa bilang ‘tv kabel’ karena ini pake parabola). Karena hujan gerimis, gw rada kasihan sama doi, jadi minimal gw temenin lah dia di atap saat memasang antena parabola (honestly, setelah gw pikir2, entah apa manfaatnya buat doi ditemenin sama gw, yang ada malah grogi kalik). Anyway, selesai memasang antena, sang teknisi harus mengukur kekuatan sinyal yang diterima menggunakan semacam alat.

Teknisi: “Nih pak, lihat ya, sinyal yang didapat kekuatannya sekitar 93%-96%”

Gw: “Wah cakep, artinya bagus dong gambarnya ya”

Teknisi: “Ini baru di antenanya aja pak. Nanti sesudah dipasang kabel, di dekat TV harus diukur lagi apakah masih sama”

Gw: “Lah, emang masih bisa berubah lagi….”

Teknisi: “Wah pak, saya pernah diisengin mahluk halus…”

Gw: “Euh….maksudnya….”

Teknisi: “Iya pak. Saya pernah masang antena, sinyalnya bagus di atas. Eh pas turun ke TV, gak ada gambarnya pak….”

Gw: (ngeliatin doi dengan tatapan curiga terhadap suspect pengguna narkoba)

Gw (masih dengan tatapan skeptis): “Lah, kan bisa aja ada penjelasan teknisnya? Masak buru2 nyalahin setan?”

Teknisi: “Beneran pak, semuanya baik2 aja, tapi gambar gak keluar. Terus akhirnya ngobrol sama orang ‘yang ngerti’ nih ya, terus katanya antenanya DITUTUPIN SAMA MAHLUK HALUS iseng pak, jadi gambarnya gak keluar…”

Gw: “Uummm, terus gimana……”

Teknisi: “Saya disuruh naro sajen, secangkir kopi dan rokok….”

Gw: (sebenarnya udah males nerusin, tapi out of curiousity ya udah lah diterusin aja. Soalnya doi tampak semangat banget bercerita)

Gw: “Rokoknya disulut, atau dibiarin aja?”

Teknisi: “Dinyalain pak. Wah, gak sampe 2 menit udah habis…”

Gw: “LAH KAN BISA AJA ROKOKNYA KENA ANGIN MAKANYA CEPET ABIS……” (sisi rasional gw mulai emosi….)

Teknisi: “Pak, ini Sam Soe. Mana ada Sam Soe abisnya secepet itu pak……. Mana terima rokok biasa pak”

(Gw udah males nanyain apakah kopinya harus kopi Starbucks, Lavazza, atau kopi luwak. Bukan cuma mereknya, tapi emang kopi yang keluar dari eeknya luwak….)

Teknisi: “Habis dikasih rokok dan kopi, tv-nya nyala bagus pak. Percaya gak percaya juga saya, tapi ya berhasil pak.”

And then it hit me. Pantes aja bangsa ini gak pernah bisa lepas dari high cost economy. LAH MAHLUK HALUS AJA MINTA UPETI URUSAN PASANG PARABOLA DOANG, apalagi mahluk gak halus dan punya massa atau jabatan tinggi?!

Mau bangsa ini beres? Tidak cukup pembangunan infrastruktur dan reformasi aparatur negara. Jajaran mahluk dunia lain juga harus direformasi. Sekian dan terima kasih.

Mengapa Hanya Gen-X Yang Akan Selamat Dari Zombie Apocalypse

Standard

Hari ini gw menyadari bahwa jika zombie apocalypse melanda, bisa dipastikan hanya Gen-X (lahir dari tahun 1960-1980) dan MUNGKIN, SEBAGIAN dari Millenial (lahir dari tahun 1980-2000), yang akan survive. Oke lah, tambahkan Baby Boomer yang relatif sehat. Kalo Gen-Z rasanya sudah pasti punah.

Jadi ceritanya, saat beres-beres untuk pindah rumah, gw menemukan sebuah radio. It’s a good ‘ol radio, masih bisa nangkep radio FM dan AM. Bahkan masih menyisakan tempat kaset. Yang penting, radio ini masih berfungsi sangat baik.

Kebetulan karena kami memiliki ART (Asisten Rumah Tangga) baru yang berasal dari Pemalang (dengan usia Millenial muda), gw pikir radio ini akan gw pinjamkan saja ke dia. Lumayan kan, kalo malem2 di kamar dia bisa dengerin Wednesday Slow Machine (masih ada gak sih acara ini?), minimal update harga cabe kriting.

Percakapannya seperti ini.

Gw: “Nur, sinih”

Nur: “Iya pak”

Gw: “Ini saya ada radio tidak terpakai. Kamu bawa saja ke kamar, untuk hiburan”

Nur dengan ekspresi bingung: “Makasih pak. Tapi, SAYA TIDAK TAHU CARA PAKAINYA PAK” (penekanan caps lock dari penulis blog ini)

Gw: (butuh tiga detik untuk mencerna ini semua)

Gw lagi: “GIMANA GIMANA?! KAMU GAK TAHU CARA PAKAI RADIO?! EMANG KAMU DENGER LAGU GIMANA CARANYA??” (Penekanan caps lock masih dari penulis blog ini)

Nur: “Saya download lagunya pak, pake hape”

Gw: *berkunang-kunang*

Masih gw, sambil memunguti serpihan harga diri yang berceceran: “Ya udah, sinih saya ajarin cara memakai radio. Kan lumayan buat dengerin lagu, dan um, orang ngobrol….” (apa kabar dijeeeee….)

Maka gw menghabiskan tiga menit berikutnya mengajarkan konsep tombol “on/off” di radio, dan mencari stasiun radio dengan kenop Tuning. Plus bahwa antena radio harus digeser2 untuk mendapatkan suara terbaik.

Dan akhirnya terpikirlah oleh gw. Jika terjadi zombie apocalypse, dan sambungan internet padam karena umumnya zombie tidak tertarik membayar tagihan, maka yang bisa survive hanyalah kami Gen-X ini (plus Baby Boomer yang masih sehat). Kami masih bisa mengoperasikan radio jadul, masih bisa menggunakan kaset untuk berkirim pesan suara sayang2an atau sekedar mendengar album Chrisye jadul. Tanpa internet, kami masih bisa menggunakan mesin tik untuk berkirim surat dan mengundang rencana nongkrong 2 minggu lagi (kasih waktu seminggu surat nyampe dan seminggu lagi surat dibalas). Tanpa smartphone, kami masih bisa pakai telepon umum (masih ada yang berfungsi gak sih). Ketika social media tidak bisa diakses, kami bisa kembali ngobrol analog dengan tetangga, minimal dengan mbak-nya. Tidak ada lagi twitwar atau perang hoax, semua diselesaikan dengan musyawarah, atau parang. Gak perlu WordPress untuk mencatat isi hati, karena masih bisa menulis tipis tebal di Moleskin kami. Atau buku AA. Atau Kiky production.

Kami adalah generasi yang melintasi era analog, bolpen, pita mesin tik – dan turut masuk ke era online, internet, dan social media. Dalam situasi zombie apocalypse di mana ISP memutus langganan internet semena2 karena kami gak bayar, Gen-X masih akan survive, have a good time, dan dengerin radio.

Dan sesudah merenungkan hal di atas, maka kiamat zombie tidak terasa seseram itu lagi.

Nur, kalo kamu membaca blog ini, terima kasih sudah bikin bapak merasa tua.

Review Awam LG V20, “The Beast” 

Standard

Okay, sesudah sempat break dari review gadget dengan mereview status ke-ayah-an (ada gak sih kata “ke-ayah’an”? Ini maksudnya terjemahan dari “fatherhood”….), saatnya kembali ke review hape. Kali ini, gw berkesempatan mereview smartphone kategori phablet anyar dari LG, yaitu V20. Terima kasih kepada LG untuk unit reviewnya!

Disclaimer bagi yang pertama kalinya membaca review gw: Review ini adalah “review awam”, yang artinya dari perspektif pengguna umum sehari-hari, bukan dari perspektif “pakar gadget”, “pengamat gadget”, ataupun “konsultan gadget”. Jadi kalau yang mengharapkan review detail banget, jangan dari post ini ya. Review ini bener-bener dari perspektif user umum untuk user lainnya.

Disclaimer sudah diberikan, maka mari kita lanjut dengan review LG V20!

Si Penantang di Kelas Premium/Flagship

Di segmen smartphone premium (kelas Rp 7 juta ke atas), praktis pertempuran dikuasai dua raksasa besar, yang mewakili dua “agama” besar. Samsung mewakili Android, melawan iPhone mewakili iOS. Kedua raksasa ini bagai terlibat perang besar, dan para pengikutnya terkadang saling menista satu sama lain (tapi gak sampai berakibat demo atau video editan sik).

Masuk subsegmen premium phablet (phone tablet, atau smartphone dengan layar 5.5 inch ke atas), model yang bertarung di Indonesia ya biasanya hanya seri Note dari Samsung, melawan seri Plus dari iPhone (iPhone 6+, iPhone 7+). Di tahun 2016, kemalangan menimpa seri Note yang populer, dengan insiden baterai terbakar. Di akhir 2016, segmen phablet premium terkesan tidak diwakili oleh jagonya Android (Galaxy S7 Edge sebenarnya sudah masuk phablet, tapi kita anggap dia keluaran paruh pertama 2016).

Dan datanglah penantang baru dari agama Android, yaitu LG dengan V20-nya.

LG mulai menarik perhatian gw saat tahun 2015 mereka mengeluarkan flagship G4 mereka. Saat itu, mereka menciptakan terobosan dengan lensa bukaan terbesar di saat itu (f/1.8), dan desain leather back yang sangat unik. G4 kemudian disusul V10 yang cukup menarik perhatian para tech blogger di luar negeri, tapi sayangnya rasanya tidak masuk resmi ke Indonesia.

Kemudian di awal 2016, G5 diluncurkan, dan sempat membuat banyak orang mangap. G5 tiba2 menawarkan konsep modular di mana “pantat” G5 bisa dicopot dan dipasangkan modul2 lain (seperti camera grip, speaker, dll).

lg-g5-6169-source-cnet

LG G5 dengan konsep modular. Sumber: cnet

Ini eksperimen sangat berani dari LG, dan jadi pertaruhan besar apakah pasar mau (dan siap) menerima konsep modular. Sekarang kita tahu bahwa G5 tidak bisa dibilang sukses. Dan tampaknya konsep modular tidak akan dipertahankan, mengingat akhirnya adiknya V20 keluar dengan konsep klasik. V20 dengan display 5.7 inch praktis menjadi jago-nya Android di segmen premium phablet yang diluncurkan di akhir tahun lalu.

 

The Beast!

20170114_113220

 

Apa kesan pertama gw mengenai LG V20? It’s THE BEAST! Dan walaupun gw kurang suka membahas spec di awal, tapi ini perlu untuk menjelaskan kenapa bagi gw V20 layak disebut “The Beast”. Coba lihat saja list berikut:

  • Display besar 5.7 inch, DITAMBAH second screen satu baris di atasnya.
  • Layar besar ini memiliki resolusi QHD (jauh di atas Full HD), dan berakibat kerapatan pixel makin besar.
  • Body aluminium alloy dari bahan untuk pesawat terbang, dan mendapat sertifikasi Mil-Std. Ini artinya V20 mendapat sertifikasi anti shock/jatuh dengan standar militer AS. DAN GW ORANGNYA SUCKER (gampang kemakan) SAMA SEGALA SESUATU YANG DIBILANG MILITARY STANDARD/GRADE. KALO ADA YANG JUAL “MILITARY STANDARD PENSIL ALIS” JUGA GW BELI KALIK.
  • Audio setting oleh Bang & Olufsen, dengan support Quad DAC. Dan dikasih earphone Bang & Olufsen juga. Horang kayah pasti tahu brand hifi premium Bang & Olufsen ini.
  • Internal storage 64GB. Boleh gw ulang? ENAM PULUH EMPAT GIGABYTE BRO. Semua video bersama mantan sih masuuuk. Belom lagi masih ada Micro SD yang bisa dipasang sampe 256GB tambahan storage (masalahnya mahal aja Micro SD ukuran segitu….)
  • Dual Camera di belakang (16MP main camera + 8MP wide angle camera), dengan laser autofocus dan Optical Image Stabilizer.

Kalo ngeliat list spec di atas, harusnya jadi ngerti kan sekarang kenapa gw menyebut V20 as “The Beast”? Karena segala sesuatu tentang smartphone ini serba ‘lebay’, ‘kuat’, dan ‘kenceng’. Kalo hape ini jadi orang, menurut gw doi bakal jadi Dwayne “The Rock” Johnson!

Nah, itu tadi general impression dari V20. Mari kita bahas lebih mendetail ya.

Design

Analogi The Rock bener2 pas buat smartphone ini. Karena kesan pertama saat dipegang adalah…..hape ini gede. Banget.

20170108_162825

This is a HUGE phone.

Sekarang pikirin aja. Display udah 5.7 inch, dan masih ada second screen di atas. Walaupun LG sudah memberikan bezel yang relatif tipis (which is well done, by the way), ya tapi tetep aja gede.

Tetapi yang menarik adalah, saat dipegang, V20 tidak terasa seperti megang batu bata siap untuk dilempar ke tawuran alay. Kok bisa? Rahasianya menurut gw adalah di berat dan ketebalan. Somehow V20 bisa didesain dengan bobot yang ringan dan body yang tipis. Sehingga saat dipegang, walaupun penampang (eh kalian masih ngerti kata “penampang” gak sih?) V20 cukup besar, tapi tetap terasa nyaman di tangan. V20 hampir sulit digunakan hanya dengan satu tangan (walaupun kadang2 gw bisa sih).

 

Tidak ada tombol fisik di bagian depan. Fungsi Home, Back, dan Switch Apps berupa icon di dalam display. Sebagian orang akan berkata format seperti ini “menghabiskan layar”. Tapi di sisi lain, gw lebih suka tidak ada tombol fisik apapun, karena gw suka parno kalo tombol fisik bisa macet lah, rusak per-nya lah, atau stuck.

Di belakang, tampak lah kamera dual lens, lampu kilat, dan semacam sensor kamera. Tampak bulatan di tengah yang merupakan power button merangkap fingerprint scanner.

20170108_162747

Apa pendapat gw tentang design dari V20 ini? Definitely masculine. Ini bener2 hape LAKIK (harus pake ‘k’ lagi di belakang biar pol). Model yang gw terima berwarna “Titan”, atau abu2 gelap. Dan kombinasi ukuran, warna, dan designnya bener2 lakik. Entah lah yang berwarna silver atau pink ya. Hanya dengan ukuran sebesar ini, gw gak kebayang dipegang cewek sih.

lg-v20-unveiled-3

Pilihan warna V20. Sumber: LG

Kesan maskulin ini ditambah lagi dengan body aluminium yang setara dengan yang digunakan di body pesawat terbang. Body V20 terasa sangat solid. Kita akan mengira bahwa ini adalah design unibody (tidak ada bagian yang bisa dibuka) karena body yang sangat kokoh, gak ada bagian yang longgar bagaikan gelambir om2. Dan di sinilah kita tertipu….

Rela dibuka2….

Pada sisi kiri, di bawah, ada sebuah tombol kecil. Yang ketika ditekan…

20170108_162859

Tombol apakah ini?

Maka terbuka lah case belakangnya. Dan kita bisa mengakses baterai, dua buah slot SIM Card, dan sebuah slot Micro SD card.

20170108_162925

Tidak banyak smartphone flagship yang masih menyediakan case yang bisa dibuka. Bisa dibilang trend dari flagship models adalah unibody (body yang solid, tidak bisa dibuka sendiri oleh user). Keuntungan unibody umumnya adalah estetika, yaitu design yang sleek dan teorinya bisa lebih tipis, tetapi juga memungkinkan feature water resistant. Tetapi body bisa dibuka seperti V20 ini menawarkan keuntungan lain, yaitu baterai yang bisa digonta-ganti sesuka user. Bagi sebagian orang, lebih praktis untuk menukar baterai daripada sibuk mencari colokan atau memasang power bank. Jika kamu penyuka baterai cadangan, maka V20 memenuhi kebutuhan itu. Selain itu, body yang bisa dibuka artinya slot SIM card dan memory ada di “dalam”, bukan di “samping” seperti umumnya unibody, sehingga tepi V20 tampak lebih “clean”.

Fingerprint scanner di belakang

Biometric security, seperti sidik jari atau retina mata sudah menjadi standar wajib model premium. V20 memberikan fingerprint scanner di BELAKANG. Ini juga pengalaman baru buat gw, yang terbiasa dengan posisi di depan/Home button. Awalnya, terasa canggung, karena si jari belum terbiasa mencari letak fingerprint scanner tanpa melihat. Tetapi dalam beberapa hari, jari telunjuk gw sudah lancar menemukan si “F-Spot” ini.

20170108_162714

Fingerprint scanner di belakang, merangkap power button

Bagaimana performa fingerprint scanner V20. EXCELLENT. Sangat sangat akurat. Dan hebatnya lagi, kita tidak perlu menekan si tombol untuk meng-unlock V20. Cukup menyentuhkan jari ke scanner dengan ringan, dan sidik jari kita sudah terbaca. Fingerprint scanner V20 SANGAT responsif – layar ter-unlocked segera sesudah jari menempel. Sekali lagi, gw lebih suka kalo makin sedikit tombol yang harus “dipijit2” secara mekanikal.

Lobang universal

V20 sudah meninggalkan MicroUSB, dan sudah memakai USB C. Yang pasti keuntungan dari USB C adalah bisa dicolok langsung tanpa memicingkan mata apakah ‘atas’ dan ‘bawah’ sudah bener (KENAPA GAK DARI DULU KEK NGEDESAIN USB LANGSUNG KAYAK USB C?!) Anyway, di masa transisi seperti ini, ada sedikit kerepotan yang timbul, karena umumnya powerbank masih memakai MicroUSB. Jika kita ingin alat2 pendukung dari hape sebelumnya bisa tetap dipakai di V20, kita perlu converter agar mulut Micro USB kita berubah menjadi USB C. Converter ini sudah banyak dijual di toko online.

20170114_105222

Gppdbye Micro USB. Selamat datang era USB C.

Second Screen – Does it work?

Salah satu keunikan seri V dari LG adalah adanya second screen. V20 memiliki dedicated second screen yang tidak bergabung dengan display utama, dengan posisi di atas layar utama.

Jujur aja, sebelumnya gw skeptis mengenai second screen. Gw piker, apaan sih ini, gimmick yang buat lucu2an aja. Emang kepake ya? Dan setelah 3 minggu menggunakan V20 ini, ternyata…..

KEPAKE BANGET.

20170108_163004

Shortcut ke features dan tools: sound mode, wifi, senter, bluetooth, dan screen capture

20170108_163012

Bebas memilih 5 apps favorit yang ingin mudah diakses dari second screen

Dalam tempo 2-3 hari aja menggunakan V20, gw udah terus2an menggunakan si second screen. Karena ternyata menawarkan pengalaman shortcut yang sangat cepat dan praktis. Apa aja sih isinya second screen ini? Ada tiga “halaman”: (1) shortcut ke tools, yang terdiri dari opsi sound (sound, silet, vibrate), wifi, Bluetooth, senter, dan screen capture (ada kamera juga kalau mau tukeran dengan salah satu yang tadi), (2) shortcut apps favorit kita sampai 5 apps, dan (3) ini yang rada aneh, tempat untuk nama kita sendiri. Gw sulit membayangkan scenario di mana kita butuh diingatkan nama kita sendiri. Mungkin saat dini hari sesudah melewatkan beberapa krat bir….

20170108_162954

Ada momen- momen di mana gw lupa nama sendiri dan perlu diingatkan….

Contoh, screen capture ini sangat praktis. Kita tidak perlu repot mencari/menekan tombol khusus, saat ingin screen shot, cukup lakukan dari second screen. Saat ingin mengakses aplikasi favorit, bisa dilakukan tanpa menutup apapun app yang sedang terbuka. Begitu juga dengan menyalakan wifi atau senter, tidak perlu meng-scroll down setting tab di main display. Shortcutting via second screen ini akan cepat sekali menjadi kebiasaan.

Second screen juga bisa menyala terus (always on) walaupun main display sedang posisi locked. Selain tetap sebagai shortcut, saat main display sedang locked maka second screen juga berfungsi sebagai jam dan kalender, dan juga notification window. Kalau mau, maka preview dari pesan WA/SMS yang masuk bisa ditunjukkan di second screen walaupun main display sedang locked. Sangat memudahkan saat sedang sibuk/meeting dan hanya ingin sekedar tahu isi pesan tanpa harus mengangkat/unlock ponsel kita.

Second screen ini juga dioptimalkan lebih dari sekedar shortcut atau tambahan menu, tapi juga menjadi “extension screen” untuk app kamera dan audio recorder. Saat menggunakan kedua app ini, mendadak second screen berubah fungsi menjadi ‘tombol tambahan’. Di kamera, pilihan antara Auto, Manual Camera, dan Manual Video ada di second screen, sehingga pergantian mode bisa dilakukan tanpa mengeluarkan menu setting yang menutup main display. Smart! Begitu juga di aplikasi HD Audio Recorder, second screen berubah menjadi pilihan mode untuk merekam audio.

20170109_200729

Perhatikan second screen di kanan bawah beralih fungsi menjadi extension menu.

Bagi gw, second screen ini surprisingly useful banget. Jadi thumbs up untuk konsep ini.

Display

Mengkomentari display untuk smartphone premium rasanya sia-sia, karena di segmen harga ini rasanya semua display udah cling banget. Tapi sebagai ritual wajib, mari tetep kita bahas.

LG V20 menggunakan display teknologi IPS LCD. Sebagian pembaca mungkin tahu jenis display lainnya yaitu AMOLED. Secara awam, perbedaan antara keduanya adalah bagaimana setiap pixel individu menyala. Di IPS LCD, seluruh pixel menyala (backlit), sementara di AMOLED, setiap pixel bisa menyala/dimatikan. DI atas kertas, AMOLED (harusnya) bisa memberikan warna hitam yang lebih pekat (karena pixelnya bisa dimatikan sama sekali), dan kontras yang lebih baik. Tetapi, kebanyakan pengguna awam sekedar ingin tahu hasil akhirnya saja kan.

20170108_162702

Display begitu tajam, perhatikan detail di mata bayi

V20 jelas memberikan display dengan kualitas sesuai kelas premium. Layar SANGAT terang, bahkan di bawah terang matahari sekalipun. Warna-warna juga tampak cerah. Overall, gw tidak merasakan layar IPS LCD memberikan sensasi yang inferior sama sekali. Ditambah lagi resolusi QHD (1440×2560) yang memberikan kerapatan sampai 513 ppi (bandingkan dengan iPhone 7 Plus dengan kerapatan “hanya” 401 ppi, padahal displaynya lebih kecil – 5.5 inch), maka gambar dan film di V20 akan terasa sangat tajam dan hidup.

Kamera

Sama seperti membahas display, membahas kamera di smartphone premium juga topik yang sulit, mengingat perbedaan kualitas kamera model2 di segmen ini makin menipis. Dahulu, kualitas kamera terbaik di segmen premium masih didominasi Samsung, iPhone, atau Sony. Sekarang, pemain-pemain lain pun mulai ikutan, seperti Google Pixel ataupun LG. So, bagaimana dengan kamera V20?

Sesudah memakai selama 3 minggu, dengan penggunaan kamera yang banyak (kamera memang merupakan fitur smartphone yang paling sering gw gunakan), gw memiliki beberapa komentar positif dan negatif. Let’s start with the good things (semua foto hasil V20 di bawah ini tidak di-edit. Klik pada foto jika ingin memperbesar).

  • Sama seperti second screen, sistem dual camera dari V20 ini harus dicoba sendiri selama beberapa lama untuk bener-bener bisa menilainya. Ada dua kamera utama. Kamera utama 16MP aperture besar f/1,8, dan kamera wide angle (135 derajat) 8MP aperture standar f/2.4. Kamera utama tidak perlu banyak komentar, dengan aperture besar artinya lebih banyak cahaya masuk, dan ini menghasilkan foto low light yang lebih baik, dan ini masih diperkuat dengan Optical Image Stabilizer (yang bisa mengkompensasi goyangan tangan). V20 juga sudah dilengkapi Auto HDR untuk membalance daerah yang sangat terang/gelap di foto. Tapi ada beberapa catatan nanti.

20170108_151824_hdr20161231_10270820161230_08064820161230_080911

20161230_080833

Hasil memuaskan di foto macro/sangat dekat

20170110_191446

Dalam kondisi gelap, kamera utama masih bisa memberikan gambar yang baik

20161228_184103

20170110_223132

Foto ini diambil saat malam dan benar-benar gelap, tapi main camera dengan aperture besar dan OIS tetap efektif

  • Kamera wide angle ternyata sangat BERGUNA. Coba perhatikan foto2 berikut, yang diambil dari posisi yang sama, menggunakan kamera utama dan kamera wide angle. Silahkan diklik di tiap gambar untuk memperbesar.

Perhatikan di bagian pinggir dari gambar hasil wide angle terjadi distorsi yang umum ditemui di wide angle lens. Spec dari wide angle lens memang tidak sebagus main lens (hanya f/2.4, hanya 8MP). Tapi ternyata hasilnya tidak semengecewakan itu. Di siang hari, wide angle lens sama bagusnya. Saat malam dan low-light memang wide angle lens ini akan struggling karena bukaan yang lebih kecil. Tetapi foto indoor di mall masih gak drop banget jika ada cukup cahaya.

Rasanya wide angle camera ini akan sangat disenangi para travelers, khususnya jika ingin menangkap foto lanskap pemandangan atau kota secara lebar.

  • Seamless zooming out. Misalnya kamu memulai mengambil foto dengan main camera. Saat kamu ingin pindah ke wide angle, dengan melakukan pinching ouy (gesture men’cubit’ layar), maka kamu bisa melakukan transisi ke wide angle secara gradual. Atau kamu bisa men-tap icon wide angle dan kamu langsung mendapat wide angle paling ekstrim.
  • Video recording. V20 memiliki fitur EIS (Electronic Image Stabilizer). Teorinya adalah saat merekam video dan kita “heri” (heboh sendiri) sehingga tangan kita tremor/goyang, image stabilizer berfungsi ‘melawan’ itu agar menghasilkan video yang stabil. Electronic Image Stabilizer artinya stabilisasi dilakukan secara elektronik, bukan mekanik (“optical” stabilizer). Sesudah mencoba sendiri merekam video sambal berjalan, jujur saya tidak terlalu merasakan efek EIS ini. Tetapi yang mengejutkan dari video recoring V20 adalah…..
  • ….AUDIO-NYA! Saat gw mendengarkan kembali hasil video dengan menggunakan earphone, gw terkagum dengan rekaman suara yang stereo, bahkan terasa surround. Ternyata hal ini disebabkan V20 memiliki 3 (iyeh, TIGA) microphone untuk merekam suara, sehingga hasilnya adalah rekaman video dengan suara yang benar-benar realistis. Nanti gw akan bahas lebih detil bagaimana V20 benar-benar invest di audio.
  • Total control. V20 memberikan manual mode yang gilaaa. Dari speed, ISO, white balance, sampai focusing bisa diambil alih menjadi manual. Untuk manual focusing, kita akan dibantu dengan semacam pendar hijau di area yang sudah tajam.
20170108_163126

Manual focusing. Perhatikan ada efek “pendar hijau” di obyek yang artinya gambar sudah fokus.

Gw bukan peminat fotografi manual, karena gak sabar dan pengen asal jepret saja – jadi mode auto sudah cukup. Tapi pasti ada saja fotografer yang ingin bisa mengatur sendiri foto mereka. Oh iya manual mode ini juga ada di video recording!

Nothing much to say about selfie camera. Ya bagus aja. Dengan resolusi 5MP, lensa wide, dan aperture f/1.9, V20 memberikan foto selfie yang bagus di outdoor, indoor dengan pencahayaan cukup. Kamera selfie memberikan mode “normal” dan “wide angle”, tapi ini sebenarnya lebih ke trik cropping. Gambar “normal” sebenarnya adalah gambar “wide angle” yang di-crop. Di saat low-light, ketajaman menurun, sesuatu yang cukup wajar.

So those are the good stuff. Tetapi gw juga ada catatan di mana V20 bisa lebih baik:

  • Perpindahan dari kamera belakang ke kamera selfie (dan sebaliknya) terkadang2 terasa agak lama, tidak instan.
  • Focusing yang tidak konsisten. Ada saat-saat di mana V20 kesulitan memfokus dengan cepat, atau berubah focus padahal kita sedang memotret obyek yang sama.

Mengingat spek hardware dari V20 sudah sangat mumpuni, semoga isu2 di atas lebih merupakan isu software yang bisa diperbaiki di upgrade berikutnya.

Overall, seperti gw bilang tadi di atas, si segmen flagship premium, sudah sulit sekali bersaing di hasil kualitas foto. Makanya kita mulai melihat inovasi seperti dual lens di atas. Yang pasti, V20 memberikan kamera yang sesuai dengan ekspektasi di segmennya.

Dicari: Kuping Mahal

Ketika bersaing di kamera mungkin sudah terasa sulit, pengalaman audio bisa jadi ranah persaingan baru. Fitur audio memang selama ini rasanya tidak banyak digarap di smartphone. Di sini, V20 memberikan gebrakan. Audio experience-nya digarap serius:

  • Partnership dengan Bang & Olufsen. Ini. Merek. Prestis. Banget. Kalo gak percaya cek aja harga headphone, amplifier, sound systemnya bro. Udah pake cicilan 24 bulan tetep aja miskin loe. Logo B&O terpampang di back case. Even better, earphone yang diberikan bersama V20 adalah earphone B&O Play. Cowok kalo keliatan ada logo ini di kupingnya naek lah nilai kegantengan beberapa poin.
20170114_104853_hdr

Earphone B&O Play standar untuk V20

  • 32-bit Hi-Fi Quad DAC (cara bacanya gimana sih? Hai-Fai, Hai-Vee, Hoi-Pi, atau gimana? Ini kayak perdebatan klasik gimana menyebut “Wi-fi”…) Okay, gw gak akan sok tahu bahwa gw seorang audiophile, jadi gw cuma bisa cerita basic saja.  DAC adalah singkatan dari Digital-To-Analog converter. Format lagu yang kita nikmati saat ini melalui smartphone adalah format digital. Saat kita mendengarkan menggunakan headphone kabel, format digital ini harus dikonversi menjadi analog menggunakan DAC technology. Semakin canggih teknologi DAC, semakin bagus lah suara yang dihasilkan headphone/earphone. Konon, Quad DAC dari V20 ini bahkan cukup powerful untuk headphone mahal. Efek dari Quad DAC ini hanya bisa dirasakan headphone berkabel, dan tidak untuk yang berkoneksi Bluetooth.
  • So, gimana suaranya? Yaah, karena gw bukan audiophile, buat gw ya bagus banget, apalagi memakai earphone bawaan B&O Play. Bass terasa berbobot, suara berbagai alat musik terdengar jelas. Tapi yang mengejutkan, saat gw memakai earphone sport “murah” sekalipun untuk ngegym, suara yang keluar terasa powerful dan jernih.

Soal audio experience ini tidak semata urusan playback, tapi V20 juga mumpuni untuk merekam audio. Aplikasi High Definition Audio Recording disediakan, memanfaatkan 3 microphone. Menurut penjelasan, V20 bisa merekam audio saat live concert dengan baik, tanpa “pecah” seperti umumnya rekaman standar smartphone. Hal ini karena V20 mampu merekam suara sangat keras (high decibel) sampai 132 dB (sebagai perbandingan, konser musik rock kebisingannya sampai 120 dB, dan suara pesawat jet militer lepas landas adalah 130 dB).

HD Audio Recording ini bahkan bisa merekam track suara kita di atas rekaman musik yang sudah ada. Cocok banget buat yang punya band dan ingin jadi Ariel2an. Cukup rekam dulu musiknya, kemudian gunakan V20 untuk menambahkan suara vocal Ariel2an di musik tersebut, menjadi lagu utuh. Keren kan?

20170109_200700

Ini tampilan HD Audio Recorder. Udah berasa kayak di studio gak sih tampilannya?

Kayaknya musisi atau menimal pecinta hi-fi akan bisa lebih mengapresiasi kemampuan audio V20 ini deh. Sebagai user awam, gw sudah sangat happy dengan suaranya.

Kinerja umum

Dengan prosesor Snapdragon 820 (salah satu yang terkencang saat ini), didampingi memory RAM 4GB, rasanya cukup memberikan performa OS yang kencang. Membuka banyak aplikasi sekaligus tidak terasa ada lag, pun saat kita berganti dari satu app ke app yang lain.

Satu hal yang masih jarang adalah internal storage sebesar 64GB. Rasanya belum ada smartphone premium lain di Indonesia yang memberikan storage sebesar ini saat ini. Benar2 tidak perlu khawatir menginstall banyak apps atau games2 “berat”. Dan V20 masih menawarkan memory slot untuk Micro SD card sampai sebesar 256 GB, dan slot ini khusus, tidak berbagi fungsi dengan SIM card slot (hybrid). Gw sendiri memasangkan SD Card 64GB di V20 ini – dan gw berasa jadi jagoan paling badass dengan total storage 128GB! Ha!

V20 juga membanggakan sebagai smartphone Android dengan OS 7.0 Nougat pertama, dan juga satu2nya saat blog ini ditulis. Android Nougat memberikan kemampuan split screen, di mana dua app bisa tampil bersamaan dalam satu layar. Fitur ini memang lebih masuk akal untuk smartphone berlayar besar di atas 5.5 inch, karena kalo layar kecil masih dibelah lagi, mata bisa jereng…..

Selama 3 minggu menjajal V20 ini, OS Nougat berjalan smooth, tidak terasa ada lag berarti. Dukungan prosesor kelas atas dan memory besar benar-benar terasa.

20170108_163626

2 aplikasi dalam satu layar, dengan split screen dari OS Nougat

Baterai

V20 dibekali baterai replaceable dengan kapasitas 3,200 mAh. Rata-rata V20 memberikan gw sekitar 3.5-4 jam on screen time, dan kira-kira total waktu standby 9-12 jam dengan penggunaan normal gw (social media, kamera, streaming musik). Jika hape ini gw cabut dari charger jam 6 pagi, maka gw udah harus nge-charge lagi sekitar jam 3-5 sore. Idealnya gw pengen smartphone yang sampai jam 10 malam pun masih tersisa 20%.

Tentunya waktu penggunaan baterai bisa sangat bervariasi tergantung gaya pemakaian user. Pendapat gw soal baterai V20 ini? Biasa saja. Tidak jelek, tetapi juga tidak spektakuler, kalau melihat screen on time sekitar 3.5-4 jam.

Walaupun performa baterai V20 tergolong standar, teknologi fast charge sangat membantu. Dengan charger bawaan, baterai V20 bisa terisi dari kosong hingga 50% dalam waktu sekitar 30 menit.

Penutup

Demikianlah review awam LG V20 gw. Overall, sesuai analogi di awal, V20 ini benar2 “The Beast” dengan spec dan kemampuan yang jauh di atas rata-rata. V20 memang bukan “the perfect phone” – dia tidak merajai di semua aspek, tetapi dia betul2 petarung kelas berat yang digdaya.

Pertanyaannya sekarang, untuk siapa cocoknya si V20 ini?

Kalau pertanyaannya adalah apakah semua orang bisa menggunakannya, ya bisa saja. Tetapi spec yang diberikan V20 rasanya memberikan lebih dari sekedar tuntutan kebanyakan orang. Sebagai analogi: apakah Jeep Wrangler bisa dipakai hanya untuk jalan ke mal, ngopi2 cantik, dan belanja popok bayi? Ya bisa aja. Tapi sayang gak sih? Karena si Jeep Wrangler ini bisa dipakai off-road ke daerah-daerah baru nan eksotis yang tidak bisa dijangkau Uber/Gojek. Rasanya ada yang mubazir dari penggunaan Jeep Wrangler yang hanya di kota dan hanya di jalan protokol mulus aja. Dan gw pernah melihat orang naik Jeep Wrangler edisi Modern Warfare 3 Edition tapi….disupirin. DISUPIRIN. Mobil sesangar itu bukannya harus disetir sendiri dengan gagah berani ya? Eh, kita agak pindah topik….maaf. 

Begitu juga dengan V20. Dengan penekanan di kontrol kamera serta spec audio yang tinggi, menurut gw V20 sangat cocok digunakan content creator. Mereka yang sehari-harinya lebih dari sekedar “konsumen konten”, tapi juga “pencipta konten” itu sendiri. Yang terbayang adalah para vlogger, yang bisa menghasilkan foto, video, dan rekaman suara berkualitas tinggi dengan V20 ini.

Segmen lain yang cocok dengan V20 adalah pecinta musik, baik penikmat maupun penghasil karya musik. Sebagai penikmat, Quad DAC dan settingan dari Bang & Olufsen harusnya bisa memanjakan mereka yang bertelinga emas. Mereka yang kalau memilih headphone harus yang premium akhirnya menemukan smartphone yang cukup sebanding dengan headphonenya. Tetapi tidak hanya para penikmat musik pasif, para pembuat karya musik juga bisa menggunakan V20 untuk menciptakan karya-karyanya.

Desain V20 yang cenderung maskulin dan utilitarian juga makin menambahkan kesan profesional, dan bukan hape untuk kece2an. Tidak ada “bling2” di V20. Semua sisi, sudut, dan lekuk lebih menyerupai pesawat tempur stealth terbaru – siap membungihanguskan musuh. Apalagi dengan body yang kokoh bersandar militer. Karenanya, gw merasa V20 ini lebih ke hape laki – atau siapapun yang menyukai desain maskulin.

hero-phone

Sumber: LG

Mungkin kamu bukan semua di atas, tetapi peminat gadget dengan prosesor tinggi, internal storage besar, dan OS Android terbaru. Dengan spec yang dimiliki, V20 tentu memiliki “usia” yang lebih panjang (sampai saat blog ini ditulis, belum ada smartphone lain yang menjalankan Nougat langsung “out of the box”). 

So is V20 for everyone? Probably no. Tapi lebih karena ada banyak fitur2 advanced di V20 yang sayang kalo “dianggurin”. Bagaikan Dwayne Johnson hanya dipake untuk film2 komedi romantis, rasanya sayang kan, paha segede aqua galon dan otot bisep segede bedug gak dipakai di film2 action? Begitu juga dengan V20. Kita bisa menikmati multimedia berkualitas tinggi di V20, tapi kita baru bener2 memaksimalkan kemampuannya saat kita meng-create konten. 

Terima kasih untuk yang sudah membaca! Semoga berguna! Sampai di review awam berikutnya!

Review Awam Menjadi Ayah Di Usia 40-an. Part 4. FINISH. Janji!

Standard

Akhirnya, sampai juga saya di penghujung cerita ini. Fiuh, gak nyangka sampai empat bagian! Di Part 3, saya sudah menjelaskan seluruh proses di hari kelahiran.

Bagi yang terlewatkan, silahkan catch-up dulu dengan cerita sebelumnya di link berikut:

Review Awam Jadi Ayah di Usia 40an – Part 1

Review Awam Jadi Ayah di Usia 40-an. Part 2.

Review Awam Jadi Ayah di Usia 40-an. Part 3!

Kita terusin yaaa. Tinggal sedikit kok cerita saya.

Soal ASI yang bikin stress….

Kami sudah tahu bahwa ASI itu penting, canggih, terbaik, mutakhir, sakti mandraguna, dll, dll. Dan saya rasa Indonesia adalah salah satu negara terbaik soal pendidikan dan kesadaran pentingnya ASI. Saya pernah menghadiri presentasi survei tentang kesadaran ASI yang dibawakan oleh orang asing, dan dia memberikan komentar bahwa obsesi ibu Indonesia akan ASI bahkan melebihi ibu-ibu dari negara asalnya Inggris.

Yang saya ingin share di sini adalah “sisi gelap” dari obsesi terhadap ASI ini, yaitu pressure kepada sang ibu.

Sesudah istri saya melahirkan, tentunya dia ingin memberikan ASI. Tetapi ternyata ASI-nya belum keluar, dan ini membuat dia mulai khawatir. Kemudian datanglah “suster ASI” yang spesialis mengajarkan cara memberi ASI. Saya melihat bagaimana payudara istri diremas dengan keras sampai istri kesakitan agar ASI-nya bisa keluar. Tetapi memang istri saya termasuk yang tidak banyak produksi ASI-nya. Selain itu, ternyata bentuk puting payudara dianggap tidak optimal, sehingga sulit bagi bayi untuk mengenyot (sumpah saya gak tahu Bahasa Indonesia resmi untuk ‘kenyot’ apaan….)

Buat temen-temen yang tidak pernah mengalami, tidak bisa membayangkan betapa frustrasinya ketika melihat sang bayi berusaha menyusu, tetapi kesulitan karena susu yang susah keluar, ataupun bentuk puting yang tidak mendukung. Sang bayi menangis frustrasi, dan sang ibu pun turut frustrasi dan stress. Dan saya sebagai suami pasti ikut stress.

Belakangan sesudah kami pulang dari RS, ASI istri memang akhirnya keluar (harus dibantu breast pump sewaan yang bentuknya kayak pompa pengeboran minyak dan sedotannya kenceng kayak Shimizu). Tetapi jumlahnya tidak pernah cukup. Istri saya sudah mengkonsumsi daun katuk segala, tapi ya tidak banyak menolong. Istri saya harus pontang-panting mendapatkan ASI donor (yang untungnya bisa diperoleh dari sahabat dekatnya sendiri yang bisa dipercaya keamanannya). Persediaan ASI istri pun tidak bisa bertahan lama. Menjelang akhir bulan ketiga, ASI sudah tidak keluar lagi, dan kamipun terpaksa harus mulai menggunakan kombinasi susu formula dan ASI donor. Yang penting, anak harus mimik.

Menurut ibu saya, ternyata saya sendiri tidak minum ASI saat bayi. Alasannya lebih malesin lagi, kataya saya males nyedot saat bayi. Payah banget. Bukannya ibu saya tidak mau memberikan ASI kepada saya, tapi ya ada faktor lain yang menghalangi, dalam hal ini bayi yang malas nyedot. (Herannya sesudah dewasa sih saya malah seneng nyedot. Nyedot bubble tea seneng banget….) Jadi bisa dibilang saya ini contoh akibat tidak diberi ASI. Lumayan lah ya, walau sering error OS-nya…..

Maksud saya menulis di atas sama sekali tidak untuk mengecilkan pentingnya ASI. Saya tetap percaya bahwa yang datang dari manusia ya yang terbaik untuk manusia, dan ASI, seperti sandal Carvil, tetap yang terbaik. Tapi gerakan “ASI Nazi” yang berlebihan dan tidak empatik (bahkan menghakimi) bisa menciptakan rasa stress dan inferior bagi sang ibu. Kenyataannya, tidak semua ibu dianugerahi payudara seproduktif produsen susu Ultra. Ada yang memang ASInya banyak tumpah ruah, ada yang sedikit. Ya gimana, bukan maunya sang ibu juga. Dan kami hanya berusaha yang terbaik agar sang bayi tetap mendapatkan nutrisi yang memadai.

Soal membesuk ibu melahirkan….

Oh iya, mau membahas soal hal gak penting tapi penting, yaitu soal membesuk ibu yang baru melahirkan. Kalo saran saya, janganlah terlalu cepat membesuk ibu yang melahirkan. Apapun cara melahirkan yang dipilih (alami, caesar, beranak dalam kubur, dll), sang ibu pasti merasa sangat lelah. Pun sang ayah baru. Mungkin juga karena kami yang juga sudah tidak muda lagi, tapi kami saat itu butuh istirahat dulu sebelum bisa menerima tamu (di luar keluarga dekat). Apalagi sang ibu yang pasti merasa tidak kece jika dalam keadaan lelah.

Kalau saran saya, datanglah di hari kedua (atau ketiga). Atau kalau perlu sesudah sang ibu pulang. Tapi jangan lah di hari pertama saat baru lahir. Beri kesempatan bagi si ibu baru untuk beristirahat. Tapi ini saran saya saja lho.

20161001_164327_001

Bersama ibu mertua dan dokter SpOG Nando yang menjadi dokter sejak kehamilan trimester kedua sampai melahirkan. IYE DOKTERNYA GANTENG GW TAHU!

Memberanikan diri untuk menggendong!

Saat baru hari ketiga di rumah sakit, saya memaksakan menggendong sang bayi. Jujur, saya grogi dan takut banget pastinya, apalagi saya bukan tipe yang biasa bermain dengan bayi sebelumnya. Bayi baru lahir itu terlihat ringkih sekali rasanya. Tapi saya pikir, saya bapaknya, dan momen baru lahir ini tidak akan terulang. Jadi saya meminta suster untuk memindahkan si bayi ke tangan saya. Dan rasa menimang anak sendiri yang baru lahir memang precious sekali.

20161001_071324

Pertamax gan!

Pulang, dan seterusnya….

Kelahiran anak emang momen bahagia untuk semuanya…sampai saat si bayi pulang dan tinggal bersama kami. Perjuangan pun dimulai. Dan yang paling terasa adalah episode “TIDUR YANG DIRINDUKAN”.

Begitu punya bayi, SAY GOODBYE TO SLEEP!! Si bayi akan sering bangun tidur, dengan jadwal yang tidak kooperatif dengan kita. Selama kita tidur di malam hari, dia bisa terbangun setiap dua jam sekali (untuk minum atau pun mengganti popok). Jujur, ini bagian berat buat saya, yang biasanya tidur butuh minimal 7 jam (tanpa interupsi) supaya bisa punya mood yang bagus dan konsentrasi untuk bekerja. Ya udah, dengan hadirnya si bayi, kami yang harus beradaptasi dengan lack of sleep ini. Untungnya istri saya dari dulu lebih fleksibel soal kebutuhan tidur.

Awalnya memang badan saya protes berat terhadap perubahan kebiasaan ini. Dan awalnya susah sekali untuk berkonsentrasi di pekerjaan saat kekurangan tidur. Tetapi saya perhatikan badan saya pun bisa sedikit menyesuaikan diri. Saat bayi terbangun, saya mulai lebih cepat untuk melek banget dari mimpi ketemu Blake Lively, dan bisa membantu sedikit – dari sekedar menghangatkan susu, atau membantu istri mengganti popok.

Perlahan, pola tidur si bayi pun mulai membaik. Melewati usia 3 bulan, bayi kami sudah lebih stabil tidur sekarang. Dalam semalam hanya terbangun 1-2 kali saja. Not bad kok.

Soal berbagi peran

Bagaimana peran ayah dalam mengurus bayi? Setiap keluarga saya rasa punya style-nya sendiri, dan ini bisa dipengaruhi budaya juga. Menurut ibu saya, ayah saya sama sekali tidak ikutan mengurus anak-anaknya saat masih bayi. Mengganti popok pun tidak. Semua diserahkan ke ibu saya. Sebagian ayah merasa bahwa perannya adalah mencari nafkah, jadi mengurus anak sepenuhnya adalah urusan ibu.

Saya pribadi memilih ikut membantu istri sebisa saya. Ada beberapa task yang masih saya serahkan ke istri (misalnya memandikan bayi) karena menurut saya dia bisa melakukan dengan jauh lebih baik atau lebih aman, tetapi hal-hal “gampang” yang bisa saya lakukan, ya saya lakukan. Misalnya, membuat susu, menyiapkan alat-alat mandi dan air untuk mandi, mengganti popok pipis (soalnya kalo popok pup saya pingsan gak bisa bener2 bersih), menyusui sang bayi (dengan botol, bukan dengan tetek saya sendiri tentunya), atau sekedar menimang2 saat si bayi lebih suka digendong daripada di box.

Jujur saja, saat sang bayi terbangun di tengah malam, istri masih yang pasti terbangun dan mengurus dia. Tapi ada saat-saat di mana saya memaksakan diri ikut bangun dan minimal menjadi “asisten”

20161013_064833

Protip: apron sangat membantu dalam mencegah ‘serangan’ tak terduga saat mengganti popok

Bagi saya, pasti ada hal sederhana yang bisa saya lakukan untuk membantu, sekecil apapun itu. Karena saya melihat berat sekali peran ibu dari seorang anak yang masih bayi – apalagi jika tidak ada nanny atau Asisten Rumah Tangga (ART).

Kalo tidak mau berpartisipasi langsung dalam urusan bayi, minimal kita para ayah bisa membantu mengurangi beban istri. Jika tidak ada ART, kita bisa membantu dengan mengurangi pekerjaan rumah dari hal-hal kecil. Misalnya mencuci piring dan gelas sendiri sesudah makan. Atau bagi para suami yang terkenal berantakan (seperti saya), bisa sedikit saja lebih rapi dan mengurangi keberantakan rumah. Mungkin terdengar sepele, tapi sedikitpun kita bisa membantu mengurangi pekerjaan sang ibu, itu sudah berarti. Moto sederhananya: Kalo gak bisa membantu, minimal gak nambah kerjaan

Jadi Ayah di Usia 40-an. Enak dan Gak Enaknya.

Sudah lewat 3 bulan usia bayi kami. Looking back at the whole process, apa yang bisa saya tarik soal menjadi ayah di usia 40-an? Apalagi judul seri blog kali ini adalah “review” – jadi harus ada penilaian tentang jadi ayah di usia yang tidak muda lagi dong?

Supaya mudah , saya bagi saya jadi “pro” (positifnya) dan “con” (negatifnya).

Sisi positifnya menjadi ayah di usia 40-an:

  • Kematangan keputusan. Kami mengambil keputusan memiliki anak dengan jauh lebih dewasa, melihat dari banyak kasus lain di sekitar kami. Kami memiliki anak bukan karena desakan orang-tua, sekedar menuruti ekspektasi masyarakat, atau trend Instagram.
  • Kematangan finansial. Memiliki anak di usia ini membuat kemampuan finansial kami lebih baik, karena kami sudah menabung dan berinvestasi lebih lama. Ada fleksibilitas dalam mengambil keputusan karena kondisi keuangan yang lebih baik.
  • Pekerjaan/karir. Di usia ini, kami relatif sudah melewati fase “mati-matian membangun karir” yang umum terjadi di usia 20an sampai 30-an awal. Bukannya kami tidak harus masih bekerja keras, tetapi kami tidak harus membuktikan diri sekeras saat masih berusia 20-an. Hal ini artinya pekerjaan sudah tidak terlalu bersaing soal waktu dan tenaga kami dengan urusan bayi.

Apa gak enaknya?

  • Stamina fisik. Di saat orang lain sudah memiliki anak berusia ABG/remaja saat mereka berusia 40, saya masih punya anak bayi. Saat anak saya berusia remaja nanti, saya akan menginjak usia 50. Apakah saya masih punya energi untuk mengejar2 anak ini nyasar ke toilet wanita di mall? Apakah saya masih punya energi saat dia menjadi remaja pria yang lagi aktif-aktifnya? Jujur pertanyaan itu menghantui saya.
  • Keuangan jangka panjang. Di sisi lain, kami sudah menabung lebih banyak sebelum si anak lahir. Di sisi lain, saya harus lebih matang memikirkan rencana keuangan, karena saat sang anak masih kuliah, saya sudah melewati usia pensiun! Ini tentunya akan jadi beban pikiran juga, walaupun bisa jadi motivasi untuk lebih serius merencanakan rencana finansial jangka panjang.

Itu dari sisi ayah. Untuk sisi ibu, ini yang saya dapati dari pengalaman ini.

Like it or not, there is biological clock. Ada jam biologis yang terus berdetak di tubuh ibu, dan ini bisa memengaruhi kesehatan si anak. Seperti sudah disinggung di bagian 1, ibu yang hamil di atas usia 35 tahun mengalami peningkatan resiko anak memiliki cacat genetis.

Faktor usia pun tidak hanya berlaku bagi sang calon ibu. Saya pernah membaca artikel bahwa kualitas genetik sperma pun terus menurun mulai usia 35-an. Semakin tua sang calon ayah, semakin banyak gen rusak yang dibawa sperma, dan ini bisa mempengaruhi kesuburan, kehamilan, sampai kualitas janin. Artikel: https://www.newscientist.com/article/mg21929275-500-mens-sperm-quality-decreases-at-age-35/).

Tentu ada yang berkata, “AH ITU ENGKONG2 DI RT SEBELAH KAWIN SAMA PERAWAN PEDANGDUT TOH ANAKNYA BAIK2 AJA” Ini kesalahan berpikir awam yang umum (sama seperti komentar “Kakek saya perokok berat matinya di usia tua juga, bukan karena kanker, tapi ketiban kelapa”). Pasti banyak anekdot/kisah yang kesannya tidak mendukung nasihat dokter/artikel medis – tetapi itu karena kita tidak bisa berpikir secara statistik/probabilistik. Probabilita sesuatu yang tidak mengenakkan memang susah dirasakan, apalagi jika relatif rendah – tetapi siapa yang mau ada di situasi tersebut?

Tentunya saya tidak menganjurkan nikah muda (dan punya anak di usia muda). Ada lebih banyak lagi alasan kenapa menikah (dan memiliki anak) di usia terlalu muda justru merugikan (baik secara biologis, psikologis, maupun finansial). Tetapi kita juga naif kalau mengabaikan faktor umur sama sekali. Jika kamu memang berencana ingin punya anak, faktor umur bukan sesuatu yang bisa kamu tepiskan begitu saja. Itu saja pesan saya.

Penutup

Sekian saja sharing saya mengenai pengalaman menjadi ayah di usia 40-an. Seperti disclaimer di awal bagian 1, seri blog ini hanyalah “review awam” – datang dari seorang ayah amatir, dan tidak bisa menggantikan opini pakar. Jadi anggap saja blog ini sekedar cerita teman – semoga ada yang bisa dipetik, minimal menghibur mengisi waktu – tetapi jangan dijadikan pedoman mutlak.

Oh iya, blog ini belum selesai. Berikutnya di Part 5 saya akan menjelaskan tentang tips-tips…..BECANDA! UDAH SELESAI INI! AMPUN! CUKUP SAMPAI PART 4 SAJA!! Lanjutannya mungkin masih nanti-nanti saja yaaa, seiring bertambah dewasanya anak kami ini, dan bertambah lagi drama dan pelajaran baru dari perjalanan menjadi ayah ini…..20161223_182909

Terima kasih untuk yang sudah mengikuti kisah ini dari awal sampai selesai! 🙂

 

Review Awam Jadi Ayah di Usia 40-an. Part 3!

Standard

Okay, kita lanjutkan dengan bagian ketiga. Bagi yang belum membaca dua bagian sebelumnya, sila klik link berikut ya:

Review Awam Jadi Ayah di Usia 40an – Part 1

Review Awam Jadi Ayah di Usia 40-an. Part 2.

Sampai di mana kita terakhir?

Lahir Alami vs. Caesar

Mungkin bagi banyak pasangan, mereka ada di situasi ingin memilih: apakah sang anak dilahirkan secara alami, atau secara CaesarBerikut adalah perspektif saya sebagai pria:

Personally, saya lebih sukakelahiran alami, untuk beberapa alasan: rasanya sesuatu yang lebih alami lebih baik dari yang bukan (not necessarily true)kemudian saya pernah membaca artikel bahwa ada indikasi bayi yang lahir Caesar lebih rentan menderita alergi (karena mereka tidak terexpose pada bakteri yang ada di saluran kelahiran, sehingga sistem imunitasnya tidak terbentuk sempurna. Artikel: http://www.webmd.com/allergies/news/20041020/c-section-may-increase-kids-allergy-risks). Kelahiran alami juga identik dengan masa pemulihan yang lebih cepat. Dan tentunya, urusan biaya yang lebih besar dengan metode Caesar.

Tetapi, saya menyadari bahwa pada akhirnya, yang punya hak menentukan adalah sang calon ibu. Tubuhnya adalah miliknya. Yang telah merasakan segala perubahan bentuk, kehidupan lain selama 9 bulan, yang sudah menanggung yang merasakan sakitnya melahirkan, semua itu adalah dia. Jika tidak ada pertimbangan medis serius yang mengharuskan satu opsi, rasanya fair jika pilihan dikembalikan ke tangan sang calon ibu.C

Ada beberapa alasan di mana calon ibu menginginkan kelahiran Caesar. Ada yang udah horror duluan mendengar betapa sakitnya prosesnya. Ada yang memikirkan faktor stamina karena sudah tidak berusia muda lagi. Ada yang memikirkan faktor ‘kosmetik’ menyangkut kondisi ‘Mickey’ di bawah situ (karena blog ini mungkin dibaca mereka yang di bawah umur, saya menolak memakai kata V- atau M-). Kita sebagai pria tidak akan pernah bisa sepenuhnya merasakan kekhawatiran perempuan tentang Mickey mereka yang akan digunting untuk proses kelahiran, terus dijahit lagi, dan ketakutan mereka apakah Mickey tersebut bisa berfungsi dalam hubungan seks sebaik sebelum melahirkan.

Jadi pada ujungnya, kalo dari perspektif saya sebagai pria untuk pria, jangan memaksakan keinginan secara sepihak soal metode melahirkan. We will never know what they are going through, so it should be their decision.

Selama masa kehamilan, dari ngobrol berdua memang istri saya tidak pernah mengambil keputusan pasti soal metode kelahiran, tetapi dia cenderung memilih Caesar. Walaupun ini bukan preferensi saya, tetapi keputusan final saya serahkan kepadanya.

Di sinilah bagian terakhir dari Part 2 menjadi relevan. Ingat bahwa janin anak kami terlilit tali pusarnya di bagian leher? Keadaan itu ternyata tidak berubah seiring waktu. Setiap USG menunjukkan tali pusar yang masih membelit leher si janin (walaupun tidak membahayakan hidupnya di dalam kandungan. Tali pusar lunak dan fleksibel, bukan kayak tali rafia!) Menurut dokter, jika sampai waktunya melahirkan masih seperti itu, opsi Caesar jadinya bukan pilihan lagi, tapi sebuah keharusan.

Soal ramalan tanggal kelahiran…..

Semua calon orangtua pasti penasaran ingin tahu tanggal kelahiran anak. Untuk berbagai alasan praktikal (menetapkan tanggal cuti, menyiapkan nama, kamar, membeli perlengkapan bayi, jadwal seremoni/ritual keluarga), seperti sampai alasan spiritual (perhitungan tanggal baik, nama baik yang sesuai tanggal, persiapan cari jodoh anak yang sesuai bintang, dll). Dokter akan memberikan estimasi tanggal kelahiran (dan plus minus-nya). Tapi janganlah anda terlalu menggantungkan diri pada estimasi tanggal tersebut, karena bisa saja…..meleset…..jauh.

Contohnya ya anak kami. Diprediksi akan lahir di suatu hari di pertengahan Oktober sesuai perhitungan 40 minggu. Dan hasilnya, meleset banget sob.

Hari kelahiran yang mengagetkan

Karena kami sudah berbekal estimasi tanggal kelahiran, di hari si anak benar-benar lahir, kami jadinya tidak siap. Bahkan sesudah memberikan waktu +/- seminggu dari tanggal estimasi, kelahiran si anak tetap saja lebih cepat dari rentang waktu tersebut.

Pada saat hari kelahiran, istri saya tidak merasakan sesuatu yang spesial. Tetapi di pagi harinya, dia memang melihat ada sedikit bercak darah, tapi tidak terasa sakit sama sekali (catatan: “tidak merasa sakit” adalah hal relatif dan subyektif. Kebetulan istri saya terkenal badak urusan rasa sakit. Sangat kontras dengan suaminya….) Istri saya cukup memberitahukan dokter melalui WA, dan jawaban dokternya pun terkesan tidak ada urgensi, hanya meminta memeriksakan diri ke klinik jika sempat.

Jadi di hari itu, 2 minggu sebelum estimasi tanggal lahir, kami masih beraktivitas berdua dengan normal. Dari pagi sampai siang kami masih berkendara mobil melakukan urusan di daerah Jakarta Selatan, sempat makan Soto Kudus dulu berdua, barulah meluncur ke klinik saat hari sudah sekitar jam 3 siang.

Sampai di klinik, di bagian UGD (sesuai petunjuk dokter), suster mendengarkan penjelasan dan tentunya merekomendasikan observasi. Observasi dilakukan dengan alat canggih yang bisa mengukur kontraksi lemah yang mungkin tidak dirasakan oleh pemilik perut yang badak. Jika kontraksi terjadi dengan kekuatan dan interval waktu tertentu, maka bisa dipastikan proses kelahiran sudah terjadi, bahkan walaupun si calon ibu tidak merasa mulas sekalipun.

20160930_134547

Istri sedang mendengarkan suster. Tampak alat yang mengukur kontraksi. Tapi lupa kenapa si suster mencekik diri sendiri ya….

Daaaaan….benar saja. Alat monitor menunjukkan sudah terjadi proses kontraksi, walau masih di awal. Yang artinya memang si ibu beneran badak karena gak berasa apa-apa. Di proses kontraksi awal ini sulit menebak kapan persisnya si anak akan lahir jika menggunakan metode alami. Dokter obgyn merekomendasikan, bahwa jika memang ingin lahir secara caesar, lebih baik dilakukan saat itu juga karena sudah memungkinkan secara media. Pertimbangan: jika toh memang ingin caesar, tidak ada gunanya membiarkan ibu melewati masa kontraksi yang lebih berat dan sakit. Yang ada malah “rugi”, udah sakit, toh akan di-caesar juga. Yaaah, masuk akal juga sih.

Akhirnya keputusan pun diambil untuk melahirkan secara caesar sore itu juga. Kami bener2 tidak ada persiapan saat meninggalkan rumah. Bahkan kami tidak sempat packing membawa baju ganti saat berangkat pagi hari, eh, tiba-tiba sore itu juga harus ketiban bayi.

Istri saya pun dipersiapkan untuk prosedur Caesar. Saya dijelaskan bahwa prosedur Caesar sendiri hanya memakan waktu sekitar….10 menit. Dalam hati, buset, lebih lama ngantri di bank BUMN daripada menghasilkan bayi yak. Saya dipersilakan mengikuti proses, jika memang mau. Tentunya saya mau lah! Gak akan saya melewatkan kesempatan ini. Saya pun harus berganti baju operasi dan penutup kepala yang steril, dan masuk ke dalam ruang operasi.

Di dalam ruang operasi, saya mengambil kursi dan duduk persis di belakang kepala istri. Ada semacam tirai kain yang memisahkan kepala istri dengan perut yang akan dibelek. Jadi sebenarnya kami tidak bisa melihat proses operasi Caesar itu. Sebenarnya kayaknya saya bisa sih kalo mau, cukup berdiri dan mengintip. Tapi mengingat saya tidak pernah tahu reaksi saya kalo melihat perut dibelek, dibuka, dan ada darah di mana-mana, saya tidak mau menambah pasien si dokter di saat itu juga.

20160930_173819

Tetep selfie. Perhatikan ada semacam tirai kain yang menghalangi pandangan kami.

Bagaimana rasanya menunggui proses Caesar (walaupun terbatas)? Percaya lah, cukup menegangkan. Bukannya apa-apa. Kami masih bisa melihat gerakan tangan si dokter obgyn, dan gerakannya tidak seperti yang kami harapkan. Tadinya kami pikir gerakan tangannya akan halus, luwes, melodik bagaikan Addie MS memimpin orkestra – kan ini ngeluarin anak, masak kasar? Ternyata sebaliknya, gerakan tangan dokter tampak heboh, penuh tenaga, violent, dan lebih mirip gerakan tangan montir saat mau ganti tali kipas mesin.

As if gerakan tangan heboh si dokter gak cukup bikin kami gigit jari (jari sendiri, bukan jari suster), di tengah proses dokternya masih berseru, “Waaah, lehernya kebelit tali pusar sampai DUA KALI ini….harus dibebaskan dulu…” Dan ini diikuti dengan gerakan tangan yang lebih heboh (kali ini lebih menyerupai gerakan tangan montir yang sedang spooring balancing ban). Bohong banget, kalo saya tidak cemas (istri malah tampak lebih tenang, atau mungkin doi setengah giting efek bius lokal).

Dan tiba-tiba, dokter memanggil saya, “Pak, ini sudah mau lahir…” Barulah saya memberanikan diri berdiri dan mengintip dari balik tirai. Tampaklah sih bayi merah masih berlumuran darah sudah dipegang si dokter dan diangkat keluar, lehernya sudah terbebas dari tali pusar. Maka resmilah anak kami lahir di dunia.

Tentunya saya tidak bisa langsung memegang bayi kami untuk diajak fistbump. Bayi ini segera dialihkan ke tim perawat yang segera membersihkan dia, baik dari luar maupun sisa cairan di dalam kerongkongan. Si bayi juga harus diukur dan ditimbang, dan dicek tanda-tanda vital seperti warna, pernapasan, dan detak jantung. Saya menyempatkan diri mengecek jam tangan untuk mengingat jam lahir. Bayi juga diberi tanda pengenal berupa tag di tangan. Bayi yang sudah dibersihkan kemudian dibawa ke sang ibu untuk inisiasi kontak kulit, di mana si bayi ditempelkan ke payudara si ibu (tapi tidak sampai menyusui).

20160930_180444

Panjang tubuh, lingkar kepala, berat badan segera diukur.

Selesai dari proses ini, saya masih tidak bisa memegang si bayi. Sesudah inisiasi kontak ibu, si bayi dipindahkan ke semacam kotak kaca steril dengan penjaga temperatur untuk dipindahkan ke kamar anak di bagian lain rumah sakit. Si kotak kontainer ini agak mengingatkan saya pada gerobak roti Tan Ek Tjoan, entah mengapa. Saya hanya bisa sekedar mengawal si anak dari ruang operasi sampai ke kamar anak untuk memastikan dia tidak menjadi sekuel Putra Yang Ditukar.

20160930_175335

Sesampainya di kamar anak, masih ada prosedur lagi yang diberikan. Seperti pemberian obat mata dan pembersihan tambahan. Saya pun ditanya siapa nama anak kami, dan untungnya kami sudah punya nama yang siap. (Belakangan saya baru tahu cukup umum sampai di tahap ini ada bayi yang belum bernama. Saya melihat bayi lain yang papan namanya masih kosong – hanya berisi nama orangtuanya. Atau mungkin namanya “He-who-must-not-be-named”….) Kemudian akhirnya perjalanan panjang si bayi datang ke dunia ini berakhir ketika dia akhirnya bisa “diparkir” dengan tenang di pinggir kaca, siap “dipamerkan” ke penonton, walau masih di dalam semacam kotak penyimpanan.

20160930_181339

Tempat terakhir di hari kelahiran. Matanya terbuka lebar tapi kayaknya belom bisa melihat.

Selama proses ini, istri saya sendiri terus lanjut dengan prosedur menjahit tutup perutnya yang dibuka, dan kemudian dia harus beristirahat dulu di ruang pemulihan. Seingat saya, dia cukup lama menghabiskan waktu terpisah di ruang pemulihan, mungkin sekitar 3 jam. Sepanjang waktu itu saya hanya mondar mandir menemani si bayi di ruang anak, sambil sibuk berkomunikasi dengan orang tua dan mertua.

Saat saya menunggui bayi kami, barulah reality sinks in. Kalau sebelumnya saya begitu sibuk dengan segala proses kelahiran dan kehebohannya, ketika semua proses itu sudah selesai, dan saya menatap anak saya sendiri, barulah kesadaran itu datang. Oh my God, I’m a father nowMy life will be totally different from now on. Mertua saya pun akhirnya tiba di rumah sakit. Ada rasa bangga dan bahagia tak terkira saat saya bisa menunjuk anak saya kepada ayah mertua saya, “Itu loh pa, anak kami” (yang kebetulan juga menjadi cucu pertama bagi mereka).

Barulah sekitar jam 10 malam istri saya bisa masuk ke kamar inap, dan bayi kami dibawa ke kamar untuk dipertemukan dengan ibunya, dan mencoba inisiasi ASI. Saat itu kami tentunya sudah merasa lelah sekali, walau bahagia juga. Kami hanya bersyukur bahwa seluruh proses dari program kehamilan, kehamilan 9 bulan, sampai lahir akhirnya berakhir dengan lancar. Kami juga mensyukuri ada begitu BANYAK pihak yang memungkinkan peristiwa ajaib ini terjadi. Tidak hanya “dokter” obgyn yang menangani program kehamilan dan mengawal proses kehamilan, tapi juga para suster yang membantu sejak administrasi sampai tindakan, teman2 pendukung, sampai keluarga yang mendoakan. Di balik kelahiran anak kami, kami tahu hal ini tidak akan terjadi tanpa dukungan banyak pihak… 

BUSET, KIRAIN SERI REVIEW AWAM JADI AYAH USIA 40-AN INI AKAN BERAKHIR DI PART 3, TERNYATA BELOM JUGA!

Okay, saya berjanji bahwa cerita ini HARUS selesai di Part 4. Berikutnya saya akan fokus bagaimana rasanya menjadi ayah di usia 40-an selama 3 bulan pertama. Dan hal-hal apa yang saya pelajari dari seluruh pengalaman hidup yang satu ini. Tunggu yaks.

Review Awam Jadi Ayah di Usia 40-an. Part 2.

Standard

Okay, kita lanjut ceritanya aja nih ya? Buat yang belum baca Part 1-nya, sila klik di Review Awam Jadi Ayah di Usia 40an – Part 1

Jadi di akhir Part 1, saya sudah bercerita tentang program IVF yang berhasil setelah percobaan kedua. Nah, sebelum saya melanjutkan ceritanya, ada bagian yang sempat terlupa ditulis di Part 1, yaitu….

PENGALAMAN DENGAN SINSHE JELAMBAR!!

Jadiiii, sebelum kami memutuskan melakukan program IVF, kami sempat mencoba rekomendasi teman untuk berkonsultasi dengan seorang sinshe di daerah Jelambar. Rekomendasi ini karena konon seorang teman sukses hamil berkat tangan si sinshe (ini jangan diartikan literal). Aslik mencari tempatnya perjuangan banget untuk saya yang tidak biasa di daerah tersebut (dan itu pertama kalinya saya berada di daerah Jelambar seumur hidup). Anyway, dengan kombinasi Google Map dan Congor Map (nanya ke orang, maksudnya), kami bisa menemui sang Sinshe.

Tadinya dalam bayangan saya semua Sinshe itu ya seperti guru Kungfu gitu ya. Ternyata mas Sinshe yang satu ini memakai baju putih biasa seperti dokter. Dan ternyata doi juga memiliki pendidikan dokter (gak inget spesialis atau bukan). Tempat prakteknya sederhana, di rumah, dan para pasien yang menunggu bisa duduk di garasi yang dikosongkan. Ruang prakteknya pun biasa saja seperti umumnya ruang dokter, dengan meja tulis, kursi, dan tempat tidur. Tampak di dinding foto beliau bersalaman dengan Soeharto (haseeek), saat beliau tampak masih jauh lebih muda.

Tapi sampai di situ saja kemiripan dengan pengalaman berkunjung ke dokter. Yang seru adalah proses diagnosa yang khas sinshe, yaitu dengan memegang pergelangan tangan kita dan seperti “merasakan” sesuatu di urat nadi kita. Seorang sinshe bisa mengeluarkan diagnosa menyeluruh hanya dengan memegang pergelangan tangan kita, sampai seluruh kinerja organ dalam, bahkan organ reproduksi. Seolah2 aliran darah atau energi di badan kita memebeberkan seluruh rahasian badan kita. Dia meng-scan baik istri maupun saya.

Saya lupa dengan diagnosa istri saya, tapi saya ingat diagnosa saya sendiri. Diagnosanya bagi saya cukup unik karena tidak di-cover oleh dunia medis Barat (yang umumnya berkutat di sekitar jumlah sperma, persentasi sperma sehat, bentuk sperma, dan kecepatan berenang sperma). Beliau menyatakan bahwa saluran sperma dari testikel sampai ke penis milik saya ternyata berkelok-kelok yang menyebabkan batalyon pasukan komando melesat keluar barak dengan arah yang tidak lurus, sehingga lebih susah bagi mereka mencapai sel telur.

Saya: “………………….” (termangu sambil mikirin, kalo urusan pipa dan selokan di daerah situ gimana perbaikannya? Kan gak bisa cuma foto, upload ke aplikasi Qlue, terus nunggu petugas PU dateng?)

Sinshe: “Kita tidak perlu operasi. Sebisa mungkin jika bisa diobati tanpa operasi lebih baik. Jadi nanti saya tuliskan resep obat”. Oke deh, shifu!

Sang shinse menuliskan resep untuk saya dan istri yang semuanya dalam tulisan….Cina. Yang artinya resep ini harus ditebus di toko obat Cina, yang kebetulan juga dimiliki si Sinshe itu sendiri. Kami mendapat obat Cina tradisional yang harus diseduh air panas dan diminum, seperti jamu. Gimana rasanya? Percayalah bahwa rasa obat tradisional itu bisa membuat kamu lebih relijius.

Singkat cerita, kami hanya balik (dan nebus obat) ke sinshe tersebut dua kali saja. Sebenarnya bukannya kami menganggap terapi tradisional itu pasti akan gagal, tapi kami hanya merasa time was not on our side. Seandainya kami berusia lebih muda, mungkin bisa saja mencoba terapi alternatif selama setahun. Tetapi mengingat usia istri, kami tidak punya waktu yang panjang dan karena itu lah kami memutuskan ikut program IVF/bayi tabung saja. Dan melihat ke belakang, bagi kami itu adalah keputusan yang tepat.

Kembali ke lanjutan cerita terakhir…..

Jadi sesudah percobaan IVF pertama gagal, kami masih punya cadangan 3 embryo beku (Frozen jek. Saya sudah khawatir jadinya Anna dan Elsa aja). Sesudah sebulan dari insiden ovary torsion, sang dokter cukup pede untuk mencoba lagi. 3 embryo beku itu pun dicairkan, dan dicek hasilnya. Ternyata, hanya dua yang layak ditanam di rahim, yang satu rusak (rusak ini bisa terjadi saat embryo dibekukan, bukan dicairkan). Dari dua yang dianggap layak pun, hanya satu yang masuk grade excellent. Yang satunya tidak terlalu sempurna, tapi masih bisa dicoba.

Maka kedua embryo terakhir milik kami pun ditanam di rahim. Jika berhasil (embryo melekat di dinding rahim dan ‘tumbuh’) maka dalam 2 minggu, alat test pack akan menunjukkan kehamilan. Syukurlah, ternyata 1 dari dua embryo tersebut ‘jadi’, dan di bulan Januari akhir istri saya dinyatakan positif hamil.

Bagaimana rasanya jadi suami usia 40-an dari istri yang sedang hamil? Sebenarnya, tidak terlalu gimana banget. Trimester pertama (3 bulan pertama) akan jadi periode paling kritis dalam kehamilan, karena janin dianggap masih lemah, dan paling rentan untuk gugur. Ditambah lagi janin ini hasil bayi tabung (dengan jerih payah tenaga, waktu, dan biaya yang besar), tentunya kami jadi ekstra hati-hati sekali. Sang calon ibu tidak boleh traveling, atau terlalu lelah (walaupun istri saya tetap bekerja, hanya membatasi diri agar tidak terlalu lelah).

Selama kehamilan ini, efeknya di istri saya tergolong mild. Tidak ada reaksi mual muntah yang berlebihan. Tetapi yang pasti, indera penciuman dia super duper meningkat tajam. Tiba-tiba dia bisa mencium dengan lebih peka, dan akibatnya sering ilfil akibat bau. Dia bisa mencium apapun: bau, masakan, dusta, sampai teori konspirasi. Tentunya korban terdekat adalah….saya. Bau badan saya yang biasanya baik2 saja, sekarang intensitasnya meningkat di hidung dia. Kalo saya salah makan sedikit (misalnya makan masakan yang mengandung bawang putih), alamat saya tidur di sofa.

Tes kromosom

Masuk minggu keduabelas, dokter obgyn menawarkan jika kami mau melakukan tes kromosom. Seperti telah diulas di post sebelumnya, perempuan yang hamil di atas usia 35 mengalami peningkatan resiko melahirkan bayi engan Down Syndrome yang lebih tinggi. Down Syndrom ternyata sudah bisa diidentifikasi dari kromosom. Sebenarnya bisa dideteksi secara visual juga, jadi dari USG dokter akan melihat ketebalan leher (anak dengan Down Syndrome memiliki ciri fisik di leher/pundak) misalnya. Tapi menurut penjelasan dokter, akurasi cek visual ini hanya sekitar 70%, bandingkan dengan tes kromosom yang bisa lebih dari 90%.

Tes kromosom ini tentunya ada biaya tambahan. Tetapi tes ini tidak hanya mengidentifikasi Down Syndrome, tapi juga beberapa kondisi cacat lain yang disebabkan cacat kromosom (autisme TIDAK BISA dideteksi oleh tes kromosom ini). Tes ini tidak wajib, dan diserahkan kembali kepada orang-tua. Saya dan istri akhirnya sepakat melakukan tes ini.

Sampai di sini pasti ada yang bertanya, “Terus, kalo dari tes ketahuan sang janin menderita cacat genetik, apa yang akan dilakukan? Emangnya mau diaborsi?” Pertanyaan sama juga menghantui saya, dan saya pun langsung saja bertanya kepada dokter. “Terus, kalo ternyata, amit2 (ketok meja dokter) ketahuan bayi saya memiliki Down Syndrome atau sindrom2 lain, untuk apa?”

Dokter: “Tujuannya supaya orangtua bisa MEMPERSIAPKAN diri untuk membesarkan anak dengan kondisi tersebut. Selain itu, Down Syndrome memiliki range severity (keparahan), dari yang bisa berfungsi seperti layaknya anak normal, sampai yang benar2 parah sehingga perlu perhatian khusus”.

Memang bukan jawaban yang menghibur (karena kondisi ini belum ada obatnya), tapi jawaban yang logis, agar orangtua bisa merencanakan dengan lebih baik (dan tidak kaget saat anak sudah lahir).

Kami menantikan hasil tes kromosom (yang dilakukan dengan mengambil sampel darah calon ibu) dengan harap2 cemas. Sampel darah ini dikirim ke AS (rupanya belum ada lab yang bisa melakukan analisa ini di Indonesia). Ketika hasilnya kembali di dalam amplop tertutup rapat, kami segera membukanya, dan……syukurlah tidak ada cacat genetis (dari list semua cacat genetik yang bisa diidentifikasi dan bisa dideteksi oleh lab tersebut). Tetapi tes kromosom ini memberikan bonus informasi di luar soal cacat….

Karena jenis kelamin bisa dilihat dari susunan kromosom (perempuan: XX, laki2: XY), maka otomatis tes kromosom ini menunjukkan jenis kelamin si janin. Tidak perlu tebak2an melihat foto USG apakah itu Monas/ketimun/pentungan satpam/rudal, dll. Tes kromosom dijamin akurat memberitahukan jenis kelamin si janin. Karenanya, kami sudah bisa mencari (dan mempertengkarkan) nama bayi laki2 sejak masih kehamilan usia 4 bulan….

Melewati trimester pertama, tidak ada sesuatu yang menarik untuk dilaporkan. Kehamilan berjalan biasa saja, dengan cek rutin dokter setiap bulan. Saya selalu menunggu2 saat cek rutin, karena artinya ada USG dan mendengar detak jantung si janin. Setiap melihat penampilan si janin di layar monitor, dan mendengar suara detak jantungnya yang cepat, hati rasanya senang sekali.

20160322_175024

Selama kehamilan pun kami mengikuti “tips standar” seperti memperdengarkan musik klasik ke perut, sering mengajak ngobrol si janin, atau sekedar menstimulasi perut mulai usapan. “Tendangan” si janin awalnya dinanti2, dan saat baru awal terasa selalu disambut dengan pesta rakyat. Tapi percaya lah, seiring si janin makin besar dan menguat, tendangan2 lucu tadi mulai berasa bagai tendangan atlet MMA (Mixed Martial Art) dan bisa tidak nyaman, bahkan sakit, bagi si ibu.

Apa yang bisa dilakukan calon ayah?

Sebenarnya, calon ayah bisa banyak berkontribusi selama proses kehamilan istri. Jangan bayangkan hal-hal fantastis seperti meminta Chris Martin dari Coldplay datang untuk mengelus2 perut istri. Every little thing helps. Dari sekedar menemani cek ke dokter, sampai membantu pekerjaan rumah. Bahkan tidak menjadi suami ngeselin pun sudah sangat membantu. Maksudnya gimana? Kenali lah hal2 yang selama ini menyebalkan sang istri, dan coba lah kurangi selama kehamilan (ya kalo bisa emang selamanya sih….)

Contoh: saya punya kebiasaan berantakan kalo berganti baju sesudah pulang kerja. Kemeja kerja bisa ada di tempat tidur, kaos kaki ada di depan kamar mandi, dan kolor bekas ada di tempat bumbu dapur. Hal ini tentunya menjengkelkan istri pada umumnya, tapi SAAT HAMIL, hal-hal ini akan terasa lebih ngeselin lagi. Jadi bagi para suami, MINIMAL BANGET, lebih sadar diri tentang kelakuan yang ngeselin si calon ibu (berantakan di rumah, main game melulu, kawin lagi, dll) dan cobalah dihilangkan/dikurangi selama periode kehamilan. Ini saja sudah sangat membantu sang calon ibu. Apalagi kalo didatengin Chris Martin sik.

Oh iya, TIPS PENTING, jika kehamilan sehat, tetap lah beraktivitas biasa, termasuk jalan2/berlibur. Jangan terlalu takut, sepanjang tidak berlebihan dan sudah diberi ijin dokter. Sesudah lewat trimester pertama, dan sebelum masuk minggu2 terakhir kehamilan, manfaatkan untuk berlibur dan bersenang2, karena sesudah si bayi lahir akan lebih sulit lagi merencanakan perjalanan. Kami menyempatkan baby moon trip ke luar kota sekedar break untuk sang ibu, sebelum dia harus menjalankan peran ibu sepenuh waktu.

Tali Pusar Yang Terlilit!

Di sekitar usia kehamilan 7 bulan, USG mulai menunjukkan bahwa sang janin terlilit tali pusarnya sendiri, DI LEHER. Entah dia heboh apaan di dalem melakukan manuver akrobat, hasilnya, doi terlilit sendiri. Sebagai first time parents, waktu mendengar kabar ini rasanya shock banget, sampe ketakutan. Tapi sang dokter tampak santai saja, dan berkata bahwa ini wajar terjadi, dan harus dimonitor terus. Terkadang, si janin akhirnya akan bisa lolos sendiri menjelang kelahiran. Melihat reaksi si dokter yang sangat tenang, setenang pejabat koruptor Indonesia kalo ditangkap, kami pun ikut tenang.

Bagaimana soal keputusan lahir normal vs. Caesar, dan drama proses kelahiran, sampai 3 bulan pertama menjadi ayah di usia 40-an? Rasanya harus dilanjutkan di Part 3 nih, karena sudah panjang. Tungguin ya!

Review Awam Jadi Ayah di Usia 40an – Part 1

Standard

Kali ini, saya mau review awam sesuatu yang bukan gadget. Kali ini, saya mau review bagaimana rasanya jadi ayah di usia 40-an.

Disclaimer review awam saya tetap sama seperti biasa. Ini hanya lah review dari seorang ayah biasa. Bukan pakar keayahan, bukan dokter obgyn, apalagi bidan. Jadi semua opini di sini harus dibaca dengan kritis, dan dibandingkan dengan masukan para pakar di bidangnya. Okay?

Sebelum saya mereview tentang apa rasanya menjadi ayah, mungkin baiknya saya awali dengan keputusan memiliki anak. Jadi, ceritanya saya dan istri memutuskan untuk memiliki anak.

Mungkin ada yang bertanya, kok, pake diputuskan segala? Bukannya ini sesuatu yang otomatis ya? Bukannya punya anak bagi pasangan menikah itu se-otomatis kalo beli MacBook baru harus diporotin beli segala dongle baru?

Bagi kami, memiliki anak itu keputusan sadar. Jadinya harus dibicarakan sebelum menikah. Karena kami harus memikirkan apakah kami memang siap, dan tidak hanya “ingin”. Kalo menggunakan logika sepenuh tokoh Spock di Star Trek, rasanya tidak ada positifnya membawa manusia baru di planet ini. Planet yang sudah penuh sesak manusia, polusi, global warming, ancaman terorisme, Donald Tump, dan trend OM TELOLET OM di mana-mana ini.

Sesudah 4 tahun menikah, kami masih tidak mendapatkan anak. Seorang sahabat sudah menganjurkan untuk mengangkat anak saja. Sebuah proposal logis. Di planet dan negeri yang sudah sesak ini, ada banyak anak-anak yatim piatu yang membutuhkan kasih sayang orang tua. Tanpa harus menambah jumlah manusia, kita masih bisa menjadi orang tua bagi yang membutuhkan. Adopsi pun kami perbincangkan sebagai opsi, sesudah kami berusaha dulu dengan “program” punya anak.

Mengapa kami masih ngotot ingin punya anak sendiri? Entahlah. Mungkin ini “program” alami di software benak kami. Keinginan memiliki keturunan darah daging sendiri adalah insting Darwinian yang sangat kuat. Replikasi gen mungkin adalah dorongan alami terkuat di balik kehidupan itu sendiri. Selain itu, tanpa sadar kami mungkin tidak bisa lolos dari konstruksi sosial bahwa menjadi pasangan menikah diharapkan memiliki keturunan. Apapun itu, sesudah 4 tahun menikah tanpa anak, kami memutuskan melakukan intervensi, karena kata dokter, sesudah 2 tahun menikah (tanpa dijaga) tidak mendapat anak sudah bisa dikategorikan sebagai infertil (tidak subur).

Inseminasi Buatan dan In Vitro Fertilization (IVF).

Saat kami berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan program, tentunya keadaan kami dicek dahulu. Baik dari istri maupun suami. Hal ini penting dilakukan secara ikhlas oleh kedua pihak, untuk bisa mengetahui tindakan yang terbaik. Kalau ketahuan di mana masalahnya, lebih tepat juga solusinya kan? Untungnya kami berdua tidak punya masalah ego  dan bersedia di-tes keduanya. Saya suka sedih kalo mendengar cerita para suami yang egois tidak mau dites kesuburan, karena selain tidak tahu duduk permasalahan utamanya, ketidak pastian ini juga tidak fair bagi pasangan.

Ternyata hasil tes menunjukkan bahwa kami berdua…..baik-baik saja. Kondisi istri baik2 saja, dengan jumlah dan kualitas sel telur yang baik. Kondisi pasukan komando (baca: sperma) saya juga baik2 saja (jumlah anggota batalyon cukup, bentuk helm baik, gerakan batalyon juga memadai). Dokter mengkategorikan kami sebagai unexplained infertility, kondisi tidak subur yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya. Entah karena pasukan komando saya kalo di dalem nyasar terus (gak masuk akal karena komandannya pengguna Google Map setia), atau karena sel telur yang resek, udah disamperin pasukan komando jual mahal gak mau buka pintu (masuk akal kalo ngeliat yang punya….).

Kalo dilihat dari hasil tes lab, sebenarnya kami masih bisa berusaha cara “normal” (you know, yang asik di remang2 gitu lah). Tapi yang masalah adalah umur. Saya dan istri sudah tidak muda lagi. Dokter menjelaskan bahwa resiko anak memiliki Down syndrome (sejenis kondisi cacat genetis yang memengaruhi perkembangan mental dan fisik anak) meningkat pesat begitu calon ibu melewati usia 35 tahun. Saat program pun, saya yang sudah berusia 39 tahun merasa sudah tidak muda lagi untuk mengejar-ngejar anak kecil di lorong bagian sapu dan alat pel di Carrefour. Akhirnya kami memilih untuk bisa memercepat kehamilan dengan intervensi.

Saat ini ada dua macam program. Yang pertama adalah Inseminasi buatan (Intra Uterine Insemination/IUI), yang kedua adalah program bayi tabung, atau In Vitro Fertilization (IVF). Saya akan coba jelaskan perbedaan keduanya dengan bahasa review awam yang sama sekali tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara medis…..

Ingat problem pasukan komando yang entah gagal mencapai sel telur atau sel telur yang sombong gak mau buka pintu kecuali di-telolet? Nah, kalo inseminasi buatan, pasukan komando yang tukang nyasar di-screening lagi (dicari yang lumayan kece dan gerak jalannya kayaknya baik), kemudian peleton pilihan ini diantar pake busway lebih dekat ke sel telur. Tapi hanya jadi lebih dekat. Tetep aja mereka harus turun di halte terakhir dan tetep usaha sendiri nyari si sel telur itu. Dan kemudian masih ada faktor apakah mereka diterima si sel telur. Dan kalau pun sukses diterima masuk dan terjadi pembuahan, masih ada faktor apakah embryo berkembang. Tapi minimal resiko mereka nyasar dari awal udah melenceng ke warteg ato panti pijat sudah jauh berkurang.

Di IVF, faktor resiko nyasar jauh dikurangi. Pasukan komando tidak disuruh naik busway, tapi DIANTAR SAMPAI TUJUAN NAEK UBER. Tidak hanya diantar, oleh dokter dipilih seorang pasukan komando paling ganteng (sebut saja “Kopral Jono”), dan sel telur pun dikeluarkan dari sang perempuan, kemudian sel telur pun didobrak pintunya agar si kopral Jono ini PASTI masuk. Peristiwa pemaksaan masuknya kopral Jono ke dalam sel telur ini dilakukan di luar tubuh manusia dengan teknologi canggih (“bayi tabung”). Embryo yang sukses terbentuk kemudian ditempatkan di dinding rahim calon ibu dengan disuntik. Sampai di sini semua upaya yang bisa dilakukan sudah dilakukan – apakah embryo akan melekat di dinding rahim dan tumbuh (kehamilan) sudah di luar kontrol kita. Tinggal pasrah dan berdoa.

Ada sedikit pengalaman menggelitik dari perspektif pria soal kedua prosedur di atas. Dalam kedua prosedur di atas, pasukan komando harus dikeluarkan dari tubuh pria (beda dengan perempuan, untuk inseminasi buatan tidak perlu mengambil sel telur). Gimana mengeluarkan satu batalyon pasukan komando dari barak (baca: buah zakar)? Ya cuma ada satu cara (gak usah nanya!) dan itu harus dilakukan di klinik fertilitas. Bro, gak bisa elo keluarin sendiri di rumah terus kirim pake Gojek. Karena butuh waktu cepat sekali para pasukan komando ini diproses, baik untuk inseminasi buatan maupun bayi tabung. Mereka gak tahan lama2 di luar barak, bro. Nah, proses mengeluarkan pasukan dari barak (saya menolak menggunakan kata berawalan M-, O-, ataupun C- untuk blog ini!) ini harus dilakukan di sebuah ruangan tertutup di klinik, dengan support multimedia entertainment yang membantu proses lebih, ehem, cepat dan efektif. Mau bawa koleksi sendiri juga bisa sih.

Masalahnya ruangan ini memiliki dinding berlubang hanya ditutup pintu kecil untuk mengoper pasukan komando yang ditampung ke tangan suster di ruang sebelah untuk diproses. Ini yang agak malesin sih. Bayangin harus membujuk satu batalyon pasukan keluar barak sambil awkward karena kita tahu di ruangan sebelah ada yang nungguin. Saya yakin para suster itu juga udah bosen sih melalui proses ini. Sesudah para prajurit sukses bubar dari barak, THIS IS SPARTAAAAAAAA!!!!, mereka segera masuk pesawat Hercules, eh, sebuah kontainer plastik yang harus segera diserahterimakan ke suster klinik fertilitas.

Sekali lagi, penjelasan di atas adalah versi awam (sudut pandang pasien), bukan medis. Kalo mau tahu yang benernya, ya cari informasi sendiri lagi yaaaa. Sebaiknya ke spesialis obgyn langsung. Selain itu, penjelasan di atas tentunya adalah inti prosedurnya. Di balik itu semua, ada terapi obat dan hormon untuk memperbesar dan memperbanyak sel telur dan sperma.

Secara kompleksitas dan skill yang diperlukan, jelas metode IVF/bayi tabung jauh lebih rumit, dan ini tentunya berdampak pada biaya. IVF tentunya jauh lebih mahal dibandingkan inseminasi. Mungkin ada yang bertanya, apakah sebaiknya saya menjalani inseminasi dahulu, baru jika gagal ke IVF, atau langsung ke IVF saja?

Ini opini saya sebagai yang pernah menjalani keduanya: Jika kamu mampu membiayai IVF, lebih baik skip inseminasi dan langsung saja IVF. Dan ini berdasarkan pengalaman pribadi:

Kami mencoba inseminasi dahulu, dan gagal sampai dua kali. Dan akhirnya kami melakukan IVF dan berhasil. Inseminasi memiliki tingkat keberhasilan hanya sekitar 5-15%, sementara IVF sekitar 8-40% (tergantung usia calon ibu). Jika kamu punya budget untuk IVF, akan lebih untung kalau skip inseminasi dengan peluang sukses yang rendah. Karena kerugian dari inseminasi yang gagal bukan hanya dari uang, tapi juga waktu dan tenaga emosional. Setiap kamu mendengar kata “gagal” dari prosedur yang kamu lalui, pastilah ada rasa dowovary tn, apalagi dari sang calon ibu. Mental yang down  ini selain menyiksa juga bisa memengaruhi fisik, Itu sebabnya dokter obgyn kami mengatakan umumnya jika inseminasi gagal sampai 2 kali, tidak dianjurkan untuk mengulanginya.

Kami mencoba inseminasi sampai dua kali, dan keduanya gagal. Kalau bisa memutar waktu, rasanya ingin langsung IVF saja. Biaya untuk dua kali inseminasi bisa menyumbang ke total biaya IVF. Belum lagi lelah emosional menjalani prosedur berulang bagi sang calon ibu (dan bayangkan mengeluarkan pasukan dari barak 2 kali bruh) dan mendengar berita kegagalan sampai dua kali. Seriously, if you can afford it, go straight to IVF!

IVF kami pun tidak bebas drama. Saat IVF percobaan pertama, hanya dalam tempo 2 hari sesudah embrio ditanam, terjadi komplikasi yang disebut ovary torsion (indung telur terpuntir). Kondisi ini konon sangat jarang terjadi, dan sangat menyakitkan bagi sang istri (bayangin aja ada organ di dalam tubuh yang dipelitir, sakitnya kayak apa). Operasi darurat harus dilakukan untuk menyelamatkan si indung telur yang terpuntir (bayangin jari kamu diikat kuat2 sampai darah tidak mengalir. Lama2 akan mati dan busuk kan? Seperti itu lah resikonya ovary torsion jika tidak segera diatasi). Bahkan dokter obgyn yang menangani kami sampai berkata, selama 20 tahun beliau menjadi dokter, ini baru kasus kedua yang ditemuinya. Saking jarangnya kasus ini, sesudah operasi yang (syukurlah) berhasil, sang dokter sampai meminjam DVD rekaman proses operasi untuk dijadikan studi kasus (“Yiipeee, bisa bikin presentasi yang keren dari kasus jarang nih untuk para kolega”, gitu kalik kalo saya jadi dokternya….)

Saat seluruh drama ini terjadi, dalam hati saya sudah merasa kalo embrio yang ditanam tidak akan survive. Gimana mau survive kalo kondisi rahim istri di-uwekuwek gitu. Benar saja, tidak ada kehamilan dari embryo yang ditanam pertama kali. Tetapi karena kami masih punya cadangan embryo yang dibekukan, percobaan IVF yang kedua bisa dilakukan hanya selang sebulan dari operasi. Dan percobaan kedua….BERHASIL! Janin terbentuk, istri saya dinyatakan hamil, dan bertahan hingga 9 bulan, dan sang janin selamat melalui proses kelahiran.

Bagaimana rasanya menjalani, eh, mendampingi proses kehamilan istri, drama hari kelahiran, dan suka duka menjadi ayah baru di usia 40? Akan saya lanjutkan di Part 2. Stay tuned!

Pahlawan (Di) Lembaran Uang

Standard

Alkisah, di suatu titik dalam sejarah, sekelompok pejuang kemerdekaan harus berjuang melawan penjajah. Para pejuang ini datang dari berbagai latar belakang, warna kulit, bahkan kepercayaan. Tetapi mereka tidak mempersoalkan perbedaan di antara mereka. Yang mereka tahu ada sesuatu yang lebih besar yang mereka perjuangkan. Kemerdekaan menentukan nasib sendiri, kemerdekaan dari tirani. Dan hal ini jauh lebih penting dari perbedaan di antara mereka, bahkan perbedaan keyakinan sekalipun.

Apakah saya sedang membicarakan pahlawan Indonesia? Oh, bukan. Saya sedang membahas film Rogue One, sebuah cerita yang mengambil setting di semesta Star Wars. Saya senang dengan ceritanya yang menggambarkan berbagai penghuni galaksi yang dijajah Empire bersatu. Bentuknya macam2, ada yang manusia, ada yang mirip cumi, warnanya juga macam2. Ada yang relijius, ada yang agnostik. Tapi semua berjuang bersama untuk common goal. Mereka meneteskan darah, keringat, bahkan mengorbankan nyawa untuk melawan tiran.

Ini memang hanya fiksi, yang seringkali menjadi potret ideal yang jarang ditemui di dunia nyata. Tapi, Indonesia rasanya memiliki sejarah yang tidak jauh berbeda dari kisah Rogue One. Dalam masa penjajahan Belanda dan perang revolusi, bangsa ini pernah melahirkan anak-anak perjuangan yang mengesampingkan perbedaan. Ada yang bersuku Aceh, Jawa, Manado, Ambon, Tionghoa, dan lain-lain. Ada yang beragama Kristen, Muslim, Buddha, Hindu, Katolik. Ada yang intelek, ada yang dokter, ada yang pendekar. Rasanya disbanding para protagonis Rogue One, kisah pejuang Indonesia tidak kalah heroik dan menginspirasi. Bahkan lebih dahsyat, karena ini kisah nyata, bukan rekaan pujangga Hollywood.

Maka ketika uang baru Republik ini menciptakan keributan urusan agama para Pahlawan Nasional di uang tersebut, di situ saya merasa sedih. Kalau para pejuang dan pahlawan bangsa dahulu mengikuti mentalitas generasi muda sekarang, yang lebih senang membelah daripada memadu, rasanya kita belum merdeka. Bagai seluruh galaksi terus takluk dalam genggaman Empire, sang Emperor, dan Darth Vader.

Sedih, karena kita sekarang hidup nyaman, dengan ponsel pintar di genggaman, bebas menyebar kebencian, justru adalah buah dari keringat, darah, dan nyawa para pejuang tadi. Di negeri merdeka dan relatif sejahtera ini, mengayunkan jempol di layar sentuh ponsel memang sangat mudah. Menuliskan hinaan dan cercaan bagi para pejuang hanya menghabiskan beberapa ratus kilobyte data, beberapa Rupiah tak berarti, mungkin dari ruangan kafe sejuk berpendingin AC. Sungguh kontras dengan apa yang harus dihadapi para pahlawan nasional, di antara desingan peluru, tekanan psikologis, teror penjajah, atau sekedar melawan egoisme demi memperjuangkan orang lain.

“Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”. Rasanya kalimat ini sudah terlalu sering disebut sehingga sudah menjadi klise, seklise “bersih itu indah”. Kita menjebak makna “menghargai” menjadi sesempit nama jalan, patung, atau gambar di lembaran uang. Padahal menghargai pahlawan juga berarti mengingat keberagaman mereka, yang tidak menghalangi perjuangan yang toh tidak menguntungkan mereka sendiri.

Ah, tapi mungkin kita memang belum layak menjadi bangsa yang besar. Bahkan jempol kita pun belum mampu berbuat hal bajik, lebih mudah menghardik dan menghujat. Mungkin bangsa ini memang baru pantas sampai taraf “OM TELOLET OM”…..

 

Review Awam Laptop HP Envy 13

Standard

Yay, ada review awam lagi!

Selama ini review awam gadget gw meluluk di sekitar smartphone. Akhirnya ada kesempatan untuk mereview laptop juga. Terima kasih kepada HP Indonesia yang memberi gw kesempatan mereview laptop HP Envy 13 ini. Model yang gw terima adalah Envy 13-d027TU dengan prosesor Intel Core i7.

Untuk yang baru pertama kali membaca review awam gw, seperti biasa gw harus memberitahukan bahwa ini, sesuai namanya, adalah review AWAM. Artinya review ini bener2 dari gw seorang pengguna gadget awam. Gw bukan editor majalah atau blog tech terkemuka nan ganteng yang hafal semua spec dan istilah2 gadget. Jadi ya mohon maklum kalau review ini akan sangat mengambil perspektif everyday casual user dan bukan “expert”. Kalo mau yang bener2 expert review, monggo cari dari sumber lainnya.

Dengan disclaimer tersebut, mari kita mulai!

Alkisah, dahuluuuuu kala di sebuah negeri laptop…..

….terdapat dua jenis laptop yang berbeda. Yang pertama adalah laptop basi berbasis PC. Yang kedua adalah laptop stylish, kece, ganteng milik Apple: MacBook. Rasanya sampai sekitar 3 tahun lalu, garis pemisah di antara kedua ini masih jelas. Kalo mau laptop keren yang gak malu2in ditenteng masuk toilet hotel bintang lima, belilah MacBook. Sementara bagi yang bergantung pada Windows, terima aja nasib, harus memakai laptop plastic yang terlihat murah. Atau kalau gak terlihat murah, ya keliatan laptop generic “orang kantoran” yang sama sekali gak keren ditenteng ke DWP. Padahal bagi kami yang memilih Windows bukannya gak pengen kece, tapi karena menurut kami laptop berbasis Windows jauh lebih produktif. Tapi akhirnya kami harus kompromi dengan mendahulukan produktivitas di atas kekecean.

Begitulah persepsi gw mengenai laptop sampai sekitar 2-3 tahun lalu. MacBook Air adalah si cantik yang mempesona, sementara PC adalah si pekerja yang rajin, andal, dan kompeten, tapi tidak kece. Tetapi belakangan gw melihat adanya perubahan di dunia PC. Konsep Ultrabook mulai menunjukkan bahwa laptop PC bisa slim, ringan, tapi tetap mumpuni. Laptop PC yang dulu identik dengan orang kantoran mainstream atau “laptop jatah kantor” yang membosankan perlahan mulai bersolek dan cantik wangi juga.

Bagaimana dengan laptop merek HP? (jaman dulu sih orang tahu ini singkatan Hewlett-Packard, tapi kayaknya generasi “MILLENIAL” udah gak tau deh. Iya gak?). Bagi gw, dulu HP identik dengan “jatah kantor”. Kayaknya banyak kantor yang kalo menyediakan komputer dan laptop untuk karyawannya merek HP. Di satu sisi, terkesan ini merek yang memang andal, karena dipercaya oleh banyak perusahaan. Tapi di sisi lain, designnya saat itu menguatkan citra “korporat”: kaku, fungsional, tidak kece lah pokoknya secara fisik.

Tetapi itu dulu. Saat ini, HP tampaknya juga mengikuti trend membuat laptop yang juga mempertimbangkan faktor estetika. Dan ini yang gw rasakan ketika mencoba Envy 13. This is definitely not my dad’s HP. Ini sudah pasti bukan laptop HP generasi babe gw.

Judge a (note)book by its cover!

Kita mulai saja dari penampilan luarnya. I mean, look at THAT! Body metal silver yang terlihat sangat premium (walaupun bagian bawah masih plastik. Tapi karena dicat silver tampak menyatu dengan body metal). Setiap tepinya memiliki curve yang berkesan furnitur mewah. Beneran, kali ini HP tidak terlihat seperti laptop korporat lagi, tetapi bagaikan milik beauty blogger masa kini.

20161210_134624

Fitur fisik yang paling menonjol dari Envy 13 ini bagi gw adalah….TIPIS-nya! Tadinya gw pikir ini sudah model HP tertipis saat ini (ternyata sudah dikalahkan oleh HP Spectre), tetapi percayalah Envy ini benar2 tipis. Buktinya gampang aja. Perhatikan body samping di mana ada USB port. Perhatikan ruang tersisa di atas dan bawah dari USB port sudah nyaris habis. Dan ini artinya Envy sudah menipiskan laptop sebisa mungkin untuk tetap bisa memiliki USB port.

20161211_081459

Tipis banget! Sexy!

Dan Envy 13 ini segitu tipisnya kayak Victoria Secret Angels, bahkan LEBIH tipis dari MacBook Air 13! Gokil gak tuh sob? MacBook Air bagi gw itu udah benchmark laptop tipis, tetapi dengan ketebalan 17mm, doi masih kalah Envy 13 yang tebalnya 12.95mm. Well done, HP! Dengan body metal tapi tipis ini, Envy 13 menjadi terasa RINGAN, dengan berat hanya 1.275 kg. Ini namanya kombinasi maut body sexy, ringan, tapi tetap kokoh dengan balutan metal. Envy 13 jadinya menjadi sebuah alat kerja yang portable beneran, dan tidak berubah menjadi alat gym untuk membesarkan otot punggung/bahu….

20161210_130045

Ringan!

Dengan kemasan cantik ini, rasanya gak berlebihan HP memberikan nama “Envy” (iri hati) kepada laptop ini. Siapapun yang melihat elo bekerja dengan laptop ini pasti akan menjadi iri dengan elo. Kecuali elo terkenal ngehek sehingga orang malah berkomentar, “Kasian amat laptop sebagus itu dipake orang sengehek doi….”

20161210_134607

perhatikan engsel yang juga berfungsi menjadi “alas” yang memberi efek kemiringan pada keyboard

Ada fitur ‘kecil’ yang fungsional, yaitu engsel (hinge) dari layar laptop. Saat layar dibuka, maka engsel juga berubah menjadi alas tambahan yang memberikan efek miring keyboard (perhatikan foto di atas). Ini membuat Envy 13 sangat nyaman untuk digunakan di meja.

20161210_113629

Tombol tidak terlalu rapat, dengan “klik” yang cukup tegas, dan dilengkapi backlight yang bisa dihidupkan sesuai kebutuhan

Gw suka banget dengan keyboard dari Envy 13 ini. Yang pertama, adanya ruang yang nyaman di sebelah touchpad untuk tempat bertumpu pangkal tangan. Touchpad juga sangat besar, sehingga memudahkan manuver jari sampai scrolling menggunakan dua jari sekalipun. Tetapi di luar aspek fungsional, design dari keyboard-nya pun cantik dan enak dilihat. Layout tombol terlihat clean, tombol pun terasa ada “klik” yang memadai saat ditekan. Envy 13 juga memiliki fitur backlight untuk keyboard, di mana keyboard bisa menyala jika diinginkan (misalnya saat bekerja di suasana gelap).

Hmmmm, audionya mahal neh….

Saat ini kita meneliti bagian keyboard, maka kita akan menemukan hal lain, yaitu speaker. Speakernya sudah stereo di kiri dan kanan, upward firing, yang tentunya memberikan sensasi lebih kalo lagi nonton di laptop. Tetapi ini neh yang lebih penting…..Audionya Envy menggunakan teknologi dan lisensi…. Bang & Olufsen cuuuuy!

20161210_113607

Bro, gak perlu jadi peminat hifi untuk tahu kalo ini merek audio premium banget. Gw langsung berbinar2 gitu pas melihat logo Bang & Olufsen. Jadi tidak hanya tampangnya Envy 13 ini kece dan mahal berat, tapi juga suaranya merdu. Ini bener-bener menjadikan Envy 13 laptop ultrabook yang beneran premium komplit. Bagaikan melihat cewek di Plaza Senayan, udah cantik, baju keren, tas-nya Balensiaga (yang asli, bukan KW). KELAR IDUP LOE!

Tapi itu baru dari mereknya. Gimana sensasi audio benerannya? Well, suara dari speakernya bagus, tapi kayaknya karena efek “Bang & Olufsen”, gw agak berharap lebih. Suaranya stereo, dan speaker gandanya memberi kesan surround yang lumayan, tapi jangan berharap bass yang lebih bagai digaplok Optimus Prime. Mungkin ekspektasi gw gak realistis sih, mengingat speaker sebuah laptop slim & light gini ya gak bisa ngalahin speaker Stadium. Nah tetapi sesudah gw menggunakan headphone, maka laen ceritanya. Setelan Bang Olupsen ini berasa kepretannya, walaupun semoga bukan halu karena terpengaruh brand-nya.

Jangan asal dipegang….

Walaupun Envy 13 ini cantik dan langsing dan merdu, jangan dipikir doi gampang dipegang2. Security-nya menggunakan fingerprint scanner dengan cara swipe. Pengalaman gw scanner-nya sangat cepat dan akurat dan hampir selalu sukses mengenali sidik jari gw.

Ada otak gak doi?

Mari sekarang bicara performa. Tapi pertama2, gw harus mengingatkan bahwa gw adalah pengguna yang sangat umum. Artinya laptop digunakan untuk menulis dokumen, email, sekedar main social media, browsing/baca artikel online, dan nonton video di YouTube. Gw bukan gamer, apalagi game2 3D yang butuh graphic card atau prosesor dahsyat. Feeling gw sih Envy 13 bukan model yang diperuntukkan untuk game2 “berat”, tetapi lebih untuk produktivitas dan entertainment umum mayoritas pengguna laptop.

Mari kita cek jeroan dulu, apa isinya Envy 13 (tipe d-027TU) ini:

  • Prosesor Intel Core i7-6500U 2.5 GHz, 4M Cache, up to 3.10 GHz (JANGAN TANYA GW APA ARTINYA INI, GW CUMA COPAS DARI SPECSHEET. POKOKNYA TERDENGAR SANGAR AJA)
  • Memory 8GB. 8GB JEK! Sepengetahuan gw dari dunia smartphone, RAM gede artinya makin kuat membuka banyak aplikasi ataupun memroses file besar, bener gak sih?
  • Storagenya 256GB SSD. Setahu gw SSD (Solid State Drive) artinya hard drive-nya gak ada komponen bergerak (tidak ada “disk”) seperti hard disk jadul, yang artinya kinerja yang sangat cepat. Mengcopy koleksi foto mantan sebelum ketahuan calon istri bisa dilakukan lebih cepaaaat.

Rasanya sih dengan spec kayak gini kebutuhan sehari2 yang umum aja sih “lewat” ya. Core i7 setahu gw adalah seri prosesor tertinggi, jadi harusnya sih lumayan kenceng ya. Dan itu lah yang gw rasakan. Ngeblog, nonton video, media sosial, semua terasa kencang saja, pun saat banyak window yang dibuka dan harus switch antar aplikasi. Sekali lagi, style penggunaan laptop gw memang cenderung basic saja (gw gak memakai Photoshop atau melakukan 3D rendering, misalnya).

Mata gak bisa bohong…

Layar gimana layar? Selama ini gw kalo review smartphone layar/display adalah hal yang sering ditanyakan. Rasanya sah juga dengan laptop. Envy 13-d027TU ini dibekali display 13.3 inch QHD. Gw ulang ya….QHD jek. Resolusi QHD itu 3200×1800, jauh di atas Full HD, apalagi milik MacBook Air yang hanya 1440×900. Di segment notebook super tipis dan ringan ini kayaknya HP Envy 13 punya layar dengan salah satu resolusi tertinggi. Ini artinya gambar yang benar2 tajam. Kalo nonton video Awkarin semua detil tampak jelas, sampai tetes air matanya pun. Teknologi IPS yang biasa dipakai di smartphone kelas atas juga memberikan warna yang sangat cerah. Brightness terasa memadai, bahkan saat menggunakan laptop di bawah cahaya terang sekalipun.

20161210_113522

20161217_1753230

Layar QHD emang tajem banget buat nonton film format HD

Urusan lobang

Gimana urusan per”lobang”an yang penting ini? Okay, jadi Envy 13 dibekali 3 USB 3.0 Port, 1 HDMI, 1 SD Card, dan 1 headphone jack. Rasanya 3 USB port sudah sangat memadai ya. Tidak terbayang kebutuhan untuk colok2an sampai lebih dari 3 unit. Toh untuk keperluan projector sudah ada HDMI port.

Soal USB Port, ada yang menarik. Di sisi kiri, 1 USBnya namanya USB Sleep and Charge. Di lobang yang satu ini, walaupun laptop dalam keadaan sleep atau off sekalipun, dia tetep bisa mencharge. Jadi ini pas banget buat kalian yang selalu panik kehabisan baterai smartphone, karena Envy 13 siap mencharge gadget ada kapanpun. Gokil ya? Udah cantik, pinter, merdu, selalu siap membantu sesama gadget yang berkekurangan. Ini Envy 13 kalo jadi perempuan udah gw kawinin sob.

20161210_130021

20161210_130039

USB port yang ini spesial pake telor (ada simbol petir di sebelahnya), bisa ngecharge dalam keadaan laptop sedang ‘sleep’ atau mati sekalipun

Tahan lama gak bro?

Hmmmm, baterai ya? Pengalaman gw memakai Envy 13 ini untuk aktivitas tidak terlalu ‘berat’, hanya ngeblog, nonton YouTube, dan browsing2 saja. Rasanya baterainya bertahan sekitar 5-6 jam digunakan aktif, dan ini sudah menggunakan fitur Battery Saver yang aktif saat baterai tinggal 20%. Sebagai catatan, saat sudah masuk Battery Saver Mode, saya tidak merasakan adanya penurunan kecepatan dan kinerja. Semua tetap berjalan cepat.

Memang urusan kinerja baterai rasanya tidak “spekta” banget, tetapi juga tidak jelek. Saya rasa baterai Envy 13 ini ada di rating “sedang” lah. Untuk sekedar bekerja sedang rasanya 5-6 jam cukup sampai kamu bertemu colokan listrik berikutnya.

HP Support

Envy juga mendapatkan HP Support Assistant, sehingga seperti menggunakan smartphone Android/iOS aja, begitu ada koneksi internet maka si Support Assistant akan memastikan device software laptop Envy kita selalu mendapat upgrade kekinian. Simpel dan tidak mengganggu karena bekerja di background.

Oh, soal jebakan Batman…

Ngomong2 soal baterai, ada satu hal yang keliatan kecil tapi lumayan penting juga, yaitu soal….adaptor. Gw pernah pengalaman jelek soalnya dengan laptop yang kecil, slim, dan ringan, tapi adaptornya…..GEDE DAN BERAT AJA. Dan karena kita pergi membawa laptop bersama adaptornya, akhirnya nett-nett sama aja, laptopnya ringan tapi adaptornya berat. Good newsnya adalah: adaptornya Envy 13 ini KECIL dan RINGAN. Bener2 kecil sampai kotaknya muat dalam kepalan tangan.

20161211_081720

Perhatikan si adaptor yang berukuran kecil dan sangat ringan

Ini mungkin big deal, tapi kalo pengen punya pengalaman laptop yang slim dan ringan, ya harus komplit dengan adaptor yang kecil dan ringan juga. Iya kan?

Penutup

Jadi, gimana rasanya overall experience gw dengan Envy 13 ini? Bisa dibilang sangat happy, dan hampir tidak ada aspek yang mengecewakan. Kalaupun ada yang rasanya ingin ditingkatkan mungkin kapasitas baterai. Betapa indahnya jika bisa sampai 10-12 jam. But well, you can’t ask for EVERYTHING. Yang pasti, Envy 13 sangat unggul di: design yang MEWAH, tapi tetap tipis, body solid metal, dan sangat ringan. Artinya semua orang, baik pria wanita, tua muda bisa memakai laptop ini ke mana-mana tanpa menjadi beban hidup. Tetapi laptop secantik tapi ‘gampangan’ (dibawa kemana2) ini punya spesifikasi yang tidak bisa diremehkan. Prosesor Intel Core seri tercanggih, RAM besar 8GB, dan storage 256GB SSD yang kenceng.

Bagi gw Envy 13 adalah sebuah laptop all-rounder. Serba guna untuk kebanyakan orang. Apakah kamu seorang mahasiswa, blogger, vlogger, frogger, pengusaha es dogger (bro mulai maksa bro….), konsultan, profesional, sampe dukun menggandakan uang, rasanya semua orang akan mendapatkan pengalaman laptop yang mumpuni dari seri ini. Untuk kebutuhan belajar dan bekerja pada umumnya, spek yang diberikan sudah sangat mencukupi.

Sekali lagi, ini bukan laptop PC angkatan bokap kita. Style dan kinerja mumpuni ternyata bisa digabungkan, dan HP berhasil melakukannya di Envy 13 ini! Dan beneran, elo gak akan malu ngeluarin laptop ini di Plaza Senayan, dan mungkin dilirik cewek cantik dengan tas Balensiaga tadi. Plus mendapatkan tatapan iri dengki dari pengguna laptop lain. The Envy is truly one enviable laptop!

Terima kasih sudah membaca review awam ini, semoga bermanfaat!

Informasi lebih lanjut, bisa klik https://www.hpshopping.id/en/envy13

 

 

Makna Namamu, Anakku.

Standard

Untuk anakku,

Inilah makna namamu.

Namamu sederhana, mudah diucapkan, dan hanya terdiri dari 3 huruf.

(3 huruf rasanya sudah nama formal terpendek yang bisa kami orangtuamu pikirkan. Kalau 2 huruf jadinya “Po” dari Kungfu Panda!)

Dari raja terkaya, sampai rakyat jelata, semua (seharusnya) mudah menyebut namamu. Ke negara manapun kamu pergi, semoga namamu mudah diucapkan (maklum, orangtuamu orang iklan/marketing, jadi biasa memikirkan nama brand!) Makna dibalik nama pendek dan sederhana ini adalah harapan bahwa kamu kelak tumbuh mudah bergaul dengan semua orang, dari semua suku, agama, kelas sosial, pendidikan, dan latar belakang lain. Kamu bisa menjadi seseorang yang mudah menyesuaikan diri, beradaptasi dengan semua kalangan, menghormati semua, dan dihormati semua.

Dalam bahasa Hawaii, namamu bermakna “lautan” (ocean).

Karena walaupun namamu sederhana dan mudah diucapkan, tetapi semoga di baliknya terdapat kedalaman bagai lautan, dan bukan kedangkalan. Karena harapan orangtuamu adalah kamu mengejar pengetahuan sedalam-dalamnya, menghormati ilmu, kebijaksanaan, kaum cendekia dan ilmuwan. Karena kelahiranmu sendiri adalah keajaiban ilmu pengetahuan (kamu dibentuk di sebuah tabung!)

Lautan juga simbol kekuatan alam yang luar biasa. Laut adalah sumber kehidupan. Tetapi laut juga bisa menjadi kekuatan menghancurkan yang luar biasa. Ingatlah bahwa kamu mampu menghancurkan dan merusak hidup orang lain. Tidak hanya mellalui perbuatan fisik, tetapi dengan kata-kata yang jahat, fitnah, dan menyebarkan kebencian. Semoga kamu menjadi manusia yang bagaikan laut tenang pemberi kehidupan, bukan laut yang murka pembawa derita dan kesedihan.

Dalam bahasa Mandarin, namamu bermakna “kemenangan” (victory).

Hidup ini penuh persaingan. Rasanya tidak ada orangtua yang ingin melihat anaknya ‘kalah’ dalam persaingan dan perlombaan hidup. Tetapi jangan sempitkan kemenangan hidup sebagai semata mengalahkan orang lain. Karena musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri. Segala ketakutan dan keraguanmu, akan menjadi musuh yang beribu lipat lebih berat dari orang lain. Segala kebencian dan kemarahanmu, jika tak terkendalikan, menjadikanmu bagaikan laut mengamuk badai di atas.

Di atas segalanya, menanglah atas dirimu sendiri.

Dalam bahasa Burma, namamu bermakna “tak terpatahkan” (unbreakable). Saat kesulitan, angin keras menerpa hidupmu, silahkan membengkok dan merunduk, tapi jangan pernah patah. You can bend, but do not break. Kamu akan merasa hidup begitu sulit, tetapi jangan pernah asamu pudar sama sekali.

Namamu sederhana, hanya 3 huruf. Tetapi nama itu membawa makna dalam yang menjadi doa orang tuamu. Jadilah seorang pria yang tidak elitis dan diskriminatif, tetapi ramahlah dan bergaul dengan semua. Di balik kesederhanaanmu, biarlah kekayaanmu adalah ilmu yang sedalam lautan. Jadilah kuat, tak terpatahkan, bukan untuk menindas yang lebih lemah, tetapi terutama untuk menang atas dirimu sendiri.

Namamu sederhana, hanya 3 huruf. Selamat datang, Kai.

img_20161013_182815