Bedanya Sekolah Akademik dan Sekolah “Hidup”

Gw suka analogi bahwa hidup itu bagaikan sekolah di mana kita terus belajar dan terus naik kelas tanpa ada tanggal “wisuda”. (Beberapa orang menyamakan kematian sebagai “hari Wisuda”.)

Gw pernah membaca bahwa, konon, yang namanya ‘pencobaan’ itu sebenarnya adalah sejenis ujian. Pencobaan yang sama terjadi berulang-ulang karena kita belum memberikan respon berupa tindakan yang tepat. Karena belum lulus, maka hidup memberikan pencobaan yang sama lagi dan lagi. Sampai kita memberikan “jawaban yang benar”, barulah “ujian” itu berakhir.

Misalnya, setiap kali pacaran seseorang diputusiiiiiin melulu, dan ia bertanya-tanya, ‘kok nasib gw apes melulu, diputusin melulu ya?’. Maka menurut teori di atas, mungkin kita sedang dites oleh hidup dan perlu berusaha mengetahui, apa yang belum dilakukan untuk bisa lulus. Ketika ketika kita memahami apa yang harus dilakukan, dan melakukannya, maka kita akan “lulus tes”, dan niscaya pacar berikutnya tidak mutusin dia lagi.

Jadi, siapa tahu dalam kasus cowok yang diputusin melulu, karena dia senang ngajak kenalan cewek lain SAAT LAGI JALAN DENGAN PACARNYA. Ketika dia menyadari bahwa perilaku ini tidak disukai kebanyakan wanita, dan dia merubahnya (dengan ngajak kenalan cowok lain….lho?), maka dia dianggap “lulus tes” oleh hidup, dan semoga tidak diputusin lagi berikut kali. Yah, kira-kira gambaran kasarnya seperti itu.

Gw pribadi tidak percaya bahwa Hidup itu adalah Guru raksasa yang tugasnya ngecekin satu-satu murid-muridnya, dan sengaja memberikan tes-tes kehidupan (kalo bener, kenapa banyak penjahat dan koruptor hidupnya hepi dan kawin dengan artis sinetron/dunia entertain?) Gw lebih percaya pada randomness dari hidup. Tetapi gw setuju bahwa kita bisa menyikapi peristiwa hidup sebagai semacam kelas, dan bahwa kita harus belajar darinya.

Sekolah “hidup” memiliki persamaan, tapi juga perbedaan, dari sekolah “akademik”.

Persamaan utamanya, ya, apakah kita akan belajar sesuatu atau nggak sepenuhnya ada di tangan si murid, bukan sang “guru”. Waktu MBA, gw masuk kelas Corporate Finance karena terpaksa, karena mata kuliah wajib. Berhubung gw udah males attitudenya (benci banget gw sama pelajaran kebanyakan angka), alhasil ya gw gak belajar apa-apa dari kelas itu. Sementara temen gw yang semangat dan suka topiknya ya jadi belajar banyak. Begitu juga dengan sekolah “hidup”. Mau belajar atau nggak dari kehidupan, sepenuhnya ada di kita.

Persamaan lain, adanya “ujian” seperti yang disinggung di atas. Pelajaran yang kita dapatkan, entah itu di kelas membosankan dari guru yang kurang kece, ataupun dari episode kehidupan, suatu saat harus di-tes, dan bentuknya bisa selembar kertas esai, ataupun sebuah cobaan hidup.

Tetapi, ada juga perbedaan yang cukup mencolok.

Dalam sekolah “akademik”, teori diberikan SEBELUM ujian. Murid mempelajari dulu sebuah teori sebaik mungkin, baru KEMUDIAN ujian diberikan untuk mengukur pemahaman murid. Gila aja kalo ada guru/dosen ngasih ujian SEBELUM diberikan teori-nya. Doi bisa diaduin ke Komnas HAM dan Komnas Anak-nya Kak Seto sekalian (eh, nggak ada yang curiga kenapa Kak Seto gak pernah menua ya? Highlander? Alien? Clone? Robot? Kenapa jadi ngomongin ini?)

Tetapi dalam sekolah “hidup”, ujian/tes seringkali dateng duluan, baru kemudian teori menyusul. Memang di sinilah gak enaknya sekolah kehidupan. Rada-rada mirip guru kungfu/Karate Kid sih. Muridnya seringkali digebukin dulu sampe babak belur, supaya tahu dulu kesalahan dan kelemahannya di mana. DAN BARU SESUDAH ITU diajarkan jurus-jurus pamungkas. Karena seringkali suatu pelajaran lebih nempel di kepala kalau kitanya udah ngerasain konsekuensi gak enaknya kalo TIDAK belajar.

Hal di atas sering gw alami dalam konteks pekerjaan. Terkadang, gw ditempatkan pada situasi yang benar-benar “asing”; entah itu client ajaib, atau pekerjaan yang gw gak familiar sama sekali. Rasanya pengen protes, “lho, gw gak tau apa-apa soal ini!!”, bagaikan murid di sekolah “akademik” yang menuntut diberikan teori terlebih dahulu sebelum ujian. Dan akhirnya, terkadang ya jadinya berantakan beneran, walaupun kadang-kadang “lulus” juga secara hokkie. Tetapi baru kemudian gw menyadari ada “teori” yang hendak diajarkan. Dan terkadang, belajar teori sesudah ujian justru lebih nempel.

Merasa mengalami keapesan melulu? Jomblo gak kelar-kelar? Mau kawin batal melulu? Korupsi ketangkep melulu? Maka saatnya introspeksi. Mungkin ada yang harus dilakukan/dirubah supaya bisa lulus ‘tes’. Dan saat merasa menjalani peristiwa yang gak enak dan gak familiar, mungkin ini adalah tes yang diberikan DULUAN, karena “teori”nya baru akan menyusul belakangan.

Selamat bersekolah!

Advertisements

Categories: Random Insight

11 Comments »

  1. Seperti biasa. Mudah dicerna, hingga muncul pertanyaan seperti ini:

    “Bagaimana dengan orang-orang miskin dalam hal materi di pedalaman, yang tidak terjamah fasilitas yang dapat memudahkan hidupnya? Mungkin ngga Tuhan menjaga doa-doa indah mereka, Dia senang dengan doa-doa mereka? karena kan hidup mereka susah dan sepertinya dunia atau hidup itu sendiri tidak memihak pada mereka. Nah, apa yg salah dengan cara mereka Om?”

    onegaishimasu~ ∩__∩

  2. Tiap baca blognya om Piring pasti ketawa-ketawa sambil mikir *semacam gejala gila kali yah* *ketok-ketok meja*
    Om Piring berhasil menyampaikan pandangan2nya akan hal2 remeh tapi penting tanpa terkesan menggurui
    Makasih om Piring!

  3. Teori randomnes juga kayaknya bukan om, bakal chaos kalo semuanya random. Yang ada guru nya killer ato ga, kalo killer ngasih ‘ujian’ berat, kalo kagak ya easy going aja kayaknya.

    Btw kapan lagi bikin polling om? Ketagihan ngisi dan baca hasilnya nih XD

  4. Mm… Bukannya di sekolah akademik jg (mgkn dan adakalanya) diberikan pre test dulu sebelum teori diberikan?… Tujuannya untuk mengetahui sejauhmana pengetahuan dan pemahaman anak terhadap materi yang mo disampaikan guru… Jd nnt guru bs tau anak mana yg perlu diajarin dr awal, perlu diperhatikan bgt, ato anak mana yg udah paham materinya.. #bahasanBerat 😀 Hehehe… #cmiiw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s